
Desi menatap tajam kedua bola mata suami, yang di lihat bukan nya merasa bersalah ia malah cengingisan tidak jelas.
"Jangan lihat mas seperti itu, sayang! Mas takuuuut". Imbuh Rehan mengejek istrinya.
"Cepat katakan kenapa pakaian aku semua mas masukkan ke dalam koper semua?". Ujar Desi ketus. Wajahnya sama sekali tidak bersahabat. Tadi dia tampak sedih sampai meneteskan air mata tapi melihat suaminya menggodanya seperti ia menjadi kesal.
"Kamu masih ingan misi kita berdua kan?". Rehan mengingatkan.
"Iya ingat lah! Kamu pikir aku ini pikun, begitu aja sampai lupa". Jawab Desi membuang muka.
"Ini salah satu strategi kita". Sahut Rehan..
"Hah, kalau kamu mau menyampai kan sesuatu jangan gantung selertu itu, mas! Aku tidak mengerti". Seru Desi.
"Ok mas cerita dari awal, yah". Kata Rehan, Desi mengangguk penasaran. "Mas tadi bertemu dengan Aisyah di kantor, ia tampak memerhatikan mas matanya tidak lepas sedetikpun dari ku, seperti masih berharap gitu tapi gengsi untuk memulai. Jadi saat selesai meeting, mas beranikan diri meminta untuk mengobrol berdua dengan nya saja". Jelas Rehan.
"Lalu dia mau nggak?". Potong Desi.
"Ya mau lah, kan mas tadi bilang dia itu masih berharap dengan suamimu ini jadi dia senang dong kalau mas ajak ngobrol berdua". Seru Rehan percaya diri.
"Terus - terus". Sahut Desi.
"Setelah semua orang lain keluar meninggalkan kami berdua, Aisyah masih pura - pura malu. Mas berlutut dan memohon maaf sama dia dengan wajah memelas. Mas merekayasa cerita agar dia luluh dan mau rujuk lagi dan benar saja dia percaya kemudian meminta waktu untuk mempertimbangkan keputusannya". Kata Rehan dengan antusias.
"Wah, hebat kamu mas! Ternyata Aisyah memang perempuan bodoh yah, mudah di kada lin hanya dengan cerita palsu yang mas sampaikan. Tapi apa yang mas ceritakan sama dia sampai dia percaya gitu?". Desi semakin penasaran.
"Memang kamu harus tahu apa yang mas cerita sama Aisyah, supaya kamu nggak salah nanti saat kamu ketemu dengan dia. Mas bilang sama dia kalau selama ini mas di pelet sama kamu, sebab itu mas berubah sangat sayang sama kamu padahal dulu kamu sempat membuat ku terpuruk...". Jawab Rehan.
"Apa? Aku pelet mas?". Potong Desi kaget. Selama ini tidak pernah terpikir sekalipun melakukan perbuatan syirik itu. Memang dia jahat dan serakah tapi hanya mengandalkan tubuhnya yang seksi saja tidak sampai menjerumus ke arah dosa besar itu.
__ADS_1
"Iya, kamu jangan marah dulu dong sayang! Ini kan hanya strategi yang mas ambil supaya dia bisa percaya dengan apa yang mas sampaikan". Bujuk Rehan.
Desi membuang muka kesal, sampai hati Rehan mengatakan seperti itu, samam saja dengan memfitnah dirinya secara nggak langsung. "Pantas dia percaya dan mempertimbangkan permintaan kamu, aku yang di fitnah di sini". Gumam Desi dengan suara perlahan tapi masih bisa di dengar oleh Rehan.
"Bukan begitu, sayang. Biar lah dia mau pikir ayo tentang kamu tapi mas tetap sayang sama kamu dan sama sekali tidak merasa di pelet, kamu tahu kenapa mas yakin tidak di pelet oleh kamu atau siapapun itu?". Goda Rehan.
"Apa?".
"Karena dari dulu saat pertama kali menatap mata kamu sampai sekarang, rasanya nggak pernah berkurang sedikit pun malah bertambah besar karena kamu wanita yang sanggup berkorban dan melakukan apa saja untuk kebahagiaan kita berdua. Walaupun dulu mas pernah hidup bersama Aisyah tapi yakin lah, hati ini tidak pernah berpaling dari mu". Kata Rehan dengan tulus.
