Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 275 Bingung


__ADS_3

Terdengar suara di balik pintu membuat Zack dan yang lain nya tersenyum sinis. Tapi tiada kemungkinan jika mereka tetap tidak bisa membuka pintu itu. Setidak nya keberadaan mereka yang lebih dulu berada di ruangan ini bisa menghalangi mereka untuk membawa Jasmin pergi.


Zack menghampiri Jasmin dan mengelus kepala nya dengan lembut. Tiba - tiba mata Jasmin terbuka perlahan pertanda ia sudah sadar.


"Kamu sudah sadar". Imbuh Zack dengan senyum bahagia karena berhasil menyelamatkan sahabat nya.


"Zack!". Jasmin membalas senyuman nya juga tak kalah senang. Ia mencoba bangkit dan ingin memeluk Zack.


"Kamu baring aja dulu, yah. Jangan banyak gerak dulu. Bayi kamu pasti kaget di dalam". Imbuh Zack menahan agar Jasmin tidak bangkit.


"Terima kasih ya kamu sudah datang nolongin aku. Aku nggak nyangka akan jadi seperti ini...". Lirih Jasmin sedih.


"Kamu tetang saja, yah. Kamu sahabat aku, sudah seharusnya aku datang selamatin kamu dari musuh aku. Sekarang kamu istirahat aja, serah kan semua nya pada aku. Jangan banyak pikiran dulu, kasihan anak kamu". Sahut Zack menyelimuti tubuh Jasmin.


Jasmin tak memberontak, baginya Zack adalah malaikat penolong yang tuhan kirim kan untuk nya. Semua yang di lalukan Zack demi kebaikan diri nya.


Kembali terdengar dari luar pintu, anak buah Danish mencoba membobol pintu dengan sekuat tenaga menggunakan segala cara yang bisa mereka lakukan.


"Jangan biar kan mereka masuk, Zack. Aku nggak mau ketemu dengan pria brengsek itu. Aku benci dia!". Kata Jasmin histeris sambil menggenggam tangan Zack erat.


"Iya kamu tenang saja yah, aku dan semua orang di dalam ruangan ini akan melindungi kamu. Kami nggak akan membiarkan siapa pun nyakitin kamu lagi..". Tutur Zack berjanji.


"Kita harus mencari keberadaan si Rafli itu. Kita tanya sandi pintu sialan ini". Akhirnya mereka menyerah dan meninggalkan lantai tujuh mencari keberadaan Rafa.


"Pastikan tiada siapa pun yang bisa bertemu dengan Rafa. Aman kan ruangan mereka, kirim sebanyak nya orang untuk berjaga di ruangan itu". Titah Zack melalui Headset nya.


"Baik tuan". Seru mereka serentak.

__ADS_1


Pundas pun tidak mau tinggal diam saja di atas bangunan, ia menyerahkan tanggung jawab nya pada kedua anak buah nya yang juga berada di bangunan yang sama. Ia akan ke seberang untuk memberi bantuan pada Zack..


"Kalian di sini awasi keadaan terutama di ruangan itu!". Titah Pundas menunjuk ke arah ruangan di mana semua tawanan di tempatkan.


"Baik bos!!".


Anak buah Danish tidak mendapatkan apa - apa. Mereka datang hanya menyetor nyawa mereka dengan sia - sia. Jasmin tidak di temukan bahkan mereka tidak bisa bertemu dengan Rafa sekedar menanyakan sandi. Pada akhirnya mereka memilih mundur dari pada lebih banyak lagi korban di antara mereka.


"Semua mundur!!". Seru ketua pasukan mereka.


"Sana pulang! Percuma kalian datang kalau mau mati sia - sia silahkan maju lagi...". Teriak anak buah Zack meremehkan.


"Kalian bisa tertawa senang sekarang, kami akan datang lagi dan saat itu kalian akan hancur se hancur - hancurnya!". Teriak ketua pasukan Danish.


"Sudah kalah banyak bacot! Ha ha ha". Anak buah Zack semakin menjadi merendahkan anak buah Danish.


"Mereka kalah tuan, mereka sudah mundur dan pulang...". Lapor salah satu dari mereka.


"Bagus, tapi kalian tetap jangan lengah. Tetap pada posisi aman. Tetap jaga ketat kamar itu sampai kita pergi dari sini". Sahut Zack memberi perintah.


Dalam kamar yang di maksud Zack. Rafa sedang di rawat oleh Dokter Aya. Mana kala bahu Dilan menjadi urusan Titin. Ia mengikuti arahan dari dokter Aya untuk menangani luka di bahu Dilan itu.


Saat semua sedang sibuk, tiba - tiba Tias, istri Titin sadar dan histeris. "Kenapa dia ada di sini? Bawa dia pergi! Bawa dia pergi sebelum dia membunuh anak ku". Teriak Tias ketakutan.


Titin langsung menghampiri istrinya, memeluk dan menenangkan nya. "Tenang sayang. Abang ada di sini jagain kamu, dedek bayi dan ibu. Kamu jangan khawatir, yah". bujuk Titin menenangkan istrinya.


