
Wahida yang mendengar deru mobil di luar gerbang tapi tak kuncung masuk, jadi gelisah jika anak dan menantunya terlibat percekcokan lagi di luar sana. Ia sebenarnya bingung dengan sikap Rehan yang tiba - tiba berubah pada Desi, oleh sebab itu ia selalu memarahi anaknya itu, tapi malah dia pula yang kena sembur oleh anaknya sendiri.
Dia melangkah keluar dan membuka kan gerbang menggunakan remote kontrol. Rehan keluar dari mobil dengan wajah kusut dan menutup kembali pintu mobilnya dengan kuat.
"Kamu kenapa sih, Rehan? Semenjak Aisyah kabur dari rumah ini, Kamu seperti lelaki yang bodoh, suka marah - marah nggak jelas, lihat istri kamu sampai ketakutan seperti itu ulah kamu!". Bentak Wahida sambil menunjukkan Desi yang baru keluar dari mobil dengan tampang ketakutan.
"Aku capek, ibu. Aku masuk dulu..". Cuek Rehan berlalu masuk kedalam kamarnya.
Wahida kemudian beralih pada menantu kesayangannya. Ia memeluk Desi sambil menuntunnya masuk ke dalam rumah dan menu dudukannya di sofa ruang tamu. "Rehan lakukan apa sama kamu sampai gemetar seperti ini? Kalian bertengkar lagi?". Tanya Wahida dengan sangat khawatir.
Desi tidak menjawab, berada di dalam pelukan mertuanya membuat dia menangis histeris.
"Iya udah kalau kamu tak mau cerita. Ibu ke dapur dulu ambilin kamu air yah". Ucap Wahida mendapat anggukan perlahan dari Desi. Ia melepas pelukannya dan berganjak masuk ke dapur, setelah beberapa saat ia muncul kembali dengan mene teng segelas air putih dan memberikannya pada Desi.
"Terima kasih ibu". Ucap Desi setelah meneguk separuh dari isi gelas tadi.
"Sekarang lebih enakan nggak?". Tanya Wahida. Desi hanya tersenyum hangat pada sang mertua. "Sudah boleh cerita dengan ibu apa yang terjadi tadi antara kamu dan suami kamu? Ibu bukan apa, ibu cuma khawatir dengan kamu yang akhir - akhir ini selalu menerima sikap Rehan yang sudah berubah kasar sama kamu, bukan sama kamu aja tapi, sama ibu juga loh sekarang!". Jelas Wahida.
"Mas Rehan itu sebenarnya cinta apa nggak sih, sama si Aisyah itu? Dulu aja waktu perempuan itu masih ada, mas Rehan cuek dan memilih tinggal dengan aku di apartemen. Sekarang giliran perempuan itu kabur, dia yang bodoh sendiri jadinya, sedangkan aku sudah jadi istrinya sesuai keinginannya selama ini. Tapi malah aku yang yang mendapat dampak dari kekesalannya atas kepergian istri bodohnya itu. Desi sakit jika terus di perlakukan seperti ini, ibu". Curhat Desi dengan deraian air mata, tapi sedikit lebih tenang dari sebelumnya saat baru sampai.
"Rehan itu tidak cinta sama Aisyah, dia pasti cuma rindu dengan anaknya, Albar. Yakin sama ibu! Rehan cuma cinta sama kamu, dari dulu sampai sekarang. Tapi karena dia rindu sama anaknya yah begini lah sifatnya, ibu juga heran kenapa dia bisa seperti ini?". Ucap Wahida.
"Begini aja buk!...". Desi kemudian membisikkan sesuatu di telinga mertuanya tentang rencana membuat Rehan luluh lagi padanya.
Wahida mendengar dengan seksama dan sesekali mengangguk menyetujui ide yang di sampaikan menantunya. Mereka berdua terus menyusun strategi menjebak Rehan hingga tanpa sadar ketawa mereka sedikit melengking.
"Hushhh, ibu ini kok besar kali ketawanya?". Gerutu Desi.
__ADS_1
"Maaf, ibu cuma nggak sabar aja menjalankan misi ini". Jawab Wahida sambil mengecilkan kembali suaranya.
"Nanti Mulan beri kabar lagi, ibu bersedia saja dengan drama ibu yah!". Pesan Desi.
Wahida memberi jempol dua tanpa setuju. Mereka akhirnya berpisah, Wahida masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sambil nonton sinema favoritnya di dalam sana. Sedangkan Desi menuju dapur memanaskan hidangan yang sudah dingin. Meskipun gerah karena masih mengenakan baju kantor, tapi dia malas harus naik turun tangga, lebih baik sekalian dia membawa naik saja makanan untuk dia dan suaminya makan di kamar bersama.
Setelah selesai, Desi menyusun hidangan dengan sangat cantik di pantas nampan, dua piring lengkap dengan hidangan makan malam dan dua gelas jus buah segar olahannya sendiri. Walau sedikit repot, tapi dia harus bersikap lembut dan romantis pada suaminya.
