Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 230 Polisi emosian


__ADS_3

Rehan kembali terpancing emosi. Alena berjalan mendekati tempat sampah untuk mengambil barang miliknya yang asalnya berada di meja kerjanya. Rehan menatap tajam pada dua orang pengawal itu. Ingin memberi tonjokan pada mereka tapi mengingat tenaga nya yang tidak seberapa berbanding dua orang pengawal, ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran pada mereka.


"Nanti malah wajah ku yang hancur akibat mereka". Batin Rehan pasrah..


Ia menghampiri Alena tapi tidak untuk mengambil barang nya, ia hanya datang untuk menolong Alena membawa barang nya. Tiada barang berharga yang ia simpan di ruang kerja nya maka nya ia tidak terlalu perduli. Berbanding terbalik dengan Alena, ia meneteskan air mata melihat figuran nya bersama Aisyah sudah hancur berkeping - keping. Mungkin saat mereka mengemasi barang milik Alena, figuran itu terjatuh dan pecah.


"Ayo kita pergi dari sini. Semakin lama semakin membuatku muak berada di tempat ini". Ajak Rehan. Di tangan nya sudah ada sebuah kotak penuh barang Alena.


Alena nurut mengikuti langkah Rehan keluar dari gedung. Di dalam mobil, Alena termenung meratapi nasib nya yang sangat sial semenjak menjalin hubungan terpaksa dengan Rehan. Ia selalu di landa kesedihan dan sama sekali tidak pernah merasa tenang, selalu gelisah dan penuh dengan ketakutan.


Rehan merupakan seorang pria yang kejam, bisa melakukan apa saja untuk memenuhi keinginan nya. Ia juga tidak segan menghancurkan kebahagiaan orang lain termasuk membunuh.


"Kamu menyesal sudah memilih ikut dengan ku?". Tanya Rehan tidak suka dengan sikap Alena yang tiba - tiba senyap dan murung.


Alena menggeleng kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Rehan.


"Lalu kenapa dengan wajah kamu? Cemberut aja dari tadi. Jujur sama aku, apa sebab kamu diam seperti ini?". Tanya Rehan dingin.


Alena membuang nafas berat. Ia harus berhati - hati dalam menghadapi Rehan. Tidak ingin rencana yang susah paya ia lakukan malah gagal total. Bukan hanya gagal, nyawanya juga akan terancam di tangan Rehan.


"Aku hanya sedih atas kepergian Aisyah, mas. Figuran kami juga hancur akibat mereka. Aku sedih, mas". Lirih Alena meneteskan air mata.

__ADS_1


Perasaan nya saat ini memang benar - benar terluka, kehilangan sahabat yang begitu ia sayangi, kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi impian nya, hari - hari harus menghadapi sikap Rehan yang sering berubah - ubah. Semua itu yang membuatnya sedih.


Rehan merasa bersalah pada wanita nya, ia tidak terpikir jik sekarang Alena sedang terpuruk karena kehilangan sahabat karip nya. "Aku harus menghiburnya, ia sudah rela meninggalakan pekerjaan nya demi membela diriku di depan semua orang yang merendahkan ku, jadi aku harus selalu membuatnya bahagia. Dia wanita yang pantas untuk di perjuang kan dan di pertahan kan..". Batin Rehan.


Jari jemari Alena di genggam erat niat untuk memberi kekuatan. Rehan akan memulai misi nya untuk membuat Alena bahagia. Ia akan selalu melakukan yang terbaik agar Alena selalu tersenyum bahagia berada di samping.


Alena sebenarnya merasa risih tangan nya di genggam oleh Rehan. Ingin mencoba melepas tangan nya tapi bingung bagaimana caranya?.


Drrrrddd, drrrrdddd, drrrddd


Ponsel milik Rehan berdering. Ia segera melepas tangan Alena untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Robert? Untuk apa dia menghubungiku? Alena masih bersamaku, tapi aku harus mengangkat panggilan ini sebelum lelaki sialan itu murka padaku tanpa alasan dan tiba - tiba membunuh ku". Batin Rehan sambil melirik sejenak Alena di sampingnya.


"Tahniah atas keberhasilan. Kami menunggu kamu di lokasi untuk melakukan perayaan atas keberhasilan kita menyingkirkan satu wanita. Ha ha ha". Kata Robert terdengar menyepelekan kerja Rehan.


