Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 272 penjelasan Rafa


__ADS_3

"Jika Cleo sendiri yang ingin, maka jangan salah kan aku. Jangan paksa dia melakukan semua yang kamu ingin kan. Ingat mas! Sifat putri kita itu sama dengan mu. Kekejaman diri nya lebih dari kekejaman diri mu. Sekarang kamu bisa memuji nya karena nurut dengan rencana kamu. Tapi aku mengenalinya, aku yakin dia juga ada rencana sendiri yang kebetulan saja sejalan dengan rencana mu...". Tutur Shela.


Setelah memberi peringatan pada Danish, Shela beranjak meninggalkan nya begitu saja. Danish hanya bisa tersenyum kecut, ia masih berpikir Cleo bisa ia manfaat kan.


Perdebatan mereka berdua tidak menyelesaikan apa - apa. Mereka melangkah di jalan yang sama tapi dengan tujuan yang berbeda. Danish tetap pada rencana nya yaitu menggantikan Cleo menjadi Jasmin dan menguasai harta Keluarga Rafa. Shela pula tetap pada misinya yaitu membalas kan dendam nya pada Zack atas kematian suami nya saat di penjara.


Beberapa minggu berada dalam tahanan, Anjas ternyata tidak bisa menyesuaikan diri. Dia sering ke buli oleh tahanan lain saat berada dalam sel tahanan. Akhirnya ia memilih mengakhiri hidup nya sendiri, lebih baik dari pada menghabiskan seumur hidup dalam penjara dengan siksaan yang tidak berkesudahan.


Shela mendengar kabar kematian suami nya hanya bisa pasrah dan meratapi kesedihan nya. Ia semakin terpuruk dengan krisis ekonomi yang ia alami sehingga harus menggadaikan tubuh nya sebagai penghasil uang. Ia menyalahkan semua kesengsaraan yang ia rasakan pada Zack, dendam pada pria itu sangat besar sehingga ia tidak akan pernah bisa hidup tenang jika melihat Zack hidup dengan nyaman.


Air mata Shela kembali mengalir ketika mengingat wajah suami tercinta nya. Semua kesalahan dan rahasia di antara mereka tidak mengubah perasaan nya pada sang suami.


"Kamu harus membalaskan dendam mami, Cleo. Terlepas daru rencana ayah kandung kamu yang ingin menjadi semakin kaya, kamu juga harus membuat hidup Zack sengsara. Hancurkan keluarga itu se hancur - hancur nya...". Gumam Shela saat berada di ambang pintu.


"Mami buat apa di sana. Tutup pintu nya! Aku nggak mau orang lain melihat wajah ku yang sangat jelek ini". Panggil Cleo dengan ketus.


"Iya sayang. Kamu tetap harus pede dengan wajah kamu ini. Ingat sebentar lagi identitas kamu akan berubah menjadi Jasmin, saudara kembar kamu yang lembur dan baik hati. Kamu harus mulai membiasakan diri, jangan sampai ada yang curiga dengan identitas sebenar kamu. Jangan sampai repotasi keluarga daddy kamu tercemar". Pesan Shela pada Cleo.


"Kalau itu aku tahu la, mami. Nggak perlu mami ingat kan terus, aku bosan dengar nya. Ini aja aku kayak mau gila berada di dalam ruangan ini terkurung nggak boleh keluar. Jangan tambah beban otak ku lagi!". Ujar Cleo sambil menghela nafas kasar.


"Iya maaf. Mami nggak akan ngulangin perkataan itu lagi. Bagaimana keadaan kamu hari ini? Apa ada yang perlu mami belikan untuk kamu?". Tanya Shela perhatian.


"Nggak perlu, aku cuma mau keluar tapi baku tahu belum waktu nya. Jadi aku nggak perlu apa pun sekarang". Sahut Cleo.


"Bagaimana kalau kita ngajak teman - teman kamu ke sini? kita buat pesta di ruangan ini". Saran Shela.


"Aku belum siap memperlihatkan wajah baru ku ini pada mereka, mami. Apa lagi nanti aku akan melakukan operasi plastik yang ke dua kali. Harus berapa kali mereka melihatku berubah wajah...". Sahut Cleo menolak.


"Bukan kah mereka anak buah kamu juga. Mereka pasti tidak akan berani berkata jelek tentang kamu". Kata Shela.

__ADS_1


"Tetap saja aku nggak mau ketemu mereka dulu...". Cleo tetap menolak.


"Terserah kamu saja nak...". Shela akhirnya mengalah, ia akan memikirkan cara lain untuk menghibur Cleo agar tidak terlalu bosan berada di ruangan ini.


*


*


Kembali ke kota mati, Rafa sedang cemas dalam kamar Jasmin. Ruangan itu di lengkapi keamanan yang susah untuk di jebol dari luar. Tapi tetap saja ia tidak bisa tenang dan menyerahkan semua pada anak buah nya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan menyerang langsung lawan nya yaitu mantan rekan seperjuangan nya. Tapi sekarang posisi mereka berseberangan dan saling menyerang.


