Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 268 Ternyata 3


__ADS_3

"Ternyata benar, mobil itu sekarang sedang ada di kota mati. Ternyata cerita yang mengatakan kota itu berhantu hanya rekayasa belaka agar markas mereka aman...". Sahut Pundas geram.


"Apa yang perlu kita lakukan sekarang tuan? Kami hanya menunggu perintah dari tuan saja...". Tanya Dilan pada Zack.


Zack menghela nafas berat lalu berkata. "Pundas evakuasi mereka bertiga ke tempat yang lebih aman seperti rencana tadi. Setelah itu temui aku". Titah Zack pada Pundas.


"Dilan! Ikut aku". Ujar Zack pada Dilan..


"Baik tuan".


Akhirnya Zack dan Dilan meninggalkan Pundas sendiri menyelesaikan tugas nya. Yaitu membawa Panji, Mega dan Aisyah ke tempat lain. Sementara mereka berdua menuju lokasi GPS, yaitu Kota mati, markas Rafa yang sebenarnya.


*


*


Di tempat yang cukup asing, seorang wanita dengan perut yang membesar sedang berbaring nyaman di atas kasur empuk. Ia sudah tidak sadarkan diri selama beberapa jam terakhir akibat ia berusaha memberontak saat di bawa ke tempat ini.


Perlahan ia membuka matanya, sedikit merasa pusing efek bius yang masih tersisa di tubuhnya. Ingatan beberapa jam lalu teringat di benak nya.


Jasmin merasa ada yang janggal dengan tingkah anak buah Zack bernama Rafa itu. Jadi ia memutuskan meminjam ponsel untuk menghubungi Zack atau Pundas tapi sayang nya permintaan nya tidak di berikan oleh Rafa. Jasmin akhirnya semakin curiga dan mulai memberontak. Saat ingin di bius, Jasmin melakukan pemberontakan dan terjadi benturan keras di kepalanya.


Kaca mobil sampai pecah dan kepala Jasmin mengalir darah segar. Awalnya ia pingsan akibat benturan keras di kepalanya tapi untuk berjaga - jaga, bius tetap di suntikkan ke dalam tubuhnya.


"Maaf kan aku, sayang. Aku terpaksa melakukan ini". Lirih pria itu masih terdengar jelas di pendengaran Jasmin. Kesadaran kemudian semakin hilang dan akhirnya ia pingsan.


"Sekarang aku ada di mana? Kenapa anak buah Zack membawa ku ke tempat ini? Bagaimana keadaan bik Sukma dan Tias? Mereka mengalami luka bakar yang sangat parah. Semoga Tias dan bayi nya baik - baik saja". Gumam Jasmin dengan penuh harap.


"Apa yang terjadi pada Zack? Kenapa tiba - tiba seperti ini dan aneh nya kenapa Rafa meminta maaf pada ku dengan menyebut ku sayang? Siapa sebenarnya dia?". Jasmin berperang dengan kebingungannya. Semua kejadian kembali berputar dalam ingatannya.


Tiba - tiba ia teringat suatu kejadian di mana ia di jebak oleh seorang pria yang Danish jodoh kan padanya.


"Maaf kan aku, sayang. Aku terpaksa melakukan ini". Terngiang lagi kata yang sama yang keluar dari mulut pria itu dengan yang dikatakan Rafa tadi.


Jasmin menutup mulutnya menyadari suatu hal yang membuatnya takut saat ini. Ia memang kurang jelas dengan wajah pria yang berhasil merenggut kesuciannya itu, tapi kata yang sama membuat Jasmin akhirnya menyimpulkan jika Rafa lah pria itu. Ternyata keberadaan nya selama ini diketahui oleh pria yang ingin ia hindari, dan bodohnya ia sama sekali tidak mengenali pria itu.


Kemudian ia merasa tendangan yang begitu kuat dari perutnya. Bayi akan bersikap seperti itu jika Rafa akan datang menghampiri, selama ini ia pikir mungkin kerana Rafa lah yang sering membawakan semua keperluan ibu nya. Jadi dia sebagai anak juga akan merasa senang. Pernah ia bercerita pada Rafa tentang tingkah bayi yang ada dalam perut nya itu tapi Rafa hanya tersenyum sambil memperhatikan perut buncit nya.


