Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 71 penjelasan Fatimah


__ADS_3

Aisyah melangkahkan kaki nya masuk ke yayasan sendiri dengan perasaan sebal. Dia juga bingung kenapa dia bisa kesal dengan sikap Zack, bukannya menjawab pertanyaannya lelaki itu malah balik bertanya.


"Apa dia nggak ngerti kalau aku ke sini itu membawa perasaan dongkol pada Ummi, dia malah bersikap tidak peka". Omelnya menyusuri lorong menuju ruangan Fatimah. Beberapa orang menyapanya ramah, ia hanya membalas dengan senyuman dan tetap melangkahkan kaki tiada niat untuk berhenti.


Saat masuk ke ruangan Fatimah, Aisyah tahu wanita itu ada di dalam karena biasanya pada jam sekarang wanita itu beristirahat di ruangannya. Tanpa mengetuk terlebih dahulu Aisyah langsung menerobos masuk setelah membuka pintu.


Fatimah sempat tercengang kok ada yang tidak sopan langsung masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, tapi setelah melihat siapa yang datang wajahnya yang semula tampak kaget berubah sumbringan. Ia begitu merindukan sosok wanita yang sudah ia besarkan itu.


"Aisyah sayang, sini duduk!". Sahut Fatimah hangat. Aisyah kini duduk di hadapannya dengan di pisahkan oleh meja kerjanya. "Apa kabar kamu? Sudah beberapa bulan kamu tidak datang berkunjung ke sini, karena khawatir Ummi sempat mendangangi rumah suamimu minggu lalu tapi mertua kamu yang judes itu mengusir Ummi, dia bilang kamu tidak lagi tinggal di sana". Sambungnya.


Fatimah sebenarnya heran dengan wajah Aisyah yang sama sekali tidak terlihat senang, bahkan bibirnya sama sekali tidak terukir senyuman yang biasa ia lihat. Tapi Fatimah berusaha bersikap tenang, "mungkin dia sedang mengalami masalah berat, oleh sebab itu baru sekarang ia datang berkunjung untuk curhat". Batin Fatimah.


" Bagaimana rumah tangga kamu dengan Rehan? Semua baik - baik saja kan, kenapa mertua kamu bilang kamu tidak lagi tinggal di sana, pasti dia hanya ingin mengusir deh kayaknya". Tebak Fatimah.


"Jika kamu ada masalah ceritakan saja sama ummi, sayang! Ummi tahu kamu sekarang udah dewasa dan sudah memiliki rumah tangga sendiri tapi apa salahnya kita sama - sama bercerita tentang masalah kita, ummi juga ada yang ingin di sampaikan kepada kamu kok tapi lebih baik kamu dulu deh". Bujuk Fatimah saat Aisyah sama sekali tidak menjawab sapaan nya hanya tatapan tajam yabg ia terima.


"Aku sudah bertemu dengan orang tuaku". Akhirnya Aisyah membuka mulut tapu masih dengan wajah datar. Fatimah yang mendengarnya langsung membulatkan matanya karena kaget.


"selamat untuk kamu, sayang". Ucap Fatimah, Ia kembali diam menunggu Aisyah melanjutkan perkataannya. Bingung merespon bagaimana jika wajah Aisyah saja datar seperti itu.


Setelah beberapa saat terdiam dengan saling menatap, Aisyah kembali melayangkan perkataan yang semakin memojokkan Fatimah. "Kenapa selama ini kamu tidak mengizinkan aku untuk di adopsi? Bahkan dari dulu kamu terkesan menyembunyikan aku dari orang lain". Tanya Aisyah ketus.


Lidah Fatimah keluh, ia semakin bingung ingin menceritakan semua itu dari mana karena kejadian itu ia lakoni beberapa beberapa tahun lamanya hingga Aisyah memaksa untuk mandiri dan mencari pekerjaan diluar saat umurnya sudah memasuki 18 tahun. Ia mengizinkan karena pikirnya keadaan di luar sudah aman untuknya bahkan lelaki yang meminta kerja sama nya sudah lama tidak menampakkan diri dan tidak lagi mengirim uang seperti perjanjian.


"Kenapa bengong? Jawab!". Bentak Aisyah, wanita di hadapannya sempat terloncat dari duduknya. "Selama ini aku selalu mengagung - agungkan kebaikan Ummi, sangat bersyukur karena mendapatkan kasih sayang lebih berbanding yang lain, ummi bilang jangan keluar dari kamar jika ada orang mencari anak adopsi, konon supaya aku tidak di ambil orang lain karena ummi sangat sayang sama aku, tapi nyatanya apa? Kamu menyembunyikan aku untuk mendapatkan keuntungan". Sambung Aisyah mengeluarkan unek - uneknya.

__ADS_1


Aisyah sudah hilang respek pada wanita di hadapannya kini, padahal dulu ia lah satu - satunya yang Aisyah miliki dan banggakan setengah mati tapi nyatanya ia hanya mengambil keuntungan dari kehadiran Aisyah.


"Dengar Aisyah! Ummi memang sangat menyayangi kamu dan memang ummi berniat tidak akan memberikanmu pada orang lain bukan menyembunyikan kamu sayang". Bujuk Fatimah mencoba menghampiri Aisyah yang tampak sangat geram padanya.


Aisyah hanya diam, ia masih menunggu perjelasan yang ingin di sampaikan Fatimah tapi karena terlanjur percaya begitu saja ucapan pak Santo waktu di rumah sakit hingga ia enggan untuk disentuh wanita itu, setiap kali Fatimah mencoba memegang tangannya, ia dengan cepat menepis dan sedikit menghindar.


