Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 122 Kekesalan Desi


__ADS_3

Desi baru saja duduk di restoran bersama Aldo setelah meakukan penerbangan dari pulau Dewata ke kota Makasa.


"Kamu pesan apa?". Tanya Aldo pada Desi.


"Sama kan aja, kan selera kita sama dari dulu". Jawab Desi sambil fokus ke layar ponselnya.


Aldo memanggil pelayan dan memesan makanan untuk dua porsi lengkap.


"Apa sih yang ada di ponselmu? Nggak biasanya kamu fokus begitu sampai nggak perkedip sama sekali malah tampak serem banget lagi muka nya". Tegur Aldo mengejek.


Desi membuang nafas berat lalu memperlihatkan layar ponselnya ke arah Aldo. "Ini lihat, lelaki ini memang sama sekali nggak merasa bersalah sama aku tau nggak, dengan santai nya dia ngepos foto dia yang sedang bersama keluarga mantan istri di tambah kepsen calon keluarga...maksudnya apa coba?". Kesal Desi.


"Oh, kamu kesal sama dia toh...kirain apa - an. Sudah lupakan dia dan fokus memandang masa depan kita aja". Ujar Aldo membujuk.


"Bukan itu saja, Do. Lihat ini status lain, dia seolah menyindir aku 'yang mau pergi, pergi aja bawa semua yang sudah berhasil didapatkan, aku akan menerima yang jauh lebih berharga dan membahagiakan' katanya. Dasar lelaki tak guna!". Maki Desi geram.


"Aku rasa mantan istrinya itu udah masuk ke dalam perangkap kalian deh, tapi kesal juga sih kalau di pikir - pikir karena keberhasilan itu kan juga ada kamu yang ikut andil dalamnya tapi kok dia malah tidak ngehargai kamu gitu". Aldo membatu api.


"Itu lah, aku pikir karena dia tidak mendapatkan Aisyah makanya beralih ke wanita lain, eh ternyata cuma ingin memanas - manasih aku supaya dia cepat lepas dari cegkeramanku". Pikir Desi.


"Terus rencana kamu sekarang bagaimana?". Tanya Aldo. Mukanya tampak masam.


"Sama, aku tetap akan menggugat cerai dia di pengadilan dan mengambil semua hartanya lalu menikah denganmu setelah melahirkan anak ini...". Jelas Desi seolah paham dengan mimik wajah Aldo yang mungkin beranggap dia berubah pikiran dan tidak mau bercerai dengan Rehan.


Aldo tersenyum lega mendengar penjelasan Desi. Ia kemudian menggenggam tangan Desi lalu menciumnya mesra. "Terima kasih sayang sudah mau menerima aku untuk menggantikan sosok Rehan yang sudah menyianyiakan wanita hebat seperti mu". Imbuh Aldo tersenyum.

__ADS_1


"Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu, Do. Kamu mau menunggu ku begitu lama bahkan sekarang rela menerimaku yang sudah tidak gadis lagi bahkan sebentar lagi akan menjadi janda satu anak...terima kasih sekali lagi ya Aldo". Balas Desi.


Pelayan datang menyajikan makanan untuk pasangan yang sedang di mabuk itu. Menikmati hidangann sambil mengobrol dan l mengatur rencana masa depan mereka bersama. Setelah menghabiskan makanan mereka Aldo kembali menanyakan tentang rencana untuk menjatuhkan Rehan.


"Bagaimana kalau kita samperin Aisyah dan mengatakan semua tentang rencana Rehan yang sebenarnya... Aku yakin meskipun kamu menuntut cerai Rehan dan mengambil semua hartanya tidak akan membuatnya terpuruk malah dia akan mendapatkan yang lebih bahkan lebih kaya, jadi kita harus menyadarkan Aisyah agar tidak rujuk dengan suami kamu". Saran Aldo.


Desi sedikit terkejut, "oh, iya yah...karena kesal makanya tidak dapat berpikir bijak seperti kamu...bagus juga kan jadi statusnya tadi bisa aku patahkan, enak aja sudah mempermainkan istri malah dia mendatkan keberuntungan besar, tapi jangan sekarang ya kita ke temu Aisyah nya. Soalnya aku capek mau istirahat di rumah...". Jawab Desi manja.


"Baik sayang, tapi maaf yah aku tidak bisa nemenin kamu di sana soalnya aku udah lama ninggalin kerjaan aku pasti sekarang udah numpuk banyak". Sahut Aldo.


"Nggak papa kok, malah aku senang uda di temenin di pulai dewata beberapa hari, terima kasih yah". Kata Desi.


"Terima kasih mulu, itu sudah tugas aku untuk ngebahagiain kamu jadi nggak usah segan lagi dengan ku yah". Balas Aldo. Ia kemudian berdiri mengulurkan tangannya pada Desi untuk di gandeng. "Ayo! Aku antar kamu pulang baru aku ke kantor". Ajak Aldo.


