
Rehan saat ini sedang duduk di singgah sana miliknya. Kursi yang sedang ia duduki merupakan posisi tertinggi di perusahaan Purbalingga setelah posisi Aisyah sebagai pemilik perusahaan yang sebenar.
"Aku yakin posisi ini akan selama nya menjadi milikku sesuai perkataan Robert padaku. Sudah beberapa bulan dan Aisyah sama sekali belum di temukan itu. Mustahil jika seorang wanita dan anak kecil yang di culik akan bertahan hidup selama ini, itu berarti mereka berdua tidak akan pernah lagi menggangu ketentraman hidupku. Hanya mereka berdua yang akan merusak kebahagiaan yang ku rasakan saat ini...". Rehan terus bergumam.
Ia sudah tidak lagi khawatir dengan hilangnya Aisyah dan anak sulungnya setelah menduduki posisi nya saat ini. Bahkan ia selalu berharao jika Aisyah dan anak nya itu mati saja agar tidak lagi merusak hidupnya.
Tidak pernah terpikirkan olehnya jika Aisyah dan anak nya saat ini masih hidup dan malah menjalani hidup dengan damai di suatu tempat, baginya mereka berdua sudah tiada di muka bumi ini.
Drrrrt
Drrrttt
Ponsel miliknya berdering membuyarkan lamunannya. Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Ada perintah yang perlu saya laksanakan?". Tanya Rehan setelah panggilan terhubung.
"Bukan waktu nya kamu berleha - lega saja di sana! Sekarang saat nya kamu bergerak, ada marah bahaya yang sedang menghampiri kamu dan aku dapat pastikan jika kedamaian mu akan segera lenyap jika kamu hanya duduk diam saja di sana". Ujar Robert di paling panggilan..
Rehan tercengang, yang di sampaikan padanya berhasil membuat emosinya tidak karuan. Nafas berembus tidak beraturan saking syok nya. Baru saja ia merasakan begitu bahagianya memiliki semua ini tapi semuanya akan segera di renggut kembali darinya.
Rehan berdiri lalu menghentakkan tangannya di meja dengan sangat kuat. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil semua ini dari ku! Aku akan pastikan siapa saja yang berusaha menghancurkan kebahagiaan ku akan lenyap seketika di muka bumi ini walaupun orang itu adalah anak kandung ku sendiri". Gumam Rehan dengan wajah merah padam penuh amarah.
Ia segera mengambil jas nya yang di sangkut kan lalu memakainya dengan cepat. Ponsel dan kunci mobil sudah berada di genggamannya, langkah tergesa - gesa sehingga ia tidak peduli jika Alena memanggil nya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana mas?". Tanya Alena dengan wajah cemas.
Rehan hanya sekilas menatapnya tanpa ada niat menjawab pertanyaan dari tunangannya itu. Melewati begitu saja wanita yang sekarang berhasil menambat hati nya. Meskipun perceraian juga nya dengan Desi belum di putuskan pengadilan kerena permasalahan yang begitu rumit dan di antara mereka juga tiada satu pun yang mau mengalah. Aldo bersikukuh membantu kekasihnya memenangkan tuntutan di pengadilan demi mendapatkan harta milik Rehan, sedangkan Rehan yang tidak menerima kekalahan meskipun harta yang di perebut kan tidak seberapa dari yang ia miliki sekarang, tapi ia tetap tidak akan mengibarkan bendera putih pada musuhnya.
Melajukan mobilnya menuju kota mati di mana lokasi pertemuan mereka selalu di buat. Kota mati merupakan lokasi strategis untuk melakukan aksi mereka karena di sana tiada siapa pun yang berani memasukinya kecuali mereka harus mengerahkan begitu banyak pasukan kalau tidak maka mereka akan mati sia - sia di sana. Kota mati merupakan markas klan Black Tiger secara tidak langsung, meskipun Rehan merupakan salah satu antara mereka tapi ia sampai saat ini masing belum tahu banyak tentang kumpulan itu.
Rehan hanya berhubung dengan Robert dan beberapa anak buahnya untuk mendapatkan tugas selanjutnya selebihnya ia sama sekali tidak kenal.
"Akhirnya kamu sudah sampai juga, Rehan". Robert menyapanya dengan tatapan mematikan.
"Setelah kamu menghubungi ku adi aku langsung gas ke sini". Jawab Rehan menahan rasa gugup yang menyerang dirinya..
