Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 184 Penyesalan


__ADS_3

Aisyah sampai di rumah sakit dengan perasaan syok. Bukan Zack yang du rawat di rumah sakit ini setelah di temukan malahan kedua orang tuanya. Sedangkan Zack sampai saat ini belum juga ada kabar nya.


Kini Aisyah berdiri di ambang pintu ruang rawat kedua orang tuanya di tempatkan bersamaan dengan memakai pakaian khusus berwarna hijau. Sebelum masuk ia harus menenangkan diri nya dulu karena tidak baik jika ia bertemu dengan pasien dalam keadaan sedih dan menangis meraung. Bukannya membuat pasien membaik yang ada pasien jadi stress dan tambah drop kata dokter.


"Non yakin ingin masuk? Lebih baik pulang aja dulu ke mansion istirahat dan kembali lagi setelah perasaan membaik". Ujar supir yang membawanya kembali ke kota. Kalau seperti ini lebih baik membawa majikannya itu ke rumah terlebih dahulu baru ke rumah sakit.


Berapa pengawas berjaga dengan ketat di luar ruangan, banyak yang ingin mereka tanyakan pada anak atasannya itu, kemana aja selama ini? Kenapa baru muncul sekarang? Siapa yang telah menyelamatkan nya dari penculik itu?


Begiu banyak persoalan yang mengitari pikiran mereka semua tapi mereka sama sekali tidak punya hak untuk mengutarakan semua pertanyaan itu.


"Nggak, mas! Aku harus melihat keadaan mereka sekarang". Tolak Aisyah masih bersikukuh ingin masuk ke ruang rawat kedua orang tuanya.


"Baik lah, saya akan menunggu nona di luar saja. Silah kan masuk tapi saya mohon jangan membuat mereka semakin tertekan, kalau bisa beri mereka semangat". Saran mas Supir sesuai saran dokter tadi.


Aisyah mengangguk lalu membuang nafas berat sebelum membuka pintu. Alangkah tercabik - cabiknya hati Aisyah saat melihat keadaan Panji dan Mega dalam keadaan terbaring lemas dan di kelilingi oleh penopang hidup.


"Ibu, ayah! Aisyah pulang". Sapa Aisyah sambil menggenggam tangan kedua orang tuanya yang sedang tidak sadar kan diri. Seketika rasa bersalah menyelimuti hatinya sudah tega meninggalkan mereka sehingga koma seperti sekarang.


"Ibu dan ayah harus semangat untuk sembuhnya yah. Aku tidak sanggup bila harus kehilangan kalian. Kita sama - sama mencari keberadaan Zack, maaf jika aku terlambat pulang nya. Maafkan aku ya ibu, ayah". Lirih Aisyah berusaha untuk tegar. Air matanya tetap menetes dengan derasnya tapi sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan sedikit pun suara tangis nya.


Sudah puas bercerita dengan Panji dan Mega yang belum tentu bisa meresponnya, Aisyah akhirnya mohon pamit pulang dulu untuk istirahat. Setelah menutup pintu dengan rapat, Aisyah meluapakan tangisnya yang sedari tari ia tahan. Tiada siapa pun yang mendekatinya dan memberi ruang padanya untuk menangis meratapi penyesalannya.


*


*


Mendengar kabar bahwa Aisyah sudah di temukan dan sekarang berada di rumah sakit, bu Saras bergegas pamit pada rekan nya untuk menyusul Aisyah ke rumah sakit.


"Kamar non Aisyah dan den Albar segera di bersihkan yah, karena sebentar lagi kamar itu akan di tempati..". Pinta bu Saras pada rekan se pekerjaan nya.

__ADS_1


"Apa non Aisyah dan den Albar sudah di temukan?". Tanya salah satu dari rekan nya.


"Saya dapat kabar sih begitu, sekarang mereka sedang berada di rumah sakit menjenguk nyonya dan tuan. Saya harus ke sana siapa tahu non Aisyah membutuhkan seseorang untuk menenangkan nya...". Imbuh bu Saras menjawab pertanyaan rekan nya.


"Iya, pasti ia sedih banget baru juga kembali eh malah mendapatkan kabar duka ini. Pasti ia sangat syok..". Sahut yang lain..


"Makanya aku pamit pergi dulu, tolong lakukan yang saya katakan tadi yah". Bu Saras bergegas keluar menuju mobil yang akan membawanya ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan bu Saras tidak habis - habis merapalakan syukur pada sang Ilahi kerana Aisyah dan Albar berhasil di temukan. Tapi ia juga seketika sedih membayangkan bagaimana perasaan Aisyah saat ini yang mengetahui keadaan kedua orang tuanya saat ini. Ia juga berharap Aisyah bisa tabah menerima segala dugaan hidup nya ini.


