Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 141 kenyataan pahit baru


__ADS_3

"Saya tahu anda tidak merestui saya dan Aisyah untuk rujuk, katakan saja terus terang maka saya sama sekali tidak keberatan....". Rehan beralih menatap Aisyah. "Kalau kamu memang nggak mau rujuk denganku kenapa harus dengan cara memberi harapan seperti ini? Kamu tahu betapa aku menunggu hari kita bertemu dengan masing - masing keluarga kita membincangkan hal ini. Tapi setelah hari ini tiba kalian sekeluarga malah mempermainkan kami seolah kalian itu tidak terpelajar sama sekali...". Sambung nya mengeluarkan kekecewaan.


"Jujur aku saat ini memang ambang kehancuran karena setelah kehilangan kamu hidup ku semakin hari semakin hancur, satu - persatu yang ku miliki ikut pergi dari hidupku. Bukan hanya pekerjaan tapi ketenangan hidup yang biasa aku rasakan saat bersama dengan mu dulu. ..". Rehan meneteskan air bening di matanya tapi berusaha mengatur mimik wajahnya agar biasa aja.


Aisyah hanya diam mendengar ucapan Rehan yang dia sendiri juga bingung sama ada lelaki itu mengatakan isi hatinya atau hanya menarik simpati dirinya dan keluarganya.


"Sekarang mungkin sebenarnya kamu bahagia dengan yang sedang ku alami, jabatan yang ku agung - agungkan selama ini dengan mudahnya ku di singkirkan oleh mu, wanita yang lebih ku utamakan berbanding kamu dan anak kita malah memanfaatkan diriku saja. Jujur saat ini aku sedang mengalami kesulitan untuk melanjutkan hidup, bahkan aku sempat mengunjungi psikiater dan di notis sedang mengidap depresi. Kalian tahu sendiri apa yang akan terjadi jika aku terus di beri cobaan seperti ini maka aku pasti akan berakhir di rumah sakit jiwa...". Lirih Rehan sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya.


Semua orang tercengang mendengar perkataan Rehan barusan. Mereka tidak menyangka jika Rehan sedang mengalami depresi, tiada yang mengetahui hal ini sebelumnya bahkan bu Wahida sendiri juga syok mengetahui kenyataan pahit ini.


Aisyah sebenarnya sedikit ragu karena tiada satu pun mata - matanya yang memberi informasi ini padanya tapi mengingat dulu Rehan sempat berniat bunuh diri boleh saja sekarang ia sudah tidak sanggup lagi menanggung beban fikiran yang menderanya.


"Kamu tidak sedang bercanda kan? Kenapa ibu baru tahu hal ini sekarang?". Bisik bu Wahida bertanya, ia sangat khawatir jika yang di katakan anaknya benar adanya. Ia membelai pipi anaknya yang sedang basah akibat air mata.

__ADS_1


Sebagai seorang ibu, bu Wahida tahu saat anaknya sedang berbohong atau tidak. Rehan jenis lelaki yang jarang menangis saat di hadapan orang lain termasuk dirinya sendiri, jadi saat ia mulai meneteskan air mata ia sangat tertekan saat itu. Bu Wahida memeluk tubuh anak nya erat sambil ikut meneteskan air mata pilu.


Mega dan Panji saling pandang merasa iba dengan yang di alami mantan menantunya tapi mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa - apa karena mereka tidak mau jika Aisyah masuk kembali ke lubang yang sama, yang ada hanya semakin membuat putri mereka menderita.


"Ternyata selama ini kamu susah tidur walaupun sedang sangat letih, nggak selera makan walupun makanan yang ibu masak adalah makanan kesukaan kamu ternyata sebab ini. Kenapa kamu tega menyembunyikan hal ini pada ibu Rehan? Kenapa?". Lirih bu Wahida sedih.


Rehan tidak lagi sanggup membuka mulutnya. Melihat ibunya menangisi dirinya membuatnya ikut semakin sedih tapi air matanya udah tidak mau lagi menetes karena ia sudah bisa mengatur emosinya sedikit. Lagi pula ia masih merasa malu jika harus menangis di hadapan orang lain. Depresinya terbilang masih ringan.


