
Maaf kalau eps nya double. sudah hapus eps 46 yang sebelumnya tapi tetap tidak terhapus, eps ini juga nggak bisa, hanya bisa di edit aja. jadi author mohon maaf jika eps nya berganda
"Kamu kok murung gitu sih?". Jasmin tampak tidak suka dengan wajah yang terpampang di hadapannya ini. Tiada senyuman sama sekali dari saat bertemu sampai sekarang berbincang beberapa waktu tetap saja wajahnya ditekuk seperti itu.
"Nggak kok! Biasa aja, cuma kurang fit aja sekarang, tubuhku baru ingin beradaptasi dengan cuaca dingin di desa tempat tinggal ku sekarang..". Jawab nya datar. Entah berapa kali helaan nafas berat di buang olehnya. Memang suhu di desa cukup dingin berbanding jauh dari cuaca di kota Makasa, bahkan kota kecil pun ini masih terbilang dingin menurutnya.
"Jangan bohong kamu! Kamu biasanya ceria saat bertemu, tapi sekarang malah seperti itu? Cuaca dingin hanya alasan kamu aja kan! Aku bukan kenal kau baru kemarin, Syah. Jangan bilang kamu merindukan seseorang sampai kamu tidak mood sekarang!". Tanya Jasmin penuh selidik.
Dia hanya terdiam, yang di katakan Jasmin benar adanya. Tapi dia sangat malu untuk mengakui semua itu.
"Ya ampun Aisyah! Aku tidak mau dengar ya! Kamu kembali membatalkan untuk menggugat cerai suami breng sek kamu itu! Capek - capek datang ke sini menempuh jarak jauh yang memakan waktu 3 jam perjalanan tapi hanya untuk kembali kesal dengan sikap kamu ini. Tolong lah Aisyah! Move on! Jangan berharap pada lelaki tak berguna itu lagi! Percuma!". Sungguh kesal pada teman di hadapannya ini. Sangat menguji kesabarannya.
Ya, sekarang Jasmin sedang berhadapan dengan Aisyah di sebuah restoran sederhana yang terletak di Kota M. Kota ini tidak begitu besar dan hanya terdapat beberapa gedung perbelanjaan saja. Dia rela datang jauh - jauh karena sudah begitu rindu dengan bakal janda pujaan sahabatnya ini dan sekalian merundingkan tentang kasus perceraiannya yang akan dia tangani nanti. Mereka duduk di meja yang terletak di pojokan sedikit jauh dari pengunjung lain.
"Kamu apa - apaan sih? Aku memang lagi di hantui bayang - bayang seseorang, tapi bukan dia juga kali! Ogah banget juga kali mikirin lelaki yang hanya bisa nyakitin hati". Jawab Aisyah membuang muka sebel.
"Bagus kalau bukan dia lagi yang kamu pikirkan. Tapi kamu kan?". Mata Jasmin membulat sempurna. Ternyata dugaannya salah jika mengatakan Aisyah masih memikirkan suaminya sampai murung seperti itu. "Katakan siapa lelaki yang berhasil mengusik hati bakal mantan istri orang ini?". Goda Jasmin.
"Bukan siapa - siapa kok? Kamu kenapa malah mengintrogasi aku dengan pertanyaan yang nggak jelas, sih? Bagaimana kalau Kita bahas soal gugatan ku saja supaya cepat selesai dan kamu bisa cepat memprosesnya di pengadilan, aku sudah ingin bebas dari lelaki yang sekarang masih berstatus suami aku itu!". Aisyah mencoba mengalihkan pembicaraan. Rasanya malu untuk mengakui sesuatu yang dia juga kurang pasti.
Wajah yang selalu hadir dalam keadaan sadar dan mimpi membuatnya semakin bingung. Hanya sering berbalas pesan singkat bahkan baru bertemu beberapa kali dalam keadaan yang tidak begitu akrap juga, tapi wajahnya sudah berhasil mengusik hati wanita itu.
Jasmin meneliti wajah Aisyah yang baawn8owterbayang - bayang itu, seutas senyum terbit di bibirnya saat dia baru menyadari sesuatu yang turut membuatnya senang dengan perubahan ekspresi itu.
"Ok, kita bahas soal itu saja dulu". Akhirnya Jasmin tidak lagi ingin menggoda wanita di hadapannya dan mulai membahas apa saja yang perlu Aisyah lakukan untuk memenangkan kasusnya.
