
"Maaf bu, kenapa ibu tidak pernah mengajakku berbicara atau bercerita bahkan sekedar memanggil nama ku saja nggak pernah. Ibu lupa dengan 00 sudah tidak bisa sabar berpisah dengan putraku...". Tutur bu Wahida dingin.
"Baik bu, tapi sebelum itu perkenalkan lagi, nama aku Keysyah. Mulai sekarang ibu bisa mengandalkan ku dalam membantu ibu, di desa nanti hanya ada kita bertiga, meskipun ibu setiap bulan membayar kerja saya. Tapi anggap saja saya ini keluarga ibu. Ibu sudi kan menganggap saya keluarga ibu?". Tawar Suster bernama Keysyah itu.
Bu Wahida di buat tercengang untuk kesekian kali nya oleh suster pribadinya itu. Ia teringat perlakukan suster sebelum nya pada dirinya dan Rehan. Meskipun ia memberi gaji yang setimbal tapi perlakukan keduanya sangat berbeda. Jika dulu suster itu sangat abai dengan tanggung jawab nya karena kasus yang bakal menjerat Rehan, tidak dengan Keysyah. Ia memperlakukan mereka berbeda.
"Iya, saa tahu". Balas bu Wahida ketus. I tidak mau terlihat jelas seperti terpesona dengan perlakukan Keysyah.
Keysyah membalas dengan senyum cerah di wajah nya lalu melanjutkan makan nya sambil menikmati pemandangan indah pinggir pantai. Setengah jam kemudian mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah beberapa menit menikmati keindahan alam di depan mata mereka sekarang.
"Di desa yang akan kita pergikan nanti lebih indah lagi. Letaknya yang berada di pegunungan membuat beberapa tempat tampak sangat menabjubkan. Kebun teh yang cukup luas juga menambah keindahan desa itu. Apa lagi suhu di sana yang terbilang dingin membuat ibu tidak perlu membeli pendingin ruangan. Anda hanya perlu api unggun, ha ha ha". Canda pak Supir saat melihat Keysyah mau pun bu Wahida terlihat berat meninggalkan tempat itu.
"Yang benar pak?". Tanya Keysyah antusias.
"Benar non. Di sini terkenal dengan perkebunan teh yang cukup luas. Hampir seluruh penduduk di pulau ini memiliki mata pencarian sebagai pemetik teh. Jika kalian membangun rumah di puncak bukit ini maka akan terlihat jelas seluruh bangunan di desa tersebut, bukan itu saja terlihat juga lautan yang jaraknya cukup jauh dari sana...". Jelas pak supir.
Keysyah tampak antusias bercerita dengan pak Supir. Sedangkan bu Wahida memilih untuk mendengar saja apa yang mereka bicarakan. Yang menjadi kekhawatirannya saat ini adalah putranya. Sebelum mereka bertemu dan menemukan tempat tinggal yang tepat, maka ia belum bisa bernafas lega.
*
*
__ADS_1
Zack saat ini sedang berada di dalam mobil menuju desa tempat tinggal Titin. Perjalanan yang memakan waktu sepuluh jam mereka lewati hanya dengan lima jam saja. Mobil yang mereka gunakan dua jenis. Pertama mobil mewah miliknya yang biasa ia gunakan di kota, sedangkan memasuki jalan berbatu mereka bertukar mobil menggunakan mobil khusus pegunungan atau mobil balap gunung.
Pukul lima sore lewat beberapa menit ia sampai di depan halaman rumah Titin tapi....
Zack bergegas turun dari mobil setelah mendapati rumah yang di tinggali Jasmin dan yang lain nya terbakar hangus. Dada Zack bergemuruh dengan sangat kencang. Asap dari kebakaran itu masih terlihat membuktikan jika kebakaran itu baru saja terjadi beberapa jam sebelum mereka sampai.
"Kalian kenapa berdiri diam saja di situ? Sana! periksa apa yang telah terjadi?". Tegas Zack tampak frustasi..
Zack juga ikut masuk kedalam rumah memeriksa keadaan. Tapi tiba - tiba dari belakang bahunya di sentuh oleh seseorang. "Maaf mengganggu. Bapak sekalian ini apa nya yang punya rumah, yah?". Tanya pria paruh baya itu.
