
Pikirnya dalam ruangan itu Aisyah hanya sendiri, menangis, meraung sudah di nabrak oleh istri sah kekasih tuannya, tapi ternyata semua dugaannya itu berbanding terbalik. Ruangan tampak ramai dengan kehadiran keluarga dari pihak Mega dan Panji untuk menemani Aisyah yang sedang di rawat.
Tiada raut kesedihan di wajahnya, memang terlihat pucat tapi tak dapat menghilangkan kebahagiannya yang ia rasakan kini. Rehan yang masuk langsung syok dan mati kutu di tempatnya. Niatnya mempermalukan Aisyah dengan kata - kata kasar di bantu Mega sebagai pendukung tapi malah berbaik menyerangnya.
"Ku pikir dia sekarang terpuruk, sedih kehilangan suami untuk menafkahi, stress karena dilabrak bu Mega tapi nyatanya sekarang ia di jadikan putri di keluarga terhormat itu, sebenarnya dia melakukan apa sih bisa sampai senang seperti sekarang? Bisa jadi bu Mega merestui hubungan mereka karena tidak bisa memberikan keturunan pada pak Panji lagi, bisa jadi Aisyah di jadikan anak angkat seperti Tuan Zack, atau Aisyah sebenarnya...". Rehan semakin berperang dengan pikirannya.
Desi yang beradi di samping kemudi masih dengan wajah cemberut dan sesekali mengomel nggak jelas pada Rehan, tapi suaminya itu tidak menggubris karema asik dengan pikiran sendiri. Bahkan sedari tadi mereka di dalam mobil tapi masih tidak pergi lagi, hanya deru mesin mobil yang berbunyi.
"Kamu ingin di sini terus mas?". Sindir Desi yang mulai bosan berada di parkiran rumah sakit ini.
Rehan tidak menggubris, Desi yang sudah di ujung sabar pun mengguncang tubuh Rehan untuk meminta perhatian lelaki itu.
"Kamu apa - apaan sih, hah!". Bentak Rehan tampak sangat geram dengan sikap istrinya itu.
"Kamu kenapa malah bentak aku, mas? Harusnya aku yang marah sama kamu sekarang yang sudah berbohong sama aku ingin menjenguk teman mas yang sakit tapi nyatanya mas pergi bertemu dengan mantan istri murahan mas itu!". Lawan Desi, ia pantang jika lelaki meninggikan suara padanya dan dia tidak melawan. Jangan sebut dia Desi Mulan Sari jika diam saja jika di tindas.
"Sudah hampir sejam kita di dalam mobil ini, tapi kita tidak pergi juga dari sini. Kamu sibuk ngelamun, omongan aku pun kamu tidak hiraukan. Apa yang kamu pikirkan? Pikirkan bagaimana bisa rujuk lagi dengan mantan istri kamu itu? Lakukan saja, jika kamu mau jatuh miskin, jadi gelandangan dan tidur di bawa kolong jembatan dengan ibu kamu". Anjam Desi.
Rehan terdiam, ia teringan isi perjanjian yang mereka tanda tangani waktu itu. "Jadi kamu menjebak ku? Kamu menggunakan perjanjian itu untuk membuat ku tunduk setiap perkataan dan kemauan kami, begitu?". Kini Rehan baru tersadar. Kemana aja itu otak bos? Kenapa baru sekarang terpikir ke arah sana?
" hahahaha, kalau iya kenapa? Kamu mau marah, silahkan! Tapi ingat mas, semua aku lakukan juga karena kesalahan mu, jika kamu tidak pernah berubah dan berlaku kasar padaku, aku tidak akan pernah melakukan itu semua, siapa juga yang ingin rugi kan? Sekarang aku sudah mengandung anak kamu, aku tidak akan pernah ingin melahirkan tanpa ada status yang jelas yang pastinya aku bukan wanita bodoh yang bisa kamu kibuli dengan senang". Imbuh Desi yg dengan wajah serius.
"Aaaaack". Rehan berteriak frustasi dan menjambak rambutnya dengan kuat saking tidak terimanya dengan kebodohan yang sudah ia lakukan. Memang ia sangat mencintai Desi, tapi semenjak Aisyah kabur dari rumah hatinya tiba - tiba berubah gelisah, saat bersama Desi pun ia yang jarang sekali memikirkan Aisyah terus saja membayangkan jika di hadapannya sekarang adalah mantan istrinya itu.
Bahkan setiap melajukan penyatuan bersama Desi, nama yang sering ia sebut di sela desahannya adalah nama Aisyah, membuat Desi kesal dan menggantung perbuatan mereka, terpaksa Rehan menuntaskannya di kamar mandi dengan membayangkan wajah Aisyah.
__ADS_1
Setelah pertengkaran mereka, Rehan akhirnya melajukan mobilnya pulang ke rumah dengan kecepatan tinggi. Desi sampai ketakutan sampai memejamkan mata tidak ingin melihat ke sekitar. Untungnya jalan sedang lengah, jadi mereka sampai ke rumah dengan selamat, namun bisa dipastikan Desi tampah trauma untuk semobil dengan suaminya jika lelaki itu yang menyetir.
*
*
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar utama yang sekarang di huni Desi dan Rehan di ketus dengan halus dari luar. Dengan malas, Desi bangun dan membuka kan pintu. Wahida masuk ke dalam kamar dengan mene teng tampan berisi makanan dan susu bumil untuk Desi. Tampak dari wajah wanita itu sangat kelelahan.
