Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 162 Ide pembawa petaka


__ADS_3

Rehan berdiri dan berjalan ke hadapan ibunya dengan tatapan tajam. Tidak terima jika kehilangan anak nya malah di Jadi kan keuntungan untuk diri sendiri dan ibunya. Baginya itu sangat tidak manusiawi, secuek - cuek dia pada putra sulung nya itu tapi ia tidak pernah berpikir walau sekali pun untuk menjadi kan anak nya itu sebagai bahan menghasilkan uang. Sangat tidak pantas bagi seorang ayah memanfaat kehilangan anaknya untuk keuntungan materi.


Tanpa mempedulikan perasaan ibunya, Rehan menarik kerah baju bu Wahida memperlakukan seperti seorang pria. "Sekarang baru aku tahu kalau selama ini ibu sebenarnya tidak menyayangi anak ku dengan tulus, hanya bersikap manis jika di hadapanku tapi sebenarnya tidak peduli padanya jika aku sudah tidak ada. Bukan hanya Aisyah yang ibu tidak suka dulu, bahkan anak kami juga ibu tidak terima...". Ujar Rehan dengan panas membara di dalam hatinya akibat sikap ibu nya yang sudah sangat keterlaluan.


"Tu turun kan ibu, Rehan! Le leher i ibu sakit..". Rintihan bu Wahida sambil memegang tangan Rehan kuat agar terlepas dari lehernya.


"Orang yang tidak berperasaan seperti kamu tidak pantas hidup di dunia ini". Imbuh Rehan bernada sinis.


Mata bu Wahida membelalakkan matanya takut dengan ancaman anaknya, ia sudah tua tapi masih takut dengan kematian. "Aku tidak bisa diam saja begini, kalau aku hanya pasrah yang ada nyawa ku melayang di tangan anak ku sendiri". Batin Bu Wahida sambil memikirkan cara untuk lepas dari cengkraman putranya yang tersulut emosi oleh kata - katanya sendiri.


"Kamu harus mati di tangan ku sekarang, aku tidak mau anak ku kau jadikan bahan penghasil uang. Kau siapa mau memperalat anak ku, hah?". Rehan terus berbicara yang tidak masuk akal, dari perkataan nya seperti nya ia lupa jika yang dia cekik sekarang adalah ibunya sendiri.


"Kamu ingat tidak Rehan waktu kamu kecil dan jatuh di sepeda lalu menangis kesakitan siapa yang datang memelukmu meredahkan tangis mu?". Sahut bu Wahida mencoba mengingatkan Rehan akan kenangan sedih sewaktu kecilnya.


.


"Mesti lah aku tahu, ibu ku yang datang memelukku aku sangat menyayangi ibu ku". Jawab Rehan. Terbukti jika saat ini Rehan menganggap bu Wahida sebagai orang lain. Depresinya semakin parah sehingga ia tidak mengenali wajah ibu nya sendiri saat tersulut emosi.


"Aku lah ibu kamu, nak. Hanya yang tahu bekas luka di paha kamu itu karena apa, itu karena kamu jatuh di sepeda waktu itu". Imbuh bu Wahida sambil berusaha menarik tangan Rehan agar tidak terlalu menekan lehernya.

__ADS_1


Rehan baru ingat jika bekas luka di pahanya memang hanya ibunya yang tahu dari mana bekas luka itu berasal. Meneliti wajah wanita di hadapannya dengan seksama dan ia langsung melepas tangannya dari leher ibu nya. Menatao tangan nya yang sudah tega menyakiti wanita berharga dalam hidup nya itu.


"Maaf ibu, aku tidak sengaja!". Seru Rehan menyesal. Ia lalu berlari meninggal kan ibunya yang berusaha memperbaiki pernafasannya.


"Kalau aku memiliki anak lebih daru satu, mungkin aku sudah membawa si Rehan itu pergi ke rumah sakit jiwa. Kalau seperti ini terus bisa - bisa aku yang benar - benar gila meladeni sikap nya itu. Dasar anak tidak bisa di untung!". Kesal bu Wahida.


"Kalau kamu tidak mau datang ke mansion itu untuk membuat perhitungan atas kehilangan cucu ku pada keluarga kaya yang sombong itu, pasti aku akan membawa yang banyak nanti". Wajah bu Wahida malah berubah sembringan jika mengingat sebentar lagi akan menerima uang banyak dari hasil memanfaat kesusahan orang lain.


