
"Katakan!". Ujar Zack dingin.
"Dua orang pembunuh bayaran yang ada di tempat kejadian ternyata bukan mati akibat mobil oleng dan menabrak pohon melainkan mati akibat tertembak". Jelas Dilan.
"Tembakan? Tapi kami sama sekali tidak melakukan tembakan pada mereka karena takut jika tembakan kami malah salah sasaran dan terkena Aisyah. Bagaimana bisa mereka mati akibat tembakan? Siapa yang menembak mereka?". Bingung Zack.
"Dari peluru yang kami temui dalam tubuh mereka adalah jenis penulu dari penembak jarak jauh. Saya curiga ada yang sudah tahu arah tuju mereka dan sengaja menunggu mobil mereka dan melakukan tembakan dari jarak jauh...". Jelas Dilan.
"Apa motif mereka?". Tanya Zack penuh selidik.
"Saya kurang pasti motif mereka, pertama saya dia ada di pihak kita dan mencoba menolong dengan cara tersebut cuma salah strategi makanya terjadi kecelakaan. Kedua orang itu juga ingin membunuh non Aisyah dengan sengaja merencanakan kecelakaan tersebut. Tapi saya kurang pasti bagaimana tuan". Jawab Dilan kurang yakin.
Akhirnya Zack bisa duduk karen sudah tidak sanggup memikirkan semua masalah ini. Tapi ia masih tidak bisa tenang sebelum tahu siapa yang menjadi dalang utama dalam semua tragedi yang terjadi pada wanita yang amat dia cintai.
"Bagaimana keadaan pria yang di selamat dari kecelakaan tadi?". Tanya Zack pada Dilan.
"Satu pembunuh bayaran yang selamat dari kecelakaan tadi juga masih di tangani oleh dokter. Semoga dia bisa di selamat kan agar kita bisa mengetahui cerita yang sebenar...". Jelas Dilan.
"Selidiki kejadian ini, aku ingin mendengar hasilnya secepatnya. Lakukan tugas kalian dengan teliti, beri hukuman pada mereka yang sudah lalai sehingga kejadian ini bisa terjadi. Kamu paham!". Tegas Zack tidak Ingin mendengar bantahal lagi.
"Baik tuan, kalau begitu saya pamit pergi dulu...". Dilan meninggalkan Zack sendirian menunggu Aisyah di dalam ruang operasi.
*
*
Di Mansion, bik Saras, pak Sabaruddin, Mawar dan ramai lagi mengucapkan syukur karena Aisyah berhasil di temukan dan masih bisa di larikan ke rumah sakit.
"Kita harus ke rumah sakit di mana Aisyah di rawat sekarang. Kita harus menemani Zack di sana. Dia pasti memerlukan kita semua untuk memberinya semangat dari keterpurukan yang ia rasakan saat ini. ..". Imbuh Mawar.
Bu Saras menggeleng kepala menolak ajakan putrinya untuk menemani Zack di rumah sakit.
__ADS_1
"Kenapa Ibu tidak mau pergi?". Bingung Mawar.
"Ibu takut nak. Zack saat ini pasti sedang murka pada kita semua, kejadian ini terjadi karena kelalaian kita semua dalam menjaga Aisyah. Apa lagi ibu, tugas ibu adala selalu mengawasi setiap pergerakan Aisyah saat di rumah dan kejadian ini berawal di rumah ini. Ibu takut bersitatap dengan Zack". Jelas bu Saras.
"Terus Sampai kapan ibu akan bersembunyi dari Zack. Jika ibu yakin semua ini salah ibu, seharusnya ibu berani menanggung akibatnya. Suatu saat Zack pasti akan datang untuk memberi perhitungan pada kesalah kita semua. Jika bukan sekarang pasti suatu hari nanti. Zack pasti akan datang menghukum kita kapan pun itu....". Imbuh Mawar mengingatkan.
"Tapi ibu takut, Mawar". Lirih Bu Saras.
"Pak Sabaruddin, kenapa tidak bergerak untuk ke rumah sakit sekarang?". Tanya Mawar pada pak Sabaruddin.
"Bapak tidak pergi karena takut, tapi kita harus memberi ruang Zack untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Jika kami yang melakukan kesalahan ini muncul di depan matanya saat ini, maka dia hatinya akan tidak tenang. Doa untuk non Aisyah pun pasti terlupakan akibat emosi pada kita. Jadi menurut bapak, kamu pergi sendiri saja menemani tuan Zack. Menurut bapak kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan, jadi tuan Zack pasti tetao tenang saat melihat kamu". Saran pak Sabaruddin.
