
Desi baru saja sampai di depan rumahnya, wajahnya sama sekali tidak sedap di pandang, bibirnya terus saja bergerutu memaki semua orang yang ia kenal terutama Rehan dan Aisyah. Dua nama itu merupakakan pemacu utama kekesalannya hingga merembet ke orang lain yang tidak berkaitan sama sekali.
"Semua tidak bisa menghargai kehadiranku, dia pikir kalau bukan aku yang selamatkan dia dari Rehan siapa lagi coba? Aku sudah berbaik hati malah di perlakukan tidak baik di permalukan depan semua orang, apa salahnya coba beri diskon atau beri percuma sekalian untuk membalas kemurahan hatiku yang sudah mau membuka kedok Rehan padanya. Pelayan di restoran itu juga nggak bisa apa kalau menagih bil itu yang sopan sakit, dasar kalau emang didikan dari atasannya nggak bagus maka nggak bagus lah bawahan, kalau aku jadi atasan mereka pasti akan ku ajar tata krama melayani pelanggan...". Desi terus saja mengoceh nggak jelas sampai akhirnya ia sampai di depan pintu kamarnya.
Ia mendapati Aldo belum juga bangun dari peraduan sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Pria itu sama sekali tidak ke kantor dan hanya keluar saat malam hari dengan alasan bertemu klien, seharian tidak ke kantor tapi malam nya bertemu klien, emang ada yah pekerjaan seperti itu?
Desi sama sekali tidak ambil pusing, percaya begitu saja dengan ucapan kekasih barunya. Bahkan mereka kini sudah tinggal bersama di rumah hasil jerih paya Rehan, Aldo beralasan tidak ingin berjauhan dari Desi ia selalu khawatir memikirkan Desi yang masih berstatus istri orang itu.
"Do! Bangun katanya ingin ketemu pengacara tadi sore, ini udah malam loh nggak jadi ketemu pengacaranya?". Bisik Desi manja di telinga Aldo.
Aldo sama sekali tidak terganggu dengan bisikan Desi, ia hanya menggeliat dan kembali tertidur pulas seperti bayi. Desi yang tidak tega mengganggu Aldo pun membiarkan saja pria itu tertidur lagi.
*
*
"Apa yang buat wajahmu ceria banget seperti itu?". Alena heran melihat Aisyah tersengir - sengir nggak jelas semenjak datang ke rumahnya tadi.
"Aku bahagia banget tau nggak, tapi aku nggak mau beri tahu kamu, ha ha ha". Gelak Aisyah pecah melihat mimik wajah Alena tampak kecewa.
"Ya udah kalah nggak mau kasih tahu, nah sana tuh pintu keluar sila angkat kaki dari rumah gue!". Usir Alena sebel.
"Berani lo usir gue dari sini jangan masuk kerja mulai besok". Ancam Aisyah tidak mau kalah.
__ADS_1
"Ampun bos! Ampun". Balas Alena memelas.
"Ha ha ha". Seketika Aisyah tergelak melihat ekspresi Alena yang berubah dari sebel menjadi memelas sekarang. "Becanda kok, udah jangan gituin muka kamu aku jijik lihatnya, ha ha ha". Sambung Aisyah.
"Dasar, tapi bagi tahu dong kenapa kamu bahagia banget gini?". Tanya Alena masih penasaran.
"Iya deh, untuk apa lagi aku sampai rela datang malam - malam gini ke rumah kamu kalau bukan ingin curhat, kamu tahu nggak aku habis ngerjain seseorang sampai ATM nya terkuras banyak?". Seru Aisyah mulai bercerita dengan antusias.
"Kamu mulai menjadi wanita nakal untuk ngerjain om - om yah, masih kurang harta yang kamu miliki sekarang sampai harus bekerja seperti itu? Aku aja yang nggak kaya kayak kamu nggak pernah mau menjadi wanita nakal meskipun lagi memerlukan uang banget, dan syukur aku tetap keluar dari kesusahan itu tanpa melakuka hal kotor". Cerca Alena tidak percaya jika sahabatnya yang kaya raya mau melakukan hal konyol di luar sana.
"Sudah selesai fitnahnya? Kamu yah mau souzon aja, emang kamu tahu siapa yang habis aku jailin? Nggak kan! Jadi stop buka mulut kamu itu!". Ujar Aisyah berbalik sebel.
"Eh, kamu pulak yang kesel sekarang, kan cuma becanda Aisyah sayang!". Bujuk Alena sambil memeluk Aisyah dari samping.
