
Apa lo bilang?". Geram Dilan.
"Sudah! Kalian berdua hanya membuat telingaku sakit". Kesal Zack memarahi dua orang kepercayaanya. "Saat seperti ini sempat - sempat nya kalian bertengkar".
"Maaf tuan". Seru Dilan dan Pudas serentak. Anak buah yang berada di dekat mereka serentak menutup mulut menertawakan sikap mereka berdua.
"Kekanak - kanakan banget". Imbuh salah satu dari mereka.
"Kamu bilang apa barusan?". Kesal Dilan saat mendengar perkataan itu dari salah satu anak buah nya.
"Nggak ada bos! Bosa salah dengar kali". Sahut nya takut.
"Di mana mereka sembunyikan kan para tawanan?". Tanya Zack pada anak buah yang mengikuti langkah dokter Aya.
"Dokter Aya tampak nya tidak ke tempat mereka, dia sekarang sedang duduk santai seorang diri di ruangan lantai tiga menikmati bekal nya". Lapor nya.
"Apa??". Geram Zack. "Awasi dia terus! Laporkan semua pergerakan yang mencurigakan dari dokter itu". Titah nya lagi.
"Hati - hati saat menaiki tangga ke lantai selanjutnya, saya melihat ada pergerakan di sana. Seseorang membuka tirai pada tingkap yang ada di lantai empat". Jelas Pundas sambil mengamati situasi di lantai empat.
"Para tawanan di sandra di lantai empat, saya melihat mereka dengan jelas di sini". Lapor anak buah Pundas yang berada di posisi yang tepat untuk mengawasi pergerakan di lantai empat.
"Laporan di terima. Kita tampaknya sudah saat nya menyerang secara terang - terangan. Pastikan setiap tingkap kalian hancurkan untuk memudahkan tugas Pundas". Titah Zack.
Dilan dan anak buah nya berpencar menaiki tangga yang berbeda untuk kelantai empat. Sementara Zack juga tidak lagi menunggu, ia juga naik ke tangga yang berbeda yang lebih dekat ke ruangan tawanan.
Suara tembakan kini bersahutan di mana - mana. Pihak lawan juga melakukan perlawanan karen keberadaan Zack dan yang lain nya tidak lagi sembunyi - sembunyi.
__ADS_1
Sementara itu, di lantai yang berbeda. Rafa sedang berada di kamar Jasmin menemani wanita itu yang sedang lelap tertidur. Ia baru saja di beri obat bius untuk kesekian kali nya karena tidak pernah menyerah untuk memberontak. Rafa tidak tega mengikat wanita nya maka nya ia hanya bisa melihat wanita itu tertidur pulas setiap saat.
Tiba - tiba seorang mengetuk pintu dengan kasar. Rafa bangkit dengan kesal dan membuka pintu. "Lo nggak bisa pelan - pelan ketuk pintu nya, hah? Kalau Jasmin terbangun dan mengamuk lagi bagaimana?". Cerca Rafa geram.
"Maaf bos, tapi sekarang situasinya sedang tidak aman. Ada penyusup masuk ke markas kita bos. Ada sudah banyak anggota kita mati di tangan mereka". Ujar pria itu dengan nafas yang tersengal - sengal.
"Apa? Penyusup? Sejak kapan mereka masuk ke kota ini dan kenapa baru datang melapor saat sudah banyak yang mati? Siapa mereka?". Tanya Rafa memastikan.
"Saya kurang pasti bos. Mereka memakai penutup muka tapi saya menebak jika mereka dari klan Naga Merah datang untuk merebut tawanan kita". Imbuh pria itu.
"Apa? Jadi mereka sudah tahu persembunyian kita? Sejak kapan? Sial!!". Kesal Rafa.
"Kerah kan semua anak buah kita untuk menyerang mereka. Pastikan tawanan mati sebelum jatuh ke tangan mereka...". Titah Rafa dengan wajah serius.
"Baik bos". Seru pria itu bergegas meninggalkan Rafa.
Ia kemudian menghubungi seseorang untuk membantunya. Meskipun hubungan mereka sedang ada masalah sekarang, tapi keberadaan Jasmin yang sekarang ada di tangan nya membuat ia bisa memanfaat kan situasi ini untuk mengancam mereka.
"Ada apa kamu menghubungi ku?". Tanya Danish saat panggilan terhubung. Ia sedang berada di rumah sakit menjenguk Cleo dan Shela.
"Aku tidak ingin basa basi. Kirim pasukan kamu ke sini sekarang!!". Ujar Rafa dengan ketus.
"Apa! Kirim pasukan? pasukan?? Tak salah dengar apa aku. Aku ingat kan ke kamu lagi ya Rafli, kalau sudah menghina dan meremehkan kenapa malah meminta tolong. Kamu nggak malu menjilat ludah sendiri? Ha ha ha". Danish malah menertawakan Rafa. 0 mp
"Jasmin sudah ada di tangan ku sekarang, maka nya Zack mengirim anak buahnya menyerang ku. Kalau mau anak mu selamat dan tidak jatuh ke tangan mereka lagi, segera kirim orang untuk membantu ku saat ini". Rafa tahu kalau Danish pasti akan membantu nya jadi tanpa menunggu jawaban atau di tertawakan lagi, Rafa segera mematikan panggilan.