Tapi ada juga yang menatap jengkel kepada mereka dan berpikir sikap mereka hanya setingan belaka untuk mendapatkan perhatian tapi saat berdua saja pasti berbanding terbalik dari yang terlihat. 'Dasar dengki'.


Sesampai di rumah Desi, Aldo segera pamit tapi sebelumnya mengingatkan Desi agar berhati - hati terlebih dahulu.


"Kamu hati - hati yah di rumah, jika mereka nyakitin kamu segera telefon aku, ok". Pesan Aldo khawatir tapi karena tuntutan pekerjaan harus membuatnya mempercayai Desi bisa menjaga dirinya sendiri.


"Kamu tenang saja sayang, mereka nggak akan bisa nyakitin aku kok. ..kamu tenang aja yah, sana pergi cepat selesaikan pekerjaan kamu lalu segera temui aku". Usir Desi dengan berat hati..


"Baik lah, aku pamit dulu yah, bye sayang". Pamit Aldo melajukan mobil nya menghilang dari pandangan Aldo.


Desi sengaja tidak membawa pulang pakaiannya yang di bawa ke pulau Dewata karena stok pakaiannya di rumah masih banyak dan ia berniat ingin pergi berbenja lagi dengan Aldo keesokan harinya.

__ADS_1


Desi masuk dalam rumah yang kini tampak sangat sepi, padahal sekarang masih siang. Menuju dapur mencari keberadaan ART dan beruntung wanita paruh baya itu masih ada.


"Eh, nyonya udah pulang". Sapa ART sambil membungkuk hormat seperti biasa. 'Kayak ratu aja si Desi ini'.


"Ibu mana mbok?". Tanya Desi saat tidak melihat melihat batang hidung mertuanya dari tadi.


"Tidak tahu nyonya, sudah beberapa hari saya datang tapi sama sekali tidak melihat ibu, baju kotor milik tuan Rehan pun selalu kosong saat saya masuk kamar ibu untuk membersihkan ternyata bajunya udah tiada di lemari, baju Tuan Rehan juga tampak berkurang sangat banyak di lemarinya. ...". Jawab ART bernama mbok Leha.


Mata Desi terbelalak sempurna. "Mereka udah pergi dari rumah ini?". Bingung Desi.


"Nggak tau juga nyonya, soalnya udah beberapa hari mereka nggak pulang saya pikir samperin nyonya pergi liburan...". Jawab mbok Leha polos.


"Ya udah nggak papa, lanjutkan kerja nya saya mau istirahat dulu...". Pamit Desi. Tapi baru tiga langkah pergi ia kembali memutar tubuhnya menghadap mbok Leha. "Sebelum pulang tolong masakin yang enak - enak yah, nanti saya tambahin tips bulanannya, ingat yang enak nanti saya tinggal panasin saat mau makan...". Pinta Desi sumbringan.


"Baik nyonya..". Jawab Mbok Leha. Ia tampak semangat karena akan di beri bonus bulana oleh majikannya.


Desi terus melangkah menuju kamarnya membersihkan diri dan ingin tidur siang. Tapi baru saja masuk ke ruang ganti pakaian ia tampak kesal karena mendapati beberapa tas branded miliknya udah nggak ada di tempat. Beralih memeriksa perhiasannya dan benar saja semua udah nggak ada di tempatnya. Bahkan barang aksesoris milik Rehan semua udah ludes tak tersisa.


Desi bergegas memakai pakaiannya dan berlari keluar dari kamar menuju ruang kerja milik suaminya. Mencari semua sertifikat dan surat kepemilikan sudah nggak ada dalam brangkas berkunci. Mencari di setiap sudur tetap tidak di temukan, Desi sudah tidak bisa lagi menahan amarah yang bergejolak di kepalanya.


"Aaacchhh...". Teriak Desi geram sambil menghamburkan semua barang yang ada dalam ruangan, kertas berserakan di lantai, kaca bening bertebaran di mana - mana. Cuma yanh selamat dari amukam Desi adalah barang - barang yang berharga dan memiliki harga yang tinggi. 'Pandai, meskipun marah tapi tetap tidak mau rugi'.


"Dasar lelaki tidak guna! Sana pergi mati saja kau bajingan! Tiada gunanya kamu ku pelihara selama ini, ibu anak sama - sama ular!....". Desi terus saja mengumpat meluapkan kekesalnnya pada Rehan dan bu Wahida.


"Kalau mau pergi, pergi aja an jing kenapa harus membawa hartaku!...Aaaacccc". Desi terus meluapkan emosinya, buku - buku yang ada di rak nya juga Sudah tidak selamat berada di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2