Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 156 kenyataan pahit baru


__ADS_3

Di lantai bawa mendengar ada keributan di sekitarnya akibat aktitas pengawal dan polisi yang mencari keberadaan Aisyah beserta anaknya yang sudah berhasil di sembunyikan oleh pekerja di mansion ini sendiri.


"Apa kah kalian sudah mendapatkan kabar dari putra saya?". Tanya Mega dengan suara lemah pada pengawal yang sedang berjaga di depan pintu utama.


"Nyo nyonya sudah bangun?". Bukannya wwewweweeeeewwwe2elangsung menjawab pengawal itu malah terlihat ketakutan dan bingung harus menjawab apa pada majikannya itu.


"Iya saya sudah bangun, Apa kah Zack sudah ada kabarnya?". Mega kembali bertanya dengan wajah yang penuh harap.


"Maaf kan kami nyonya, kabar tuan Zack belum kami dapatkan". Jawab pengawal itu sedikit gugup.


Mega bernafas berat karena ia belum bisa tenang memikirkan putranya yang masih belum kembali. Mencari keberadaan Aisyah di setiap sudut pandangnya tapi tidak menemukan keberadaan putrinya.


"Kamu lihat putri ku kemana?". Mega kembali bertanya pada pengawal itu.


"No non non Aisyah a ada di atas sedang bistirahat". Jawab pengawal itu mencoba menyembunyikan kegugupannya tapi tetap terlihat jelas di mata Mega.


Mega merasa tidak enak hati mengenai putri pula saat ini, berdiri dan bergegas mencari Aisyah di lantai atas untuk memastikan ucapan penagwal itu benar atau tidak. Tapi karena berdiri secara tiba - tiba dan cepat membuat Mega oleng dan pingsan.


Panji baru saja bangun tidurnya dan langsung di buat kaget ketika Mega terjatuh ke pangkuannya. "Melodi! Kamu kenapa sayang". Cemas Panji menepuk - nepuk pipi istrinya perlahan. "Bik, bibik! Tolong bawakan minyak angin untuk nyonya ke sini sekarang!". Teriak Panji pada pembantu di rumahnya.


Dari arah pintu datang seorang polisi berlari menghampiri Panji untuk melaporkan sesuatu. "Maaf mengganggu pak Panji tapi di luar gerbang datang seseorang yang qanda, kalau tidak silap nama nya Dokter Zaki. Saya tadi sempat mengambil fotonya untuk di tunjukkan pada anda dam juga sebagai bahan penyelidikan". Jelas polisi itu sambil menunjukkan layar ponselnya yang terpapar wajah dokter Zaki.

__ADS_1


"Kenapa harus melapor dulu? Sana suruh dia masuk cepat!". Titah Panji kesal.


"Kami harus melapor dulu pak untuk keselamatan bersama". Balas polisi itu turut kesal. Ia merogoh ponselnya lalu menghubungi rekannya yang berjaga di gerbang untuk mempersilahkan kan dokter Zaki masuk.


Beberapa saat kemudian mobil dokter Zaki berhenti di depan pintu lalu menyerahkan kunci mobilnya pada pengawal untuk di parkir di tempat yang susah di sediakan.


"Assalamualaikum, maaf saya lambat datang pak Panji, saya baru saja di hubungi oleh bu Saras untuk datang jika tidak saya sama sekali tidak akan tahu apa yang sedang terjadi di disini sehingga anda dan nyonya tampak pucat seperti ini...". Ujar dokter Zaki basa basi.


"Waalaikumsalam, kamu sebaiknya jangan banyak bicara dan periksa istri saya cepat, dia sedang pingsan". Jawab Panji ketus.


"Apa nyonya pingsan? Saya pikir dia hanya tertidur tadi karena terlalu kecapean. Letakkan aja nyonya di sofa, saya akan memeriksa nya sekarang baru saya akan memeriksa anda seterusnya...". Seru Dokter Zaki bergegas membuka koper medisnya.


Dokter Zaki segera memeriksa tekanan darah Mega dan wajahnya berubah kahwatir, selang cairan ia pasangkan pada lengan Mega untuk menambah tenaga pada wanita itu, beberapa obat di suntikkan ke dalam cairan.


