Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 140 Penolakan secara halus


__ADS_3

Larut dalam khayalannya, bu Wahida sampai tidak mendengar obrolan yang berlaku antara Rehan, Aisyah dan kedua ibu bapaknya.


"Kami datang ke sini seperti yang telah di ketahui sebelumnya bahwa saya ingin mempersunting Aisyah kembali menjadi istri saya". Ujar Rehan setelah puas berbasah basi.


Mega dan Aisyah memilih diam dan memberi Panji kesempatan untuk mengintrogasi Rehan sebelum memberi keputusan yang sudah mereka sekeluarga putuskan.


"Bukan kah sekarang kamu masih memiliki istri bernama Desi yang kamu kahwani secara siri saat kamu dan anak saya belum resmi bercerai. Kamu ingin menjadikan anak saya istri kedua kamu?". Tanya Panji menohok.


"Maaf tentang masa lalu yang sudah terjadi, saya akui kalau saya khilaf saat itu, saya sangat menyesal om! dan menyadari bahwa hanya Aisyah lah yang pantas untuk di jadikan istri". Jawab Rehan dengan percaya diri. "Lagi pula kami saat ini sedang proses cerai dan saya berjanji akan menjadi Aisyah istri satu - satunya dalam hidup saya". Sambungnya berjanji.


"Apa penyebab kamu ingin menceraikan istri kami yang bernama Desi itu?". Tanya Panji dingin.


"Dia adalah wanita licik, menikah dengan saya hanya untuk menguras semua harta milik saya. Menceraikannya juga karena sudah tidak lagi sejalan, dia terlalu banyak menuntut tidak seperti Aisyah dulu saat masih menjadi istri saya". Rehan melirik Aisyah dan di balas dengan senyum tipis.


"Tapi yanh saya tahu dia yang menuntut cerai kamu karena terbukti selingkuh dengan wanita lain, jadi saya harus percaya yang mana, ucapan kamu atau hasil penyelidikan yang sudah saya terima?". Imbuh Panji sinis.


Rehan tercengang tidak menyangka bakal mertuanya tahu masalah pokok perceraiannya dengan Desi. Tapi semuanya bukan atas kesengajaan, ia di jebak oleh seseorang hingga terlihat seperti dia sedang selingkuh dengan tidur bersama perempuan lain.


"Semua itu tidak benar pak Panji! Malam itu saya di jebak oleh seseorang dan saya yakin itu semua perbuatan istri saya sendiri agar lepas dari pernikahan kami dan membawa semua harta milik saya. Karen kami sempat menanda tangani sebuah kontrak sehingga jika saya terbukti selingkuh maka semua aset kekayaan akan jatuh ke tangannya". Jelas Rehan dengan sungguh - sungguh.


"Saya juga ada foto itu". Panji memperlihatkan ponselnya yang terpapar Rehan yang sedang memeluk seorag wanita dengan mesra tidak terlihat sama sekali dia terrpakasa karen wajahnya tampam bahagia..

__ADS_1


"Itu semua fitnah pa Panji! Anda harus percaya sama saya, say di jebak oleh bakal mantan istri saya. Saya harap anda berpihak pada orang yang benar yaitu bakal menantu anda sendiri". Sahur Rehan mulai tidak enak hati.


"Siapa bakal menantu saya yang kamu maksud? Kamu? Ha ha ha". Panji malah tergelak di ikuti Aisyah dan Mega yang menahan gelak di sampingnya.


"Ya iya lah, siapa lagi? Saya dan Aisyah akan segera rujuk dan saya akan menjadi menantu anda itu yang lebih tepatnya". Seru Rehan mencoba percaya diri dan tidak tertrofokasi dengan interogasi bakal mertuanya.


"Siapa yang memberi mu restu untuk rujuk dengan anak saya? Kalau restu dari saya ya harus di beli da setelah kalian menikah maka bawa dia pergi tanpa membawa sepeserpun uang dan barang berharga miliknya sebelum menikah. Apa kamu sanggup membeli restu dari saya? Kamu tahu sendiri saya tidan akan menerima harga yang murah untuk putri saya yang sangat berharga". Ujar Panji ketus.


Rehan tercengang dengan apa yang di ucapkan Panji padanya, secara tidak langsung kedatangannya saat ini hanya untuk mengutarakan penolakan secara halus dengan memberikan sarat untuk mendapatkan Aisyah kembali. Restu aja udah mengeluarkan uang yang banyak dan saat sudah menikah pun Aisyah harus ikut sengsara bersama sama nya tanpa membawa uang sedikit pun dari rumah ini.


Untuk apa ia menikahi Aisyah kalau hanya menambah beban dalam hidupnya dan tiada apa - ap manfaat sedikit pun padanya malah hidupnya nanti akan semakin melarat karena harus menghidupi dua orang wanita dan seorang anak dalam keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan.


