
"Kamu kenapa diam aja Rehan? Ayo bantu ibu angkat kopernya ke sana sebelum istri kamu kembali meminta ibu mengerjakan sesuatu yang melelahkan, ibu ingin istirahat". Ajak Wahida menarik tangan Rehan agar mengambil kopernya di dalam kamar.
"Tapi bu, rumah itu...". Baru Rehan ingin menjelaskan, Desi muncul dari atas tangga.
"Ibu boleh pergi dari sini, tapi tentu bukan malah tinggal di salah satu aset milikku, saa aja kan bohongnya kalau begitu". Ucap Desi.
Wahida bingung, tak dapat tangkap maksud ucapan menantunya itu, "Ibu cuma mau tinggal di rumah ibu sendiri kok". Ucap Wahida enteng.
"Ha ha ha, mungkin ibu lupa jika rumah ibu itu dulu atas nama mas Rehan jadi sedangkan sudah pasti berubah menjadi milikku dong, masak gitu aja nggak ngerti sih mertua kesayanganku?". Sindir Desi dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.
"Ehh, mana boleh seperti itu, rumah itu adalah hasil jerih payaku bersama almarhum suamiku dulu, jangan seenaknya kamu menguasai gsemuanya". Wahida kembali terpancing emosi dengan sikap menantunya itu.
"Heh, salah ibu dong kenapa menggunakan nama mas Rehab sebagai pemiliknya supaya tidak di sita bank, matanya sebelum melakukan sesuatu itu di pikir dulu, ha ha ha". Sindir Desi bangga.
Wahida terdiam, kini ia baru sadar dirinya begitu bodoh menyetujui, eh maksudnya ikut mengompori Rehan agar setuju dengan perjanjian hitam di atas putih tanpa memikirkan dampaknya akan jadi seperti ini. Yang ia takutkan tempoh hari adalah hanya takut kehilangan Desi dan calon cucu kesayangannya yang masih di kandung menantunya itu.
"Apa sih salahnya kamu biar kan ibu tinggal di sana? Toh rumah itu tidak berpenghuni juga sampai sekarang, bahkan kita hanya membuang - buang duit saja untuk menyewa tukang bersih - bersih mingguan untuk membersihkan rumah kosong itu, lebih baik ibu yang tinggal di sana". Saran Rehan.
"Tentu tidak boleh dong, sayang. Aku tidak ingin rugi atau begini saja ibu bisa tinggal di rumah itu tapi dengan syarat". Desi masih mencari keuntungan dari permintaan dua manusia di hadapannya ini.
"Sama mertua aja kamu perhitungan sekali sih Desi!". Ujar Wahida mulai menurunkan intonasi suaranya.
"Tentu dong ibu". Jawab Desi yakin. Ia kini duduk di sofa sambil melipat tangannya sambil melayangkan tatapan mencemooh pada suami dan mertuanya.
"Apa syarat kamu?". Tanya Rehan, ia juga ikut duduk di hadapan Desi sambil menatap tidak suka pada istrinya itu.
"Andai kamu masih hangat seperti dulu, mas! Pasti semua ini tidak akan pernah terjadi, pasti aku dengan senang hati memperlakukan mu dan ibu dengan cukup baik, tapi sayang kamu sudah menyakiti ku dengan sangat dalam, bahkan aku sampai menyesal mengandung anak kamu yang membuatku tidak bisa lepas darimu! Tapi tenang saja wahai hati, kita masih bisa membalas sakit ini dengan cara lebih sadis lagi, ha ha ha". Batin Desi menatap lekap ke arah mata suaminya.
"Syarat aku gampang kok mas, cukup ibu jadi penyewa rumah itu saja, setiap bulan stor uang untuk sewa rumah itu dan sudah tentu bukan kamu dong yang bayarkan karena gaji kamu 100 persen di tanganku, bagaimana setuju". Syarat Desi membuat Rehan dan Wahida terjengang.
"Ibu mau dapat uang dari mana Mulan, ibu aja sudah tua begini mana bisa cari kerja! Kamu kalau bagi syarat yang ringan - ringan aja napa, selama ini ibu sudah berlaku sangat baik sama kamu, bahkan ibu lebih menyayangi kamu berbanding Rehan sampai rela menyerahkan semua aset kami untuk kamu tanpa pikir panjang saking sayangnya, tapu kamu kok perlakukan ibu begini sih Mulan". Lirih Wahida kembali meneteskan air mata kecewa.
"Itu bukan sayang buk, tapi obsesi. Ibu terlalu berobsesi menjadi kan aku menantu ibu sampai membawa kepada kebodohan hakiki". Ketus Desi.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa mas dan ibu setuju dengan syarat ku tadi, tenang aja lah, sewa nya mahal kok. Karena aku masih menghormati ibu sebagai mertua saya uang sewa bulanannya saya turunkan sebanyak 50 persen, dari dua juga perbulan menjadi sejuta perbulan atau boleh langsung sewa setahun lebih murah lagi, setahun RP11.990.000 bagaimana setuju?". Tawar Desi lagi.
"Tak apa Rehan, sewa saja! Ibu masih ada tabungan kok, nanti teman ibu ke ATM untuk ambil uang". Akhirnya Wahida setuju. Semakin banyak bicara dengan Desi semakin membuat perasaanya tidak karuan, bisa sedih, kecewa, kesal dan yang paling penting ia menyesali kebodohan yang telah ia lakukan.
"Tapi bu...". Rehan masih ingin mencoba menahan ibunya agar bersabar, tapi ucapannya di potong oleh sang istri..
