Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 183 Sikap Rehan yang berubah


__ADS_3

Sebelum pulang Rehan sempat mendapat informasi jika saat ini Aisyah sedang di rumah sakit menjenguk kedua orang tuanya. Nafas nya berderu dengan laju seiring dengan ketakutannya yang beberapa bulan ini ia hindari.


"Aku harus segera bertindak sebelum semua nya terlambat". Tekat nya dalam hati.


Keluar dari kota hitam dengan perasaan tidak menentu membuat jalan yang dia lalui serasa suram. Belum lagi beberapa kali ia hampir saja menabrak mobil lain, beberapa kali mendapatkan teriakan dari pengemudi yang lain karena ia tidak fokus menyetir sehingga sering keluar dari lalukan nya meskipun tidak sedang memotong mobil di hadapannya.


"Hey, kamu pikir jalan ini milik nenek moyang lo, hah! Sesuai hati aja cara nyetir nya udah kayak anak presideanak presiden pun lebih sopan dari lo". Teriak seorang pengemudi mobil mengeluarkan kekesalannya pada Rehan saat di lampu merah.


"Rumah sakit atau kuburan?". Tanya Rehan dengan wajah menyeramkan tanpa rasa bersalah.


Pertanyaan dari mulut Rehan berhasil membuat pengemudi itu naik pitam. Ia berniat membalas perkataan pria sombong itu. "Lo lihat aja, gue akan buat lo mati!". Gumam nya dengan penuh dendam.


Pria itu terus membuntuti mobil Rehan. Pria itu terus saja merapatkan mantra kekesalannya pada Rehan. Sedangkan Rehan yanfg tahu dirinya saat ini sedang di buntuti sengaja mengambil jalan yang cukup sepi. Ia juga kesal jika ada orang yang berani mengusik hidup nya. "Mobil murah seperti itu mau malawan ku. Lihat dulu siapa lawan yang sedang kamu hadapi? Aku sudah beri kamu pilihan antara rumah sakit atau kuburan? Pilihan mu sangat tepat wahai serangga bumi". Gumam Rehan sinis..


Pria asing yang membuntuti mobil Rehan tersenyum sinis saat mobil mereka berdua memasuki kawasan rawan kecelakaan makanya jalan ini sepi jarang yang mengambil jalur ini saat ke kota.


Dua mobil itu terus beradu kelakuan sambil sesekali menyenggol mobil antara satu sama lain. Tapi pada saat menghampiri jurang rawan kecelakaan Rehan tiba - tiba ngerem tajam mobil miliknya sedangkan pria itu tidak sempat sehingga mobilnya terjun bebas ke juranh itu.


"Aaaaahhhhh". Teriak pria itu dengan penuh syok..


"Makanya jangan mengusik hari - hariku, jika kamu berani maka ini lah yang akan kamu dapatkan. Kematian!". Imbuh Rehan sambil menatap hujung jurang itu dari kaca mobil nya. Setelah puas membalaskan kekesalan nya Rehan pun kembali melajukan mobilnya pulang.


*


*


"Kamu sudah pulang, nak?". Bu Wahida berdiri hendak menyambut sang anak.


"Ya iya la bu, udah tahu aku baru pulang di tanya lagi. Udah kayak orang bodoh aja". Kesal Rehan berlalu meninggalkan ibunya yang terpana dengan kata - katanya.

__ADS_1


Bu Wahida saat ini memang sudah bergelimang harta lebih dari saat ia memiliki perusahaan sendiri semasa suami nya masih hidup. Tapi hatinya sama sekali tidak pernah perasaan ketenangan. Rehan semakin hari semakin berubah, tidak lagi menghormati nya seperti dulu. Semakin kaya, Rehan semakin lupa diri bahkan tidak segan memarahi, menghardik dan memaki ibunya dengan kata - kata yang tidak layak seperti tadi.


"Kenapa kamu semakin berubah kayak gini, nak? Dulu kamu sangat menyayangi dan menghormati ibu tapi sekarang...". Bu Wahida duduk di sofa dengan hati yang kembali tertusuk.


Bu Wahida tiba - tiba mengingat kenangan - kenangan indah dulu bersama keluarganya yang harmonis. Di cintaku oleh suami dan anak satu - satunya, keluar arisan bersama tetangga dan temannya yang lain tanpa hambatan. Rehan selalu memberikan semua yang ia minta tanpa soal selidik apa lagi makian terlebih dahulu tapi sekarang semua nya berbanding terbalik.


