
Desi terus menunggu kabar dari babysister anaknya tapi hampir sejam ia menunggu ponsel nya tetap senyap - senyap saja tanpa pemanggil. Sedangkan bis yang akan menuju kampung halaman nya sudah mau berangkat sepuluh menit lagi.
"Lebih baik aku hubungi mbak Eda duluan. Semoga dia baik - baik saja di sana. ..". Akhirnya Desi memutuskan untuk menghubungi terlebih dahulu.
Tut,,, tut,,, tut,,,
"Halo, mbak. Bagaimana? Mbak ada dimana sekarang? Perhiasan aku ketemu kan?". Cerca Desi saat panggilan ketiga berhasil terhubung.
"Aduh, aku sampai lupa menghubungi ibu Desi dan menceritakan kronologi palsu yang sudah ku rencana kan tadi". Batin mbak Eda menggerutuki dirinya sendiri.
"Maaf bu, aku tadi sudah masuk dan mengambil perhiasan itu tapi pak Aldo memergoki ku dan melihat perhiasan ibu , jadi....". Bohong mbak Eda.
"Apa? Jadi mas Aldo mengambil perhiasan itu dan rencana kita ketahuan dong?". Seru Desi cemas.
"Pak Aldo memang mengambil perhiasan ibu, tapi rencana kita aman kok. Pak Aldo percaya dengan alasan yang saya beri tahu tadi. Ia masih berpikir kalau saat ini ibu sedang ada di rumah pak Rehan menitipkan non Hansi di sana. Saya bilang kalau saya tidak sengaja menemukan perhiasaan ibu yang di sembunyikan di bawa tumpukan baju non Hansi. Pak Aldo tadi cuma bilang 'ternyata di sini dia sembunyikan perhiasan nya' setelah mendengar penjelasan saya, pak Aldo langsung pergi". Jelas Mbak Eda berbohong.
"Syukur lah kalau rencana kita tidak ketahuan oleh nya. Nggak papa kalau cuma perhiasan yang di ambil, aku nggak terlalu peduli asal aku bisa bebas dari pria kasar seperti dia. Aku harus pergi sekarang, bis yang menuju kampung halaman aku udah mau berangkat. Terima kasih ya mbah udah mau nolong aku. Aku bersyukur banget bisa kenal dengan orang baik seperti mbak...". Desi sama sekali tidak curiga dan mempercayai begitu saja ucapan mbak Eda.
"Iya bu Desi. Saya juga bersyukur banget bisa kerja dengan ibu beberapa bulan ini sampai saya menganggap ibu dan non Hansi seperti keluarga saya sendiri. Ibu hati -hati ya di jalan, saya di sini pasti akan membantu untuk membuat sandiwara yang bagus untuk mengelabuhi pak Aldo agar tidak mencari anda. Sampai kan cium sayang saya pada non Hansi ya bu. Semoga dia jadi anak yang sholeh dan bisa menjadi kebangaan ibu nantinya...". Ujar mbak Eda tulus.
__ADS_1
"Terima kasih doa nya, mbak. Kalau begitu aku tutup ya telponnya. Lepas ini saya akan beli kartu baru supaya mas Aldo atau siapa pun tidak bisa melacak keberadaan ku. Mbak hati - hati juga di sana. Selamat tinggal mbak". Pamit Desi lalu segera mematikan panggilan telepon sepihak karena petugas bis udah memanggil semua penumpangnya untuo segera masuk ke dalam bis.
"Maaf kan aku, bu Desi. Aku yakin perhiasan ini tidak begitu peting untuk mu. Saya harap ibu bisa ikhlas dan redho jika perhiasan ini saya ambil. Sebagai imbalan dati jasa ku selama ini yang selalu menghiburmu selepas di sakati pak Aldo dan menjaga non Hansi dengan segenap hati. Ini merupakan imbalan yang cukup setimpal". Gumam mbak Eda sambil memeluk kotak perhiasan milik majikannya.
*
*
Syakir kini sedang membawa Aisyah berjalan - jalan di taman kota yang terletak di pinggir pantai. Suasana yang sangat mendamaikan menurut Syakir. Tapi wajah Aisyah masih tetap sama, murung dan tampak sangat sedih dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui..