"Aku sebenar nya heran loh, Raf. Kalau kamu datang bahkan masih dalam perjalanan membawa pesanan ku, bayi ku ini pasti akan bersikap berlebihan seperti ini. Lihat lah sendiri. Semangat sekali dia di dalam sini sampai aku merasa kelelahan kadang aku merasa sakit jika ia terus bersikap seperti ini dalam waktu lama". Jelas Jasmin pada Rafa.


Rafa hanya bisa tersenyum beberapa waktu. Benar yang di katakan jasmin, terlihat jelas dari luar, perut Jasmin bergerak - gerak tanpa henti. Bayi di dalam nya terus menendang dengan kuat. Tiba - tiba Jasmin mengutarakan keinginan nya yang membuat Rafa tercengang.


"Maaf ya kalau aku lancang meminta. Tapi kalau kamu nggak sudi juga nggak papa kok. Jujur aku malu mengatakannya...". Imbuh Jasmin tertunduk malu.


"Katakan saja, non. InsyaAllah saya akan usahakan yang terbaik untuk memenuhinya". Sahut Rafa tidak keberatan.


"Nggak perlu tenaga kok, Raf. Aku cuma pengen benget kamu mengelus perut aku, tapi aku nggak memaksa, kok". Tutur Jasmin segan..


Rafa refleks semangat mendengar permintaan Jasmin. "Dengan senang hati,m sayang!". Seru Rafa. Tapi ia salah tingkah dengan panggilan sayang yang keluar dari mulutnya secara tiba - tiba. "Maaf non. Saya salah...". Imbuh Rafa meminta maaf.


"Nggak papa kok. Tapi kamu serius kan mau tolong elus perut aku, aku kepengen banget". Jasmin memaklumi dan tetap pada keinginan nya.


"Baik lah, tapi maaf ya kalau saya lancang". Rafa mendekati Jasmin, matanya tidak lepas dari menatap perut Jasmin dengan keinginan yang sama. Yaitu ngelus perut buncit itu dan merasakan tendangan bayi yang ada di dalam nya.


Rafa berlutut dan mulai mengelus perut buncit itu perlahan. Jasmin melepas nafas lega karena keinginan nya sudi di penuhi oleh Rafa dengan senang hati. Masa itu menjadi awal kedekatan mereka. Setiap kali Rafa datang berkunjung, pasti ia akan mengelus perut Jasmin dalam waktu lama. Sebelum berangkat kembali ke kota pun Rafa memberanikan diri mengecup perut buncit itu dengan mesra.

__ADS_1


Titin, Tias dan bu Sukma merasa terharu dengan kedekatan mereka berdua. Bayi dalam perut Jasmin seolah - olah menjodohkan mereka berdua.


Tiba - tiba pintu terbuka membuyarkan lamunan Jasmin tetang kenangan indah bersama Rafa.


"Kamu sudah bangun, sayang". Sapa pria yang baru masuk sambil meneteng nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk nya dan segelas susu.


"Jangan panggil aku sayang! Kamu penipu!". Jasmin mengelak dari di dekati Rafa.


Rafa menghela nafas berat. Ia tahu akan mendapat perlakuan kasar seperti ini oleh Jasmin jika kedok nya terbongkar. "Kamu makan dan minum susu dulu yah. Kasihan anak kita kelaparan nanti". Bujuk Rafa menyuapi Jasmin.


Tapi Jasmin kembali teringat pada malam di mana kesuciannya terenggut oleh pria ini. Dendam nya kembali menguasai dirinya dan refleks menolak suapan Rafa dengan kasar. "Aku tekan kan pada kamu. Ini bukan anak kamu! Ini anak ku seorang, dia tidak punya ayah kejam seperti kamu!". Teriak Jasmin dengan tegas.


"Ha ha ha. Kamu itu lucu ya. Masa ada seorang wanita bisa hamil tanpa ada seorang pria yang membantunya. Ha ha ha". Rafa tertawa terbahak - bahak mendengar perkataan Jasmin.


