
Dengan langkah gelisah, Aisyah memegang tangan bik Saras menghampiri pintu kontrakan dengan sedikit menyeret wanita tua itu.. Dia tidak habis pikir dengan kedatangannya tadi ke kota Makasa bisa membuatnya di intai oleh seseorang. Bahkan mereka berhasil menemukan lokasi tempat tinggalnya sekarang.
Dengan bergetar, Aisyah merogoh kunci kontrakan di dalam tasnya, saking gugubnya semua isi tas miliknya sampai berhamburan ke lantai.
"Kamu kenapa seperti ketakutan seperti itu, nak?". Tegur bik Saras penuh khawatir.
"I - itu bu! Ada yang ikutin kita..". Jawab Aisyah, dia sudah mendapatkan kunci yang dia cari. Segera dia memasukkan kembali semua barang yang berjatuhan kembali ke dalam tasnya dengan terburu - buru.
"Sini kuncinya! Biar ibu aja yang buka pintunya! Kamu terlihat ketakutan seperti itu". Saran bik Saras. Keringat bercucuran di kening majikanya itu, mungkin ketakutan yang dia rasakan bukan hal yang main - main.
Aisyah menyerahkan kunci kontrakan kepada bik Saras. Setelah pintu terbuka, Aisyah langsung menarik bik Saras masuk ke dalam dan menutup pintu dengan cepat. Wanita itu mengurut dadanya karena sudah merasa sedikit lebih aman jika berada di dalam kontrakan.
"Kamu tenang saja, nak! Mereka pasti hanya tetangga kita yang kemungkinan baru pulang. Bibik kan orang desa sini, jadi bibik kenal mobil semua orang yang tinggal di sekitar desa ini". Bujuk bik Saras. Dia tahu mobil yang mereka lihat tadi adalah rekan setimnya dalam menjaga Aisyah. Tapi dia tidak boleh membeberkan siapa mereka sebenarnya kepada wanita itu karena takut dirinya mejadi ilfil kepada mereka dan memilih tidak ingin dilindungi siapa pun.
"Tapi mobil itu sangat mewah bik! Hanya konglomerat yang bisa memilikinya, mustahil orang di desa ini bisa memiliki mobil mahal seperti itu, sedangkan mas Rehan saja.....". Aisyah langsung menutup mulutnya karena tanpa sengaja menyebut nama lelaki yang begitu di benci. Jangankan untuk bersentuhan, menyebut nama lelaki itu saja di begitu jijik sekarang.
"Kamu jangan salah, nak! Orang yang kadang terlihat sederhana itulah yang merupakan konglomerat sebenar, dia tidak suka memamerkan kekayaan, tinggal di desa tidak menuntut kemungkinan jika kami di sini semua kaya raya ya kan?". Sindir bik Saras sambil membelai rambut baby Albar agar makin nyenyak tidurnya.
"Seperti ibu ya kan? Buktinya ibu tidak keberatan jika aku membayar ibu sedikit, dan malah mau tinggal denganku di kontrak kecil ini, pasti ibu sudah banyak uang yah?". Tanya Aisyah penuh selidik. Dia juga sebenarnya begitu penasaran dengan sosok wanita yang menjelma menjadi malaikat dalam hidupnya ini. Wanita yang membuka matanya untuk lepas dari pernikahan toksiknya itu.
Bahkan wanita ini juga lah yang membawanya ke tanpa yang lebih aman dari di deteksi oleh bakal mantan suaminya.
"Kecuali ibu dong! Emang kamu liat ibu ini kaya apa? Baju kusam begini juga, agak - agak lah!". Elak bik Saras. Jujur dia memang orang yang tida berpunya.
"Tapi ibu sendiri yang bilang kalau konglomerat yang sesungguhnya itu....". Ucapan Aisyah terpotong.
__ADS_1
"Sudah - sudah! Kamu di jelaskan supaya tida takut berlebihan sama orang, malah ibu yang kamu serang habis - habisan! Sudah sana masuk kamar! Anak kamu ini sudah mau bertemu kasur, takut badannya pegel - pegel begini terus..". Potong bik Saras mengelak dari interogasi Aisyah yang entah akan berakhir kapan jika di ladeni.
Baby Albar tertidur pulas dalam gendongan bik Saras. Anak kecil itu sama sekali tidak terganggu dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Anak yang sebenarnya sangat pengertian dan mudah di rawat, tapi sayang sekali dia harus melewati masa kecil dengan konflik keluarga dan pertumbuhan yang kemungkinan terhambat. Sekarang saja, usianya sudah memasuki dua tahun, tapi dia masih belum bisa berjalan dengan baik, berbicara juga masih seperti seorang bayi usia 8 bulan, miris sekali nasibmu nak.
Akhirnya mereka beristirahat di dalam kamar masing - masing. Setelah bik Saras meletakkan baby Albar di kamar ibunya, wanita itu masuk ke dalam kamarnya dan menghubungi seseorang. Tampak dari wajahnya dia begitu gelisah dan tegang, kemudian berubah menjadi kesal setelah panggilan di matikan, entah karena sebab apa?
