
Pertempuran terus berlanjut hingga akhirnya klan Naga Merah berhasil membunuh tangan kanan klan musuh yang di panggil Klan Black tiger dan melumpuhkan pimpinan mereka yang sedang bersembunyi dalam kamar bersama sandra.
"Katakan di mana nona Jasmin berada sekarang?". Bentak Dilan pada pimpinan yang ternyata palsu itu.
"A aku tidak tahu, kami hanya di perintahkan untuk menyerang kalian sampai kalah tapi nyatanya kami yang kalah, ..". Jawab pimpinan palsu itu dengan suara bergetar, sangat takut hingga tanpa sadar kencing di celana.
"Jangan bohong! Kamu pikir aku akan percaya. Cuih..". Dilan meludah tepat ke muka pimpinan palsu itu.
"A aku tidak bohong, a aku hanya dijadikan kambing hitam di sini untuk ngelabihin kalian tapi soal keberadaan wanita yang kalian cari aku benar - benar tidak tahu, aku berani bersumpah demi tuhan...". Ujar pimpinan palsu itu.
Tiba - tiba Pundas menerima panggilan jika keberadaan mereka yang sedang menjaga nona Aisyah sudah terendus oleh pihak musuh. Pundas segera mengajak Dilan pergi menyelamatkan majikan mereka.
"Amankan sandra dan habisi pria ini!". tegas Dilan pada bawahannya lalu mengikuti langkah Pundas menuju mobil mereka.
Tidak jauh dari tempat itu, mulut Aisyah sudah di bekap dengan kain dari belakang oleh seseorang, begitu pula dengan Alena kini sudah pinsan dari tadi akibat bius yang diletakkan di kain. Para pengawal sudah terlihat kewalahan melawan pihak lawan yang tiba - tiba menyerang mereka, karena personil memang sedikit pada akhirnya Aisyah dan Alena berhasil di berebut dari jagan mereka.
Aisyah yang sudah kewalahan melawan akhirnya tumbang juga karena pengaruh bius di mulutnya. Dua wanita itu di bawa pergi meninggalkan tempat persembunyian, kebetulan mobil Pundas dan Dilan baru muncul dan hampir saja tidak melihat majikannya di bawa pergi.
Tanpa pikir panjang, Pundas melakukan mobilnya mengikuti mobil yang membawa dua wanita terpenting yang harus mereka lindungi saat ini.
Beberapa mobil melaju dengan ugal - ugalan di jalan raya yang cukup sunyi. Beberapa mobil berusaha menghalangi mobil Pundas yang hampir berhasil memalang jalan mobil yang membawa majikannya. Kini dua ajudan Klan Naga Merah melawan beberapa orang pihak musuh di atas jalanan.
Meskipun hanya berdua, keahlian mereka sudah tidak bisa di remehkan lagi, Pundas yang ahli menyetir mobil berhasil melambung jauh di hadapan dengan walaupun sesekali melayangkan tembakan pada musuh dari arah mana pun. Sementara Dilan dengan keahlian menembaknya berhasil melumpuhkan lawan yang menghalangi jalan mereka yang sudah tidak terhitung berapa orang.
"****! Mereka semakin jauh di depan, jika semakin lama mereka mengalihkan perhatian kita maka riawan kita berdua bisa tamat". Gumam Pundas kesal.
"Halah, jangan banyak bacot lo, lo kan ahlinya balap, Sono kejar!". Teriak Dilan memberi semangat.
__ADS_1
Walau masih banyak yang datang menyerang, namun kini Mobil mereka akhirnya berhasip menyeimbangkan mobil mereka dengan mobil yang membawa Aisyah pergi.
"Tampaknya kita di jebak ke gedung ini men! Lihat di depan sana sudah ramai yanh menunggu kedatangan kita yang sekarang hanya tinggal berdua saja..". Gumam Pundas kurang percaya diri.
"Janagn bilang kamu ingin menyerah? Kemon men jangan mempermalukan nama klan Naga Merah dengan sikap konyol mu itu, kamu pikir klan kita apa, hah?". Teriak mulai kesal. "Sono keluar, kita buktikan kepada mereka jika kita tidak mudah gentar hanya dengan gertakan kecil dari mereka". Ujar Dilan melangkah lebih dulu keluar dari mobil di ikuti oleh Pundas.
"Malam ini bukan hanya kita yang diberi kejutan spektakuler ini, mereka juga pasti akan mendapatkan kejutan yang lebih menabjupkan, tidak adil kan kalau hanya kita yang bahagia...". Kata Dilan di sela langkahnya.