Bukti perselingkuhan di serahkan pada Jasmin, dan beberapa video untuk mendukung. Awalnya Jasmin tampak syok dengan video yang di serahkan oleh Aisyah itu hingga membuatnya ikut kesal dan marah pada sesuatu yang terekam di dalam video itu.
Sementara Aisyah tampak biasa saja, walaupun sebenarnya dia masih gemetar karena melihat rekaman pasangan me sum itu lagi. Tapi dia sudah bisa mengontrol diri berbanding sebelumnya.
"Kamu tenang saja! Aku yakin kita akan memang melawan mereka di pengadilan. Mereka tidak akan bisa berkedok lagi, semua video ini bisa membuat mereka mati kutu tidak bisa balik membalas untuk melawan kita ....". Kata Jasmin dengan berapi - api.
"Aku yakin dengan kamu, kok! Terima kasih yah! Jika bukan karena kalian, mungkin aku masih berada di rumah itu menjadi perempuan paling bodoh, jika dulu aku tidak membatalkan gugatan itu dan tetap berusaha mengumpulkan bukti, pasti sekarang aku sudah bebas dari pernikahan toksik ini..". Ucap syah tulus, bahkan bibirnya sudah bisa mengukir senyuman dengan wajah lega. Dia kembali teringat dengan bik Saras yang selalu sabar menasihatinya dulu supaya menyerah saja dari pernikahannya bersama Rehan.
"Tidak! Menurutku dulu kamu tidak salah, setidaknya dengan kamu bertahan beberapa waktu juga bagus karena bisa mendapatkan bukti kezaliman lain yang berlaku di rumah itu...". Sahut.
Aisyah mengangguk perlahan, seakan paham dengan ucapan Jasmin. Senyuman kembali terbit si wajah cantiknya, walau masih sangat tipis.
__ADS_1
"Begitu dong, senyum! Sekarang kita makan, aku yang traktir...". Ucap Jasmin gembira melihat Aisyah sudah bisa mengukir senyum kecil di bibirnya.
"Kok kamu yang traktir sih? Jauh - jauh datang malah kamu yang traktir. Biar aku aja yang bayar, ok!". Tolak Aisyah sedikit sungkan.
"Ok deh, nggak papa! Asal kamu bahagia...".
Akhirnya mereka menyantap hidangan yang mereka pesan sambil mengobrol menceritakan kisah masing - masing. Setelah selesai, Jasmin langsung pamit pulang pada Aisyah.
Saat melepas kepergian mobil Jasmin di parkiran, Aisyah kembali melihat sosok pria berbadan besar yang tadi pagi bertemu dengan bik Saras. Lelaki itu sedang berdiri tepat menghadap ke arahnya.
"Kenapa aku merasa pria itu menguntit ku yah?". Batin Aisyah.
Menyadari keberadaannya diendus Aisyah, pria itu dengan sopan tersenyum padanya dengan santai seakan tidak melakukan kesalahan dan mengalihkan pandanganya pada Aisyah sambil berjalan, kemudian pria itu melakukan panggilan dengan seseorang.
"Mungkin perasanku saja". Gumam Aisyah dan berlalu pulang ke kontrakannya.
*
*
Mendengar pengusiran suami nya itu, membuat hati Desi terkikis sakit. Keberadaannya untuk menenangkan suami nya sama sekali tidak di hargai. Perasaan cemas untuk lelaki itu hanya di balas dengan sikap cuek.
"Jika kamu stress mencari keberadaan Aisyah, jangan lampiaskan ke aku! Sekarang bukan hanya dia istri kamu mas, aku juga istri kamu! Jangan sampai aku juga pergi ninggalin kamu sama seperti dia!". Ancam Desi. Dia tidak bermaksud dengan ucapannya. Hanya ingin suaminya itu gentar dan tidak mengabaikan kehadirannya lagi karena dia tahu lelaki itu pasti sangat takut kehilangannya.
Rehan tidak menggubris, tiada kata lagi yang keluar dari mulutnya, bahkan niatnya untuk menyendiri hingga tega mengusir wanitanya di urungkan. Dia hanya tidak ingin istri sirinya itu mendapat amukan karena kekesalannya, tidak ingin menyakiti seperti apa yang terjadi pada tembok yang kini dilumuri darah segar miliknya.
"Aku ambilkan obat dulu, ingat! Jangan kunci pintunya!". Pesan Desi sebelum keluar dari ruangan.
