Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 132 Warisan


__ADS_3

Seminggu kemudian Rehan sama sekali belum datang lagi ke mansion Purbalingga untuk melamar Aisyah pada pada keluarganya. Tapi bukan berarti ia menyerah ia masih sering mengirim pesan pada Aisyah untuk bertanya kapan wanita itu ada waktu luang untuk menyambutnya. Tidak ingin kejadian seminggu yang lalu terulang kembali, sudah capek - capek menyiapasan semua persiapan lamaran tapi wanita itu malah sibuk dan tidak ada waktu untuo menyambutnya.


Bukannya menyalahkan Aisyah, ia malah menyalahkan diri sendiri karena langsung datang tanpa mengetahui Aisyah sedang luang atau tidak, al hasil dia dan keluarganya harus menelan pil pahit karena tidak di sambut dengan baik dan malah sekarang ia dan keluarga besarnya berseteru antara satu sama lain.


"Rehan!". Teriak bu Wahida menghampiri anaknya yanh sedang sibuk bermain gajet di halaman belakang.


"Apa sih, ibu? Telinga aku tak lama pecah kalau dengar ibu teriak terus setiap hari seperti ini". Jawab Rehan kesal. Dari tadi pesannya hanya di baca oleh Aisyah tanpa ada balasan dari wanita itu dari tadi.


"Kamu itu yah. Kamu pikir ibu tidak akan teriak sama kamu kalau yang kau kerjakan itu betul. Setiap hari hana sibuk main ponsel sama sekali tidak mau cari kerja, bermalas - malahan aja terus!". Cerca Bu Wahida turut kesal.


"Untuk apa juga aku kerja bu kalau sebentar lagi aku akan menjadi pemilik dari perusahaan besar dan terkenal, lagi pula aku udah nggak di terima di mana - mana perusahaan lain jika statusku adalah mantan direktur di salah satu cabang perusahaan Purbalingga. Mereka akan menolak mentah - mentah jika aku melamar di perusahaan mereka jadi daripada malu ya aku lebih baik menikmati masa ini sebelum aku kembali bekerja tapi sebagai pemilik bukan pekerja makan gaji". Jelas Rehan tidak mau kalah.


"Tapi kapan Rehan? Ini sudah seminggu kamu tidak lagi kembali mengajak ibu datang melamar Aisyah, selalu beralasan ia sibuk padahal jika memang dia mau dia bisa menunda dulu semua pekerjaannya sehari saja untuk menyambut kedatangan kita. Coba kamu tanya lagi deh sama Aisyah, dia memang mau rujuk sama kamu atau tidak?". Desak bu Wahida.


"Ibu sendiri kam tahu kalau dia sekarang itu jadi wanita sibuk, lihat aja begitu banyak cabang petusahaan yang sekarang dia handle sendiri, sudah tentu sangat menguras waktunya. Lagi pula dia tidak boleh menolak permintaan ku, jila bukan aku yang menolongnya hari itu maka dia mungkin tidaj selamat dari preman itu. Dia berhutang budi sama aku, bu. Jadi tida mungkin dia menolak permintaan orang yanh sudah menolongnya". Jawab Rehan dengan percaya diri.


"Ya udah kalau kamu bilang seperti itu. Tapi kamu harus ingat jangan terlalu boros, uang disimpan kamu semakin menipis, jadi sebelum semuanya benar - benat habis kamu harus segera rujuk dengan Aisyah agar hidup kita tidak melarat...". Nasihat bu Wahida mengingatkan sang anak.

__ADS_1


"Iya, ibu lebih baik pergi masak yang enak yah. Aku udah lapar nih". Lirih Rehan meminta.


"Iya tapi ini baca dulu, ada surat dari pengadilan untuk kamu. Ibu sebenarnya panggil kamu tadi sebab ada hantaran surat atas nama kamu karena perasan ibu langsung bawakan dan kita baca bersama". Bu Wahida menyodorkan sebuah surat kepada Rehan.


"Hah, pengadilan?". Kaget Rehan.


"Iya, buka cepat kita lihat siapa yang menggugat kamu dan atas dasar apa?". Desak bu Wahida.


Rehan pun segera membuka stempel surat itu dan mulai membaca isi nya. "Desi!". Mata Rehan membulat sempurna membaca nama yanh tertera sebagai penggugat dan namanya sebagai di gugat.