"Dia orang jahat bang! Jangan biar kan dia ada di ruangan ini! Aku tidak mau dia membunuh anak kita". Lirih Tias masih ketakutan.

__ADS_1


Titin kembali membawa Tias masuk kedalam pelukannya. Ia bingung harus menenangkan Tias dengan cara apa. "Kamu tenang saja, ya sayang. Kamu lihat sendiri kan dia sedang berbaring tidak berdaya jadi tidak mungkin dia bisa melakukan sesuatu yang membahayakan kita semua". Imbuh Titin sambil menunjuk tepat ke arah Rafa yang sedang di beri perawatan.


"Tapi kalau dia sadar bagaimana? Seharusnya dia di bunuh saja bang. Jangan biar kan dia hidup, dia nggak panas hidup bang". Tias semakin tidak karuan. Air matanya berderai dengan sangat deras saking trauma nya dia oada perlakuan Rafa pada nya dan Jasmin.


"Kamu lihat pria yang sedang duduk itu, dia adalah bos Dilan. Dia yang berhasil melumpuhkan Rafa. Dia ada di sini jaga kita semua, jika dia sadar dan membahaya kan kita maka bos Dilan nggak akan segan lagi dan langsung membunuh nya. Bukan begitu bos Dilan?". Tanya Titin pada Dilan yang langsung tercengang.


Bagaimana dia bisa membunuh Rafa sementara mereka bersahabat, sekarang dia berada di antara dua jalan yang bertentangan. Memilih antara sahabat dan Zack yang sudah membantunya selama ini adalah pilihan yang amat sukar. Janji di antara dia dan Rafa adalah tidak saling mengkhianati. "Sebelumnya, Rafa sudah menjelaskan jika ia tidak pernah mengingkari atau mengkhianati persahabatan mereka, ia cuma berkhianat pada Zack. Jadi aku bingung jika aku memilih setia pada tuan Zack akan membuat diri ku lah yang berada dalam posisi mengkhianati Rafa". Gumam Dilan melamun..


"Bos Dilan nggak berjanji pun untuk melindungi kita. Pasti dia juga sama kejam nya dengan pria itu, bang". Bukan nya tenang, Tias malah semakin histeris karena Dilan sama sekali tidak menanggapi mereka.


"Dilan! Kenapa lo diam aja, hah? Lo nggak sanggup bunuh Rafa jika ia membahayakan kita sd? Ingat Dilan! Siapa selama ini yang kalian sanjung sebagai malaikat penolong. Jika dia bisa mengkhianati orang yang menolong nya dengan alasan apa pun pasti dia juga bisa saja mengkhianati orang lain termasuk kamu. Jika sekarang kamu masih membela nya maka jangan sampai kami semua juga akan menjadi musuh mu dan akan segera membunuh mu detik ini juga. Jadi kata kan sekarang, kamu ada di pihak siapa?". Pundas muncul dari balik pintu dan mendengar semua perdebatan yang terjadi di dalam ruangan akibat teriakan Tias.


Dilan masih tidak berkutik, ia masih belum bisa memastikan ia akan berpihak pada siapa. Sebelum ia menentukan pilihan dengan matang, maka ia rela jika di hajar oleh Pundas bahkan anak buah nya sendiri demi kepuasan mereka.


*


*


Mbah Suryo dan beberapa orang pengawalnya sudah sampai di jalan kota Makasa. Mereka langsung menuju rumah sakit baru tempat Panji, Mega dan Aisyah di rawat. Jasat rekan mereka yang terbunuh juga di bawa sama untuk di makam kan dengan layak di kota ini.


Sesampai di rumah sakit, mbah Suryo telah di dandani seperti warga biasa dan memakai masker dan topi untuk menutupi wajah nya. Ia berjalan sendiri agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sedangkan ada seorang perawat yang akan menuntunnya ke ruangan Panji dan Mega.


Tas berisi penuh ramuan ia keluar kan saat berada di dalam ruang rawat mereka. "Semoga dengan herbal ini bisa menyembuhkan kalian dan menyadarkan kalian segera. Kesihan Zack sendirian mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kita semua. Sadar lah agar kita tidak menjadi beban pikiran untuk nya". Ucap mbah Suryo setelah memasukkan cairan dari ramuan yang ia buat ke dalam infus yang mengalir masuk ke tubuh Panji.


Jika sebelumnya mbah Suryo hanya mengoleskan ramuan itu ke seluruh tubuh Zack saat koma, tapi untuk lebih mempercepat efek nya bisa langsung di suntikkan langsung ke cairan infus seperti obat lain oada umum nya.


Hal yang sama di lakukan pada Mega. Sebenarnya tindakan nya ini menentang peraturan rumah sakit, tapi Pundas telah membayar seorang perawat untuk mengawasi dan melindungi mbah Suryo saat melaksanakan aksi nya.

__ADS_1


__ADS_2