"Tapi salahkan Ummi menerima bantuan seseorang yang memang sangat di butuhkan untuk kelangsungan hidup kita semua, ummi terpaksa bekerja sama dengan lelaki itu agar kita bisa makan". Fatimah kini sudah berderai air mata. Kisah perjuangannya dulu mempertahankan kelangsungan panti miliknya dan juga kelangsungan hidup semua anak di dalamnya begitu berat ia pikul sendiri hingga keadaan itu mendesaknya untuk menerima saja tawaran tersebut, ia akan menanggung dosanya sendiri.


"Itu sama saja kamu memberi kami makan dari duit yang tidak halal". Cerca Aisyah semakin kesal. Alasan yang di berikan Fatimah memang menyayat hati, tapi semua itu tidak menutup kejahatannya malah terlihat semakin salah di mata Aisyah.


"Iya Ummi tahu, tapi mau bagaimana lagi? Lagi pula uang yang lelaki itu berikan tidak ummi gunakan untuk membeli makanan, Ummi gunakan untuk membeli baju dan memperbaiki kerusakan bangunan ini, itu saja". Gumam Fatimah sedih.


"Kamu tahu? jika kamu tidak mendengarkan ucapan lelaki itu dan lebih memilih mencari tahu siapa sebenarnya orang tua aku, pasti itu lebih menguntungkan kamu". Imbuh Aisyah.


"Ummi terperdaya dengan semua perkataannya, ia mengatakan jika kamu tidak di sembunyikan maka kamu dalam bahaya, bukan kamu saja bahkan kita semua pasti akan mati. Begitu banyak yang mengincar nyawa kamu, karena ummi begitu menyayangimu Ummi terpaksa menuruti perkataanyannya. Ummi tidak pernah meminta imbalan tapi ia dengan senang hati memberikan bantuan". Jujur Fatimah merasa menyesal.


Tok


Tok


Tok


Belum sempat Aisyah menghampiri Fatimah untuk menenangkan wanita itu, pintu di ketuk oleh seseorang. Fatimah dengan cepat menghapus air matanya meskipun wajahnya masih terlihat sangat sedih dan merasa bersalah.


"Masuk". Kata Fatimah.

__ADS_1


Aisyah dan Fatimah sama - sama terkejut melihat siapa yang berdiri membuka pintu.


"Selamat sore, dengan ibu Fatimah Az zahra?". Tanya pak Sambo. Di sampingnya ada dua orang polisi wanita.


"I - iya sore, saya sendiri". Jawab Fatimah dengan perasaan tidak menentu.


Dari luar terdengar sayup - sayup beberapa pegawai Fatimah sedang bingung dengan kedatangan beberapa orang polisi ke ruangan Fatimah di hantar oleh salah satu pegawainya.


"Maaf jika kami mengganggu, kami datang kesini untuk membawa bu Fatimah ke kantor polisi untuk di minta keterangan, sila ikut kami bu!". Imbuh Pak Sambok.


Fatimah menatap Aisyah dengan wajah bersalah, ia kemudian menghampiri polisi tersebut dengan pasrah tanpa sepatah kata pun. Dua orang polisi wanita itu memborgol Fatimah dan memegangnya.


Pegawai - pegawainya tampak sedih melihat atasan mereka ingin di bawa oleh pihak polisi. Begitu pula Aisyah, setelah mendengar penjelasan Fatimah tadi ia kini menjadi khawatir akan nasip ibu angkatnya itu.


"Ummi tenang saja, jika yang ummi cerita kan tadi itu benar, Aisyah janji akan berusaha membebaskan ummi". Ikrar Aisyah. Fatimah hanya tersenyum hangat padanya.


Saat melangkah keluar Fatimah meminta izin untuk berbicara pada pegawai kepercayaannya, "Lana".


"Iya buk". Jawan Lana sedih.


"Untuk sementara waktu kamu handle yayasan dulu yah, maaf merepotkan kamu lagi". Pinta Fatimah pada Lana.


"Nggak kok buk, yayasan ini merupakan separuh hidup aku, aku akan selalu menyalurkan bakti tanpa merasa repot buk". Lirih Lana, ia merupakan anak yang juga di besarkan di panti ini tapi baru beberapa tahun kembali setelah merantau jauh bersama suami, tapi setelah suami berpulang ke rahmatullah ia kembali sendirian hingga akhirnya memutuskan kembali ke panti asuhan untuk menyalurkan bakti dengan tulus.


Setelah memberi amanah pada Lana untuk menjaga Yayasan, Fatima di bawa pergi ke kantor polisi meninggalkan sejuta kesedihan di hati penghuni yayasan panti asuhan itu. Aisyah tidak kuasa menahan tangisnya, di ruangan Fatimah ia menangis tersedu - sedu merasa bersalah pada wanita yang telah membesarkan nya itu.

__ADS_1


Semua pegawai kembali melanjutkan tugas mereka yang sempat terjeda setelah menyapa dan menanyakan keadaan Aisyah. Tapi wanita itu hanya diam tidak bergeming hingga mereka memilih meninggalkannya untuk menenangkan pikiran terlebih dahulu.


"Maafkan aku Ummi". Gumamnya merasa pusing sambil memeluk poto Fatimah. Kepalanya semakin merasa sakit dan matanya menjadi gelap hingga akhirnya ia tidak sadar kan diri.


__ADS_2