"Kenapa baru sekarang ibu sadar, selama ini bukannya ibu yah yang selalu menyanjungnya dan mengidolakan nya sebagai menantu pilihan. Jika dulu ibu tidak selalu membanding - bandingkan dia dengan Aisyah mungkin sekarang kami masih berstatus suami istri dan aku tidak perlu repot - repot mengajaknya rujuk. Bahkan aku tidak akan mungkin di permalukan di depan semua bawahan ku dulu. Semua ini karena ibu". Cerca Rehan dengan emosi yang memuncak.


"Kamu menyalahkan ibu seorang? Ingat Rehan, siapa yang pertama kali membawa Desi ke dalam rumah tangga kamu dan Aisyah dulu. Kami sendiri yang membawanya! Ibu hanya menyambut baik wanita itu yang ibu pikir adalah wanita baik tapi nyatanya apa, dia sangat licik". Balas bu Wahida tidak mau di salahkan seorang diri.


"Iya, memang aku yang membawanya ke rumah dulu tapi jika ibu tidak selalu mendesak ku kembali menjalin hubungan dengan dia, aku juga tidak akan tergoda. Aku menerimanya lagi dalam hidupku karena aku ingin membahagiakan ibu...". Balas Rehan tidak mau kalah.


"Yang pastinya dalam hal ini buka hany ibu yanh bersalah, tapi kamu juga. Sekarang kamu mau bagaimana membalas si Desi itu? Kamu harua melawannya di pengadilan! Ibu tidak mau kalau semua harta kamu jatuh ke tangannya satu pun. Kamu boleh menyewa pengacara untuk melawan wanita licik itu...". Saran bu Wahida tidak mau larut dalam pertengkaran dengan anaknya.

__ADS_1


Baru saja mereka berbaikan karena masalah seminggu yang lalu, bu Wahida saat baru sampai di rumah dari mansion Purbalingga langsung memarahi Rehan dan tidak saling berbicara selama lima hari.


"Ibu sih senang ngomong, mau sewa pengacara itu perlu uang bu dan semakin bagus pengacaranya maka semakin tinggi tarif bayarannya. Manakala uang kita saat ini ibu tahu sendiri udah semakin menipis. Ibu mau aku pakai semua uang simpanan dam kita berdua tidak makan". Jawab Rehan mulai pusing tujuh keliling.


"Kalau masalah itu kamu jangan pusing! Ibu masih ada kok warisan dari nenek kamu di kampung yang belum dijual, kita bisa menggunakan itu untuk menyewa pengacara dan menambah simpanan kamu lagi". Kata bu Wahida memberi solusi.


Rehan tampak tidak percaya dengan omongan ibunya. Selama ini ibunya sama sekali tidak pernah mengungkit tentang warisan dari omanya. Bahkan saat perusahaan ayahnya gulung tikar, sang ibu samamu sekali tidak pernah mengatakan tentang warisan.


"Ibu jangan bercanda deh! Selama ini ibu tidak perah mengungkit tentang warisan kenapa sekarang tiba - tiba ada sedangkan almarhumah oma udah lama meninggal bahkan sebelum almarhum ayah pergi karena sakit jantung...". Ujar Rehan tidak percaya..


"Iya, almarhumah oma kamu ada memberikan warisan pada setiap anaknya, dan ibu mendapatkan sebidang tanah yanh saat ini menjadi tapak rumah bibi Suri kamu. Ia merayu ibu agar memberikan saja tanah itu untuk di bangun rumah, karena waktu kita masih kaya dan perusahaan sedang berkembang saat itu makanya ibu setuju aja dan mereka pun membangun rumah yang sekarang mereka tempati karena harga tanah iu tak begitu berarti untuk ibu". Jelas bu Wahida.


"Tapi apa kah mereka akan setuju nanti jika kita meminta hak tanah itu? karena ibunya kan udah setuju untuk memberikannya dulu". Tanya Rehan..


"Halah, antara kami nggak ada perjanjian hitam di atas putih kok jadi gampang lah. Lagi pula sikap mereka sama sekali tidak menghargai kita, sui bibiku Suri kamu juga nggak ada tuh baik - baiknya sama kita nasip adik perempuan ibu itu baik makanya ibu selalu mengalah tapi sekarang bibiku kamu juga ikut - ikutan dengan sifat suaminya jadi ibu tidak akan segan lagi pada mereka". Kata Bu Wahida sinis.


Rehan pun turut tersenyum sinis karena ia akan mendapatkan dana untuk menyewa pengacara untuk melawan istrinya di pengadilan. "Tunggu aja kau Desi, aku akan pastikan kamu menyesal sudah memanfaatkan aku selama ini". Batin Rehan penuh dendam.

__ADS_1


__ADS_2