Tapi Rehan dengan segera mengatur nafasnya dan menganggap itu hanya candaan dari bakal mertuanya.


"Kamu kenapa ketawa Rehan?". Bingung bu Wahida melihat Rehan sampai memegang perutnya tertawa, sangat tidaj sopan. Ia pun segara memukul lengan anaknya agar berhenti tertawa.


"Maaf bu aku sampai lupa diri". Ucao Rehan berusaha menahan geli.


"Maaf ya pak Panji dan bu Mega. Anak sangat tidak sopan tertawa sendiri...". Ujar bu Wahida merasa segan. "Kalau boleh tahu ada perkara lucu apa yah?". Sambung bi Wahida bertanya.


"Tanya akan aja langsung pada anak anda, kami sendiri sampai bingung melihat sikap nya". Jawab Mega ketus. "Kenapa bu Ida bertanya sedangkan dari tadi berada di sini bersama kami, bu Ida tidak mendengar apa yang kami bincang kan?". Tanya Mega heran.

__ADS_1


"Maaf bu Mega saya sedang pusing dan kurang enak badan jadi kurang fokus tadi, sekali lagi maaf kan saya". Bohong bu Wahida merasa malu. Ia kemudian beralih menatap Rehan lagi yang sudah lebih tenang. "Kenapa kau ketawa seperti tadi udah kayak orang gila tahu nggak?". Cerca bu Wahida pada anaknya.


"His apa lah ibu ini, tadi itu pak Panji bilang harus membeli restu dari kalau mau mengajak Aisyah kembali rujuk dan harga nya udah pasti tidak murah katanya. Siapa yang nggak ketawa gitu dengar nya? Bahkan yang lucunya lagi setelah menikah Aisyah akan ikut bersama kita tanpa membawa apa pun dari rumah ini, lucu kan? Ha ha ha". Rehan kembali tergelak.


Bu Wahida menutup mulutnya syok dengan sikap Rehan yang berbeda. Segera ia menggeleng kepala membuang semua prasangka buruk terhadap anaknya sendiri.


Bu Wahida mencubit Rehan kuat untuk memintanya berhenti bersikap seperti orang bodoh. "Diam kalau kamu tidak mau lebih malu lagi di hadapan mereka!". Bisik bu Wahida dengan tegas.


Bu Wahida beralih menatap tiga orang di hadapannya dengan senyum terpaksa. "Maaf jika saya bertanya, yang di katakan Rehan tentang membeli restu itu tidak benar kan? Takkan lah orang kaya seperti kalian meminta uang hanya untuk restu, iya kan?". Tanya bu Wahida berharap yang dikatakan anaknya tidak benar.


"Maaf bu Ida, saya tidak ingin munafik yah. Tapi sebagai orang kaya kami samamu sekali tidak ingin rugi dong, aoa lagi yang kalian ingin ambil itu harta paling berharga untuk kami jadi kami tidak mungkin memberi nya secara cuma - cuma". Jawab bu Mega.


"Tapi anak saya sudah menolong anak anda saat berada dalam kesusahan dikejar preman, kalian juga harus menghargai itu dong! Jika bukan karena anak saya, Aisyah mungkin sudah tiada sampai sekarang". Kesal bu Wahida.


"Tapi jangan lupa juga Rehan dulu juga sudah menyakiti anak saya! Anggap saja pertolongan nya itu sebagai ganti sakit hati kami terhadap nya sekarang Rehan di mata kami seperti orang lain, tidak benci dan tidak suka juga jadi tiada yang perlu di istimewa kan darinya". Balas Mega lagi dengan cuek.


Bu Wahida mengatur pernafasannya untuk menetralkan emosinya akibat sikap keluarga di hadapannya.


"Tapi Aisyah sudah setuju untuk rujuk bersama Rehan, kalian tidak boleh menghalangi niat mereka untuk bersatu". Sahut bu Wahida sedikit menekan ucapannya.


"Kami tidak melarang bu Ida yang terhormat. Kami hanya menginginkan mahar yang tinggal untuk anak berharga kami ini itu syarat yang pertama. Yang kedua jika mereka sudah menikah maka Aisyah harus ikut suaminya tanpa membawa apa pun dari sini. Itu aja kok, syarat kami udah biasa di kalangan kami seperti itu. Jadi kalau Rehan serius meminta Aisyah kembali tanpa ada niat menguasai harta kami maka syarat kami itu tidak masalah bukan". Imbuh Mega santai.

__ADS_1


"Tapi....". Bu Wahida kembali ingin melayangkan protes tapi Rehan segera menahan tangannya untuk berhenti. Ia mulai mengerti jika lamarannya ini tiada harapan sama sekali.


__ADS_2