
"Tapi bagaimana tuan bisa tahu kalau Rafa merupakan seorang pengkhianat?". Tanya Pundas penasaran.
"Aku melihat masa lalu melalui perantara mbah Suryo. Ku melihat Rafa lah yang menjadi pria bertopeng itu, dia memiliki sebuah kebiasaan merekam kesehariannya jika menjadi sang bertopeng...". Jelas Zack.
"Tapi menurut cerita yang beredar, pria bertopeng sudah membunuh begitu banyak orang, dan status korban bukan sembarangan, mereka semua adalah pengusaha - pengusaha yang cukup di segini di dunia bisnis. Sedangkan Rafa selama ini selalu bersama dengan Dilan dan rekan nya yang lain. Bagaimana cara dia melakukan semua pembunuhan itu jika benar dia si pria bertopeng?". Pundas semakin penasaran.
"Maka nya mulai sekarang selidiki gerak - geri nya". Titah Zack pada Pundas.
"Baik, tuan. Saya akan mengutus seseorang untuk memata - mata pergerakannya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, saya akan langsung melaporkan nya pada Tuan..". Sahut Pundas setuju.
Tiba - tiba terlintas di ingatannya sebuah peristiwa yang sempat membuat Pundas bingung. Tapi karena tidak memiliki waktu banyak, maka nya ia memilih cuek dan malah melupakan kejadian itu.
Mengingat kejadian itu ia pun mulai menaruh curiga pada Rafa. "Sebelum aku memastikan semua terlebih dahulu, lebih baik semuanya aku simpan dan bongkar pada waktu yang tepat suatu hari nanti". Gumam Pundas dalam hati.
"Aku akan ke desa tempat tinggal Titin untuk tiga hari kedepan untuk bertemu dengan Jasmin dan Albar, aku harus menceritakan semua kisah kelam keluarganya. Dan mungkin sekarang waktu nya sudah hampir tiba untuk menyambut makhluk kecil yang baru". Imbuh Zack.
"Apa kah tuan akan mengevakuasi mereka sendiri?". Tanya Pundas memastikan apa yang ia pikirkan.
"Bisa jadi. Keberadaan mereka sudah tercium oleh orang selain kita. Aku akan membawa mereka pergi sebelum terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa keduanya. Aku tidak akan membiarkan orang terdekat ku kembali di jadikan sasaran pembalasan dendam terhadap ku". Sahut Zack dingin.
"Jangan ambil resiko dengan bergerak sendiri, tuan. Bawa lah pengawal untuk berjaga - jaga jika terjadi masalah yang tidak di ingin kan. Saya harap tuan berkenan membawa anak buah kepercayaan ku...". Tawar Pundas khawatir dengan keselamatan tuan nya.
"Terserah kamu saja. Aku akan pergi sekarang..". Tutur Zack bangun dari duduk nya lalu melangkah keluar ruangan.
__ADS_1
Pundas mengikutinya dari belakang sambil menghubungi anak buah kepercayaan nya untuk bersiap pengawal kepergian Zack ke Desa tempat tinggal Titin. Dan benar saja, sesampai di luar, anak buah Pundas sudah siap di posisi mereka.
Zack langsung masuk ke dalam mobil tanpa banyak basa basi lagi. Pundas melepas kepergian mereka dengan tatapan penuh pengharapan. "Semoga derita tuan segera berakhir". Batinnya.
*
*
Di tempat yang cukup asing. Bu Wahida mendarat sempurna ke sebuah kota kecil. Tapi bukan di sini tempat ia akan tinggal seorang supir datang menyapanya yang merupakan suruhan Ahmad. Ia akan di bawa kr sebuah desa terpencil yang terdapat di pulau ini. Masih baru, tapi semua keperluan harian nya bisa ia dapatkan meskipun harus menggunakan tenaga ekstra untuk mendapatkannya.
"Bagaimana dengan keadaan putra saya, mas?". Tanya bu Wahida pada supir itu.
"Kalau putra anda saya kurang pasti bagaimana keadaan nya. Tapi yang saya tahu mereka saat ini sedang menaiki kapal pribadi agansi untuk menuju ke pulau ini. Kemungkinan besar besar kita akan bersamaan sampai ke desa itu...". Balas sang supir.
