
(Dua bulan kemudian)
Dalam gubuk kecil yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan terbaring seorang pria dengan poster tubuh yang sangat kurus dan terbaring lemas di atas tikar yang terbuat dari anyaman daun nipah. Sekujur tubuhnya di baluti dedaunan yang di sudah di halus kan lalu di tempalkan pada luka - luka lebam dan sayatan yang ada di tubuh nya.
Dua pasangan kakek nenek setia berada di samping nya bergilir untuk merawat dan menyuapi bubut ke mulut nya yang di paksakan untuk terbuka. Jika tidak begitu maka pria itu pasti akan mati kelaparan. Semenjak di bawa eke gubuk ini pria itu langsung pingsan dan tidak pernah bangun lagi sampai sekarang. Hanya degup jantung dan deru nafas yang perlahan menandakan pria itu masih hidup dan bernyawa.
"Kesihan dengan anak ini ya, mas. Pasti dia di kejar - kejar penjahat, jika kita mengatakan pada orang lain tentang keberadaan nya Pasti nyawanya dalam bahaya...". Imbuh nenek tua yang sering di panggil nek Darmi.
"Tapi sampai kapan kita merawatnya, dek? Umur kita berdua ini sudah cukup tua untuk merawat nya. Untung tetangga kita ada yang baik hati selalu menanyakan beras kita masih ada atau udah habis, kalau tidak mungkin kita juga udah mati kelaparan. Setiap hari makan bubur dengan di beri garan saja, untuk masak sayur saja kita sudah cukup lelah seharian memasak nya....". Balas sang suami yang di panggil Nek Suryo oleh warga sekitar.
"Benar yang kamu katakan, mas. Dedaunan untuk membaluti luka nya juga udah hampir habis di sekitar sini, jika ingin mengambilnya harus ke hutan dulu dan siapa yang akan kita minta tolong jika kita berdua tidak memiliki seorang pun anak di dunia ini...". Lirih Nek Darmi sedih.
Mereka adalah pasangan tua yang tidak di beri kepercayana oleh tuhan untuk karuniai anak. Tapi meskipun begitu hidup mereka selalu damai Meskipun terkadang sedih juga jika mengingat mereka tiada yang merawat. Tapi untungnya mereka saling melengkapi dam merawat satu sama lain. Warga sekitar turut prihatin dengan keadaan pasangan tua itu, seumur hidup selalu hidup berdua saja di gubuk kecil mereka.
Tapi ada juga yang salut dengan kisah cinta mereka, meskipun sering di landa kesusahan tapi mereka tetap terlihat baik - baik saja dan tetap seperti pasangan paling harmonis dan romantis.
__ADS_1
"Kita doa kan saja dia cepat sadar ya, dek. Supaya jika aku di panggil sang ilahi terlebih dahulu menghadap nya, semoga dia sudii menjaga mu untuk ku". Imbuh Nek Suryo tersenyum hangat menatap istri tercintanya.
Ini yang di nama kan cinta sejati. Meskipun wajah pasangan masing - masing sudah tidak seperti dulu lagi, kulit di sekujur tubub sudah di penuhi oleh keriput tapi bagi mereka pasangan mereka lah makhluk yang paling sempurna di mata mereka.
"Mas kok bilanh gitu! Aku tidak mau tahu kita harus selalu bersama - sama, aku tidak mau di tinggak sendirian di dunia ini. Jika perlu, biar aku aja yang pergi dulu". Nek Darmi mulai meneteskan air mata jika sudah berbicara tentang kematian..
"Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, dek. Usia kita tiada siapa yang tahu, kita hanya bisa pasrah, tidak bisa mengatur apa yang sudah menjadi ketentuan sang ilahi. Jika mas yang pergi dulu maka kamu harus tabah. ..". Sahut nek Suryo mencoba menenangkan sang istri tercinta. Pelukannya membuat sang istri tertidur, melakukan aktivitas kecil saja sudah membuat wanita tua itu kelelahan.
