Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 25


__ADS_3

POV Aisyah


"Saya Zaki Pratama, senang berkenalan dengan anda". Ucap Zack masih menjabat tangan mas Rehan.


Tiada tanggapan dari mas Rehan, dia terlihat menatap tajam ke arah Zack. Tiada senyuman yang terbit di bibir nya, wajahnya seolah menahan sesuatu yang ingin meledak.


Desi juga terlihat melihat Zack dari kepala hingga kaki, matanya tidak berkedip sekali pun, terpesona dengan ketampanan dan kegagahan tubuh Zack, sama persis ketika aku kembali di pertemukan di panti asuhan tempoh hari, yang konyolnya, aku sampai masuk dalam dunia hayalan akibat terhibnotis dengan Zack. Sampai lupa diri deh pokoknya...


"Ehm Ehm...". Sengaja berdehem untuk membuyarkan ketegangan yang sempat terjadi antara mereka berempat. Mas Rehan dengan cepas cengkraman tangannya pada Zack.


Sikap kami berhasil menyita perhatian orang lain yang juga berada di ruangan ini.


"Apa kita berdiri aja seperti ini?".. Tegur Zack membuatku tersadar.


Aku sebenarnya grogi sekarang, kedekatan kami saat berbalas pesan tadi jadi hilang akibat rasa gugub yang tiba - tiba menyerang ku ketika Zack berada tepat di hadapanku.


"Eh maaf , maaf pak, eh mas. Duduk di sini saja..". Aku menunjuk ruang kosong sofa di sampingku.


Zack menuruti perkatannku dan duduk dengan manis di sampingku. Kini mereka bertiga sudah duduk, giliran aku ingin mencari tempat lain, aku tidak selesa duduk di apit oleh dua orang lelaki sekali gus. Aku melihat ada kursi plastik kosong di sudut yang sedikit jauh dari tempat kami sekarang.


"Permisi dulu yah, saya ingin mengambil kursi di sana sebentar...". Pamit ku pada Zack dengan sopan.


"Oh silahkan, saya juga ingin mengobrol dulu dengan suami kamu..". Sahut Zack.


Aku melangkah dengan langkah perlahan karena penasaran dengan apa yang ingin di ucapkan Zack pada Mas Rehan.


"Maaf jika saya lancang, tapi saya bingung dengan ucapan Aisyah tadi. Dia istri anda kan, tapi kok dia memperkenalkan wanita di samping anda itu sebagai pacar anda, apa dia cuma bercanda atau ada sebab lain?".. Terdengar Zack bertanya membuat mas Rehan gelagapan manjawabnya.


"Oh I - itu, sudah pasti hanya bercanda lah, takkan aku tega menduakan istri aku itu. Dia hanya bercanda tadi, pak Zaki nggak usah percaya omongannya! Dia memang sering bercanda orangnya, he he he..". Malah aku yang di bilangi suka bercanda. Selama ini apa yang kamu buat sama aku itu juga hanya candaan?


Aku melangkah dengan menahan emosi mendengar perkataan mas Rehan, dengan cepat mengangkat kursi dan cepat kembali. Terlihat wajah Desi santai dan masih menatap Zack dengan tatapan takjup. Dasar wanita gatal memang yah! Lagi bersama mas Rehan, masih sempatnya dia melirik lelaki lain.


"Kalian sedang mengobrol apa? Kok terlihat tegang begitu...". Aku meletakkan kursi berhadapan dengan sofa mereka.


"Nggak apa - apa, kamu tega mengatakan wanita itu pacar suaminya kamu sebagai candaan. Kalau jadi kenyataan bagai mana?..".ucap Zack.

__ADS_1


"Udah jadi kenyataa pun...". Batinku sambil melirik mas Rehan. Dia tampak tidak suka dengan kedatangan Zack. Itu yang aku harapkan.


"Itu cuma bercanda kok, dia itu suami yang setia dan sangat mencintai aku, jadi mustahil dia bisa kepincut dengan pesona wanita murahan di luar sana yang berusaha menjadi pelakor dalam hubungan kami...". Sahutku mendapat tatapan tajam dari Desi.


Kenapa? sakit hati mendengarnya? Ada ku kesah...he he he


"Oh jadi bagaimana keadaan Albar di dalam? Apa kata dokter? Mengapa sampi di tahan hingga beberapa hari?". Tanyanya tampak khawatir dengan keadaan Albar.


"Kata dokter dia baik - baik saja. Di tahan hanya untuk pemantauan katanya...". Balasku.


Zack sama sekali tidak tertarik melirik Desi yang sama sekali tidak lepas dari menatap nya sedari tadi. Bahkan untuk berkenalan saja dia tidak bertanya. Emang enak di cuekin.


