Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 205 Merasa bersalah


__ADS_3

Alena tidak bisa menenangkan sahabatnya, hatinya turut tersayat melihat Aisyah menangis karena dirinya. "Maaf kan aku, Syah. Aku sama sekali tidak berniat nyakitin hati kamu, aku cuma nggak mau nambahin beban pikiran kamu dengan masalah yang sedang aku hadapi ini". Lirih Alena dalam hati.


Syakir bisa melihat semua dari tatapan Alena yang teduh pada Aisyah. Ia yakin jika Alena sebenarnya sedang dalam masalah dan tidak mau bercerita pada Aisyah. "Aku tidak tahu maksud kamu menyenbunyikan nya dari Aisyah, aku harus menyelidiki masalah ini. Aisya pasti sedih jika tah sahabatnya sedang dalam masalah". Gumam Syakir dalam hati.


Ia mengirim pesan pada Dilam untuk mengirim beberapa anak buah mereka untuk menjaga sambil menyelidiki masalah yang sedang di hadapi oleh Alena.


"Aku sudah sangat kesepian, Len. Aku mohon jangan lakukan ini padaku. Kamu salah satu sahabat yang sangat aku sayangi, Len. Aku mohon jangan menikah dengan Rehan dan memutuskan persahabatan di antara kita". Aisyah masih belum menyerah, ia masih berusaha memohon pada Alena dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.


"Sudah lah, Syah. Ayoh kita pergi. Dia berhak memutuskan hal yang bisa membuatnya bahagia. Dia menikah dengan Rehan bukan berarti dia menjadi masih mu kan. Setiap yang di lakukan Rehan belum tentu dia terlibat di dalam nya. Biar kan dia meraih kebahagiaannya, jangan libat kan dia dalam urusan ita dengan calon suaminya". Bujuk Syakir sambil merangkul bahu Aisyah lembut.


"Tapi aku khawatir dia hanya di jebak dan malah di ancam. Aku sahabatnya aku ingin melindunginya...". Lirih Aisyah sedih.


"Cukup non Aisyah! Aku di jebak atau tidak itu urusan aku. Kamu sama sekali tidak berhak untuk masuk campur. Yang jelas, aku dan mas Rehan saling mencintai, aku tidak butuh perhatian mu yang palsu itu. Sebelumnya kamu ingin menyatukan ku dengan tuan Zack tapi nyatanya kamu yang malah menikamku dari belakang. Kamu dan tuan Zack berpelukan di atap kantor dengan sangat mesra. Mulai saat itu aku memutuskan jika kamu bukan lagi sahabatku kecuali musuhku. Jika sebelumnya aku memilih di saja karena kamu adalah CEO, aku takut di pecat oleh mu tapi tidak sekarang. Mas Rehan yang berkuasa di perusahaan bukan lagi kamu!". Alena membentak Aisyah agar berhenti peduli dengan nya.


Aisyah tersentak, ia tidak menyangka jika Alena dendam padanya. Ia tidak pernah berniat mengkhianati Alena dengan menyatakan cinta pada Zack di atap waktu itu. Aisyah ingin menghampiri Alena kembali untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Tapi lagi - lagi sahabatnya itu menghindar.

__ADS_1


"Cukup non Aisyah yang terhormat, silakan pergi dari sini! Di antara kita sudah tidak ada lagi yang perlu di bincang kan. Aku sibuk dan tidak ada masa untuk meladeni sikap tidak tahu malu mu ini. ..". Tegas Alena mengusir Aisyah.


"Sudah lagi, nak. Jangan terlalu kasar pada nya". Bisik ibu Alena mengingat kan anak nya. Ia tahu jika sebenarnya Alena juga nggak tega membentak Aisyah tapi sikap keras kepala Aisyah memang harus pakai kekasaran baru dia ingin mengerti.


"Sudah lah, Syah. Ayo kita pulang. Dia juga sama sekali tidak memerlukan pertolongan dari kita jadi biar kan saja dia dengan pilihannya. Kita pulang dan istirahat, besok kita harus ke rumah sakit untuk menjenguk daddy dan mommy...". Syakir membujuk Aisyah seolah dirinya saat ini adalah Zack. Ia tahu jika cara yang membujuk yang biasa ia gunakan paa Aisyah pada berhasil. Ia tidak peduli jika Aisyah curiga yangboenting saat ini ia harus membawa Aisyah pergi dari sini karena ia tidak sanggup melihat wanita itu menangis seperti sekarang.