Nek Suryo yang juga ingin beristirahat merebahkan perlahan tubuh istrinya di atas tikar lalu turut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Mereka berdua langsung larut dalam mimpi masing - masing.
Beruntung Dilan dan yang lain tidak memaksa untuk masuk ke gubuk mereka dan lanjut mencari di tempat lain sehingga nek Suryo dan nek Darmi bisa bernafas lega. Pasangan tua itu berpikir jika segerombolan orang itu adalah orang yang berusaha mencelakai pria yang mereka tolong makanya lebih memilih bungkam demi keselamatan pria itu. Lagi pun mereka kurang yakin juga jika pria yang mereka cari adalah pria yang mereka bawa pulang, karena pria itu tidak di temukan di sana melainkan di temukan di kebun belakang gubuk mereka.
Beberapa saat setelah pasangan itu tertidur, jari pria kurus bergerak perlahan matanya juga berangsur terbuka. "Aduh!". Rintih nya sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.
Pria itu perlahan duduk dan merasakan sekujur tubuhnya nyeri karena lebam dan sayatan benda tajam atau ranting. Matanya mengitari setiap sudut ruangan, di gubuk kecil itu lah ia di rawat selama beberapa bulan lamanya. Tiba - tiba pria itu kaget melihat dua orang tua yang sedang berbaring tidak jauh dari tempatnya sekarang.
__ADS_1
"Pasti mereka yang sudah merawat ku. Mereka pasti kelelahan di usia senja ini malah merawat pria seperti aku...". Pria itu meraba dan melihat tubuhnya mendapati lukanya sudah tidak sedikit mengering dan ada juga yang hanya menyisakan bekas hitam saja.
Ia mendapati di samping bantal nya tadi terdapat semangkuk bubur kosong yang hampir habis. Mencoba mencicipi dan tiba - tiba air matanya menetes deras ke pipinya. Dia sama sekali tidak pernah memakan makanan semacam ini seumur hidup tapi tidak menyangka jika makanan ini lah yang telah mengisi perut nya selama ia di rawat di gubuk ini. Tanpa terasa bubur di mangkuk itu habis ia makan dengan linangan air mata haru.
Ia kemudian menggeser duduknya mendekat ke arah dua nenek - nenek yang tertidur pulas itu. Setiap inci yang ada pada tubuh mereka tidak lepas dari penglihatan pria itu, kaki yang penuh luka, tubuh yang sudah tidak berdaging lagi, kulit yang sudah keriput, rambut putih di keseluruhan kepala mereka membuat tangis pria itu semakin keras saja.
Meskipun ia tidak tahu sudah berapa lama dia di sini tapi ia yakin jika ia sudah cukup lama merepotkan pasangan tua di hadapannya itu. Luka di tubuhnya sebagai bukti, bekas tembakan di punggung nya pasti membutuhkan waktu sekurang - kurang nya satu bulan lebih untuk kering apa lagi dengan pengobatan yang sederhana ini, yang hanya menggunakan dedaunan untuk pengobatannya dan hanya memakan bubur asin sebagai obat telan sudah pasti membutuhkan waktu lama untuk sembuh.
"Kami sudah sadar, cu". Seru nek Darmi terbangun mendengar isak tangis dari anak muda yang ia rawat dengan sepenuh hati.
Pria itu mengangguk perlahan menjawab pertanyaan nenek tua di hadapannya. Nek Darmi mencoba bangun dan ingin memeriksa luka anak muda itu tapi baru saja ia duduk pria itu langsung memeluk memeluknya haru
Nek Darmi tercengang, ia tidak pernah mendapatkan sebuah pelukan hangat dari orang lain selain suami nya sendiri. Karena merasa terharu, nek Darmi turut meneteskan air mata di dalam pelukan pria itu.
"Terima kasih banyak nek, telah merawat aku selama ini". Imbuh Pria itu haru..
__ADS_1
"Lepaskan dia!". Tiba - tiba terdengar suara serak meminta pria itu untuk melepas pelukannya.