"Kamu bukan membantuku tapi memperkosa ku!". Teriak Jasmin mengingatkan.


"Hishh,,, jangan teriak - teriak gitu dong sayang. Bukan kah hari -hari sebelum nya kamu menyukaiku. Kenapa sekarang kamu malah kembali membenci ku. Ingat sayang. Aku juga berhak ke atas bayi yang kamu kandung...". Sahut Rafa menggenggam dagu Jasmin dengan kasar.


Jasmin melepas tangan Rafa dengan sekuat tenaga. "Kamu nggak berhak atas anak ku! Aku akan membawa nya pergi jaug dari pandangan mu. Aku tidak akan pernah sudi jika ia di sentuh oleh tangan penuh dosa kamu itu!". Kata Jasmin tidak sudi.


"Kamu masih ingat kan. Apa yang kamu selalu minta padaku. Setiap kali kamu melihat ku pasti kamu akan meminta aku mengelus perut itu. Jadi percuma kamu melarang ku menyentuh anak kita. Karena selama ini aku selalu me menyentuhnya atas permintaan mu!". Ucap Rafa ketus.


"Itu sebab aku tidak mengenali mu! Jika aku tahu kamu adalah pria brengsek itu, aku tidak akan pernah sudi dekat - dekat dengan kamu". Tutur Jasmin.


"Sudah lah, sayang. Jangan pungkiri jika kamu nyaman dekat dengan ku. Memang awal pertemuan kita tidak menyenangkan. Tapi setelah kenal kamu sendiri merasa nyaman, kan? Apa lagi anak kita tahu dari dulu jika aku adalah ayah nya. Jangan pisahkan aku dari anak ku, aku juga tidak akan memisahkan kamu dari anak kita. Bagaimana kalau kamu melupakan dendam kamu itu demi anak kita". Rafa berubah lembut dan memohon pada Jasmin.


"Jangan harap!!!". Teriak Jasmin menolak.


"Kamu jangan degil, Jasmin. Atau semua orang yang dekat dengat mu yang menerima akibatnya". Rafa kembali kasar dan mengancam Jasmin.."Ternyata benar, mobil itu sekarang sedang ada di kota mati. Ternyata cerita yang mengatakan kota itu berhantu hanya rekayasa belaka agar markas mereka aman...". Sahut Pundas geram.


"Apa yang perlu kita lakukan sekarang tuan? Kami hanya menunggu perintah dari tuan saja...". Tanya Dilan pada Zack.


Zack menghela nafas berat lalu berkata. "Pundas evakuasi mereka bertiga ke tempat yang lebih aman seperti rencana tadi. Setelah itu temui aku". Titah Zack pada Pundas.


"Dilan! Ikut aku". Ujar Zack pada Dilan..


"Baik tuan".


Akhirnya Zack dan Dilan meninggalkan Pundas sendiri menyelesaikan tugas nya. Yaitu membawa Panji, Mega dan Aisyah ke tempat lain. Sementara mereka berdua menuju lokasi GPS, yaitu Kota mati, markas Rafa yang sebenarnya.


*


*


Di tempat yang cukup asing, seorang wanita dengan perut yang membesar sedang berbaring nyaman di atas kasur empuk. Ia sudah tidak sadarkan diri selama beberapa jam terakhir akibat ia berusaha memberontak saat di bawa ke tempat ini.


Perlahan ia membuka matanya, sedikit merasa pusing efek bius yang masih tersisa di tubuhnya. Ingatan beberapa jam lalu teringat di benak nya.


Jasmin merasa ada yang janggal dengan tingkah anak buah Zack bernama Rafa itu. Jadi ia memutuskan meminjam ponsel untuk menghubungi Zack atau Pundas tapi sayang nya permintaan nya tidak di berikan oleh Rafa. Jasmin akhirnya semakin curiga dan mulai memberontak. Saat ingin di bius, Jasmin melakukan pemberontakan dan terjadi benturan keras di kepalanya.


Kaca mobil sampai pecah dan kepala Jasmin mengalir darah segar. Awalnya ia pingsan akibat benturan keras di kepalanya tapi untuk berjaga - jaga, bius tetap di suntikkan ke dalam tubuhnya.


