
Keesoakan harinya Rehan berlari mencari keberadaan sambil berteriak memanggil ibunya.
"Ibu! Ibu!...". Teriak Reham histeris..
Bu Wahida yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang merasa terganggu dengan teriakan anak lelaki nya udah seperti teriakan anak cewek.
"Apa anak sih kamu ini Rehan? Teriak - teriak udah kayak perempuan aja, malu sama tetangga kalau dengar kamu teriak kayak tadi!". Bentak bu Wahida saat Rehan sudah berhasil menemukannya.
"Soalnya aku bahagia banget bu, bahagia banget!". Jawan Rehan girang sambil memeluk bu Wahida erat.
"Lepas Rehan! Ibu bisa mati karena kamu pelul kayak gini. Santai aja napa ngomong nya!". Pinta bu Wahida mulai sesak nafas.
"Maaf bu. Tadi aku menerima pesan dari Aisyah yang mengatakan besok ia ada waktu luang seharian untuk membicarakan hubungan kami di rumah besarnya". Ujar Rehan antusias.
"Kamu yakin kita tidak akan kecewa lagi seperti hari itu?". Tanya bu Wahida memastikan..
"Dia janji akan menyambut kita lebih baik dari tempoh hari jadi ibu tenang aja, ok". Jawab Rehan dengan yakin.
"Tapi bagaimana yah? Keluarga kita udah tiada satu pun yang mau menemani dan membantu mempersiakan barang yang perlu di bawa besok...". Imbuh Bu Wahida sesal.
"Bu jangan khawatir juga soal itu, Aisyah bilang cukup aja yang datang tapi aku meminta untuk mengajak ibu dan Aisyah setuju aja asal jangan ramai - ramai. Soal barang yang ingin di bawa Aisyah udah mewanti - wanti jangan membawa apa pun takut menyusahkan katanya. Kita akan di jamu makanan lezat di sana jadi nggak perlu repot". Jelas Rehan merasa bahagia.
"Bagus lah kalau begitu, lagi pula kita harus berhemat untuk masa depan kita yang belum tahu bagaimana nantinya?". Sahut bu Wahida masih terlihat ragu.
"Kan aku akan menikah dengan Aisyah, bu. Jadi nggak perlu lah terlalu memikirkan uang saat ini, ibu boleh lah berbelanja sesuka hati ibu dan perawatan lagi kayak dulu pergi salon dan sebagainya begitu". Kata Rehan membujuk.
"Emang kamu yakin Aisyah akan menerima permintaan rujuk dari kamu?". Tanya Bu Wahida memastikan.
__ADS_1
"Dia tiada pilihan lain selain setuju jadi jangan banyak di pikir kan lagi, OK!". Bujuk Rehan lagi meyakinkan ibunya agar tenang dan menyerah kam semua urusan pada nya.
"Iya, sana pergi buat perawatan pada diri kami untuk acara kita besok. Ibu akan mencari sesuatu untuk barang bawakan kita besok, takkan kita datang sama sekali tidak membawa apa pun, tidak lucu menurut ibu". Sahut bu Wahida mengalah. Ia mendorong anaknya masuk untuk membersihkan dirinya dari segala bulu - bulu halus yang sudah tumbuh di wajahnya, bahkan rambutnya udah seharusnya di pangkas karena terlalu panjang.
"Iya ibu...". Rehan pun dengan semangat 45 berlari masuk ke dalam rumah mandi lalu bersiap keluar memotong rambutnya di salon langganannya.
Manakala bu Wahida juga bersiap keluar mencari barang hantaran yang akan ia bawa untuk bertemu calon besan nya besok. Setelah bersiap bu Wahida segera memesan taksi online karena tidak mungkin ia numpang dengan anaknya sedangkan Rehan juga sibuk mengurus dirinya sendiri.
*
*
Keesokan harinya seperti yang di janjikan, awal pagi Aisyah bersiap untuk menyambut Rehan dan ibunya ke rumah. Begitu pula dengan kedua orang tuanya juga sudah bersiap dengan pakaian sederhana milik mereka.
Di dapur chef Renata juga sibuk menyiapkan berbagai macam hidangan untuk majikan nya dan tamu yang akan datang bertandang nanti.
Zack pula yang beluk tahu apa - apa tentang rencana Aisyah hanya bisa menghindar dari pada menyiksa batinnya nanti melihat wanita yang di cintainya kembali menjadi milik orang lain yaitu mantan suaminya sendiri.
Aisyah menyambut mereka berdua di luar dan mempersilahkan masuk. "Silakan masuk, di dalam sudah ada ibu dan ayah menunggu kedatangan kalian". Ajak Aisyah dengan sopan tidak seperti sebelumnya.