Beberapa saat kemudian Desi kembali masuk dengan mene teng kotak berisi bahan medis. Dengan telaten luka di tangan Rehan sudah dibalut dengan perban.
"Terima kasih". Ucap Rehat datar tanpa senyuman.
Hufh
Desi membuang nafas berat, tapi dia tetap membalas dengan senyum hangat penuh kasih sayang pada suaminya.
"Kita makan siang yuk!". Ajaknya.
__ADS_1
Rehan menggeleng menolak ajakan istrinya itu.
"Kalau begitu aku pesan saja, kita makan bersama di sini, ok! Selesai makan kita ke rumah sakit ngecek luka kamu itu ke dokter. Tiada penolakan!". Ucap Desi tidak ingin dibantah.
*
*
Di mansion keluarga Purbalingga, rumah bernuansa amerika klasik itu sedang ramai dengan perbincangan dua keluarga prihal acara pertunangan anak mereka. Sekarang Panji Purbalingga sudah di izinkan rawat jalan dan sekarang ikut andil merencanakan pesta meriah yang akan di adakan seminggu kedepan.
"Bagaimana? Apa kalian berdua suka dengan tema itu?". Tanya Panji pada pasangan yang bakal bertunangan itu.
"Aku terserah saja, daddy". Jawab Zack singkat lalu memainkan ponselnya lagi menghibur dirinya yang sudah bosan berada di tengah - tengah dua keluarga itu. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah bagaimana bisa menemukan keberadaan saudaranya.
"Kalau aku suka banget dengan tema itu om". Cleo mencoba mengalihkan perhatian Panji yang tampak kesal dengan sikap cuek anaknya.
"Panggil daddy! Sebentar lagi kamu akan menjadi menantu daddy, iya kan mommy Melodi?". Goda Panji pada istrinya.
"Iya daddy!". Jawab Mega dengan wajah yang cemas. Dia tahu anaknya Zack sekarang sedang kelimpungan mencari seseorang yang juga begitu dekat dengannya. Jadi dia ikut kurang membuka pendapat tentang mejlis yang akab mereka adakan.
"Jadi sudah sepakat yah. Kita tinggal tunggu hari itu tiba". Ucap Panji kembali mengalihkan pandangannya pada Zack yang tampak fokus dengan ponselnya dengan wajah tegang. "Apa yang sedang kamu lakukan Zack? Fokus dengan benda kecil itu sampai tidak memperdulikan semua orang yang ada di sini...". Tegus Panji dengan ketus.
"Oh, maaf daddy, semuanya! Aku sedang berkomunikasi dengan Danial, keberadaan Mawar sampai sekarang masih belum di temukan. Aku jadi tidak fokus di sini..". Jawab Zack tanpa beban dan sama sekali tidak merasa bersalah. Matanya terus melirik setiap ekspresi semua orang yang berada si ruangan ini. Tidak terkecuali kedua orang tua angkatnya.
Dengan mengatakan itu, Zack yakin pasti akan mengusik si pelaku dan membuat kesal. Tapi sayang sekali, tiada yang menunjukkan ekspresi mencurigakan. Tiada yang menunjukkan gelagat aneh di sini hanya Cleo yang tampak cemburu saat mendengar ucapannya. Itu sudah biasa karena memang sifatnya sangat posesif padanya. Tapi Cleo tidak menjadi target kecurigaannya mengenai hilangnya Mawar.
Panji dan Mega tampak ikut khawatir dengan anak dari penjaga kebunnya dulu, mereka sudah menganggap keluarga pak Santo sebagai keluarga sendiri, bahkan mereka lah yang membiayai Mawar melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah.
"Kenapa setiap ada yang dekat dengan Zack pasti akan menghilang?..". Ucap Anjas, papi Cleo.
"Tapi mami bersyukur calon menantu cantik mami ini sampai sekarang tetap aman....". Imbuh Mega memegang tangan Cleo yang tampak berkeringat dingin. Entah karena apa? Takut ikut hilang seperti yang lain atau...
"Itu artinya Zack tidak boleh dekat dengan cewek lain selain Cleo! Buktinya sampai sekarang hanya Cleo yang bertahan....". Ucap Shela, istri Anjas.
Semua mata tertuju padanya.
Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih setia membaca novel ini. Saya amat menghargai dukungan kalian.
cuma yang kurangepisrang vote nya saja. Siapa yang sudi menyawer novel ini author ucapkan terima kasih sebelumnya.