*
*
Rehan sekarang berada dalam mobil silver miliknya menuju ke kediamannya. Di sampingnya, seorang wanita setia duduk di sampingnya sambil menggenggam erat tangan lelaki itu.
Karena merasa risih, Rehan menarik kasar tangannya dari terus di genggam oleh Desi, wanita yang selama ini dia cintai, wanita yang begitu ingin dia jadikan seorang istri, wanita yang selalu membuatnya bahagia sekarang terlihat membosankan di matanya, mungkin efek frustasi mencari keberadaan istri pertamanya yang sampai sekarang belum berhasil di temui.
Desi menatap jengkel ke arah suaminya, meskipun sakit di perlakukan kasar oleh lelaki yang selama ini dia incar, tapi dia tidak boleh cengeng sebelum semua keinginannya terpenuhi. Dengan cepat dia mengubah mimik wajahnya menjadi manja semula untuk merayu suaminya.
Tapi sayangnya, Rehan sama sekali tidak termakan bujuk rayu Desi saat ini. Dia semakin mengencangkan laju mobilnya untuk melampiaskan kekesalan nya. Sudah beberapa minggu dia terus mencari keberadaan Aisyah melalui bawahannya, tapi nihil, sampai sekarang kabar keberadaan wanita itu belum juga dia dapatkan.
Desi berubah ketakutan dengan laju mobil yang semakin kencang membelah jalan. Refleks melepas pelukannya dari lengan sang suami dan beralih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak menyangka, trik yang selama ini dia gunakan untuk merayu Rehan semakin tidak manjur. Semenjak Istri sah suaminya itu pergi, giliran dia pula yang di cuekin lelaki itu.
"Mas! Perlahan kan mobilnya!". Teriak Desi dengan sangat ketakutan.
Suara melengking wanita itu sama sekali tidak mengurungkan niat Rehan untuk balap solo di jalanan detik ini juga.
"Kalau kamu tidak mau perlahan kan mobil ini, biar aku terjun aja keluar dari sini! Ini yang kamu mau kan, mau aku mati karena ketakutan dalam mobil ini!". Ancam Desi penuh penekanan. Tampak dari wajahnya, perkataannya tadi hanya untuk membuat suaminya itu down dan kembali takut kehilangan dirinya seperti sebelumnya.
__ADS_1
Tapi tetap saja, Rehan tidak mengindahkan semua yang di ucapkan istri sirinya itu. Dia hanya menekan tombol kunci di seluruh pintu mobil agar tidak bisa terbuka kecuali dia yang membukanya. Jadi ancaman Desi hanya akan menjadi ancaman belaka baginya, tidak akan menjadi nyata.
Karena sudah tidak ada ide lagi yang bisa dia gunakan, Desi memilih diam dan pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada mereka saat ini, jika mobil oleng, makan mereka mati berdua, jika selamat, maka mereka akan selamat berdua. Dia menutup matanya erat sambil berdoa dalam hati agar dirinya tidak di jemput maut hari ini.
Begitu lama dia larut dalam doa karena ketakutan, akhirnya mobil berhenti mendadak, dia yang tidak tahu langsung terkejut dan oleng ke depan menabrakkan kepalanya ke mobil. "Duh, mas, Sakit..". Dia meringis kesakitan sambil memegang dahinya yang terasa sakit akibat benturan.
"Sudah jangan cengeng! Keluar sana! Buka gerbangnya!". Bentak Rehan cuek dengan rintihan kesakitan istrinya.
"Kenapa tidak menggunakan remote kontrol aja mas?". Tanya Desi bingung.
"Aku lupa membawanya, jangan banyak tanya kamu! Sana cepat buka!". Tegas Rehan. Matanya melotot menatap Desi agar wanita itu segera menuruti perintahnya.
"Ogah aku mas! Kamu pikir aku ini babu kamu, hah? Kamu jangan seenaknya yah memperlakukanku seperti ini!". Bukannya takut, Desi malah semakin kesal dengan suaminya. Bisa - bisanya lelaki itu memintanya membuka gerbang yang dia sendiri tidak tahu cara membukanya. Jangan mimpi!.
"Kamu!". Rehan mengangkat tangannya berniat menampar Desi.
"Apa mas? Kamu mau tampar aku? Sini tampar! Apa kamu belum puas membuat dahi aku lebam begini? Kamu mau tambah lagi? Sini! Silahkan!". Ucap Desi menantang suaminya. Caranya itu semakin memancing emosi suaminya yang memang sudah di ubun - ubun sedari tadi.
*
*
Bersambung....
Terima kasih yah, yang setia membaca novel aku sampai sekarang, jika kurang berminat, kalian bisa komen di bawa bagaimana saya bisa meningkatkan lagi kinerja saya dalam menulis cerita ini.
__ADS_1
Tapi jika kalian suka, saya tunggu hadiah dan vote nya yah🥰🥰
Terima kasih sekali lagi.