
Sepanjang perjalan Aisyah terus saja merapalkan doa untuk Jasmin. Ia berharap Jasmin dalam keadaan baik - baik saja dan masih melakukan aktivitas harian dengan nyaman.
Sesampai di gedung tempat Jasmin berkerja, Aisyah tanpa ragu langsung berlari masuk demi mencari keberadaan Jasmin, pengacara yang menolongnya lepas dari pernikahan toksik dengan Rehan. Menuju meja resepsionis untuk bertanya ruangan milik Jasmin di mana.
"Ruanga Bu Jasmin ada di tingkat berapa ya mbak?". Tanya Aisyah pada petugas resepsionis.
"Maksud anda bu Jasmin Mahesa, maaf mbak! Bu Jasmin nya udah nggak kerja lagi di sini, ia sudah resign beberapa minggu lalu". Jawab petugas resepsionis.
Aisyah kaget, "Resign? Mbak tahu nggak kenapa?". Tanya Aisyah.
"Soal itu saya kurang pasti mbak, soalnya bu Jasmin nya tiba - tiba gitu dan keesokan harinya setelah meminta resign langsung nggak masuk kerja, padahal atasan kami penasaran dengan sebab mengapa ia resign dengan tiba - tiba karena kebetulan atasan kami menerima surat saja tanpa berpamitan langsung, jadi kami semua tidak tahu mbak". Jawab petugas resepsionis jujur.
Aisyah semakin khawatir, dadanya bergemuruh dengan sangat kuat, perasaannya tidak enak mengetahui Jasmin tidak lagi bekerja di kantor hukum. Melangkah gontai menuju mobil dengan perasan cemas dengan keselamatan sahabatnya.
Menyesal selama ini tidak pernah lagi menghubungi Jasmin setelah sidang keputusan cerai tempuh hari pasti di rasakan. Kesibukan nya membuatnya seakan lupa dengan sosok sahabat nya satu ini. Merasa bersalah karena tidak lagi pernah saling kontak dan tanya kabar, sekarang malah keringat di saat keselamatan Jasmin di ragukan setelah panggilan mengancam tadi.
Pak Sabaruddin juga turut cemas melihat majikannya kini tampak tidak tenang, ia yang perhatian pun bertanya. "Ada masalah apa Non Aish?".
Aisyah menyeka air matanya dan menjawab. "Jasmin tiba - tiba nggak bisa di hubungi pak, di kantor juga katanya dia sudah resign dan tidak bekerja lagi, aku khawatir pak!". Lirihnya.
"Sabar,Non. Mungkin hanya perasaan Non saja. Bisa jadi Non Jasmin sekarang sedang liburan bersama keluarganya dan tidak ingin lagi membebankan pikirannya dengan memikirkan masalah orang lain. Non tenang saja yah". Bujuk pak Sabaruddin.
"Tapi pak, tadi ada yang ...". Ucapan Aisyah terhenti, ia teringat pesan Alena jika jangan sembarangan menceritakan semua masalah kita pada orang lain, meskipun itu dirinya sendiri karena takut jika tiba - tiba mereka berbelok atau bisa jadi mereka adalah mata - mata yang di kirim oleh musuh.
"Tapi apa Non?". Bingung pak Sabaruddin.
"Nggak ada kok pak. Cuma saya minta jangan bilang ke ibu sama ayah tentang hal ini, takut mereka ikut kepikiran sedangkan belum pasti juga gimana ceritanya, mungkin yang pak Sabaruddin katakan tadi benar, ini hanya perasaan ku saja yang berlebihan khawatir". Jawab Aisyah mengelak.
Yang ia percaya saat ini hanya Zack, lagi pula Zack adalah sahabat Jasmin dari dulu sudah tentu dia lebih tahu segalanya mengenai Jasmin. Tapi karena merasa tidak enak badan kerana pikiran yanv kemana - mana, Aisyah memutuskan untuk menunggu Zack saja di rumah.
__ADS_1
"Kita langsung pulang kan, Non?". Tanya Pak Sabaruddin.
Aisyah mengangguk dan di lihat dari kaca mobil oleh pak Sabaruddin.
Karena lelah dan pusing yang tiba - tiba di rasakan, Aisyah tertidur tanpa menghiraukan pak Sabaruddin lagi.
*
*
Sesuai ucapannya, Rehan kembali datang ke club milik temannya hanya untuk bertemu bartender dan menanyakan siapa wanita yang menemaninya semalam.
"Hai, bang datang lagi udah ketagihan minum yah?". Sapa Ijan, si bartender.