"Katakan apa yang terjadi di rumah ini? Kemana semua penghuni rumah ini sekarang?". Tanya Zack tanpa menjawab pertanyaan pria itu terlebih dahulu. Tatapan nya sangat tajam sehingga membuat pria itu menelan slavina berat.
"Saya kepala desa di sini. Lebih baik kita bincang di luar saja...". Tawar pak Desa.
"Cepat katakan!". Ketus Zack. Ia tidak peduli dia di mana sekarang, sikapnya tetap dingin meskipun berada di kawasan orang lain.
"Tadi pagi terjadi kebakaran di rumah ini. Tiada korban yang meninggal tapi dua orang wanita mengalami luka bakar yang cukup teruk. Sebelum saya memastikan siapa saja yang mengalami luka, mereka sudah lebih dulu di bawa pergi oleh seseorang menggunakan mobil mewah. ..". Kata pak Desa menceritakan kejadian pada Zack.
"Kenapa bapak biarkan mereka pergi begitu saja? Kenapa tidak di cegah?". Teriak Zack geram.
"Maaf pak. Mereka sendiri juga tidak keberatan untuk ikut. Karena orang yang membawa mereka pergi adalah orang yang sama beberapa kali datang ke desa ini menghantar keperluan mereka. Saya sama sekali tidak curiga karena saya pikir pria itu adalah keluarga mereka dari kota". Jawab pak Desa sedikit gemetar dengan gertakan Zack.
__ADS_1
"Apa? Jadi ia lebih dulu mengambil tindakan. Bagaimana aku bisa kecolongan seperti ini. Aku yakin Rafa lah yang membawa mereka pergi". Ujar Zack menerka.
Dari kejauhan, salah satu anak buah Pundas datang menghampiri Zack. Dari ekspresinya ia sudah tahu apa yang terjadi pada Jasmin dan yang lain nya.
"Maaf tuan Zack. Saya baru saja dari mencari sinyal untuk melaporkan kehadian pada bos Pundas. Tapi karena dari beberapa jam lalu tidak terdapat jaringan pada semua ponsel, makanya tadi pesan dari bos Pundas baru masuk. Dan sila kan baca pesan ini...". Sahut pria itu dengan nafas yang ngos - ngosan.
(Sebaliknya berputar arah saja kalian ke kota. Nggak perlu ke desa itu lagi, mereka semua sudah tidak ada di sana. Rafa berhasil membaca pergerakan kita jadi ia lebih dulu bergerak mengamankan mereka dengan menatur skenario kebakaran di rumah mereka..).
Setelah men baca pesan itu, Zack menghantam pohon besar yang terletak tak jauh dari posisi mereka berdiri.
"Ahhhh,,, sialan!!". Teriak Zack geram.
Tenyata ia sudah lambat menyelamatkan sahabatnya dan juga ponakan kesayangannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, Jasmin, Albar, Titin, ibu dan istrinya di bawa pergi oleh pria psikopat itu. Menurut apa yang di katakan pak Desa, terdapat dia wanita yang mengalami luka bakar yang cukup parah. Maka nya tanpa pikir panjang mereka semua ikut dengan Rafa untuk menuju rumah sakit.
Zack beralih pada pak Desa. "Bapak yakin tidak tahu siapa saja yang mengalami luka bakar itu?". Tany Zack.
"Benar pak. Saya kurang pasti siapa sebab saya tidak melihatnya secara langsung, tapi ada beberapa warga yang memiliki pendapat yang berbeda - beda. Ada yang mengatakan istri Titin dan ibunya yang mengalami luka bakar itu. Ada juga yang mengatakan wanita mengandung dan istri Titin yang juga hamil besar yang mengalami luka bakar tersebut. Saya bingung mau percaya yang mana, makanya saya bilang aja nggak tahu karena hakikatnya saya tidak tahu". Jelas pak Desa.
"Lalu anak kecil yanh tinggal di sini baik - bai saja kan?". Tanya Zack memastikan keadaan Albar.
"Anak kecil? Bukan kah anak lelaki itu sudah di bawa pergi beberaoa minggu lalu oleh orang yang sama?". Jawab pak Desa tampak bingung.
__ADS_1
Zack terdiam lemas. Ia sangat lengah, ternyata Albar sudah berhasil di bawa pergi oleh Rafa.