Mawar akhirnya paham dengan maksud mereka berkat penjelasan pak Sabaruddin. Menurutnya, yang di katakan pak Sabaruddin tadi benar adanya. Mereka bukan hanya ingin menyelamatkan diri mereka tapi juga ingin menjaga emosi Zack. Jika melihat wajah mereka yang lalai dalam menjalankan tugas maka mental Zack akan mudah terpancing emosi.
Mawar memutusan untuk datang ke rumah sakit sendiri tanpa ibu dan orang rumah satu pun. Ia hanya datang dengan pengawalan ketat.
*
*
"Kenapa mereka tidak menghubungiku untuk mengirim hasil kerja mereka. Tadi si pria bertopeng itu sempat menghubungiku dengan video kol, terlihat mereka berhasil menculik Aisyah tapi tiba - tiba datang si Zack sialam itu ingin menjadi pahlawan kesiangan". Gumam Rehan gelisah.
"Sampai seorang mereka belum juga memberi kabar jika Aisyah berhasil mereka bunuh. Semoga mereka tidak gagal dalam menjalankan tugas itu, jika tidak maka nyawa ku yang berada dalam bahaya...". Batin Rehan cemas.
"Aku harus menghubungi mereka sekarang untuk memastikan. Aku tidak boleh duduk diam saja menunggu mereka menghubungiku, aku tidak akan bisa tenang".
Rehan memutuskan untuk menghubungi kontak pembunuh bayaran itu terlebih dahulu. Perasaan nya terus merasa gelisah jika belum mendapatkan kepastian akan tugas yang ia berikan pada pembunuh bayara itu.
"Kok tidak di angkat, mereka sedang melakukan apa sampai tidak mengangkat panggilan dariku. Mereka sangat menganggap sepele kehadiranku". Kesal Rehan saat panggilannya beberapa kali tidak di angkat oleh mereka.
Sementara di tempat kejadian. Rafa masih berusaha menyelidiki tempat kejadian. Tiba - tiba telinganya mendengar samar - samar suara sebuah ponsel berdering.
__ADS_1
"Apa kalian mendengar apa yang aku dengar?". Tanya Rafa pada rekannya yang lain.
"Suara apa tua bang?". Tanya mereka.
"Suara deringan ponsel. Mungkin itu milik mereka yang tercicir keluar dari mobil sebelum mobil meledak dengan sadis". Imbuh Rafa.
"Kalau aku sama sekali tidak mendengar apa pun di sini..". Sahut salah satu dari mereka.
"Saya juga nggak dengar apa - apa. Mungkin ponsel itu terletak tidak jauh dari posisi bang Rafa. Makanya bisa dengar samar - samar". Ujar yang lain nya.
"Kalian datang ke sini, tolong aku temukan ponsel itu segera, aku yakin ponsel itu sangat penting agar kita tahu siapa yang telah menyewa mereka untuk menculik non Aisyah". Ajak Rafa.
Mereka semua nurut dan mulai mencari ponsel yang sudah tidak berdering itu. Tiba - tiba Rafa baru teringat sesuatu untuk mempermudahkan tugas mereka mencari ponsel itu. Ia sudah meminta nomer ponsel yang menghubungi Aisyah sehingga nekat pergi sendiri.
"Semoga ponsel itu masih memakai kontak ini". Batin nya berharap.
Tut, tut, tut,,,,
"Yes, masuk!". Seru Rafa.
"Apa yang masuk bang?". Tanya mereka bingung.
"Jangan banyak tanya! Cari cepat ponsel yang berdering itu". Titah Rafa cuek.
Mereka berpencar mencari ponsel itu di setiap arah berlawanan. Bunyi ponsel itu juga kembali tidak terdengar lagi.
"Ponsel itu pasti kehabisan daya. Kontak nya juga tiba - tiba tidak aktif lagi". Gumam Rafa kesal. "Kalian terus lakukan pencarian. Kita harus segera menemukan ponsel itu sebelum haru gelap.
"Baik bang!". Seru mereka serentak.
Rafa juga tidak tinggal diam. Dia juga sibuk beejongkok mencari ponsel itu di dalam semak - semak belukar. Ia kini sudah berada di tepi jurang dan benda pipih itu ternyata tersangkut di sebuah dahan yang ada di jurang itu.
__ADS_1
"Pantesan suaranya hanya terdengar samar - samar. Ternyata dia ada di sana, beruntung dahan itu kokoh menahan ponsel itu sehingga tidak jatuh..". Rafa beralih memanggil rekannya yang lain untuk mencari akal mengambil ponsel itu.
"Kalian datang ke sini. Ponsel nya ada di sini". Teriak Rafa girang.