"Gue datang bukan nak minum". Jawab Rehan ketus.
"Setahu saya yang datang ke tempat ini ingin happy - happy bang ya dengan minuman contohnya. Tapi kok kamu datang tidak minum, aneh kan. He he he ". Goda Ijan.
"Aduh bang, gue nggak tahu yang bawa ke sini kan bukan gue". Balas Ijan sepele.
"Gue tanya lo kenal nggak? Jawab aja nggak, emang kamu nggak pernah lihat dia sebelum nya?". Tanya Rehan.
"Gue baru pertama kali juga lihat di dia sini, gue pikir lo yang bawa ke tempat ini, soalnya semalam tampak akrab banget". Jawab Ijan..
"Gue juga nggak kenal soalnya saa tuh cewek, gimana dong? Sudah cek CCTV juga nggak terlibat batang hidung nya". Ucap Rehan mulai pasrah.
"Emang kenapa bang lo cari dia? Ketagihan dengan servisnya?". Tanya Ijan menggoda Rehan..
"Ketagihan, ha ha ha. Gue cuma penasaran aja. Coba kamu ceritakan ciri - cirinya, siapa tahu gue kenal hanya dengan mendengar ciri - ciri yang lo lihat". Saran Rehan.
__ADS_1
"Maaf bang, gue juga nggak begitu fokus lihat ciri - cirinya, soalnya semalam ada yang memesan minuman jadi sibuk". Jawab Ijan.
Rehan tampak menghela nafas kasar, wanita itu begitu misterius. Jika bukan ia berhasil memporak porandakan juga hubungannya dengan Desi tidak perlu juga dia susah paya mencari tahu siapa wanita itu.
"Sial!". Umoat Rehan kesal lalu meninggalkan Club begitu saja.
Di dalam mobil Rehan terus memukul stir melampiaskan kekesalannya. Bayangan terusir dari rumah dan semua aset yang telah susah paya ia dapatkan tiba - tiba lepas dari genggamannya sangat membuatnya frustasi. Iya yakin wanita semalam sengaja di kirim seseorang untuk menghancurkan hubungannya dengan Desi, bukan soal ditinggal istri yang membuatnya geram tapi bayangan kembali jatuh miskin tanpa harta yang ia pikirkan.
Entah bagaimana tanggapan ibunya saat ia menceritakan hal ini. Pasti ibunya akan marah dan kecewa yang paling di khawatirkan jika wanita paruh baya itu tiba - tiba drop memikirkan masalah ini.
Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Rehan akhirnya menyetir mobilnya pulang. Sesampai di rumah megah milkinya, hatinya kembali kesal sekaligus menyesali kecerobohan yang sudah ia buat. Hanya karena ancaman sepele tanpa pikir panjang ia langsung menanda tangani perjanjian yang di buat oleh Desi.
"Assalamualaikum". Rehan memberi salam dan langsung di sambut oleh ibunya.
"Wa alaikumsalam, darimana saja kau nak jam segini baru pulang, kamu nggak kantor dan malah pergi keluyuran nggak jelas kamu nggak takut di pecat?". Cerca bu Wahida.
"Ibu masak apa hari ini? Aku lapar bu". Lirih Rehan mengalihkan pembicaraan.
"Tangan kamu udah sembuh belum? Sini ibu lihat dulu baru kemudian makan". Ujar bu Wahida.
Dari semalam Rehan memang belum pulang ke rumah, ia lebih memilih ke taman menenangkan pikiran sekaligus menunggu malam untuk bertemu dengan bartender yang berkerja di club Malik tapi tetap saja tidak menemukan petunjuk apa pun mengenai wanita itu.
"Tangan aku udah di obati kok, bu. Kita makan, aku udah lapar banget". Tolak Rehan berjalan menuju meja makan.
Wahida mengambilkan sepiring nasi penuh dengan temannya. Sambil menyantap makanan bersama, bu Wahida bertanya pada anaknya prihal masalah yang membuatnya sampai membanting barang semalam.
"Kamu sedang ada masalah yah? Cerita sama ibu, jangan main banting - banting aja, barang yang kamu rusak kan di kamar kau itu nggak murah tauk. Dan kemana aja kamu semalam sampai sekarang baru pulang, nggak ke kantor lagi nggak takut kalau kamu tiba - tiba kena pecat dari pekerjaan kamu, hah!". Cerca Bu Wahida mengingatkan.
"Aku udah kena pecat pun". Jawab Rehan tanpa beban.
__ADS_1
"Apa?". Bu Wahida tampan syok mendengar perkataan anaknya.