"Duduk lah, banyak yang akan kita bincang sekarang". Ujar Robert dengan senyum misterius khas miliknya.
"Kamu sudah siap untuk bertempur?". Tanya Robert dingin.
Rehan menelan slavina kasar, tidak menyangka jika saat - saat yang selalu ia hindari akan datang juga. "Apa kah Aisyah sudah kembali?". Tanya Rehan..
"Posisi yang saat ini kamu agung - agungkan semakin terancam. Tapi kamu jangan khawatir karena semua itu tidak akan pernah terjadi asal kamu mau melakukan sesuatu untuk diri kamu sendiri". Imbuh Robert
Rehan bingung kenapa harus dirinya yang selalu turun tangan menyelesaikan semua tugas sedangkan Robert hanya duduk manis menerima hasil dari nya.
"Boleh kah aku meminta tolong pada kalian untuk bersama - sama menyingkirkan wanita itu". Ajak Rehan memberanikan diri.
__ADS_1
Robert tersenyum sinis begitu pula dengan semua pengawal yang berdiri di sekitar nya. Meja di hentakkan secara tiba - tiba membuat Rehan tersentak kaget.
"Kamu pikir kamu peduli dengan apa yang kamu miliki sekarang! Ingat yah! Kamu sendiri yang akan rugi jika tidak mau menjalankan misi ini. Kamu pikir aku pusing kalau kamu kembali miskin seperti dulu. Tiada keuntungan sama sekali pada kami tentang hal ini, kami hanya menjalankan tugas kami mengawasi gerak - gerik kamu. Jangan sesekali naik angin karena kamu sudah berhasil menyelesaikan semua tugas dengan sendiri tanya bantuan orang lain. Tiada keuntubgaj6 sesakit pada kami kamu tahu". Mata Robert melotot tajam ke arah Rehan..
Tiada untung bagaimana jika setiap bulan Rehan selalu me transfer uang untuk mereka dalam jumlah yang tidak sedikit. Kadang kesal juga dengan mereka yang selalu memberi tekanan pada nya, mereka selalu memeras dirinya dengan dalih bos mereka yang memerintahkan hal itu. Tapi sampai sekarang ia belum di beri kesempatan bertemu secara langsung dengan bos mereka itu.
"Iya tapi kan kita sama - sama menikmati uang itu, apa salah nya kita bekerja sama menyingkir kan wanita itu, kalian tidak mau kan kalau rencana kita tidak berjala dengan lancar karena aku bergerak sendiriran tanpa bantuan kalian seperti saat ingin membunuh pak Panji dan bu Mega. Bukannya mati mereka malah hanya koma di rumah sakit. Kita hanya di buat repot bolak balik pengadilan, banyak uang terbuang untuk menyewa pengacara handal padahal uang itu bisa kita gunakan untuk berfoya - foya". Bujuk Rehan tidak ingin salah bicara tapi juga tidak mau menarik kembali kata - kata nya yang menginginkan pertolongan dari mereka..
"Kamu masih memiliki perasaan pada wanita itu sehingga tidak sanggup membunuhnya dengan tangan kamu sendiri?". Tanya Robert penuh selidik.
Rehan tersentak mendengar pertanyaan dari pria di hadapannya saat ini. "Apa kah aku masih punya rasa pada Aisyah sedangkan selama ini aku berharap jika ia dan anak kami mati aja? Tidak mungkin aku masih menaruh harapan pada orang yang selalu menghancurkan ketentraman hidup ku". Batin Rehan.
"Aku meminta bantuan kalian bukan karena aku masih mencintai Aisyah, tidak! Aku cuma tidak mau gagal lagi seperti sebelumnya dan membuat bos kita kecewa. Itu saja". Tegas Rehan menekannya ucapannya.
"Kamu pikir kami peduli dengan nasip kamu, hah! Sana lakukan saja tugas kamu". Usir Robert.
Rehan hanya bisa pasrah dan kembali membahayakan dirinya sendiri dalam misi pembunuhan lagi.
*
*
kecewa pada pihak Nt kerena level karya aku ini di turunkan dari level 9 ke level 7. tapi aku masih semangat kok lanjutin ceritanya. tapi jangan lah buat saya hilang sedikit semangat saya wahai pihak NT.😊😊😊
__ADS_1