Bahkan mas Rehan hanya memperhatikan kami berdua, tidak memperhatikan gelagat kekasihnya itu.


TRING


Terdengar deringan ponsel, aku kenal nada itu, milik mas Rehan. ..


"Maaf, saya permisi sebantar mengangkat panggilan...". Ucap mas Rehan.


"Yah ibu, ibu di mana sekarang..". Mas Rehan berbicara setelah panggilan tersambung.


Ternyata ibu mertua julitku menelpon. Pasti ada masalah menimpanya, makanya dia menelpon anak bauk keteknya itu.


"Tunggu di situ! Aku datang ambil ibu...". Sambung nya lagi.


Panggilan di akhiri, ponsel di simpan kembali di sakunya, "Aku pamit dulu yah, soalnya ibu ku sedang ada masalah di jalan...".


"Oh, nggak papa kok, silakan..!". Balas Zack ramah.


Mas Rehan beralih menatapku, "Ayoh ikut jemput ibu...". Ajak nya.


Aku kaget, biasanya dia tidak pernah mengajakku pergi naik mobilnya, jika bukan aku yang meminta, pantang aku bisa naik di mobil itu.


"Terus siapa yang menemani mas Zaki di sini? Ajak Desi aja, yah!". Saranku karena ingin menolak.

__ADS_1


"Istri aku itu kamu atau Desi? ..". Ucap mas Rehan dengan nada sedikit tinggi.


Aku kaget, terlihat jelas dia tidak ingin membiarkan aku berdua dengan Zack di sini.


"Biar Desi yang menemaninya di sini, sebentar aja kok, sayang!". Mataku membulat sempurna mendengar dia kembali memanggilku sayang. Selama ini kemana aja bambang.


"Ya udah deh SA...YANG.. .". Kupertegas ucapan sayang untuk memanas - manasi Desi. Tapi kok dia tidak terpancing dengan ucapanku. Dia terlihat senyum saja mendengar itu.


Aku terpaksa menuruti permintaan mas Rehan, "Tolong temani sebentar yah mas Zaki nya, tapi jangan keganjengan! soalnya dia sudah punya tunangan...".


Aku tidak tahu sama ada dia tersinggung atau tidak dengan ucapan itu. Tapi sepertinya dia tidak peduli, mas Rehan yang sudah jelas sudah punya istri dan anak masih aja di gebetin. Apa lagi cuma sekedar tunanangan yang belum tentu nikah, pasti di ambat lah.


"Kamu kenapa berkata seperti tadi? Sengaja ingin buat aku malu di hadapan yang kononnya kerabat kamu itu...". Tanya mas Rehan setelah kami masuki mobil.


"Perkataan yang mana mas?". Aku sok tidak tahu dengan arah pembicaraannya.


"Kamu jangan sok lupa Aisyah! Kamu memang ingin menjatuhkan marah aku kan di depan semua orang, dasar istri tidak berguna kamu!...". Bentaknya.


Membuat telingaku terbakar emosi juga me dengarnya. "Oh, jadi ini sebab mas mau mengajak aku jemput ibu. Kalau kamu ingin membentakku jangan hanya saat kita berdua mas! Lakukan itu saat di depan orang lain jika yang ku katakan itu memang salah...". Ucapku juga sedikit bentak.


Enak saja dia mengatakan aku istri yang tidak berguna, setelah segala pengorbanan yang telah ku lakukan untuknya tapi dia tetap saja menduakanku, seharusnya dia yang di labeli sebagai suami tidak tahu di untung.


Hufh


Ku buang nafas berat mencoba tenang kan emosiku dan kembali bertanya dengan lembut. "Coba mas katakan di mana letak kesalahan yang aku buat?".


Mas Rehan juga tampak menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. "Apa maksud kamu memperkenalkan Desi sebagai pacarku pada Zaki?". Benar apa dugaanku, pasti itu yang mmbuatnya kesal.


"Kan benar dia pacar kamu mas, kamu tidak ingin mengakuinya?". "Kan aku mengatakan yang sebenarnya".


Mas Rehan melirikku dengan tatapan mencekam dan kemudian kembali fokus kehadapan. "Iya, tapi tidak begitu juga, aku malu tahu nggak..".


Apa malu? Selama ini di mana urat malu nya memgumbar kemesraan si halayak ramai bahkan saat bersama istri sahnya.


"Selama ini mas bolak - balik ke hospital, ke kantor apa tidak memikirkan ucapan orang lain? Kalian dengan yakin datang dengan baju sedondong ke hospital dan dilihat ramai orang tak pun mengusik rasa segan mas. Tapi kenapa di hadapan mas Zaki mas tiba - tiba malu?". Sindirku.

__ADS_1


Semoga ini akan menjadi kan dia sadar dengan perbuatannya.


__ADS_2