Punya menantu pun menantu tidak tahu diri, selalu saja menghubungi bahkan mendatanginya hanya untuk membuat nya emosi tidak seperti waktu Rehan bersama Aisyah dulu, dia saja yang selalu mencari kesalahan yang seharusnya tidak menjadi masalah besar.


"Bila lah Rehan resmi bercerai dengan si Desi, wanita siluman ular itu? Aku tidak sabar bermenantukan Alena yang merupakan sahabat mantan menantu ku". Bu Wahida tiba - tiba mengingat Alena yang sekarang berstatus calon menantu nya alias tunangan Rehan..


"Lebih baik aku menghubungi nya, siapa tahu ia mau di ajak shoping? Aku belum pernah mendekatkan diri dengan calon menantuku itu". Bu Wahida mengambil ponselnya yang terletak di atas nafas dan langsung menghubungi calon menantunya.


Tut......tut.....tut....


"Ya, Assalamualaikum, bu. Tumben telepon aku?". Sapa Alena dari seberang panggilan.


"Sore ini? Emang kenapa bu?". Sahut Alena terheran - heran karena tumben - tumbenan pula calon mertuanya menghubunginya dan bertanya sibuk atau tidak.


"Ibu bosan di rumah terus tiada kegiatan yang seru, bagaimana kalau nanti sore kita ke mall shoping bareng. Ibu belum pernah ketemu kamu secara langsung, ibu mau juga jalan - jalan dengan calon menantu ibu ini sebelum resmi menjadi menantu ibu". Ajak bu Wahida berasa basi.


Di seberang sana Alena memutar bola matanya malas. Tapi ia tiada pilihan lain selain menuruti keinginan calon mertuanya itu.


"Saya tanya dengan atasan dulu yah, bu". Imbuh Alena.


"Siapa sih atasan kamu lagi? Bukannya kamu asisten Rehan tunangan kamu sendiri, anak ibu. Jadi nggak perlu formal gitu sama tunangan sendiri". Ujar bu Wahida seperti tidak mengenal anak nya sendiri.


"Benar, bu. Tapi sekarang masih jam kerja, lagi pula aku masih banyak kerjaan yang belum siap. Mas Rehan memang tunangan aku tapi kalau di kantor harus profesional bu. Harus izin dulu baru bisa pulang lebih awal...". Sahut Alena menjelaskan..


"Rehan ada di rumah sekarang, biar ibu aja yang minta izin untuk kamu yah". Tawar bu Wahida dengan percaya diri.

__ADS_1


"Baik lah kalau begitu mau nya ibu, aku nurut aja. Kalau mas Rehan izinin hubungi aku yah bu, aku akan segera ke sana jemput ibu". Tutur Alena setuju.


"Begitu dong baru calon menantu ibu". Panggilan di akhiri sepihak oleh bu Wahida. Ia kemudian bangkit dengan girang menuju kamar putra nya.


Tok....tok...tok...


"Boleh ibu masuk, nak? Ada yang ingin ibu katakan sama kamu". Ujar bu Wahida di ambang pintu..


"Masuk aja". Teriak Rehan dingin.


Bu wahida langsung membuka pintu kamar Rehan dan menghampiri anak nya yang sedang duduk merokok di balkon kamar nya. "Apa yang ibu ingin kan? Katakan cepat karena aku tidak punya waktu banyak". Imbuh Rehan ketus.


Meskipum sedikit tersinggung tapi bu Wahida tidak boleh sedih karena lepas ini ia akan bersenang - senang dengan calon menantunya.


"Ibu mau ajak Alena keluar shoping tapi ia bilang harus izin dulu sama kamu sebagai atasannya. Jadi aku nyamperin kamu ingin meminta izin untuk nya". Jawab bu Wahida sedikit gugup. Kini ia berdiri di hadapan Rehan sudah seperti seorang pembantu bukan sebagai seorang ibu.


"Emm..".


Hanya itu yang keluar dari mulut Rehan sambil menghembuskan asal rokok dari mulut mulut nya. Bu Wahida yang kurang faham tetap berdiri di tempatnya menunggu balasan sang anak.


Beberapa waktu bu Wahida belum juga pergi membuat Rehan kesal dan mengusir ibunya seperti orang asing baginya.


"Apa lagi yang ibu mau? Sana keluar aku mau istirahat". Teriak Rehan dengan ketus.


"Ibu menunggu keputusan mu, nak. Kamu mengizinkan atau tidak?". Bu Wahida kembali di salah di hadapan anak nya.


"Ibu budeku atau apa? Tadi sudah jawab kan. Sana keluar jalan ganggu aku lagi". Usir Rehan tanpa peduli perasaan ibunya.


Bu wahida melangkah keluar kamar sambil memegang dadanya yang terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2