Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 262 Hampir berhasil


__ADS_3

Satu sisi ia senang karena jalan untuk kabur dari sini terbuka luas, tapi di sisi lain ia sedih karena perlakukan orang di sekelilingnya yang tidak memperdulikan mereka. Semua tahu jika mereka masih berada di dalam ruangan itu, tapi tiada satu pun yang datang menyelamatkan mereka bahkan dokter dan petugas rumah sakit seakan membutakan mata memekakkan telinga dengan keberadaan mereka.


Tiba - tiba pintu di buka bersama dengan kepalan asap yang cukup tebal memasuki ruangan. "Maaf kami lambat, saya harap kalian baik - baik saja. Kami harus menunggu sampai asap menyelimuti lorong untuk ke ruangan ini, agar pergerakan kita saat kabur tidak terlihat di CCTV...". Jelas seorang pria yang di yakini anak buah Ahmad.


"Akhirnya kami terselamat kan". Gumam syukur bu Wahida dalam hati.


Dua orang pria mendorong masuk dua brangkas yang terbaring masing - masing terbaring seseorang di atasnya. Bu Wahida menatap bingung pada aksi mereka tapi ia tidak berani untuk bertanya sekarang. Ia hanya bisa mengamati apa yang sedang mereka lakukan di hadapan nya sekarang.


Setelah selesai, sekarang pria meminta bu Wahida berbaring di salah satu brangkas setelah memindahkan orang yang berbaring di atasnya ke sofa. Bu Wahida nurut, ia berbaring dengan perasaan takut.


"Ibu berbaring di sini dengan tenang tenang, jangan mengeluarkan sejarah kata pun saat kita belum sampai kami belum meminta ibu untuk berbicara. Tetap diam dan jangan bergerak..". Jelas pria itu mengingatkan apa yang perlu vu Wahida lakukan sebentar lagi.


Brangkas Rehan di dorong terlebih dahulu masih dengan tidak sadarkan diri. Suster bertugas memegang selang cairan dan pernafasan Rehan,ia turut mendorong brangkas Rehan. Mereka keluar menerobos kepalan asap. Jeritan minta tolong terdengar di mana - mana. Lorong sibuk dengan petugas rumah sakit yang membantu menyelamatkan pasien mereka dari kebakaran.


Hanya di lorong ini yang terjadi kebakaran, tapi posisi mereka yang dekat dengan pintu keluar samping rumah sakit, memudahkan mereka lolos tanpa hambatan apa pun. Semua cuek dengan mereka karena sikap mereka normal seperti petugas rumah sakit yang sedang menyelamatkan pasien rumah sakit. Tiada siapa pun yang curiga dengan gerak geri mereka. Masuk kedalam sebuah mobil ambulans dan melaju meninggalkan rumah sakit dengan mudah.


"Kita sudah berhasil membawa pitra ibu keluar dari rumah sakit. Sebentar lagi kita akan bertukar mobil supaya kita tidak di kejar jika tiba - tiba pergerakan kita tercium oleh pihak berwajib...". Jelas salah satu pria yang kini tidak lagi berpakaian petugas rumah sakit.


"Apa semua yang kita lakukan tidak menimbulkan banyak korban jiwa?". Tanya suster dengan mata kosong ke hadapan.

__ADS_1


"Ini sudah menjadi resiko kerja kami. Tapi tenang saja, saya berani menjamin tiada korban jiwa atas peristiwa ini. Kebakaran terjadi hanya sekitar lorong ruangan kalian tadi, dan dalam ruangan juga cuma ada pasien yang tidak mengalami sakit kronis. Hanya saja asap yang banyak membuat banyak orang sesak nafas dan berlari tunggang langgang...". Jelas pria itu lagi mengerti jika wanita itu sedang prihatin dengan pasiennya.


"Jadi orang yang kalian bawa masuk ke ruangan itu masih hidup atau...". Tanya bu Wahida penasaran..


"Itu hanya seorang mayat yang tidak penting. Setelah kita meninggalkan ruangan itu, anak buah kita datang untuk menghancurkan tempat itu dan mayat yang ada di dalam nya akan hancur supaya identitas mereka bisa di ibaratkan Rehan dan ibu yang sudah mati di makan api. Jadi keberadaan kalian tidak akan di cari oleh pihak berwajib. Kalian bisa hidup dendam tenang di tempat baru tanpa merasa takut di temukan...". Jelas nya lagi.