"Maaf kan aku, sayang. Aku terpaksa melakukan ini". Lirih pria itu masih terdengar jelas di pendengaran Jasmin. Kesadaran kemudian semakin hilang dan akhirnya ia pingsan.


"Sekarang aku ada di mana? Kenapa anak buah Zack membawa ku ke tempat ini? Bagaimana keadaan bik Sukma dan Tias? Mereka mengalami luka bakar yang sangat parah. Semoga Tias dan bayi nya baik - baik saja". Gumam Jasmin dengan penuh harap.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Zack? Kenapa tiba - tiba seperti ini dan aneh nya kenapa Rafa meminta maaf pada ku dengan menyebut ku sayang? Siapa sebenarnya dia?". Jasmin berperang dengan kebingungannya. Semua kejadian kembali berputar dalam ingatannya.


Tiba - tiba ia teringat suatu kejadian di mana ia di jebak oleh seorang pria yang Danish jodoh kan padanya.


"Maaf kan aku, sayang. Aku terpaksa melakukan ini". Terngiang lagi kata yang sama yang keluar dari mulut pria itu dengan yang dikatakan Rafa tadi.


Jasmin menutup mulutnya menyadari suatu hal yang membuatnya takut saat ini. Ia memang kurang jelas dengan wajah pria yang berhasil merenggut kesuciannya itu, tapi kata yang sama membuat Jasmin akhirnya menyimpulkan jika Rafa lah pria itu. Ternyata keberadaan nya selama ini diketahui oleh pria yang ingin ia hindari, dan bodohnya ia sama sekali tidak mengenali pria itu.


Kemudian ia merasa tendangan yang begitu kuat dari perutnya. Bayi akan bersikap seperti itu jika Rafa akan datang menghampiri, selama ini ia pikir mungkin kerana Rafa lah yang sering membawakan semua keperluan ibu nya. Jadi dia sebagai anak juga akan merasa senang. Pernah ia bercerita pada Rafa tentang tingkah bayi yang ada dalam perut nya itu tapi Rafa hanya tersenyum sambil memperhatikan perut buncit nya.


"Aku sebenar nya heran loh, Raf. Kalau kamu datang bahkan masih dalam perjalanan membawa pesanan ku, bayi ku ini pasti akan bersikap berlebihan seperti ini. Lihat lah sendiri. Semangat sekali dia di dalam sini sampai aku merasa kelelahan kadang aku merasa sakit jika ia terus bersikap seperti ini dalam waktu lama". Jelas Jasmin pada Rafa.


Rafa hanya bisa tersenyum beberapa waktu. Benar yang di katakan jasmin, terlihat jelas dari luar, perut Jasmin bergerak - gerak tanpa henti. Bayi di dalam nya terus menendang dengan kuat. Tiba - tiba Jasmin mengutarakan keinginan nya yang membuat Rafa tercengang.


"Maaf ya kalau aku lancang meminta. Tapi kalau kamu nggak sudi juga nggak papa kok. Jujur aku malu mengatakannya...". Imbuh Jasmin tertunduk malu.


"Katakan saja, non. InsyaAllah saya akan usahakan yang terbaik untuk memenuhinya". Sahut Rafa tidak keberatan.


"Nggak perlu tenaga kok, Raf. Aku cuma pengen benget kamu mengelus perut aku, tapi aku nggak memaksa, kok". Tutur Jasmin segan..


Rafa refleks semangat mendengar permintaan Jasmin. "Dengan senang hati,m sayang!". Seru Rafa. Tapi ia salah tingkah dengan panggilan sayang yang keluar dari mulutnya secara tiba - tiba. "Maaf non. Saya salah...". Imbuh Rafa meminta maaf.


"Nggak papa kok. Tapi kamu serius kan mau tolong elus perut aku, aku kepengen banget". Jasmin memaklumi dan tetap pada keinginan nya.


"Baik lah, tapi maaf ya kalau saya lancang". Rafa mendekati Jasmin, matanya tidak lepas dari menatap perut Jasmin dengan keinginan yang sama. Yaitu ngelus perut buncit itu dan merasakan tendangan bayi yang ada di dalam nya.