"Udah deh mas, itu sudah menjadi pilihan ibu. Lagi pula nih yah, uang sewa rumah dari ibu itu bisa kita gunakan untuk memperkerjakan pembantu lagi di rumah ini, nanti biar aku yang tambahkan sisanya jika tidak cukup untuk gaji". Bujuk Desi.
Rehan mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak naik ke kamarnya, di kantor dan rumah sama - sama membuatnya pusing. Niatnya pulang lebih awal untuk menenangkan diri dari terus mendengar guntingan dan omongan pekerja yang mengatakan jabatannya akan segera tergusur, tapi itu semua masih sekedar angin lalu buktinya sampai sekarang ia masih duduk di posisinya tapi semua bawahannya tampak semakin tidak menghargai dirinya.
Tiba di rumah juga di buat pusing dengan sikap Desi yang sama sekali tidak melayani dan menganggapnya selayaknya suami. Hari ini di tambah dengan kesedihan ibunya yang di perlakukan bak vabu di rumah anaknya sendiri, pikirnya ibunya itu ikhlas melakukan itu untuk menantu kesayangannya tapi ternyata dia juga tertekan.
Rehan membersihkan diri untuk menyegarkan pikirannya lalu bersiap membawa ibunya keluar dari rumah megah ini.
Desi yang melihat kepergian mertuanya denfan membawa dua koper besar berhasil membuatnya tersentuh tapi saat melihat Rehan, ia kembali teringat perbuatan kasar yang ia terima dari lelaki itu, sampai ibunya juga ikut terkena imbas dari perbuatannya.
Rehan membawa ibunya ke ATM untuk mengeluarga sejumlah uang untuk membayar sewa setahun dan untuk keperluan sehari - harinya selama tinggal di rumah itu nanti karen tidak mungkin ia meminta pada sang anak sedangkan gaji anaknya sudah pegang secara penuh oleh sang menantu yang tak tahu diri.
Sesampao di rumah nya dulu, Wahida meminta bantuan Rehan untuk membersihkan kamar tidur miliknya karena ia sudah cukup lelah seharian berkutak dengan banyak kerja di rumah megah anaknya. Setelah selesai, Rehai pamit pulang setelah memesanka ibunya makanan. Wahida memberikan sejumlah uang kepada Rehan sebagai sewa rumah ini selama setahun sesuai syarat dari menantunya itu.
*
*
Lain yang di rasakan di mansion keluarga Purbalingga, Aisyah kini sudah di benarkan pulang setelah sakit akibat rasa bersalah yang ia rasakan pada sang ibu angkat yang selama ini telah merawatnya.
Tok
Tok
Tok
Aisyah kaget dari lamunannya yang terus memikirkan wanita yang bernama Fatima itu.
__ADS_1
"Masuk". Seru Aisyah kembali mengusap wajahnya dari sisa air mata.
"Kamu sedang apa sayang?". Tanya Mega lembut. Ia berjalan mendekat anaknya dan duduk di tepian kasur sembari menggenggam tangan mulus putrinya itu.
"Nggak melakukan apa - apa kok ibu, Aish cuma ingin istirahat aja soalnya tubuh masih agak lemas, he he he". Jawab Aisyah jujur cuma ia menyembunyikan kesedihannya.
"Kamu habis nangis yah? Tuh mata kamu merah lagi". Terka Mega.
Aisyah hanya tersenyum kikuk.
"Jangan sedih terus dong! Nanti cantiknya hilang tak bisa menyaingi kecantikan ibu, loh". Canda Mega.
"Eh, ibu ini". Aisyah mulai tersenyum.
"Ada yang ingin ibu tunjukkan ke kamu, tapi janji dulu tak akan sedih lagi!". Imbuh Mega.
Aisyah penasaran dan tampak bingung dengan apa yang ingin ibunya tunjukkan. "Apa bu?". Tanya Aisyah penasaran.
"Janji dulu tak sedih lagi". Kata Mega lagi meminta kepastian..
"Bagaimana yah, Aish tidak boleh janji ibu, tunjukkan dulu apa?". Rengek Aisyah mulai tidak sabar.
"Janji dulu ah". Pinta Mega masih mendesaka mendesak agar Aisyah berjanji.
"Eh ibu nggak seru tak! Kalau nggak mau tunjukkan yah nggak papa Aisyah tidur lagi aja". Ngambek Aisyah merebahkan kepalanya ke bantal.
"Eh, eh mala tidur pula, iya iya deh ibu ngalah, bangun lagi yuk baru ibu tunjukkin". Mega menarik tangan Aisyah agar kembali duduk.
"Nggak mau! Ibu keluarin dulu baru Aish bangun". Saran Aisyah yang masih ngambek manja. Biasa ia baru merasakan kasih sayang dari ihh bu kandungnya jadi ia merasa menjadi anak kecil lagi jika dengan ibu dan ayahnya.
"Iya iya ibu ngalah deh". Ucap Mega. Ia kemudian memanggil seseorang untuk masuk kedalam kamar. "Bik Saras bawa dia masuk aja sekarang sebelum anak manja ini semakin ngambek dan malah tertidur pulas seperti orang mati susah untuk di bangunkan". Seru Mega pada Bik Saras.
Cek lek
__ADS_1
Pintu terbuka dan memperlihatkan dua pasang kaki yang.melangkah masuk kedalam kamar. Aisyah mengintip siapa milik kaki itu karena posisinya memang menghadap ke arah pintu.