Saat di luar, terdengar jelas pertarungan antara kedua pihak. Tiba - tiba sebuah peluru mengenaik tepat ke dada sebelah kanan nya. "Siap, kenapa aku jadi lupa pada Pundas. Pasti dia sekarang berada di bangunan seberang". Gerutu Rafa sambil memegang dada nya yanf sedang terluka.


"Target tepat pada sasaran". Seru Pundas dan di dengar oleh seluruh pasukan klan Naga Merah terutama Dilan dan Zack.


Dilan yang memang sudah menunggu kemunculan Rafa, bukan nya senang ia malah kesal pada Pundas. "Yang lo tempak kenapa goblok!!". Teriak Dilan kesal. "Sekarang posisi nya di lantai mana?". Tanya Dilan.


"Di lantai tujuh, bahagia kiri bangunan". Jawab Pundas malas.


Sesampai di lantai tujuh sosok Rafa tidak kelihatan di mana - mana. "Keluar lo sialan! Gue nggak akan biar kan lo mati sebelum lo menjelaskan semua ini pada gue. Dasar pengkhianat!!". Teriak Dilan menghantam semua perabotan yang bisa di gunakan untuk Rafa bersembunyi.


"Katakan di mana brengsek itu bersembunyi!". Pinta Dilan pada Pundas.


"Cari aja sendiri! Dasar buta!!". Kesal Pundas.


"Ihh, makin buat kesal pula ini orang. Kalau dia mati dan kita tidak sempat mengetahui semua nya bagaimana goblok! Cepat katakan saja apa susah nya sih?". Geram Dilan menghantam sebuah kayu dan ia merasa ada yanhmg mengganjal dari dalam.


Kayu yang keras saja bisa hancur di tangannya, mana kan pula kayu lembut ini. "Pasti dia ada di dalam. Akan ku buat lo merasakan neraka nya dunia". Gumam Dilan dendam dalam hati.


Sementara Rafa meringis kesakitan memegang dada nya yang terluka parah. Beruntung peluruh ini tidak tepat menembus jantungnya. Kalau tidak sudah terkujur tak bernyawa dia sekarang. Tapi Dilan sekarang menemukan tempat persembunyian nya, jika di biarkan maka pukulan nya akan tepat terkena luka nya dan nyawa nya akan benar - benar lenyap.

__ADS_1


Bukk,,, bukk,,, buk,,,


Tiga kali Dilan melayangkan tinju nya pada tubuh Rafa berlapis kayu yang hampir hancur. Rafa sudah tidak bisa lagi menahan sakit yang mendera dirinya.


"Keluar lo sialan! Kalau nggak rasakan saja pukulan gue sampai malaikat maut datang menjemputmu...". Dilan mulai tidak sabar dan mengancam Rafa.


Tiba - tiba kayu itu terjatuh bersamaan tubuh Rafa yang sudah tidak berdaya. Dilan melihat tubuh sahabatnya langsung teringat semua kenangan antara mereka berdua. Dari kecil hingga beberapa hari lalu, mereka masih bersama, tertawa bersama bahkan melawan musuh mereka bersama tapi sekarang semua nya berubah. Mereka berada di jalur yang berbeda dan bertentangan.


"Dunia ini memang sangat kejam, Raf. Bahkan orang yang melahirkan kita saja tega membuang kita ke tempat kumuh ini. Tergantung dari kita saja untuk bertahan hidup, sama ada kita sanggup atau memilih mengakhiri semua nya dengan menyerah begitu saja...". Ucap nya pada Rafa saat berusia lima belas tahun saat Zack belum datang menyelamatkan hidup mereka.


"Kita akan selalu bersama, Lan. Jangan ada pengkhianatan di antara kita. Kamu mau berjanji dengan ku kan?". Rafa mengulurkan tangan nya untuk membuat perjanjian bersama Dilan.


"Baik aku berjanji". Sahut Dilan setuju.


Tiba - tiba kaki nya di sentuh oleh Rafa membuat lamunan Dilan buyar.


"Tolong aku, Lan". Lirih Rafa memelas.


Dilan menghela nafas berat lalu berjongkok menghadap Rafa. "Kamu minta tolong sama aku sedangkan kamu sudah mengingkari janji di antara kita. Kamu masih sadar kan?". Tanya Dilan ketus.


"Aku tidak mengkhianati mu, Lan...". Balas Rafa.


"Lalu ini apa?". Teriak Dilan.


"Aku tidak pernah mengkhianati persahabatan di antara kita Dilan. Aku hanya mengkhianati Zack. Dia musuh keluarga ku, aku harus melenyapkan nya demi keluarga ku". Sahut Rafa menjelaskan.


"Musuh keluarga mu? Emang siapa keluarga mu? Bukan kah kita berdua ini anak terbuang, kamu masih mau membaktikan diri mu pada keluarga yang tega membuang mu? Jangan bodoh kamu Rafa!". Cerca Dilan mencoba melepaskan kaki nya dari di sentuh oleh Rafa.


"Nggak Dilan! Mereka tidak membuang ku, mereka kehilangan diriku. Ku mohon Dilan tolong selamat kan aku!". Lirih Rafa memohon.

__ADS_1


l


__ADS_2