Dengan susah payah Desi mencoba membuka pintu dengan nampan berat di tangannya. Saat pintu terbuka, Desi membuang nafas berat melihat Rehan sudah meringkuk dengan baju yang beluk di tukar, dapat di pastikan lelaki itu belum membersihkan dirinya. Desi meletakkan dulu makanan di meja lalu membangunkan suaminya.
"Mas! Bangun dulu mas!". Panggilnya sambil menggoyang - goyangkan bahu Rehan.
Rehan tidak merespon, ia malah semakin nyenyak dalam tidurnya. Hingga terdengar sesuatu yang berbunyi.
Krurk
Krurk
"Dengar! Perut mas minta di isi tuh, yuk kita makan dulu". Ajak Desi lembut. Ia kemudian memegang tangan suaminya menarik menuju meja.
Mereka melahap makanan mereka sampai habis tanpa pembicaraan yang berarti. Hanya Desi yang terus mengoceh tidak jelas sedangkan Rehan hanya mendengarnya dengan jengah. Selesai makan dan menghabiskan jus mereka, Desi kemudian mengajak Rehan mandi barengan. Saat ini sebenarnya dapat meluluhkan sejenak emosi Rehan padanya, dengan sentuhan - sentuhan hangat miliknya dapat membuat Rehan melayang hingga lupa apa yang sudah dia lakukan pada perempuan itu tadi.
Desi tidak peduli jika dia berpikir dirinya hanya di jadikan pemuas hasrat suaminya, toh dia juga sama.
"Mas, kamu makin hari makin jago aja muasin aku, aku makin cinta sama kamu mas Rehan". Puji Desi di sela masa bercinta mereka.
Rehan kemudian beralih duduk, ia ingin sekarang Desi yang memimpin pertempuran mereka di dalam kamar mandi ini. Dengan senang hati Desi duduk berhadapan di pangkuan Rehan dengan menaik turunkan kan tubuhnya.
__ADS_1
******* demi ******* keluar dari mulut mereka berdua. Sesekali keluar pujian untuk lawan main mereka hingga sampailah pada ******* yang mereka tunggu - tunggu. ******* panjang secara bersamaan keluar dari mulut mereka berdua.
Desi ambruk dalam pelukan Rehan lalu berkata, "Semoga anak kita segera hadir di rahimku yah, mas!". Harapnya.
Rehan tersentak, ia langsung mendorong tubuh Desi menjauh darinya. "Kamu tidak mau ada anak dari ku mas?". Tanya Desi dengan wajah mengiba.
Rehan yang sudah berdiri membelakangi Desi, menoleh kebelakang kembali. "Jika kamu ingin meninggalkan aku, untuk apa kita punya anak?". Ucapnya lalu membersihkan tubuhnya sendiri.
"Aku istrimu mas! Sudah tentu menginginkan anak dari lelaki yang aku cintai, suamiku sayang". Goda Desi. "Jika kita sudah ada anak, maka dia yang akan mengikat kita berdua agar tidak berpisah lagi seperti dulu, itu juga bukti aku sangat sayang sama kamu mas". Jelas Desi.
Rehan tidak menjawab ia tetap fokus membersihkan dirinya lalu keluar meninggalkan Desi sendiri di dalam kamar mandi.
"Kita lihat sampai mana kamu bisa cuek sama aku mas? Jangan panggil aku Desi Mulan Sari jika tidak berhasil menjalankan misi ku". Gumamnya dengan senyum misterius.
*
*
Hari yang di tunggu - tunggu oleh dua keluarga konglomerat akhirnya tiba. Penyatuan dua insan dalam ikatan pertunangan, majlis di adakan begitu meriah dan mewah pastinya. Keluarga besar, rekan bisnis, kolega dan banyak lagi datang menghadiri majlis ini dengan suka cita. Ramai artis tersohor tanah air di undang untuk membersihkan lagi majlis ini dengan nyanyian suara merdu mereka, juga ada beberapa pertunjukan spektakuler dan tarian yang sungguh menghibur juga.
Semua yang ada di gedung itu merasa bahagia, tapi ada segelintir yang tidak sudah dan sedih terutama seorang wanita bertopeng emas bergaun emas mewah yang duduk termenung di pojokan. Dia sengaja menghindar dari keramaian karena mood nya yang rusak dan tiada satu pun yang dia kenali dari sekian ramai undangan.
Hufh
Sambil menyeruput minumannya, dia terus menatap ke arah pentas yang sudah di hias sedemikian cantiknya. Bukan kecantikan hiasan yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan orang yang duduk di sana yang juga menatap ke arahnya. Entah kenapa dia merasa lelaki itu seolah mengirim semangat untuknya tetap sabar.
"Aku kenapa malah bodoh gini sih? Dia akan menjadi milik orang, sedangkan lo masih terikat pernikahan dengan seorang lelaki, nggak pantas tau nggak lo ngerasa sedih seperti ini! Nasib air mata lo tidak keluar, jika tidak?
__ADS_1