Aisyah nurut seperti perkiraan Syakir. Syakir yang perhatian pun merangkul bahu Aisyah menuntun kan untuk masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi, Aisyah masih sempat menoleh ke pintu rumah makan Alena. Perkataan kasar Alena sama sekali tidak berpengaruh padanya. Baginya Alena adalah sahabat yang sangat baik dan pengertian, jika Alena berubah maka dia yang bersalah.


"Sudah, jangan pikir dia lagi...". Syakir melajukan mobil meninggal kan rumah makan Alena.


Sementara Alena berdiri di jendela melepas kepergian Aisyah dengan rasa bersalah yang menyerap di hatinya. Ia merasa bersalah sudah membuat Aisyah menangis akibat benatka dan kata - kata kasar nya.


"Sudah lah, nak. Kamu sendiri yang memilih untuk menyembunyikan hal ini pada Aisyah. Ibu selalu dukung apa yang kamu lakukan. Cuma yang ibu harap kamu bisa menjaga dirimu dari pria bernama Rehan itu. Dia cukup licik dan bisa melakukan apa saja untuk memenuhi kedinginan nya. Janji sama ibu, kamu akan selamat jika berhadapan dengan Rehan itu sendiri". Ujar ibu Alena cemas dengan keselamatan anak gadis kesayangan nya.


Alena menghapus air matanya dan menatap ibunya lembut. "Ibu dan ayah tenang saja. Alena bisa menjaga diri ku sendiri kok. Lagi pula Rehan sangat bucin padaku, dia tidak akan bisa menyakiti ku, bu". Imbuh Alena menenangkan ibu nya.

__ADS_1


"Tetap saja, nak. Sebucin - bucin nya seorang lelaki tapi jika kita sudah berani mengkhianati nya maka tiada sebab ia akan tetap sabar dengan wanita nya. Apa lagi si Rehan itu memiliki kepribadian yang mudah berubah - ubah. Ibu khawatir jika tiba - tiba dia menemukan wanita idaman lain dan akan menyingkirkan kamu. Bagus jika ia mengembalikan kamu pada ibu dengan cara baik - baik, tapi kalau dia hanya membawa ma.....". Ibu Alena terus saja mengeluarkan kecemasan nya tapi Alena segera menutup mulut ibunya agar tidak berpikir berlebihan tentang nya.


"Ibu jangan bilang kayak gitu. Meskipun ibu hanya ibu angkat ku tapi aku tetap yakin jika setiap ucapan yang keluar dari mulut ibu untuk ku adalah sebuah doa. Jadi aku mohon berucap lah yang baik - baik saja ya, bu...". Bujuk Alena.


"Sedang apa kalian di situ? Sini tolong ayah, ini ada ramai pelanggan dan pelayaj kita sedang kurang. Yang lain sedang membersihkan dapur yang sedang berantakan akibat permintaan kamu tadi agar Rehan tidak berlama - lama di sini tapi nyata nya dia malah betah di sini karena kamu melayani dengan sangat baik. Sudahi drama sedih - sedih kalian dan kemari menolong ku melayani pelanggan". Tegas ayah Alena yang tampak kesal dengan dua wanita yang malah sibuk dengan urusan mereka sendiri.


"Ayoh, bu. Itu ayah pasti tida suka lihat kita nangis seperti sekarang maka nya ia marah - marah. Biasanya juga ia layan pelanggan sendiri kok sekarang malah marah - marah nggak jelas gitu. Sebelum ayah makin marah, lebih baik kita segera menolongnya". Bujuk Alena mengerti maksud ayahnya.


Ibu Alena nurut dan segera pergi menghampiri pelanggan. Sedangkan Alena malah menghampiri sang ayah untuk menegurnya.


"Ayah ini gimana, sih. Ibu kan lagi nangis tadi, ayah malah membentaknya kalau ibu makin sedih gimana?". Bingung Alena.


"Kamu tenang saja. Ayah bukan nya tidak sayang dengan ibu kamu. Ayah cumu tidak suka melihat kalian berdua menangis. Ibu kamu kalau di tegur dengan lembut bukannya berhenti nangis ia malah tambah meraung jadi ayah terpaksa memarahinya. Nanti ayah bujuk, kamu tenang saja. Ibu kamu pasti ngerti maksud ayah kok". Jelas ayah Alena.


Alena pun tersenyum mendengar penjelasan ayah nya. Menurutnya ibu dan ayah nya adalah pasangan yang serasi. Saling menyayangi dengan cara mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2