
Merasakan penampilan pria itu berbeda dengan keempat pria yang menculiknya, tanpa pikir panjang lagi Aisyah memohon pertolongan dari pria itu.
"Mas tolong selamat kan kami! Mereka ingin menculik kami....". Aisyah terus memohon di kaki pria itu. Alena yang udah lemah hanya merapatkan tangannya memohon karena sudah tidak memiliki tenaga untuk mengeluarkan suara.
"Saya akan menolongku tapi dengan satu syarat...". Ujar pria itu dalam kegelapan.
Mendengar suara itu sungguh tidak asing di telinganya membuat Aisyah tercengang. "Rehan!". Gumam Aisyah.
Alena ikut tercengang, ia tahu jika pria bernama Rehan adalah mantan suami dari Aisyah yang selalu berusaha mengambil keuntungan pada mantan istrinya.
"Segera sebelum mereka semakin dekat dan aku juga tidak mampu melawan dengan jumlah mereka yang ramai itu". Ketus Rehan.
Aisyah tiada pilihan lain, mereka harus segera pergi dari sini sebelum mereka bertiga sama - sama menjadi tawanan anak buah Danial.
"Baik, aku setuju, cepat tolong kami pergi dari sini! Tolong dia sudah cukup lemas". Balas Aisyah pasrah.
Rehan segera menolong Alena yang sudah tidak berdaya untuk bergerak sesuai permintaan Aisyah. Ketiga anak buah Danial terus mengejar ke arah mereka hingga hampir berhasil tapi Aisyah dan Alena sudah berhasil masuk ke dalam mobil Rehan.
Rehan segera melajukan mobilnya meninggalkan ketiga preman yang berusaha mengejar mobil, dari arah belakang juga ada sebuah mobil menghampiri yang di yakini adalah mobil preman itu. Benar saja, ketiga preman tadi masuk kedalam mobil itu dan mengejar mobilnya.
Dengan semangat empat lima Rehan melajukan mobilnya menuju kantor polisi dan mobil preman tetap setia mengejar mobilnya. Sesampai di gerbang kantor polisi dengan sendirinya para perman menyerah dan berpatah arah demi keselamatan mereka.
"Sekarang kita masuk melaporkan pada polisi tentang penculikan kalian...". Ajak Rehan pada Aisyah.
"Nggak perlu! Mereka adalah orang yang sukar di tangkap polisi yang ada nanti hanya orang yang tidak berdosa yang menjadi korban...aku akan membalas pembuatan mereka dengan cara ku sendiri". Tolak Aisyah ketus.
Ia sangat tidak percaya jika orang yang menolongnya saat ini adalah mantan suaminya yang sangat ia benci tapi mau bagaimana pun juga ia sangat bersyukur dengan pertolongan Rehan.
"Tapi syarat yang ku ajukan tadi tetap masih berlaku meskipun kamu tidak ingin melapor, kamu masih ingat kan?". Tanya Rehan mengingatkan.
__ADS_1
"Aku jenis orang yang berpegang pada janji, jika aku sudah bilang iya maka kamu jangan takut di rugikan, katakan berapa nominal yang kamu ingin kan maka aku akan memberinya!". Kata Aisyah ketus.
"Ha ha ha, kamu pikir aku sedang kekurangan uang! Aku tidak menginginkan semua itu". Ujar Rehan tergelak.
Saat ingin bertanya lagi, tangan Aisyah di genggam oleh Alena yang kini yang sudah siap untuk pingsan. "Tolong bawa kami ke rumah sakit sekarang! Tentang syarat yang kamu inginkan pasti akan saya lakukan tapi bukan sekarang karena sahabat saya sudah sangat lemah ini". Cerca Aisyah cemas.
Rehan pun tidak ingin melihat Alena mati di mobilnya, tanpa membantah mobil langsung di tancap kan ke rumah sakit terdekat.
Setelah Alena berhasil d tangani, dengan sok perhatian Rehan pun membawa Aisyah untuk memeriksa keadaanya juga. Setelah di periksa, dokter mengatakan tiada cedera yang serius hanya perlu istirahat yang cukup. Rehan memasuki ruangan Aisyah untuk menemani mantan istrinya.
"Tidur lah! Aku akan menjagamu di sini". Ucap Rehan lembut.
Aisyah hanya tersenyum tipis untuk membalas ucapan Rehan, senyuman yang di paksakan. "Boleh aku meminjam ponsel?". Pinta Aisyah.
Tas miliknya dan milik Alena tertinggal di mobil Pundas saat mereka di culik oleh anak buah Danial semalam.
