
Bu Sukma, Titin dan Aisyah segera berganti pakaian untuk menyamarkan identitas mereka saat di perjalanan. Tak lupa Albar juga di rias sama seperti mereka yang melakukan penyamaran. Titin yang menyetir mobil karena rekannya tampak lelah semalaman tidak bisa tidur di hantui ketakutan berada di hutan.
Sepanjang perjalanan hanya Rafa dan Albar yang tertidur lelap sedangkan Aisyah dan bu Sukma di liputi rasa gelisa sepanjang jalan. Takut jika sewaktu - waktu ada orang yang mengetahui keberadaan mereka dan membatalkan niat mereka untuk kabur. Bagi Aisyah tidak mengapa tapi ia memikirkan nasip Titin dam ibu nya yang ikut terseret akibat permintaan konyol nya.
Aisyah juga tidak habis - habis mendoakan keselamatan untuk Zack. Ia berharap Zack bisa pulang dan menjaga orang tua mereka sama seperti sebelum kehadiran nya. Ia tidak sanggup jika harus hidup seperti yang kelaurganya ingin kan. Sebenarnya terselit juga di hatinya rasa bersalah telah berbuat nekat seperti ini, pasti orang di rumah di buat heboh terutama orang tuanya pasti akan kepikiran dengan nasib nya.
Tapi tekatnya untuk pergi sudah bulat dan terlanjut terjadi, mau menyesal juga tidak mungkin karena sekarang ia sudah melibatkan orang lain dalam urusan ini.
Di pertengahan jalan Titin memberhentikan mobil untuk membeli makanan, ingin melarang tapi perut bu Sukma tiba - tiba bergemuruh meminta di isi jadi ia membatalkan niatnya.
"Saya pesan nasi bungkusnya sepuluh yah, mbak". Ujar Titin pada penjual nasi kuning di pinggir jalan.
"Sila tunggu sebentar ya bang, saya buatkan untuk mas ini dulu soalnya pesanan nya banyak banget dan udah dari tadi juga nunggunya". Balas nya ramah.
Ingin meminta untuk di buatkan lebih dulu tapi Titin takut membuat mas yang menunggu itu marah. Terlihat dari wajahnya udah mulai kesak mungkin sebab men menunggu terlalu lama. Titin duduk di kursi yang di sediakan dengan gelisah..
Meskipun lokasi ini udah keluar dari kawasan perkotaan tapi setahu dirinya area ini adalah lokasi rondaan polisi setiap hari. Tapi ingin membeli di tempat lain sudah tidak ada lagi. Ini adalah penjual makanan pinggir jalan terakhir yang akan mereka jumpai sepanjang perjalanan nya. Daripada harus menahan lapar sampai besok lebih baik berdoa saja agar semua di lindungi dari segala hal buruk.
Lima belas menit kemudian pesanan mas galak tadi udah selesai, giliran pesanan nya yang akan di buatkan. Lima belas menit kemudian pesanan nya juga sudah siap. Bau nya sangat menggunggah selera. Titin mengeluarkan tiga lembar uang merah dari sakunya dan membayar pesanan nya.
Saat baru saja membalikkan tubuhnya, sebuah mobil polisi berhenti tepat di depan mobil nya. Aisyah dan bu Sukma di dalam mobil juga semakin di buat cemas tapi sebisa mungkin mereka bersikap biasa saja dan santai..
"Assalamualaikum, pak polisi". Sapa Titin sambil menyalami kedua pria berbadan besar yang berjalan menghampiri nya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ustaz, dari mana ingin kemana? Saya rasa mobil anda baru pertama kali lewat jalan ini". Balas salah satu di antara polisi dengan ramah.
"Iya pak, saya dan keluarga saya sedang melakukan mudik dari kota Makasa menuju desa Sambah. Singgah hanya untuk membeli makanan pengisi perut selama perjalanan". Jawab Titin dengan akting yang mengagumkan.
"Berapa orang dalam mobil kok belinya banyak banget?". Polisi menggoda Titin yang mene teng tapau dengan jumlah yang begitu banyak.
"Oh ini, kami hany berjumlah empat orang dan anak kecil satu tapi karena malas singgah - singgah dan belum tentu di hadapan ada penjual lagi jadi saya beli untuk persiapan makan malam juga. ...". Ucap Titin berusaha untuk tidak gugup di depan polisi itu..
"Oh, begitu yah, tampaknya jauh anda akan melakukan perjalanan nanti". Seru polisi itu ber bergurau.
"Iya begitu lah tampaknya pak, he he". Titin ingin cepat pamit tapi dua polisi itu tampaknya asik berbicara dengan nya sehingga terlihat sangat santai.
"Boleh kami lihat siapa saja di dalam mobil?". Polisi yang satu nya mulai curiga..