Rehan dan ibunya saling pandang dengan perasaan terkejut. "Lihat ibu, sebentar lagi kita juga akan tinggal di rumah besar ini. Aisyah menyambut kita dengan sangat hangat bukan kahs itu bukti bahwa ia sudah siap kembali ke dalam pelukan ku". Bisik Rehan pada bu Wahida.
Bu Wahida yang mengangguk sambil tersenyum cerah. Kini ia bisa bernafas lega melihat Aisyah memperlakukan mereka dengan baik tidak seperti sebelumnya sangat abai dan cuek membuatnya kecewa atas pelayanan yang di berikan.
Sesampai di ruang tamu mereka kembali di sambut hangat oleh Mega dan Panji, sempat cipika - cipiku sebelum di persilahkan duduk oleh Mega. Beberapa saat kemudian datang beberapa pelayan membawakan cemilan dan jus bush segar untuk menemani obrolan mereka..
Bu Wahida kembali melihat ART yang menolongnya hari itu dari kelaparan setelah tersesat di mansion ini dan sialnya ia malah di tinggal pulang oleh seluruh rombongannya. Nasip baik ada ART itu yang mau memberinya makan enak hingga dua piring tidak tersisa.
__ADS_1
"Kamu pembantu waktu itu nolongin saya, kan?". Sapa bu Wahida pada ART itu.
"Eh, ibu datang lagi. Iya bu saya yang waktu itu menawarkan ibu makan karena terlihat sangat kelaparan dan keletihan setelah beberapa jam mengitari mansion karena tersesat". Jawab ART itu tanoa berdosa.
Sontak semua orang ingin tertawa mendengar perkataan ART itu tapi sekuat tenaga di tahan agar tidak menyinggung bu Wahida. Rehan yang merupakan anaknya sendiri pun tiada rasa prihati pada ibunya mendengar perkataan pembantu si hadapannya karena terdengar sangat lucu.
"Kamu itu bisa aja, aku itu tidak tersesat cuma pergi menikmati setiap sudut rumah ini dan bahkan saya sudah hapal letak bunga apa saja yang di tanam di taman belakang saking lamanya saya beristirahat di sana sambil menghirup udara segar". Elak bu Wahida.
"Tapi bukan kah hari itu ibu bilang capek mengitari rumah besar ini tapi tidak bisa kembali ke ...". ART mencoba mengingat tapi ucapannya segera di hentikan oleh bu Wahida.
"Udah nggak perlu kamu ingat kan lagi! Sana buat kan saya teh hangat yang enak, saya tidak terbiasa hanya meminum jus buah seperti ini". Bohong bu Wahida mencoba menghilangkan perasaan gugup yang melanda hatinya.
Niat bertegur sapa dengan ART itu kemudian ia berniat merekomendasikan kenaikan gaji untuk nya pada calon besarnya tapi sikap ART itu yang sudah mencoba mempermalukannya di depan semua orang membuatnya urung dan kesal saja.
"Baik bu, saya akan segera buatkan tapi ibu harus tepati janji ibu yang waktu itu yah". ART kembali mengingatkan bu Wahida tentang niatnya tadi.
"Udah sana pergi! Itu terserah majikan kalian aja bagaimana baiknya". Jawab bu wahida cuek.
ART itu dan dua orang temannya yang lain bergegas pergi dan menyiapkan permintaan bu Wahida.
"Maaf yah atas gangguan tadi, ibu hanya berniat bertegur sapa dengan pelayan tadi tapi kok berujung pertengkaran ringan seperti itu". Ucao Rehan tidak enak hati dengan sikap ibunya yang kurang sopan tadi.
"Nggak papa, lagi pula tadi itu merupakan hiburan bagi kami, iya kan sayang". Balas Mega tidak keberatan.
Panji hanya mengangguk mengiyakan sambil memeluk pinggang istrinya mesra. Bu Wahida yang melihatnya tampak.semakin kesal karena cemburu melihat kemesraan pasangan paruh baya di hadapannya.
Usianya tidak berbanding jaub dengan Mega, tapi karena jarang melakukan perawatan bu Wahida terlihat jauh lebih tua dari Mega.
__ADS_1
"Andai aku yang berada di posisinya". Bu Wahida mulai berkhayal dan membayangkan jika hidupnya saat ini sebagai nyonya Purbalingga yang memiliki segalanya.
"Harta, kecantikan bahkan suami yang tampan dan yang penting masih hidup adalah milikku alangkah bahagianya hidupku". Sambungnya bergumam sambil tersenyum miring.