Aisyah menerima ponsel itu dan tampak syok melihat fotonya yang sedang memeluk Albar sebagai wallpaper di ponsel itu. Aisyah tampak menghela nafas berat dan mulai menghubungi nomer seseorang yang ia hafal.
Sekarang sudah menunjukkan pukul lima subuh, dalam waktu semalam Aisyah melewati begitu banyak ketakutan dan kecemasan yang melanda dirinya. Pikirannya saat ini masih tertuju pada Zack, dimana keberadaan pria itu sekarang.
Tut
Tut
Tut
Diseberang sana, Zack yang masih mengintrogasi Danial tentang keberadaan Aisyah hanya mendapat senyuman menjijikkan di matanya. Danial sama sekali tidak akan mengatakan apa pun Zack apalagi memberi tahu di mana ia mengirim Aisyah untuk di sembunyikan.
"Sekarang kita dalam keadaan terdesak, jika kamu ingin mengetahui Aisyah sekarang dimana maka katakan juga di mana Non Jasmin kau sembunyikan, maka kita sama - sama mendapat keuntungan". Danial mencoba bernegosiasi dengan mantan pemimpinnya.
__ADS_1
Danial sama sekali tidak gentar, meskipun kini tubuhnya sudah babak belur dan sedang dalam keadaan terikat ia masih belum menyerah dan tidak mengaku kalah pada Zack.
Zack hanya tersenyum sinis, "meskipun aku beri tahu posisi Jasmin saat ini pun tidak akan ada gunanya karena kamu akan segera mati". Ancam Zack dengan wajah dingin.
Danial sempat tercengang, ia tidak percaya jika Zack yang selama ini begitu perhatian padanya berubah dingin dan kejam padanya, bukan sebab lain karena Danial sendiri yang memulai perang antara keduanya. Zack merupakan orang yang baik hati dan akan menganggap siapa saja yanh berjasa dalam hidupnya sebagai saudaranya.
Tapi Danial adalah penghianat yang sudah mematahkan prinsip yang di pegang oleh Zack. Tiada ampun untul Danial meski selama berapa tahun terakhir mereka sering menjalani hari bersama, bahkan semua rahasia Zack sudah tidak asing bagi Danial.
Tanpa menunggu lebih lama, Zack segera menghabisi nyawa Danial yang cukup membuatnya jengah. Setelah melakukan itu, salah satu ana bua Zack menghampirinya dan memberikan ponsel yanh sedang berdering ke arahnya.
Iti adalah nomer Rehan, mantan suami Aisyah. "Untuk apa dia menghungiku?". Bingung Zack tapi karena penasaran ia tetap mengangkatnya.
"Zack! Kamu baik - baik saja kan?". Terdengar suara di balik panggilan yang tidak asing di telinganya.
"Aisyah? Kamu baik - baik saja kan? Kamu di mana sekarang?". Tanya Zack sangat cemas.
"Aku baik - baik saja, Zack. Aku juga bersyukur kamu dalam keadaan baik - baik saja. Aku sekarang ada di rumah sakit cendrawasih, kamu ke sini sekarang, yah!". Lirih Aisyah.
"Kamu tenang di sana yah, aku akan segera ke sana".
Zack segera mematikan panggilan dan bergegas menemui Aisyah di rumah sakit bersama Pundas dan Dilan, mana kala anggotanya yang lain mengurus setiap jenazah di tempat kejadian pertempuran. Mayat rekan mereka akan di kirim ke rumah keluarga masing - masing manakala mayat musuh akan dikirim kersemua nya ke markas musuh kecuali Danial.
Sesampai di rumah sakit, Zack segera ke ruang rawat Aisyah setelah di tunjukkan oleh petugas resepsionis.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu Zack langsung menerobos masuk dan memeluk Aisyah tanpa izin. Pelukannya di balas karena nyatanya mereka sama - sama khawatir dengan keadaan masing - masing. Semua orang tersenyum melihat pemandangan romantis di hadapan mereka, Pundas dan Dilan saling siku - menyiku satu sama lain. Jiwa jomblo mereka meronta - ronta dan juga begitu menginginkan pelukan yang hangat dari orang yang di cintai.
Lain halnya dengan Rehan, ia tampak tidak suka, "ekhmm, ekhhmm". Rehan sengaja berdehem supaya mereka berdua melepas pelukan. Tapi Aisyah dan Zack sama sekali tidak mendengar dan seakan laris dalam dunia mereka masing - masing.
"Tolong menjauh dari calon istri saya!". Tegas Rehan to the points...
__ADS_1