Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 108 pertengkaran antara ibu dan anak


__ADS_3

"Mau saya bantu mengemasi barangnya, pak?".


Rehan menoleh dan melihat Maya sedang berdiri di ambang pintu sambil menatap nya iba. Tapi tatapan itu di artikan oleh Rehan sebagai tatapan mencemooh, bukan apanya wanita itu lah yang setiap hari berkomentar apa saja yang ia lakukan dan saat ini pasti dia juga termasuk dalam orang - orang yang menertawakan nasip sialnya.


"Jangan sok perhatian kamu! Kami senang kan lihat aku di permalukan seperti tadi, ini hasil dari komentar mu setiap hari". Ujar Rehan menahan geram.


Rehan menubruk bahunya menggunakan kardus yang ia pegang hingga mantan sekertaris nya itu meringis kesakitan. Bukannya meminta maaf, Rehan malah cuek dan meninggalkan nya meringis kesakitan oleh ulahnya.


"Setiap hari komen kamu bukan karena aku tidak suka sama kamu tapi karena aku menganggap mu sebagai keluargaku sendiri jadi aku terdorong menegurmu agar pikiran mu tidak sejalan dengan logika yang terjadi, terlalu berharap hingga membuat menghalau setiap masa". Gumam Maya menatap Rehan menghilang dari pandangannya.


Seseorang yang tidak pernah membuka suara menjelekkan dirimu malah cenderung sering memuji belum tentu dia suka dan kagum dengan dirimu. Seseorang yang orang yang selalu berkomentar dan menegur sikapmu malah dia lah yang pengertian terhadapmu meskipun kadang cara penyampaian itu kasar untuk di dengar. Jangan menilai seseorang hanya dari suara - suara sumbang yang tidak sama dengan apa yang ada dalam benak mereka yanh sebenarnya.


Sepanjang kakinya berjalan, Rehan sering mendengar cibiran dari mantan karyawannya, tidak sedikit juga yang prihatin dengan nasipnya tapi pada hujung mereka semua tetap mengatakan semua yang ia terima merupakan hasil dari perbuatannya sendiri. Di beri kesempatan sebelum hari ini tiba malah ia gunakan untuk menghalau dan merencanakan sesuatu yang tidak masuk di akal. Pikirnya Aisyah adalah wanita bodoh, ia lupa jika dulu ia selalu memuji kecerdasan yang di miliki oleh wanita itu.


"Kasihan ya pak Rehan harus meninggalkan jabatan yanh selama ini mengangkat namanya".


"Maka nya jangan bermain apa kalau tidak mau terbakar, pasti nih dia merasa paling bodoh sekarang".


"Bodoh kerana membuang Berlian hanya demi batu krikil yang banyak bertebaran di tangan jalan".

__ADS_1


"Dengar - dengar nih yah semua aset miliknya sekarang sudah beralih nama ke nama istri barunya tanpa tersisa bahkan mobil yang ia kendarai sekarang pun bukan lagi atas namanya, miris kan".


"Eh, kalau istrinya tahu dia di pecat dan jadi pengangguran bisa jadi dia ditinggal karena tidak berguna lagi dan saat itu terjadi maka Pak Rehan akan menjadi gelandangan tidak memiliki harta sepeserpun. Eh, miris banget hidupnya".


"Itu mah hasil dari perbuatannya sendiri, apa yang ia tanam itu yang ia tuai betul nggak peribahasa yang ku pakai? Dulu dia sudah menyakiti perasan istrinya sekarang giliran dia yang tersakiti, KU MENANGIS..... Ha ha ha".


Suara - suara sumbang itu membuat Rehan membalikkan badan melayangkan tatapan tajam pada mereka semua yang berani men ghibah dirinya saat ia masih bisa mendengar ucapan pedas itu.


'Jika kalian masih tidak mau diam maka jangam salahkan aku jika nyawa kalian melayang'. Itu yang di artikan dari tatapan tajam Rehan hingga membuat mereka bungkam dan tertunduk menatap lantai.


Sepanjang perjalanan pulang, tangan Rehan terus bergetar menahan emosi yang membuat kepalanya hampir pecah. Saat ia memasuki rumah, semua barang dalam kamarnya tidak luput dari mendapat amukan darinya.


