
"Aku tidak pernah mengkhianati persahabatan di antara kita Dilan. Aku hanya mengkhianati Zack. Dia musuh keluarga ku, aku harus melenyapkan nya demi keluarga ku". Sahut Rafa menjelaskan.
"Musuh keluarga mu? Emang siapa keluarga mu? Bukan kah kita berdua ini anak terbuang, kamu masih mau membaktikan diri mu pada keluarga yang tega membuang mu? Jangan bodoh kamu Rafa!". Cerca Dilan mencoba melepaskan kaki nya dari di sentuh oleh Rafa.
"Nggak Dilan! Mereka tidak membuang ku, mereka kehilangan diriku. Ku mohon Dilan tolong selamat kan aku!". Lirih Rafa memohon.
"Nggak mengkhianati persahabatan kita. Baik aku akan menolong mu...". Sahut Dilan membantu Rafa bangkit.
Pundas yang mengetahui Dilan sudah tidak terhubung dengan mereka semua jadi cemas jika terjadi sesuatu terhadap nya. Ia meminta beberapa anak buah Dilan untuk segera menyelesaikan lawan mereka dan menuju ke tempat Dilan berada.
"Segera selesaikan urusan kalian dan temui Dilan di lantai tuju. Tampak nya kita semua tidak bisa terhubung dengan nya..". Titah Pundas.
"Baik bos.. ". Seru mereka serentak dan menghabisi lawan mereka sehingga tidak bisa bergerak lagi.
Zack kini sudah berada di dalam ruangan Titin dan lain nya di kurung. Kondisi Bu Sukma dan Tias sangat mengenaskan. Luka bakar terlihat di beberapa bahagian tubuh mereka.
"Tuan Zack!". Seru Titin senang. "Terima kasih sudah mau menyelamatkan kami tuan". Sambungnya berlutut di kaki Zack.
"Sudah, berdiri lah. Ini sudah jadi tanggung jawab aku untuk menyelamat kan kalian". Zack beralih ke arah Bu Sukma dan Tias. "Bagaimana keadaan mereka?". Tanya Zack prihatin..
"Kulit di beberapa bagian kulit melepuh tapi sudah di obati oleh dokter beberapa jam lalu, katanya mereka tidak akan kenapa - napa cuma akan meninggalkan bekas pada kulit mereka...". Balas Titin lemas.
"Anak kalian?". Zack beralih bertanya tentang kandungan istri Titin.
"Kemarin sempat kejang karena syok, tapi dokter sudah memberi sublimen untuk menguatkan kandungan nya. InsyaAllah mereka berdua baik - baik saja. Tias melindungi kandungan dengan sangat baik". Ujar Titin sambil menyeka air mata nya.
"Sayangi istrimu, pengorbanan nya sangat besar untuk melindungi anak kalian. Untuk sementara tetap di sini sampai situasi aman". Zack beralih menjari keberadaan Jasmin dan Albar.
"Aku sudah tahu jika mereka berdua pasti di tempat kan di ruangan yang berbeda....". Gumam Zack.
"Jika tuan mencari keberadaan non Jasmin dan den Albar, saya hanya bisa memastikan jika non Jasmin masih berada di bangunan ini sedangkan den Albar saya kurang pasti tuan". Imbuh Titin mengerti dengan apa yang sedang di cari oleh atasannya.
__ADS_1
"Di lantai berapa Jasmin di tempat?". Tanya Zack.
"Saya juga kurang pasti tuan. Semenjak saya sadar, kamu bertiga sudah berada di ruangan ini. Terakhir saya melihat Jasmin saat kami berpindah mobil dan dia melakukan pemberontakan sehingga kepalanya terbentur dengan kaca jendela. Kepala nya berdarah sementara kaca mobil retak. ..". Jelas Titin.
Zack tidak bertanya lagi. Ia keluar ruangan meninggalkan beberapa orang anak buah nya untuk berjaja di ruangan itu. Sementara dia menuju lantai tujuh di mana Rafa terakhir terlihat oleh Pundas.
"Aku yakin di ruangan itu dia menyembunyikan Jasmin. Masih banyak misteri di balik semua ini dan aku harus memastikan semua ini sekarang juga". Gumam Zack menaiki tangga ke lantai Tujuh.
Saat berada di ruangan itu, Dilan tampak memopong tubuh Rafa menuruni tangga. "Tuan Zack?". Dilan salah tingkah.
"Kamu mau kemana Dilan?". Tanya Zack bingung. "Kenapa kamu memutuskan koneksi headset pada kami semua?". Zack tampak curiga dengan sikap Dilan..
"I i ini nggak seperti yang tuan pikir kan. Rafa pasti nggak ada niat mengkhianati kita, dia hanya terjebak dan bingung dengan keadaan Tuan. Saya mohon obati dulu luka nya baru kita eksekusi. Saya yakin dia sama sekali tidak berniat membelok, dia hanya terpaksa tuan". Sahut Dilan melindungi Rafa.