*


*


"Rehan! Ibu mau pergi dulu yah, ada pertemuan dengan teman arisan ibu di luar. Kamu kalau mau makan tinggal panaskan lauk di kulkas. Ibu pergi dulu yah!". Pamit bu Wahida berbohong dengan tujuan nya pada Rehan karena khawatir putra nya itu kembali kesal dan malah berniat membunuh nya.


Tiada tangapan dari dalam kamar Rehan. Rehan tiada niat sama sekali untuk membalas ucapan ibunya yang pamit keluar untuk urusan sosalitanya. Rasa bersalahnya sudah tega mencekik sang ibu hingga hampir mati membuathya malu untuk membuka mulut. Ia juga harus berangkat ke rumah sakit bertemu dengan psikiater yang menangani masahhya untuk berkonsultasi dan menceritakan semua yang terjadi tadi pada dokter psikiater.


Ia tidak menyangka jika gejala yang ia alami malah semakin parah padahal beberapa minggu ini dia sudah begitu santai dan sama sekali tidak memikirkan hal yang berat - berat tapi bukannya sembuh sakit nya malah semakin parah.


Setelah membersihkan tubuhnya dan sudah terlihat rapi ia langsung mengambil kunci mobil miliknya di atas meja dan melangkah meninggalkan rumah kontrakan nya. Mobil melaju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang membelah jalan kota yang sudah sibuk karena warga nya sudah pada mencari makan untuk mengisi perut di siang hari ini.

__ADS_1


Sesampai di rumah sakit samar - samar terdengar di telinga Rehan seorang dokter berbicara dengan seseorang, tapi dari ucapannya seperti nya orang yang ia kenal sedang mengalami masalah.


"Apa? Nyonya Mega jatuh pingsan lagi dam pak Panji sekarang sedang lemas!". Imbuh dokter pria itu dengan kaget, wajahnya terlihat sangat cemas setelah mendengar kabar dari seorang di balik panggilan itu.


"Baik, saya akan segera berangkat ke sana untuk memeriksa kesehatan mereka". Sam buahnya lagi lalu kembali memasuki mobilnya dan melaju pergi dari rumah sakit menuju mansion Purbalingga.


"Mantan ibu dan ayah mertua jatuh sakit? Mungkin terlalu pusing memikirkan kehilangan Aisyah dan Albar. Aku juga semakin parah mungkin karena terlalu pusing memikirkan mereka berdua. Aku harus segera bertemu dokter dan pergi menjenguk mereka, siapa tahu dengan perhatian yang ku berikan akan meluluhkan hati mereka lalu aku akan di resti kembali rujuk dengan Aisyah saat dia dan anak kami berhasil di temukan". Gumam Rehan masih berharap menjadi menantu dari orang kaya seperti Mega dan suaminya.


*


*


Sementara bu Wahida sudah sampai di depan gerbang Mansion Purbalingga, mata nya tampak kaget karena di sana begitu banyak pengawal dan juga polisi yang berjaga. Dia takut untuk masuk ke sana tapi tekatnya mendapatkan uang begitu tinggal sehingga mengabaikan rasa takutnya melihat semua pria berbadan besar itu.


"Bukan kan gerbang nya! Saya ingin masuk menjenguk cucu pertama saya di dalam". Pinta bu Wahida pada satpam yang menjaga gerbang.


Satpam itu tahu wanita yang berada di hadapannya sekarang tidak lain merupakan mantan ibu mertua dari majikan mereka, nenek dari den Albar mereka. Dua orang satpam itu saling bertatapan, ingin membenarkan masuk takut jika majikan mereka marah tapi mengabaikan niat baik wanita tua ini juga tidak baik, karena wanita itu pasti akan curiga tentang hilangnya cucu pertamanya dan akan berakibat fatal pada media sosial.


"Sila tunggu sebentar ya buk, kami harus meminta izin dulu pada majikan kami. Jika anda memang ingin bertemu den Albar silakan tunggu saja dulu di luar". Sahut salah satu satpam.

__ADS_1


Bu Wahida pasrah dan memposisikan punggungnya di kursi yang di sediakan di luar gerbang di lengkapi dengan pelindung dari terkena cahaya matahari. Sangar nyaman menurut bu Wahida.


__ADS_2