Bu Wahida bis bernafas lega. Setidak nya ia tidak perlu menanggung banyak dosa dan beban pikiran atas rencana mereka ini. Tiada satu orang pun jatuh korban, dan orang yang dijadikan pengganti jasad mereka juga merupakan orang yang telah mati.


Setelah sampai di jalan sepi, mereka bertiga berpindah mobil dan mobil ambulans itu di tinggal begitu saja di sana kemudian di bakar seolah - olah terjadi kecelakaa.


Mereka kini menuju bandara untuk membawa Bu Wahida, Rehan dan susternya ke pulau terpencil yang memiliki penduduk yang masih sedikit dan jauh dari pengaruh media sosial. Jadi wajah mereka tidak di kenali di sana, apa lagi sedikit memakai makeup sebagai penyamaran.


Bu Wahida tidak banyak bertanya dan memberi seluruh kepercayaan nya pada pihak agensi.


*


*


Pak Suryo meminta untuk di hantar kembali ke rumah nya untuk mengumpulkan herbal yang bisa membantu menyadarkan Panji dan Mega dari koma panjang mereka. Zack menjadi pengawal langsung menemani kepulangan mbah Suryo bersama beberapa anak buah nya yang lain.

__ADS_1


Semenjak mengetahu identitas pria bertopeng yang menjadi bayaran Rehan untuk membunuh Aisyah. Zack menjadi sedikit ragu untuk memberi tanggung jawab besar pada anak buah nya. Ia khawatir jika begitu banyak pengkhianat di sekitarnya. Ia rela turuntangan6 secara langsung melindungi mbah Suryo karena ia merupakan salah satu orang penting dalam hidupnya.


Tidak mau ambil resiko.


"Kamu tidak perlu menemani mbah pulang, Zack. Mereka pasti tidak akan mengenali mbah, cukup anak buah kamu saja yang menemani mbah pulang". Imbuh mbah Suryo yang tahu jika Zack begitu banyak urusan lain.


"Tidak, mbah. Aku tidak mau mengambil resiko kehilangan mbah, pasti keberadaan mbah di sisi ku menarik perhatian musuh ku. Aku tidak akan membiarkan mbah dalam bahaya tanpa penjaga an ku". Tolak Zack tetap bersikukuh ingin menemani perjalanan mbah Suryo.


"Terus siapa yang akan menjaga mereka? Perusahaan kamu bagaimana? Jangan sampai saat mereka sadar, tapi malah semakin terpuruk karena perushaan mereka terbengkalai akibat kamu lalai menjalankannya...". Tutur mbah Suryo mengingatkan tanggung jawab lain yang harus Zack lakukan..


"Tapi mbah!!". Zack masih tetap pada pendiriannya. Tapi mbah Suryo juga tidak kalah keras kepala darinya.


"Sudah lebih baik kamu jangan terprofokasi dengan ingatan yang belum tentu kesehatannya. Lagi pula mbah bisa jafa diri sendiri, kamu lupa kalau mbah lah yang menjadi guru bela diri kamu selama di perkebunan?". Mbah Suryo seperti sangat yakin agar Zack tidak perlu ikut.


Zack tercengang, ia baru ingat jika pria tua yang sedang ia teman adu mulut ini bukan pria macam - macam. Begitu banyak keahlian yang di punya sehingga Zack sangat takut kehilangan pria tua itu. Ia sanga bergantung pada mbah Suryo.


"Baik lah, tapi mbah harus janji kembali dalam keadaan selamat dan tak kurang apa pun. Aku akan tinggal di sini untuk mengerjakan hal lain nya. Aku mohon jangan terjadi apa - apa pada mbah...". Akhirnya Zack mngalah dan tidak ikut menemani mba Suryo.


"Semua yang terjadi atas ketentuan yang maha kuasa. Tapi mbah berjanji akan membantu menymbuhkan kedua lrang tua kamu dan juga putrinya, jadi mbah akan berusaha agar kembali dengan selamat. InsyaAllah". Sahut Mbah Suryo meyakinkan Zack.

__ADS_1


__ADS_2