"Selama saya bekerja dengan pak Ahmad. Semua klien nya di bawa terpisah dengan keluarga nya yang lain. Mengapa dia melakukan itu, saya kurang pasti bu, tapi saya sarankan agar anda percaya kan saja semua pada pak Ahmad. Karena menurut saya yang ia lakukan itu yang terbaik untuk ibu dan keluarga ibu. Emang sebab ibu ke desa ini karena masalah apa bu?". Tanya supir itu mengarah ke masalah pribadi bu Wahida.
"Jangan ikut campur urusan saya. Saya mau tinggal di mana ya terserah dari saya saja". Sahut bu Wahida ketus. Ia menolak mengatakan masalah nya pada orang yang baru ia kenal.
"Maaf bu kalau saya lancang..". Tutur supir itu merasa bersalah.
Sejam kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah makan sederhana tapi cukup mengesankan karena letaknya di pinggir pantai membuat para pengunjung suka untuk makan di tempat ini sambil menikmati pemandangan pantai.
"Kita makan dulu, ya bu. Saya khawatir ibu dan anak cewek itu kelaparan, semenjak turun dari pesawat belum pernah kita singgah untuk mengisi perut". Tawar pak supir.
__ADS_1
"Wah, pemandangan di sini indah banget ya pak". Seru Suster terpesona dengan pemandangan yang indah di sekita rumah makan.
"Kenapa kita makan di sini? Tiada yang lebih layak dari ini?". Tanya bu Wahida tampak tidak suka makan di rumah makan sederhana ini.
"Maaf bu, di pulau ini rumah makan ini lah yang paling mewah berbanding yang lain. Jika ibu mencari yang sama dengan kota ibu yang sebelumnya tiada di pulau kecil ini bu. Lihat, begitu banyak pengunjung yang datang membuktilkan kualitas rumah makan ini di atas rata - rata". Imbuh pak Supir.
Bu Wahida tercengang, jika rumah makan seperti ini di bilang paling mewah berarti di desa nya lebih parah lagi. Tapi tekatnya sudah bulat ingin mengubah hidup nya.
"Sekarang lah saat nya aku mulai membiasakan diri dengan kesederhanaan ini. Aku akan menggunakan sisa harta ku dengan sebaik - baiknya. Aku tidak boleh boros dengan mementingkan ego ku seorang yang harus serba mewah sejak dulu". Gumam Bu Wahida meyakinkan dirina sendiri agar terbiasa dengan kehidupan nya saat ini.
"Mari bu, kita makan di sebelah sana. Tampaknya cuma meja itu yang kosong sekarang. Meskipun panas tapi pemandangannya bagus kok, lagi pula Sebentar lagi kan sore jadi tidak panas tidak akan terlalu menyengat". Ajak Suster menarik tangan bu Wahida mesra.
Bu Wahida tercengang dengan perlakukan suster nya terhadap dirinya. Ia tidak pernah menerima Lperlakuakan hangat dan setulus suster itu. Ia sebenarnya tidak terlalu kenal dengan suster baru bahkan nama nya saja ia lupa saking tidak pedulinya dia. Tapi dengan perlakuan lembut ini, ia merasa dekat dengan wanita muda itu.
Mereka bertiga menikmati pesanan mereka dengan beban pikiran masing - masing. Bu Wahida sedang memikirkan masa depan nya yang sudah tentu berbanding jauh dengan kehidupan nya dulu.
"Maaf bu, kenapa ibu tidak pernah mengajakku berbicara atau bercerita bahkan sekedar memanggil nama ku saja nggak pernah. Ibu lupa dengan ku yah?". Tanya Suster itu.
"Nggak kok, nggak usah di pikirin! Habis kan makanan kamu dan kita segara melanjutkan perjalanan ke tempat tempat yang seharusnya. Aku sudah tidak bisa sabar berpisah dengan putraku...". Tutur bu Wahida dingin.
"Baik bu, tapi sebelum itu perkenalkan lagi, nama aku Keysyah. Mulai sekarang ibu bisa mengandalkan ku dalam membantu ibu, di desa nanti hanya ada kita bertiga, meskipun ibu setiap bulan membayar kerja saya. Tapi anggap saja saya ini keluarga ibu. Ibu sudi kan menganggap saya keluarga ibu?". Tawar Suster bernama Keysyah itu.
l
__ADS_1