"Diam kamu! Kamu fikiran sekarang udah jadi kaya makanya bisa buat seenaknya pada kami. Ingat yah kalian semua karma itu ada maka nantikan saja semua menyerang balik ke arah kalian sekeluarga. Sekarang giliran kami berada di bawah tapi suatu hari nanti ada saat kalian yang akan beradan di bawah. Tidak selamanya kalian berapa di atas, roda berputar say". Kesal bu Wahida di sela kesedihannya.


"Sebaiknya jaga mulut anda bu Ida, apa ibu lupa jika dulu anak saya lah yang di aniaya dalam keluarga kalian? Kalian salah, sekarang adalah giliran anak saya berada di atas karena selama ini sudah berada di bawah kaki kalian berdua. Tidak perlu umbar kesedihan disini? Aku sama sekali tidak perduli sama dengan kalian yanh tidak peduli dengan keadaan Aisyah saat keluar dari rumah kalian tanpa membawa apa pun sebagai bekal hidup bersama cucu saya. Sekarang nikmati aja karma yang bu Ida katakan tadi!". Seru Mega membalas perkataan dengan nada sinis dan menusuk ke telinga yang mendengarnya.


"Kita pulang aja Rehan! Berada di sini terus juga sia - sia, mereka sama sekali tidak merasa bersalah sudah membuat kamu depresi seperti ini. Dasar orang kaya belagu! Ambil semua yang kita bawa ke rumah ini, jangan buat mereka merasa senang dengan menikmati barang yang kita bawa sedangkan kita di buat sakit hati". Ajak bu Wahida mengemaso barang bawaannya, seperti beberapa jenis kueh dan perhiasan mahal yang tadinya ingin di berikan pada Aisyah sebagai mahar.

__ADS_1


"Silakan bawa semua nya bu Ida, kalau sudi saya juga akan membungkus kan semua makanan yanh sudah tersedia di meja makan yang niatnya untuk di nikmati bersama kalian tapi lebih baik saya bawa untuk anak yatim piatu yang lebih memerlukan dari pada memberikan orang yang tidak sadar diri kayak kalian". Ketus Mega.


"Silakan! Saya juga nggak butuh makanan sedekah, saya masih bisa beli makanan sendiri meskipun tidak menjadi bagian dari kalian. Jangan sombong jadi orang!". Maki bu Wahida kesal. Ia ingin sekali menjambak rambut indah milik Mega tapi ia sadar jika di rumah besar ini banyak CCTV dan pengawal yang akan membalas perbuatannya.


"Sudah bu, mari kita pergi dari sini". Ajak Rehan menarik lengan ibunya keluar dari mansion purbalingga.


Aisyah maju menghampiri Rehan dan ibunya untuk menyerahkan sesuatu. "Ambil lah duit ini untuk mengganti segala kerugian kamu. Jumlah nya tidak banyak tapi saya bisa pastikan duit ini bisa kamu gunakan untuk membangun sebuah bisnis kecil dan untuk mengobati penyakit kami. Ambil lah sebagai tanda maaf saya sudah mempermainkan perasaan kamu beberapa waktu terakhir". Aisyah menyodorkan cek pada Rehan.


Ingin menolak tapi melihat nominal yang sedikit pada kertas itu membuatnya dilema sama ada mau nolak atau terima saja tapi malu setengah mati.


Bu Wahida yang memang gila uang dengan tidak malunya menarik cek itu dengan kasar hingga beralih tangan. "Nasip kamu sadar atas kesalahan kamu tidak seperti orang tua kamu itu. Ini saya terima sebagai ganti modal yang sudah saya keluarkan datang ke tempat ini, emosi dan tenaga yang terkuras terbayarkan dengan cek ini...". Imbuh bu Wahida tanpa malu.


Bu Wahida malah melirik tajam ke arah Pak Panji. "jika Rehan tidak berhasil mendapatkan Aisyah, maka aku yang akan mendapatkan kamu". Batin bu Wahida bertekat.

__ADS_1


__ADS_2