"Berkemungkinan besar tadi nyonya sedang panik dan berdiri secara tiba - tiba hingga memacu sakit kepala karena tekanan darahnya sangat rendah sekarang, nyonya juga lemas karena belum makan dalam waktu lama akibat terlalu cemas..". Jelas Dokter Zaki sambil mengeluarkan alat medis untuk memeriksa Panji pula.


"Sekarang giliran anda!". Sahut Dokter pada Panji. .


Panji berusaha merilekskan dirinya agar rasa sakit yang sedari semalam ia tahan tidak dapat terdeteksi oleh dokter Panji.


"Tenang aja pak! Semua yang anda rasakan adalah normal di rasakan oleh seorang ayah atas kehilangan dua anak nya dalam waktu yang hampir bersamaan. Tapi kalau pergi jangan menahan rasa sakit anda dan segera lah meminum obat yang sudah di resepkan untuk anda jika tiba - tiba merasaakan Sakit". Saras dokter Zaki bernafas lega karena kesehatan Panji tidak terlalu terganggu akibat masalah yang sedang ia hadapi kini.

__ADS_1


Panji menatap nya heran dam langsung berniat memperbaiki perkataan dokter Zaki. "Dokter ini bicara apa? Hanya satu anak saya yang belum di ketahui kabar nya, kenapa dokter bilang dua orang anak?". Bingung Panji mulai curiga.


Dokter Zaki baru sadar jika ia salah bicara, seharusnya ini menjadi rahasia di antara para pengawal, polisi dan bu Saras agar tidak semakin membuat cemas pasangan paruh baya ini, tapi walau bagaimana pun mereka sembunyikan tetap akan di ketahui oleh Panji dan Mega. Lebih baik mereka tahu dari awal dengan perlahan dari pada nanti mendengar kabar di belakangan malah membuat mereka murka, syok dan kecewa besar pada bawahan mereka.


Tiba - tiba seoang pengawal datang berlutut di hadapan Panji sambil menelangkupkan kedua tangannya ke hadapan untuk meminta maaf. "Maaf pak Panji, kami lalai, kami tidak bisa menjaga non Aisyah dengan baik sehingga....". Lirihnya dengan berani di hadapan. panji dan dokter Zaki.


"Apa maksud kamu, hah? Dimana Aisyah sekarang? Kalian apa kan dia, hah?". Cerca Panji dengan wajah tegang.


"Sabar pak, anda harus menjaga kondisi kesehatan anda!". Dokter Zaki mencoba menasihati Panji. Ia kemudian beralih menatap pengawal itu. "Keluar lah dulu, biar saya coba menenangkan pak Panji dulu agar dia tidak syok mendengar berita mengejutkan ini, kamu paham kan maksud aku? Kalau nggak percaya sila tunggu saja di depan pintu". Imbuhnya pada pengawal itu.


"Baik saya mengerti, saya akan menunggu di luar sambil berjaga". Penagwla itu akhirnya setuju dan keluar dari ruang tamu.


"Kenapa kamu malah menyuruhnya keluar? Aku ingin memastikan apa yang dia maksud dengan ucapannya barusan?". Geram Panji.


"Dengar dulu ya pak, tinggal bapak yang bisa menjaga keluarga anda agar tidak hancur. Zack tidak di ketahui kabarnya, maka tanggung jawab menjaga nyonya dan Aisyah di pikul oleh anda lagi jadi saya mohon tenangkan dulu perasaan anda, jangan terbawa emosi oleh suasana yang akan berakibat fatal pada kesehatan anda sendiri". Bujuk Dokter Zaki pada pasiennya itu.


Panji menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa di samping istrinya, menatap lekat wajah pucat itu dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapan lagi. Kekhawatirannya bisa membuatnya jatuh sakit dan pada saat itu siapa yang akan menjaga istri dan anak - anak nya.


Mendengar perkataan dokter Zaki yang sedikit lagi keceplosan dan perkataan pengawalnya tentang Aisyah membuatnya sadar jika ada hal buruk yang sedang terjadi pada anak nya itu. Dan ada banyak lagi maslaah yang belum di ketahui oleh nya karena mereka khawatir dengan kesehatannya. Jadi sebisa mungkin dia menguatkan dirinya agar bisa mendengar berita buruk ini dari para pengawalnya.


Panji terus saja bergumam dalam hatinya seraya menenangkan diri.

__ADS_1


__ADS_2