"Yaudah deh, bagaimana kalau aku traktir kamu bakso mercun level dewa gimana?". Bujuk Alena lagi.
Senyum terukir di bibir Aisyah setelah mendengar tawaran sahabatnya, ia cukup jarang makan pedas jika di rumah bukan karena tidak suka tapi ibunya sangat tidak mengizinkan Chef Renata untuk memasak makanan pedas demi kesehatan seluruh ahli keluarga nya. Jika ingin makan pedas maka harus diam - diam dan tidak di ketahui ibunya.
"Itu yang aku tunggu, akhirnya dapat makan pedas gratis lagi, kamu memang sahabat aku yang paling pengertian". Puji Aisyah. "Sana pergi cepat! Aku tunggu nggak pake lama tau!". Aisyah mendorong tubuh Alena keluar dari kamar agar segera mengambilkan makanan kesukaannya.
"Iya bawel!". Balas Alena sambil menuju ke dapur rumah makannya yang berada di lantai bawah untuk mengambilkan bakso mercun untuk Aisyah.
Beberapa saat kemudian Alena kembalu ke kamarnya dengan meneteng nampan berisi dua mangkuk bakso berbeda ada yang pedas tanpa mie yang satunya bakso biasa, juga beberapa rempah pelengkapnya sepersi jeruk nipis, saus sambel dan kicap manis.
__ADS_1
Mata Aisyah sampai tak berkedip menatap makanan miliknya bahkan hidungnya tidak habis mehendus aroma menggoda dari bakso mercun itu. "Siniin cepat aku udah laper banget tau nggak..". Pinta Aisyah nggak sabar. Mereka pun akhirnya menikmati makan malam mereka dengan hidangan yang mereka sukai.
Setelah habis baru lah Aisyah mulai menceritakan mengenai kejadian tadi saat dia bertemu dengan Desi di restoran milik keluarganya yang sekarang sudah beralih menjadi miliknya. Ketawa nyaring bergema di seluruh ruang kamar Alena akibat tawa keduanya.
"Entah bagaimana malunya dia saat udah niat banget memesan ruang VIP yang mewah dan semua jenis makanan mahal pikirnya kamu akan membayar semuanya itu untuk membalas budi sama kamu tapi eh nyatanya uangnya sendiri yang habis, ha ha ha". Tawa Alena pecah.
"Emang wanita kayak dia ada malu dalam kamus hidupnya, ha ha ha". Aisyah ikut tergelak lebar.
"Benar, pasti lepas ini dia akan kembali mengusik hidupmu tapi berkat dia juga kamu ada bukti yang akan kamu tunjukkan ke Rehan untuk menolak rujukkan. Apa salah nya kamu membalas budi walau sedikit ke dia?". Kata Alena membujuk..
"Dia mengatakan itu juga pasti ada maunya, ya buktinya dia ingin menumpang menikmati kemewahan. Aku bukan wanita bodoh Lena! Walaupun dia tidak memberi tahu aku tentang itu pun aku sudah memiliki bukti dari orang lain tentang niat terselubung Rehan mengajak rujuk. Lagi pula untuk apa aku balas budi sedangkan aku sama sekali tidak membalas sakit hatiku akibat perbuatannya dulu. .". Tolak Aisyah.
"Kejap - kejap kenapa aku mendengar ada orang yang masih sakit hatinya berpisah dengan mantan? Katanya udah move on tapi....". Goda Alena.
"Aku memang udah move on tapi maaf untuk melupakan kejadian di antara kami bertiga itu aku tidak bisa. Aku akan tetap membalas mereka berdua secara perlahan dan manis...". Ucap Aisyah menatap kosong ke hadapan.
"Aku pikir masih.....". Lagi - lagi ucapan Alena terpotong.
"Masih apa? Cinta maksud kamu? Udah nggak ada perasaan lagi untuknya lagi, jangan kan cinta yang ada aku benci banget lihat wajahnya, udah lah nggak tampan pengangguran pula banyak tingkah lagi, ehh". Ucap Aisyah sambil bergedil jijik.
"Jangan terlalu benci nanti jadi cinta". Goda Alena lagi.
"Lo masih mau ngomong kayak gitu lagi atau suku pecat sekarang!". Ancam Aisyah mulai kesal.
__ADS_1
"Iya maaf". Alena kembali memelas tidak mau di pecat meskipun dia tahu Aisyah hanya bercanda tapi dia tetap takut jika yang di ucapkan Aisyah benar terjadi. "Terus bagaimana kamu mengatakan penolakan mu pada Rehan?". Tanya Alena penasaran.