Rehan mengepalkan tangan mendengar ocehan Robert di ponsel nya. Ingin rasa nya ia membunuh pria sialan itu saat ini. Tapi itu semua tidak mungkin karena Robert selalu di kelilingi pengawal yang siap melindungi dirinya. Robert tidak seperti Aisyah yang mudah di perbodohi. Ia Robert pria yang ahli membodohi orang lain demi mendapat keuntungan tersendiri.


"Kenapa nggak ngomong bro? Sudah tersumbat mulut itu dengan sesuatu atau sekarang kamu sedang melakukan en4 - en4 di dalam mobil sehingga nggak bisa ngomong. Ha ha ha....". Robert memutuskan panggilan sepihak setelah menggoda Rehan dengan puas.


Rehan menggenggam ponselnya kuat menahan emosi. Hari ini ia selalu di buat emosi oleh banyak orang. Hanya Alena yang berusaha menenangkannya. Tapi sekarang perasaan Alena sedang tidak baik - baik saja jadi malas untuk menenangkan pria itu.

__ADS_1


"Mudah banget di pancing emosi, dia pikir aku ini apa harus terus menenangkan nya. Aku juga lelah dan malas, jadi urus saja dirimu sendiri". Gumam Alena cuek pada Rehan.


Kelajuan mobil tiba - tiba meningkat seiring meningkatnya emosi yang membawanya. Alena sampai memegang pegangan yanga tersedia karena ketakutan dan syok. "Mas! Kamu mau membunuh aku?". Tanya Alena kesal.


Rehan tidak menggubris ucapannya, pria itu seperti sedang kerasukan sesuatu sehingga anggap mempedulikan sekitar nya. Tatapan matanya penuh amarah, mobil menyalit setiap mobil yang menghalangi jalan nya. Bunyi klakson bersahutan di mana - mana memekakkan telinga akibat ulah Rehan. Siren polisi juga terdengar mengejar di belakang untuk menghentikan mobil Rehan dan memberi denda akibat melanggar peraturan berkendara dengan aman.


Alena tidak boleh diam saja. Jika ia memilih cuek maka hidup nya yang akan menjadi taruhannya. Alena memberanikan diri melepas tangan nya dari pegangan mobil. Ia menggerak - gerakkan tubuh Rehan sehingga pria itu mau mendengarnya.


Rehan tersentak ia baru ingat jika di mobil ini bukan hanya ada dirinya melainkan juga ada Alena di samping nya. "Maaf kan aku, aku nggak bermaksud membuat mu takut". Imbuh Rehan menyesal saat melihat wajah Alena berubah pucat akibat ketakutan. Perlahan Rehan menurunkan kelajuan mobil nya.


Tapi polisi malah berhasil menghalangi jalan nya untuk memberi teguran dan denda pada Rehan yang sudah membuat kericuhan di jalan.


"Sial!". Gumam Rehan kesal sambil memukul string.


Pihak polisi mengetuk pintu mobil Rehan dengan kuat sehingga Rehan kembali terpancing emosi. Ia keluar dari mobil dan meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan pada pihak polisi. "Hey, kamu pikir mobil aku ini murah kamu ketuk kuat seperti itu, hah? Lihat apa yang sudah kalian lakukan pada mobil ku!". Rehan melayangkan satu pukulan kuat ke perut polisi itu.


Sementara polisi yang ia beri pelajaran juga bukan polisi yang disiplin. Ia juga tidak terima jika ada yang merendahkan dirinya, apa lagi saat ia melakukan tugas nya di jalan. Dengan kesal, polisi itu mengeluarkan senjata api yang ia bawa dan menembak tangan Rehan yang ia gunakan untuk memukul polisi itu. Sifat nya sama dengan Rehan, panas barang. Tiada siapa pun yang bisa mengusik mereka. Jika ada yang berani maka senjata api lah lawan nya.


Dorrr...


"Aduh, pak Sambo. Kenapa bapak menggunakan senjata itu sesuka hati? Kita pasti akan di pecat pak". Sahut rekan kerja pak Sambo, polisi yang berani menembak Rehan.

__ADS_1


Alena di dalam mobio juga syok melihat adegan ini, tangan Rehan kini meneteskan darah dengan deras. Ia menutup matanya dengan kedua tangan nya trauma mendengar suara tembakan.


__ADS_2