"Makan lah ais krim tuh, meleleh nanti kotor baju". Pinta Syakir lembut. Ia memegang tangan Aisyah dan mengarahkan ais krim ke mulut wanita itu. Tapi karena Aisyah tidak fokus dan tidak menyadari perbuatan pengawal nya, ia kaget dan membuat ais krim itu mengotori wajahnya.
"Syakir!". Teriak Aisyah sebel.
Tingkah Syakir itu berhasil membuat senam jantung Aisyah. Sangat kuat sehingga membuat dada nya sedikit merasa sakit. Masa seolah terhenti, mata mereka saling bertemu dan bibir sama - sama kelu untuk berbicara.
"Kenapa setiap kali di sentuh atau di tatap oleh nya membuat aku deg - degan sama seperti perasaan ku saat Zack yang melakukan hal itu pada ku. Jika dulu ku selalu merasa deg - degan seperti ini karena aku mencintai Zack, sekarang karena hal apa? Tidak mungkin karena aku mencintai pria ini juga? Itu tidak mungkin..". Gumam Aisyah dalam hati.
Saat ia mulai sadar, ia mendorong tubuh kekar Syakir hingga membuat pria itu terjatuh dari bangku saking tidak sadar nya.
__ADS_1
"Aduh". Rintih Syakir memegang kepala nya yang terbentur pada sudut bangku taman.
"Aduh, maaf - maaf aku tidak sengaja. Kamu nggak papa kan? Kepala kamu berdarah!". Seru Aisyah khawatir. Ia tanpa sadar mencium dahi Syakir dan mengisap darah yang mengalir dari kepala nya sama persis perlakuannya pada Albar saat terjatuh dan lecet.
Syakir sampai tercengang untuk kesekian kali nya. Ia tidak menyangka jika Aisyah mau melakukan hal menjijikkan itu pada nya. Ia sama sekali tidak terpikirkan, pernah melihat Aisyah melakukan hal itu tapi hanya pada Albar tidak pada orang lain tapi sekarang ia mendapatkan perlakukan yang sama. Sangat perhatian.
"Udah, darah akan berhenti mengalir untuk sementara. Segera obati agar tidak infeksi". Imbuh Aisyah sambil mengusap sisa darah yang mulai mengering di dahi Syakir.
"Terima kasih". Ucap Syakir terpesona.
"Maaf kalau aku lancang, aku udah terbiasa melakukannya pada Albar saat ia terjatuh. Itu juga bisa membuat nya diam ketika menangis saat jatuh. Tapi ini...". Tutur Aisyah baru tersadar akan sesuatu.
"Tapi ini baru pertama kalinya kamu melakukan hal ini pada orang lain selain anak kamu itu kan. Aku terharu menjadi yang pertama". Imbuh Syakir menggoda Aisyah.
Wajah Aisyah seketika merona malu ketahuan oleh Syakir. Ia juga tidak habis pikir kenapa ia bisa rifleks melakukan hal itu pada Syakir yang merupakan seorang pengawal pribadi nya dan baru beberapa kali bertemu berdua seperti sekarang. Aisyah salah tingkah dan meninggal kan Syakir dengan perasaan yang malu. Ia tidak mau wajah merah nya di tangkap oleh Syakir secara langsung.
"Itu orang semakin hari semakin lancang pada ku. Dia tidak lagi memanggil ku dengan embel - embel nona, atau ibu lagi. Ia hanya menggunakan aku kamu, kayak dia siapa aja berani tidak sopan padaku. Tapi aneh nya aku tidak pernah marah padanya dan malah menikmati aja ia berkelakuan tidak hormat padaku. Aneh kan, mungkin aku sudah gila....". Aisyah terus saja menggurutuki diri nya sendiri sepanjang jalan.
"Eh, tunggu! Kamu mau kemana? Mobil ada di sana". Teriak Syakir berusaha mengejar langkah Aisyah yang sudah jauh dari nya.
__ADS_1
Aisyah mendengar teriakan itu tapi ia sama sekali tidak peduli atau memutar kembali langkah nya, ia tidak mau jika ia memutar balik malah ia semakin malu di hadapan Syakir. Ia terus melangkah tapi tidak tahu mau kemana ia tidak peduli yang penting sekarang ia harus menghindari Syakir, si pengawal merangkap pacar boongan nya itu.
Langkah nya terhenti saat melihat seseorang berada tepat di depan matanya. Ia hanya bisa diam karena bingung harus bagaimana.