"Pasti hidup non Aisyah sengsara selama bersama penculik licik itu, tapi saat pulang malah harus menerima berita duka ini, mana den Zack belum di temukan lagi sampai sekarang. Pasti Aisyah sekarang sangat tertekan banget dengan semua kejadian ini, sekaliu saja hidupnya di beri cobaan tanpa henti...". Bu Saras terus bergumam sambil sesekali menyeka air matanya.


Sesampai di rumah sakit bu Saras bergegas menuju ruang rawat majikannya. Betapa terpukul nya bu Saras saat melihat Aisyah menangis tersedu - sedu sambil duduk memeluk kakinya.


"Non Aisyah, akhirnya non bisa di temukan lagi". Bu Saras segera memeluk Aisyah .


"Bu Saras". Aisyah membalas pelukan bu Saras dan kembali terisak.


"Ini semua salah aku buk. Aku yang menyebab kan mereka seperti ini. Aku anak yang tidak berguna, aku anak durhaka...". Aisyah terus menyalahkan dirinya.


"Nggak nak, ini semua bukan salah kamu! Kamu jangan menyalahkan diri kamu seperti itu. Kamu kan di culik jadi ini salah mereka yang sudah tega membawa mu pergi". Bujuk bu Saras sambil mengelus punggung Aisyah lembut..


"Nggak buk, ini semua salah aku. Tiada yang harus di salah selain aku sendiri. Aku memang bodoh buk, egois...". Aisyah menggeleng kepala tetap menyalahkan dirinya.


Bu Saras bingung di buat perkataan Aisyah tapi ia masih berpikiran positif saja. "Kasihan Aisyah, ia sampai menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan nyonya dan tuan. Dia pasti sedih banget sampai -sampai lupa kalau dia juga sudah bertaruh hidup menghadapi penculik tidak tahu diri itu". Batin bu Saras.


"Silahkan kamu bersedih, nak. Menangis lah kalau hanya itu yang bisa membuat sedikit beban di pundakmu menghilang. Tapi ibu mohon jangan sedih terus, kamu juga harus jaga kesehatan agar bisa sama - sama menjaga nyonya dan tuan. Aku yakin mereka akan cepat sembuh kalau kamu sendiri yang menjaga mereka....". Bu Saras terus berbisik menenangkan Aisyah.


Aisyah tidak lagi banyak bicara, hanya isak tangisnya yang terdengar. Ia tahu jika bu Saras belum tahu hal yang terjadi sebenarnya, dia akan selalu membujuk nya, turut simpati padahal dia lah penyebab semua ini bisa terjadi..

__ADS_1


*


*


Kini Aisyah sudah berada di dalam kamar nya, air matanya sudah kering tapi hatinya masih tercabik - cabik oleh rasa bersalah yang sangat menyiksa. Perutnya sudah perih meminta makan tapi ia tidak bernafsu untuk makan..


Tok... Tok... Tok.


Pintu kamarnya di ketuk dari luar oleh bu Saras.


"Masuk aja buk, pintu nya tidak di kunci kok". Imbuh Aisyah dengan suara seram sehabis nangis.


Bu Saras membuka pintu dan mendorong masuk troli yang penuh dengan hidangan kesukaan Aisyah. Ada juga beberapa jenis minuman karena chef Renata, chef khusus yang bekerja di mansion ini tidak tahu apa yang ingin Aisyah makan dan minum..


"Kita makan dulu, yuk. Kamu pasti capek dan laper banget...". Bu Saras mulai menghidangkan makanan yang ia bawa tadi ke atas meja.


"Ibu makan aja, aku lagi nggak selera mau makan". Tolak Aisyah.


"Kamu nggak boleh gitu, dong. Ingat kamu harus jaga kesehatan kamu supaya kalau nyonya dan tuam sadar nanti melihat kamu tidak sedih, malah gembira karena tahu kamu nggak larut dalam kesedihan dan tetap menjalani hidup dengan tenang meskipun mereka sedang di rawat...".


Aisyah tidak menggubril tapi tidak juga segera beranjak dari tempat duduk nya.


"Maaf yah kalau ibu salah bicara, tapi ibu dari tadi penasaran banget kok dari tadi nggak den Albar?".


*


*


*

__ADS_1


Aku begitu kecewa dengan pihak NT..


__ADS_2