Rafa berlutut dan mulai mengelus perut buncit itu perlahan. Jasmin melepas nafas lega karena keinginan nya sudi di penuhi oleh Rafa dengan senang hati. Masa itu menjadi awal kedekatan mereka. Setiap kali Rafa datang berkunjung, pasti ia akan mengelus perut Jasmin dalam waktu lama. Sebelum berangkat kembali ke kota pun Rafa memberanikan diri mengecup perut buncit itu dengan mesra.


Titin, Tias dan bu Sukma merasa terharu dengan kedekatan mereka berdua. Bayi dalam perut Jasmin seolah - olah menjodohkan mereka berdua.


Tiba - tiba pintu terbuka membuyarkan lamunan Jasmin tetang kenangan indah bersama Rafa.


"Kamu sudah bangun, sayang". Sapa pria yang baru masuk sambil meneteng nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk nya dan segelas susu.


"Jangan panggil aku sayang! Kamu penipu!". Jasmin mengelak dari di dekati Rafa.


Rafa menghela nafas berat. Ia tahu akan mendapat perlakuan kasar seperti ini oleh Jasmin jika kedok nya terbongkar. "Kamu makan dan minum susu dulu yah. Kasihan anak kita kelaparan nanti". Bujuk Rafa menyuapi Jasmin.


Tapi Jasmin kembali teringat pada malam di mana kesuciannya terenggut oleh pria ini. Dendam nya kembali menguasai dirinya dan refleks menolak suapan Rafa dengan kasar. "Aku tekan kan pada kamu. Ini bukan anak kamu! Ini anak ku seorang, dia tidak punya ayah kejam seperti kamu!". Teriak Jasmin dengan tegas.


"Ha ha ha. Kamu itu lucu ya. Masa ada seorang wanita bisa hamil tanpa ada seorang pria yang membantunya. Ha ha ha". Rafa tertawa terbahak - bahak mendengar perkataan Jasmin.


"Kamu bukan membantuku tapi memperkosa ku!". Teriak Jasmin mengingatkan.


"Hishh,,, jangan teriak - teriak gitu dong sayang. Bukan kah hari -hari sebelum nya kamu menyukaiku. Kenapa sekarang kamu malah kembali membenci ku. Ingat sayang. Aku juga berhak ke atas bayi yang kamu kandung...". Sahut Rafa menggenggam dagu Jasmin dengan kasar.


Jasmin melepas tangan Rafa dengan sekuat tenaga. "Kamu nggak berhak atas anak ku! Aku akan membawa nya pergi jaug dari pandangan mu. Aku tidak akan pernah sudi jika ia di sentuh oleh tangan penuh dosa kamu itu!". Kata Jasmin tidak sudi.


"Kamu masih ingat kan. Apa yang kamu selalu minta padaku. Setiap kali kamu melihat ku pasti kamu akan meminta aku mengelus perut itu. Jadi percuma kamu melarang ku menyentuh anak kita. Karena selama ini aku selalu me menyentuhnya atas permintaan mu!". Ucap Rafa ketus.


"Itu sebab aku tidak mengenali mu! Jika aku tahu kamu adalah pria brengsek itu, aku tidak akan pernah sudi dekat - dekat dengan kamu". Tutur Jasmin.


"Sudah lah, sayang. Jangan pungkiri jika kamu nyaman dekat dengan ku. Memang awal pertemuan kita tidak menyenangkan. Tapi setelah kenal kamu sendiri merasa nyaman, kan? Apa lagi anak kita tahu dari dulu jika aku adalah ayah nya. Jangan pisahkan aku dari anak ku, aku juga tidak akan memisahkan kamu dari anak kita. Bagaimana kalau kamu melupakan dendam kamu itu demi anak kita". Rafa berubah lembut dan memohon pada Jasmin.


"Jangan harap!!!". Teriak Jasmin menolak.

__ADS_1


"Kamu jangan degil, Jasmin. Atau semua orang yang dekat dengat mu yang menerima akibatnya". Rafa kembali kasar dan mengancam Jasmin..


__ADS_2