"Kamu kenapa Rehan?". Tanya bu Wahida cemas. Wajah anaknya kini tampak seperti monster, Merah padam, matanya menatap penuh kebencian dan sukar untuk di artikan, mata yang berembun menambah kesan seram di wajanhnya.


Rehan menghampiri ibunya dengan tangan yang sudah bercucuran dengan darah akibat menumbuk kaca meja rias milik istrinya.


"Ini semua salah ibu! Jika ibu merestui pernikahanku bersama Aisyah dulu pasti sampai sekarang ia masih berstatus istriku!". Bentak Rehan pada ibunya. Jari telunjuk kanya melayang ke arah bu wahida dengan emosi yang memuncak.


"Ada apa dengan mu nak? Kenapa kamu malah membahas tentang mantan istri kamu itu, ingat nak kamu sekarang bukan lagi suami Aisyah, istrimu sekarang adalah Desi". Balas bu Wahida mengingatkan.

__ADS_1


"Ibu tahu sebab impian ibu bermenantukan Desi sekarang hidupku hancur bu! Aku tidak memiliki apa pun sekarang harta, semua aset sekarang milik Desi sedangkan aku sekarang sudah jadi pengangguran, aku di pecat oleh mantan istriku sendiri". Ujar Rehan mengeluarkan unek - uneknya.


"Apa, kamu di pecat? Bukannya semalam kamu bilang sama ibu kalau kamu akan rujuk dengan Aisyah dan akan menag tas namakan kantor tempat kamu bekerja atas namamu sendiri. Kenapa sekarang kamu malah mengatakan yang berbanding terbalik dari apa yang kamu katakan semalam?". Bingung Bu Wahida.


"Tiada rujuk antara kami, dia hanya membuatku berharap tatapan nya dan tanggapan nya yang baik membuatku halu hingga berpikir dia masih menyimpan rasa untukku tapi ternyata dia menyimpan dendam dan menunggu waktu tepat untuk menjatuhkan ku sejatuh - jatuhnya. Dia mempermainkan perasaanku ibu!". Lirih Rehan kecewa.


Lelaki itu sukar mengapresiasikan emosinya saat ini, ia marah dan kecewa dalam satu masa, ia ingin pelampiasan tapi juga ingin meneteskan air mata.


"Terus apa kaitan nya dengan ibu? Kenapa kamu malah menyalahkan ibu atas kehancuran kamu ini, kehadiran Desi dalam pernikahan kamu dan Aisyah dulu bukan berawal dari ibu, kamu sendiri yang membawanya masuk untuk pertama kalinya setelah sekian lama berpisah...". Jelas Bu Wahida membela diri.


"Iya, memang aku yang membawanya masuk. Tapi semua ini tidak lepas dari kesalahan ibu juga, setiap hari ibu mencari sosok Desi dan membanding - bandingkan dia dengan Aisyah, aku yang selalu mendengar ibu memujinya kembali menimbulkan benih cinta di hatiku, yang dulunya sudah bertukar benci kembali menjadi Cinta, itu semua salah ibu". Potong Reham tidak mau kalah.


"Terus kamu mau apa sekarang? Menyesal? Udah terlambat, sebaiknya kamu tetap bersikap baik pada Desi agar kita tidak di buang dan menjadi gelandangan". Saran bu Wahida.


Mendengar saran ibunya yang meminta tetap bersikap baik pada Desi membuat emilosinya kembali memuncak. Ia tidak menafikan Desi lah dalang dari semua masalah yang ia hadapi, jika bukan kerana kehadiran wanita itu hidup Rehan saat ini pasti masih tenang dan damai bersama Aisyah dan anaknya. Malah sekarang mungkin dirinya sudah di limpahkan dengan kekayaan yang begitu tidak terhitung nilainya.


Rehan memukul dinding dengan menggunakan tangannya yanh sudah bersimbah darah, "Aaaackkhh". Teriaknya penuh kekesalan. Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan yang ibunya sendiri di dalam kamar miliknya.


"Kamu mau ke mana, Rehan? Obati dulu luka di tangan mu itu!". Teriak bu Wahida mencegah anaknya pergi.

__ADS_1


Rehan tidak mengindahkan panggilan ibunya, Ia terus melangkah keluar rumah mencari pelampiasan kekesalannya di luar, ia takut jika terus berada di rumah malah ibunya yang akan menanggung akibat kekesalannya.


__ADS_2