Sudah seminggu Desi memecat semua pembantu di rumahnya, semua pekerjaan di limpahkan pada mertuanya itu. Wahida awalnya tidak keberatan jika pembantu di pecat, karena pikirnya Desi lah yang akan mengerjakan semuanya sama seperti Aisyah dulu. Tapi ternyata semua itu tidak seperti perkiraannya, ia kini yang mengerjakan semuanya mulai dari membersihkan rumah dua tingkat ini, memasak dan mengurus pakaian mereka.
"Desi bisa ibu omong sama kamu sebentar, nak?". Izin Wahida setelah meletakkan nampak di atas meja.
"Emm". Jawab Desi acuh mengiyakan. Ia tetap lahap menyantap sarapan tanpa menawarkan pada mertuanya itu. .
"Bila kamu ingin mengambil pembantu lagi, satu saja cukup kok, ibu tida sanggup mengerjakan semuanya sendiri bisa mati ibu jika setiap hari seperti ini". Kata Wahida mengiba.
Tidak langsung menjawab, Desi lebih dulu menghabiskan makanan nya dan meneguk habis susunya. Setelah sedikit lebih santai, baru lah Desi menatap intens ibu mertuanya itu.
"Saya sudah konsultasi dengan ibu sebelumnya sebelum memecat semua pembantu, dan ibu setuju tanpa ragu. Sekarang kenapa mengeluh?". Ujar Desi dengan ketus.
__ADS_1
"Ibu pikir kamu tidak melimpahkan semua pekerjaan rumah pada ibu jadi ibu tidak keberatan, ibu pikir kamu yang....". Lirih Wahida.
"Ibu pikir aku yang akan mengerjakan semuanya, hahahaha. Ibu pikir aku ini Aisyah, sudah ku katakan sebelumnya, jika ingin makan dan tetap tinggal di sini yah ibu harus kerja, di dunia ini tiada yang gratis bu". Sindir Desi.
"Tapi kamu hanya tinggal di rumah tidak pergi kerja dan juga tidak melakukan apa - apa kok, masak kamu tidak bisa menolong ibu barang sedikit saja. Ibu ini sudah tua dan kamu masih muda malah hanya goyang - goyang kaki saja di rumah. Ingat ini rumah anak ku, aku juga ada hak di rumah ini...". Wahida tidak lagi bisa bersabar.
"Hah, apa ibu lupa jika semua aset milik mas Rehan sudah beralih nama ke namaku, jadi terserah aku melakukan apa pun pada semua aset itu, bahkan bisa saja aku usir ibu dari sini tanpa membawa apa pun tapi karema ibu itu adalah ibu kandung mas Rehan ya saya tahan aja asal ibu sanggup membabu di rumah ini, hahaha". Desi kembali mengingatkan mertuanya tentang perjanjian itu.
"Jika begini ibu memilih pergi saja dari rumah ini". Ucap Wahida terdengar seperti mengancam.
"Silahkan, dengan senang hati saya melepas kepergian ibu, sekarang ya bu? Biar menantu kesayangan ibu ini membantu untuk mengemas barang dan baju ibu". Desi tampak senang.
Perkataannya itu berhasil membakar telinga mertuanya. Dengan kesal, Wahida keluar dari kamar dengan menghentakkan kakinya. Hatinya sakit di perlakukan semena - mena oleh menantu yang selama ini ia banggakan. Tanpa di undang, air matanya menetes dengan deras membasahi pipinya.
Saat berada di bawah, tampak Rehan pulang dan tampak kaget melihat ibu yang sangat ia cintai menangis.
Melihat kedatangan Rehan, Wahida semakin menjadi meneteskan air matanya. "Ibu ingin keluar aja dari rumah ini Rehan, ibu tidak sanggup jika harus di perbudak oleh isti tak tahu diri kamu itu, ibu lelah hingga pinggang ibu ini ingin patah". Lirih Wahida sedih.
"Apa yang terjadi ibu, bukankah Desi menanti idaman ibu selama ini. Semua keinginannya ibu turuti bahkan di minta mengerjakan semua ini pun ibu sanggup kan. Kenapa sekarang jadi sedih seperti ini?". Tanya Rehan. Ia mengusap air mata ibunya itu.
Selama ini Wahida menyembunyikan kesedihannya dari sang anak karena ia tidak ingin membuat anaknya itu semakin tertekan dalam pernikahannya. Dia juga malu selama ini sudah membanggakan Desi hingga menuruti semua permintaannya asal ingin tetap menjadi menantunya, tapi semua itu menjadi bumerang dalam hidup wanita tua itu.
"Dia memperlakukan ibu seperti babu di rumah ini Rehan, ibu malu mengatan ini pada kamu. Selama ini ibu selalu membanggakannya, di depan teman arisan ibu, keluarga besar kita, ibu tidak mau menjilat ludah sendiri Rehan, ibu malu". Wahida masih berlinangan air mata.
"Jadi sekarang ibu mau kemana?". Tanya Rehan.
__ADS_1
"Ibu hanya ingin kembali ke rumah ibu dulu sebelum tinggal di sini, ibu lebih baik tinggal sendiri saja di rumah kecil itu dari pada harus tinggal di sini, memang megah rumah ini tapi sudah seperti neraka bagi ibu sekarang. Ibu sudah mengemas semua barang ibu kedalam koper semalam, ingin berdiskusi dengan Mulan siapa tahu ia akan berubah tapi tetap saja begitu, malah dia tampak senang ibu akan pergi, ayo kamu langsung antar saja ibu ke rumah itu, ibu sudah tidak sanggup tinggal di rumah ini". Wajah Wahida sudah berubah, semangat sungguh ingin segera keluar dari rumah bak neraka baginya ini.
Rehan diam, permintaan ibunya berhasil membuatnya tidak bisa berkata - kata.