Desi terharu mendengar ungkapan cinta yang di sampaikan suaminya. Ternyata Rehan begitu romantis ketika sedang gembira.
"Terima kasih mas!". Lirih Desi sambil memeluk Rehan hangat.
"Sama - sama, sayang. Kamu nggak marah lagi kan?". Tanya Rehan. Desi menggeleng malu dalam pelukan nya.
"Ada satu perkaa lagi yang kamu harus tahu, tapi mas lebih dulu mau minta maaf sebelum menyampaikan nya padamu". Suasan kembali tegang.
Ia tidak tahu saja yang akan Rehan sampai akan seterusnya akan sangat menghiris hati nya.
"Mas bilang sama dia kalau kita sudah bercerai...". Ucap Rehan.
"Ya bagus dong, kan kita sudah bincang hal itu sebelum nya jadi kamu nggak perlu merasa bersalah seperti itu. Aisyah percaya kalau kita sudah cerai?". Tanya Desi.
"Percaya dengan alasan kamu selingkuh dan anak dalam kandungan kamu adalah anak dari selingkuhan mu bukan sama aku, jadi dia percaya". Jawab Rehan..
Desi melongo tidak percaya dengan alasan yang di berikan oleh Rehan pada mantan istrinya. Jika ia di fitnah mem pelet Rehan tadi ia bisa menerima tapi kini Rehan memfitnahnya selingkuh hingga hamil secara tidak langsung anak dalam kandungannya akan menjadi korban kemana identitas ayahnya di curigakan.
"Tega kamu sama anak kita mas. Tega kamu libatkan dia dalam misi kita ini! Aku kecewa sama kamu mas". Desi kembali meneteskan air mata sedih.
__ADS_1
Plakkkk
Satu tamparan mendarat cantik ke pipi Rehan. Ia tidak marah kerana memang pantas menerima itu semua tapi yang ia lakukan supaya Aisyah semakin yakin untuk rujuk dengan nya.
"Maaf kan mas, sayang". Sesal Rehan.
"Kamu mau aku pergi dari rumah ini, kan. Baik, malam ini juga aku akan angkat kaki dari sini, semoga rencana kamu mengait hati mantan istri kamu berhasil". Lirih Desi menarik dua koper miliknya sekali gus. Walaupun ia sedih tapi masih sempat memberi doa untuk suaminya.
Matanya tidak lepas dari meneteskan air mata. Dengan langkah tergesa - gesa Desi meninggkakn Rehan yang masih tertunduk menyesali perbuatan nya tanpa ada niat mencegah istrinya sama sekali.
Sesampai di luar, baru saja ia ingin menghubungi seseorang tapi orang itu sudah muncul di hadapannya dengan menggunakan mobil mewah miliknya.
"Aldo?". Sahut Desi.
"Masuk lah! Aku akan membawamu pergi dari sini". Seru Aldo.
Desi bingung harus bagaimana, ia masih tidak bergeming di tempatnya. Aldo pun keluar dan membujuk nya.
"Aku akan menolong mu bebas dari suami kurang ajar itu". Bujuk Aldo. Ia mengambil koper milik Desi dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Kemudian mem bukan pintu untuk Desi, "masuklah!".
Desi menurut dan duduk di samping kemudi.
Diam - diam Rehan mengintip di balik tirai dan melihat adegan itu, "siapa lelaki itu? Jangan - jangan selama ini Desi benar - benar selingkuh di belakangku?". Rehan menggeleng keras membuang prasangka buruk pada istrinya. "Tidak mungkin, Desi tadi tampak sedikit ragu untuk di ajak masuk ke dalam mobil itu". Gumamnya.
Sepanjang perjalanan hanya deru suara mobil yang mengaung memecah keheningan di antara keduanya. Desi maupun Aldo sama sekali tidak ada yang mau membuka suara hanya untuk mengobrol satu sama lain. Desi sebenarnya sedang berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang, sedangkan Aldo memilih diam karena merasa wanitnya membutuhkan waktu untuk melupakan kesedihannya.
"Kenapa kita ke sini?". Tanya Desi saat mobil berhenti di sebuah hotel lima bintang.
__ADS_1
"Malam ini kamu menginap di sini dulu, sebenarnya aku mau bawa kamu ke apartemen ku, tapi aku pikir kamu pasti akan menolak jika ku bawa ku bawa ke sana. Jadi di sini aja dulu untuk sementara waktu sampai aku menemukan temaoat