Pundas akhirnya paham apa yang di maksud Dilan, dengan semangat yang kembali membawa mereka menyerang lawan yang berjumlah lebih banyak dari mereka, tapi itu tidak membuat mereka gentar. Pertempuran yang tidak sengit itu terus berlangsung hingga mereka berdua mulai kewalahan, di saat itu pula muncul beberapa buah mobil berhenti di depan gedung kosong ini.
"Akhirnya kejutan datang!". Seru Dilan pada akhirnya sengaja merebahkan tubuhnya akibat kelelahan.
"Bangun Woi! Kalau mau mati jangan sekarang, tobat dulu sana!". Teriak Pundas mencoba melindungi Dilan yang sudah tumbang.
Tiba - tiba semua aktifitas terhenti, semua mata tertuju pada seseorang yang keluar dari salah satu mobil yang datang. "Tuan Zack!". Seru Pundas tidak percaya bahwa orang yang ia cari kini datang bersama bala bantuan.
"Lo kenapa nggak bilang dari awal kalau tuan Zack baik - baik saja, terus sandra yang di culik sebelumnya oleh mereka siapa?". Kesal Pundas menarik - narik kerah baju Dilan.
"Maaf bro, gue sengaja tidak mengatakan pada lo yang sebenarnya supaya lo lebih semangat, gue tau lo paling sayang dengan tuan Zack kan dan tidak akan tinggal diam jika tuan sedang dalam bahaya...". Jawab Dilan dengan senyum mengejek.
"Dasar lu kampret!". Maki Pundas pada Dilan.
"Kalian tidak apa - apa?". Tanya Zack pada dua ajudannya.
"Kami baik - baik saja tuan, cuma butuh waktu untuk memulihkan tenaga". Jelas Dilan dengan suara lemah.
"Tuan dari mana saja? Non Aisyah sampai cemas dan sekarang udah di bawa mereka entah kemana sekarang? Maafkan kami tidak becus melindungi non Aisyah". Lirih Pundas tertunduk merasa bersalah.
__ADS_1
"Kalian istirahatlah, sekarang biar aku sendiri yang handle mereka". Setelah mengatakan itu Zack meninggalkan mereka berdua untuk memulihkan tenaga.
Wajah Zack tampak sangat geram mendengar wanita yang di cintai nya sedang dalam bahaya.
Di tempat lain, Aisyah yang sudah setengah sadar dari pengaruh obat bius mendengar sayup - sayup obrolan antara beberapa orang pria. Tangan dan kaki nya kini sedang diikat di kursi, sekujur tubuhnya saat ini sakit semua akibat tertidur dengan keadaan kurang nyaman.
Perlahan matanya dibuka dengan kondisu masih dalam berpura - pura pingsan. Di sebelah nya ada Alena yang masih dalam keadaan pingsan dan juga terikat sama seperti dirinya saat ini.
"Bagaimana kedua perempuan itu? Apa mereka belum sadar juga?". Terdengar suara lelaki yang sedang bertanya di luar ruangan.
"Saya lihat tadi belum kayak nya bos". Jawab yanh mungkin anak buah yang menjaga pintu ruangan.
"Apa kamu bilang, kayaknya? Dasar tidak guna! Buka pintu nya cepat!". Teriak pria tadi dengan kesal.
Pintu segera terbuka dan Aisyah lantas menutup matanya rapat - rapat. Terdengar suara langkah kaki menghampiri nya dam tiba - tiba.
Byurrr
Terdengar air yang sengaja di siram tapi Aisyah tidak merasa basah sama sekali itu membuktikan jika bukan dirinya yang di simbah air melainkan Alena.
"Auupp, auppp, auuppp". Alena berusaha mengambil nafas, kesadarannya mulai muncul bersamaan dengan guyuran air ke kepalanya.
"Apa yang kalian inginkan, hah!". Teriak Alena geram. Aisyah kaget, ia tidak menyangka Alena yang menurutnya penakut kini berteriak pada seseorang yang sedang menyekat mereka.
'Boleh tahan. Aku aja masih pura - pura pingsan kayak gini, dasar pengecut'. Gerutu Aisyah dalam hati memaki dirinya sendiri.
"Ambilkan air untuk yang satu itu juga, cepat!". Teriak pria itu pada Anak buahnya.
__ADS_1
suara yang menurutnya sangat tidak asing.