Zack menghela nafas berat. Ia tahu perasaan Dilan sekarang sedang Dilema tapi jika Rafa benar - benar mati maka tiada informasi apa pun yang akan ia dapatkan. "Aku harus menolong dulu si pengkhianat ini. Urusan Dilan kebelakangan...". Batin Zack.
"Baik lah, kita akan membawa nya bertemu dokter sekarang. Serahkan pada mereka saja. Luka di bahu kamu pasti masih sakit". Tawar Zack bermurah hati demi keuntungan nya sendiri.
Dilan menyerahkan Rafa yang sedang tidak sadar kan diri pada anak buah nya untuk di beri perawatan. Sementara Zack dan beberapa anak buah nya yang lain menuju kamar tempat Jasmin di sembunyikan..
"Saya yakin dalam ruangan ini Jasmin di sekap. Buka pintu ini dengan segala cara". Titah Zack pada anak buah nya. .
Salah satu anak buah Zack memiliki keahlian mengakses sandi yang di gunakan untuk membuka setiap pintu yang di lengkapi keamanan seperti itu. Sistem keamanan yang di gunakan masih level rendah jadi masih mudah untuk di buka oleh nya.
"Tampak nya Rafa sempat meminta bantuan dari Danish. Pasukan Danish baru tiba dan menyerang pasukan kita...". Pundas memberi laporan.
"Semua berada di posisi masing - masing. Bawa Rafa ke ruangan Titin dan lain nya. Lindungi mereka di sana. Panggil pasukan cadangan untuk datang menolong. Jumlah kita tidak mungkin melawan mereka yang baru datang...". Sahut Zack memberi perintah.
"Baik tuan, siap laksana kan". Sahut Pundas dan lain nya. Sementara Dilan tidak mendengar sama sekali karena headset penghubung antara mereka tiba - tiba rusak. Lagi pula bahunya mengalami luka parah sehingga tidak bisa bertarung menggunakan sebelah tangan.
"Cepat buka pintu nya!". Titah Zack tidak bisa sabar.
__ADS_1
"Iya tuan sebentar lagi". Sahut anak buah nya yang sedang berusaha mengakses kode pintu itu.
Di basemen. Pasukan Danish mulai menyerang dan menjatuhkan satu persatu anak buah Zack yang berjaga. Beberapa saat kemudian, pasukan cadangan Zack juga akhirnya datang dan memberi bantuan. Perlawanan sengit kembali terdengar antara dua pihak.
*
*
Bu Wahida kini sudah sampai di desa baru yang akan ia tinggali bersama Rehan dan Keysyah sang suster pribadi putranya. Ternyata ia tidak salah memilik agensi untuk membawa nya pergi dari neraka dunia. Tapi sebisa mungkin identitas dirinya dan Rehan tidak di ketahui oleh penduduk desa. Jika tidak, maka sia - sia segala pengorbanan untuk meninggalkan kota Makasa.
"Ibu kok bengong aja? Sedang mikirin apa?". Ujar Keysyah mengagetkan bu Wahida.
"Ih, kamu ini ngagetin aku aja. Sudah selesai kerja kamu?". Tanya Bu Wahida masih cuek..
"Sudah dong bu. Melamun terus sampai tidak sadar waktu. Ini sudah dua jam lo ibu duduk di sini nggak ngelakuin apa - apa. Bengong aja, nanti kesambet loh". Goda Keysyah.
"Dua jam? Bohong kamu". Kata bu wahida nggak percaya.
"Kalau nggak percaya ya sudah. Tapi sekarang kita makan bareng yuk. Ini aku bawain dua piring nasi lengkap dengan lauk kesukaan ibu dan juga dua gelas jus dari buah segar".. Tawar Keysyah meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja..
"Kamu bilang kesukaan aku, mana? Ini hanya tumis kangkung dan ikan goreng serta sambal biasa". Sahut bu Wahida kecewa.
"Aku pikir ini kesukaan ibu, soalnya setiap kali saya hidangkan lauk ini, pasti ibu lahap makan nya". Jelas Keysyah..
"Itu karena nggak ada pilihan sementara perut udah keroncongan minta makan. Tapi setiap hari makan ini juga bikin muak tauk". Tutur bu Wahida kesal.
"Bahan yang ada di dapur cuma ini doang bu. Saya mau cari di mana lagi coba sedangkan di sini pasar nya itu sangat jauh. Susah kalau mau makan daging. Kalau kangkung dan ikan lele kan ada di jual sama tetangga sebelah jadi saya beli kan untuk kita makan...". Jelas Keysyah mulai menyuapi mulut nya cuek dengan wajah masam bu Wahida.
Melihat Keysyah makan dengan lahap membuat bu wahida ngiler.
"Ini anak memang pandai buat aku terpaksa memakan semua makanan sampah ini". Batin Bu Wahida kesal.
__ADS_1