Mereka bertiga akhirnya menghampiri mobil yang di bawa Titin, Aisyah dan bu Sukma sudah bersiap dengan penyamaran mereka. Saat jendela mobil di ketuk dari luar mereka perlahan menurunkan kaca mobil dan berusaha bersikap biasa saja.
"Maaf mengganggu, saya hanya mengambil waktu ibu sebentar...". Ujar polisi tadi dengan tersenyum cerah tanpa ada mimik curiga sedikit pun dia hanya berniat untuk menyapa keluarga Ustad yang baru saja mereka kenal itu..
Aisyah dan bu Sukma hanya menelangkupkan kedua tangan mereka kehadapan sebagai sapaan.
"Wanita yang duduk di hadapan anda adalah adik perempuan saya begitu juga anak perempuan kecil yang memakai cadar yang sedang tidur itu. Sedangkan yang di sana adalah ibu saya, ada juga pria yang duduk di depan sedang tidur itu adik lelaki saya, dia sedikit mabuk jadi tertidur sepanjang perjalanan". Jelas Titin memperkenal kan semua seisi mobil pada polisi.
"Salam kenal buk, dek. Semoga perjalanan lancar yah. Di hadapan ada jalan yang di kelilingi hutan jangan berhenti jika ada siapa - siapa di jalak sana meminta bantuan takut pemalak jadi hati - hati saja". Polisi itu malah menunjukkan perhatian dan rasa hormat pada mereka semua.
__ADS_1
Penampilan Titin yang terlihat seperti alim ulama dengan jubah dan surban yang menghiasi kepalanya dan penampilan Aisyah dan bu Sukma yang memakai cadar serba hitam dengan sikap yang ramah dan santun membuat dua polisi itu menghormati mereka.
"Terima kasih doa nya pak, kalau begitu saya pamit melanjutkan perjalanan dulu". Titin akhirnya pamit meninggalkan dua polisi itu.
Setelah mobil berjalan dan berada sedikit jauh dari posisi tadi baru lah mereka semua bisa bernafas lega. Ternyata polisi tadi hanya berniat menyapa mereka tanpa ada niat curiga.
"Kalian makan lah dulu, takut nya kalian lemas karena sepanjang perjalana tampak gelisah". Titin berbicara sambil fokus menyetir sedangkan Rafa masih asik tidur tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.
"Kamu bawa mobilnya perlahan aja supaya ibu bisa menyuapi mu makan juga". Saran bu Sukma khawatir dengan keadaan anak nya yang sejak tadi menyetir tanpa henti.
"Baik lah kalau ibu sudi melalukan nya untuk ku, jujur sebenarnya aku sudah sangat lapar dari tadi". Titin berkata sambil menahan malu.
"Ibu tahu, ibu yang sudah membawamu di perut ibu selama sembilan bulan, menyusui kamu, menjaga dan mendidik kamu sampai bisa seperti ini. Jadi ibu pasti sudah sangat hafal apa yang kamu ingin kan. Cuma ibu kan juga manusia biasa tidak semua bisa ibu kabulkan untuk kamu, ada juga yang perlu kita tahan dan bersabar saja siapa tahu Allah bersedia mengabulkan nya untuk kita...". Ujar bu Sukma.
Sepanjang perjalanan di hiasan perhatian dan kasih sayang di antara mereka. Bu Sukma selalu mengoceh bercerita tentang masa kecil Titin, cara merawat anak kecil yang super aktif dan remaja yang sangat mengayomi keluarganya, bahkan kisah cinta Titin pun tidak luput bu Sukma cerita kan sehingga membuat Titin malu pada Aisyah.
"Jadi Titin sudah punya istri? Pasti istrinya cantik dan juga baik hati seperti kalian, aku senang jika nanti aku akan dikelilingi orang - orang seperti kalian semua. Aku akan mengabulkan perkataan Titin tadi pada pak polisi, say akan menjadi adik perempuan dan anak ibu yang sangat baik ini". Seru Aisyah girang.
Kini giliran Rafa yang menyetir mobil memasuki perkampungan yang terletak di pinggir hutan berbukit, sungai yang jernih dan sangat indah. Saat mereka masuk persimpangan jalan kampung sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sedang kan perjalanan dengan jalan berbatuan masih ada sekitar dua jam lagi.
Mobil berhenti di sebuah rumah bambu sederhana yang tampak sangat cantik di kelilingi dengan pohon buah - buahnya yanv sudah berbuah banyak. Dua wanita berdiri di ambang pintu menyambut kedatangan mereka malam - malam ini.
Mata Aisyah membulat sempurna saat melihat salah satu dari wanita itu adalah orang yang dia kenali. "Jasmin!!!!!!".
__ADS_1