Sementara Danish malah di buat galau. Jika Jasmin muncul sekarang, bagaimana dengan rencana nya pada Cleo. Ia berencana ingin membuat Cleo menukarkan posisi Jasmin kepada nya.
__ADS_1
"Aku harus merebut Jasmin dari tangan Raffli. Aku akan membuat Raffli menikah dengan Cleo setelah wajah Cleo benar - benar berubah. Cleo berbeda dengan Jasmin. Jika Jasmin selalu memberontak dan tak ingin menikahi dengan Raffli, Cleo malah ingin menolongku, dia akan menggantikan Jasmin dan membantuku mengambil alih bisnis pria itu dan keluarganya...". Gumam Danish akhirnya memutuskan untuk mengirim pasukannya.
Ia segera menghubungi anak buahnya dan mengatakan rencana nya. "Kirim pasukan untuk membantu Raffli. Tapi ingat, bukan untuk membuat nya menang dalam pertempuran. Jika Jasmin berhasil kalian dapatkan segera bubarkan pasukan, atau beralasan lah untuk membawa Jasmin ke tempat yang lebih aman tapi sebenarnya kalian ingin menculiknya. Kamu paham dengan maksud ku kan?". Tegas Danish.
"Saya paham bos. Bos tenang saja, saya tidak akan membuat anak buah kita mati dalam menolong mereka. Sebisa mungkin kami hanya menargetkan non Jasmin saja dan langsung pergi. Bos tenang saja di sini dan tunggu kabar keberhasilan kami". Sahut anak buah Danish.
"Bagus! Bergerak cepat jangan sampai putri ku jatuh ke tangan Zack lagi". Titah Danish lalu mengakhiri panggilan.
"Semoga kalian berhasil merebut kembali Jasmin, kalau tidak maka semua rencana ku akan kacau". Gumam Danish sambil menggenggam erat ponsel nya.
"Ada masalah apa, mas?". Sapa Shela lembut.
Danish terkejut dan salah tingkah. "Oh, enggak papa kok, Shel. Bagaimana keadaan putri kita". Tanya Danish..
"Dia tetap begitu, mas. Dia sangat bosan berada di ruangan itu, dia sangat ingin keluar ketemu dengan teman - teman nya. Padahal aku sudah mengizinkan nya untuk mengajak teman nya datang menemaninya. Tapi ia bilang tak sama". Lirih Shela.
"Memang lah, berbeda. Tapi kenapa saat di penjara ia malah betah dan tidak berusaha kabur?". Bingung Danish.
"Itu sebab di sana dia memiliki kumpulan baru. Meskipun di penjara tapi ia tetap menyiksa orang lain, kamu tahu lah dengan sikap nya itu turun dari diri mu. Pembunuh!". Jelas Shela.
"Aku malah menyukai sifat nya itu. Aku pula malah kesal dengan putri kita yang satu lagi. Dia sangat susah di atur, keras kepala dan tidak bisa di ajak kerja sama. Bahkan aku saja jijik dia lihat...". Danish malah meninggikan Cleo dan merendahkan ana sebaik Jasmin.
"Itu karena permintaan kamu yang tidak masuk akal. Kamu memaksanya melakukan kekejaman sedangkan dia punya hati yang sangat lembut. Kalau aku ketemu dengan nya, aku akan menyayangi nya. Biarkan ia hiduo dengan ku, dan Cleo yang akan menemanimu menjalan kan bisnis haram kamu ini". Tawar Shela.
"Terserah kamu saja. Tapi jangan halang aku bertemu dengan nya. Walau bagaimana pun Jasmin tetap darah daging ku. Begitu pula dengan Cleo. Kamu bisa bertemu dengan nya bila saja. Tiada batasan tapi ingat kesepakatan kita. Jangan pengaruhi Cleo untuk menentang keinginan ku...". Sahut Danish setuju tapi sudah tentu dengan syarat nya tersendiri.
"Jika Cleo sendiri yang ingin, maka jangan salah kan aku. Jangan paksa dia melakukan semua yang kamu ingin kan. Ingat mas! Sifat putri kita itu sama dengan mu. Kekejaman diri nya lebih dari kekejaman diri mu. Sekarang kamu bisa memuji nya karena nurut dengan rencana kamu. Tapi aku mengenalinya, aku yakin dia juga ada rencana sendiri yang kebetulan saja sejalan dengan rencana mu...". Tutur Shela.
__ADS_1
Setelah memberi peringatan pada Danish, Shela beranjak meninggalkan nya begitu saja. Danish hanya bisa tersenyum kecut, ia masih berpikir Cleo bisa ia manfaat kan.