Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 206 Desi ketakutan


__ADS_3

Rehan kini pulang ke rumah nya, ia mendapati sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya. Wajah nya sama sekali tidak bersahabat karena ia sangat mengenali mobil siapa itu.


"Untuk apa ia datang ke rumah ku?". Gumam Rehan penasaran.


Sesampai di ruang tamu ia mendapati ibu nya sedang menjamu orang itu dengan sangat baik. "Kenapa ibu membenarkan wanita ini masuk ke dalam rumah ku?". Kesal Rehan pada ibunya. .


"Ibu sama sekali tidak bermaksud melanggar aturan mu, nak. Tapi lihat siapa ini? Dia mirip sekali dengan mu, nak...". Jawab bu Wahida menunjuk sebuah stroller yang terletak tidak jauh dari tempat ia duduk.


Rehan tahu maksud ibu nya tapi ia sama sekali tidak berminat untuk melihat siapa yang di maksud oleh ibunya. "Usir mereka keluar dari rumah ku segera! Sebelum aku bersikap kasar pada mereka". Tegas Rehan.


"Ini anak kamu mas! Kamu tega ingin mengusir nya dari rumah ayah nya sendiri. Coba lihat dia sebentar saja, mas. Dia sangat mirip dengan mu, dia sering sakit mungkin ia ingin bertemu dengan ayah kandung nya. Ia sudah berusia dua bulan dan mas tidak pernah ingin menjenguknya barang sekali pun. Walau bagaimana pun kita bermasalah, jangan libat kan anak kita dalam masalah kita. Dia tetap darah daging mu sendiri. ..". Imbuh Desi Lirih.


"Berhenti mengatas nama anak. Bukti apa yang bisa membuat aku yakin jika anak itu benar darah daging ku? Kamu pasti ingin menguras harta ku, kan makanya datang ke sini sok manis, sok lembut tapi sebenarnya ada maksud lain di dalam nya. Aku kenal kamu, Desi. Kamu jenis wanita yang datang untuk keuntungan kamu sendiri. Aku bukan Rehan yang dulu lagi yang bisa kamu per bodoh kan. Aku sudah berubah dan tidak akan mau peduli dengan semua yang bersangkutan dengan mu". Sahut Rehan membangkang ucapan Desi.


"Aku ada bukti jika Hansi adalah anak kamu, mas. Ini adalah hasil tes DNA kamu dan Hansi. Positif mas, positif! Kamu mau menelantarkan anak kamu dan sama sekali tidak ingin menafkahinya. Kamu ayah nya, kamu berkewajiban menafkahinya meskipun ia tinggal bersama ku". Jelas Desi. Ia menyodorkan sebuah kertas hasil tes DNA putrinya dengan Rehan.


Rehan mengambil kertas itu dan menemukan anak yang di lahir kan Desi benar anak nya. Dia memang tidak meragukan anak itu selama ini tapi sikap Desi dan perlakukan membuat nya turut membenci anak itu. Meskipun dalam lubuk hatinya ia sebenarnya sangat menginginkan seorang putri untuk menemani hidupnya.

__ADS_1


Rehan sepertinya luluh dan menghampiri bayi mungil itu. Benar saja, wajah bayi bernama Hansi itu sangat mirip dengan nya, lebih tepatnya mirip Albar semasa kecil. Ia tiba - tiba teringat dengan Albar. Anak yang menjadi penghalang kebahagian nya di kemudian hari.


"Anak ini pasti seperti Albar suatu hari nanti. Menjadi penyebab hidup ku sengsara. Lebih baik aku tidak memiliki anak ini sama seperti aku tidak ingin memiliki Albar. Aku tidak ingin menerima anak dari dua wanita yang membuat hidup ku sengsara. Anak yang mereka lahirkan pasti akan sama, sama - sama menyusahkan aku di kemudian hari". Gumam Rehan.


"Kamu harus menafkahi anak kita, mas. Dia juga anak kamu, jangan limpahkan semua nya pada ku. Kamu juga harus bertanggung - jawab terhadapnya. Kamu....". Desi ingin meminta nafkah anak pada Rehan tapi tatapan Rehan yang tajam membuat nya bungkam.


"Jika kamu tidak sanggup menafkahinya, buang saja! Aku sama sekali tidak ingin memberi mu uang sepersen pun. Mau itu alasan anak atau apa pun. Mau dia anak ku atau tidak aku tidak peduli. Aku tidak akan mengakui mereka sebagai anak ku. Jika kamu masih bersikukuh meminta nafkah anak dari ku, maka jangan salah kan aku jika kamu dan anak kamu itu mati di tangan ku!". Ancam Rehan dengan penuh penekanan.


Desi tercengang. Ia tidak menyangka jika Rehan akan menjelma menjadi pria yang sangat kejam seperti ini. Ia pikir dengan membawa bukti jika anak yang ia lahirkan adalah anak Rehan, ia akan mudah meminta uang pada nya sebagai bentuk pertanggung - jawaban.


"Kamu kok kejam begini mas. Kamu tega ingin membunuh anak kamu sendiri. Semenjak persidangan kita di putuskan dan aku di nyatakan kalah. Semua harta yang kamu berikan pada ku kembali menjadi milik mu. Padahal niat nya semua itu akan aku serahkan pada Hansi. Tapi kamu sama sekali tidak berperi kemanusiaan. Harta sedikit itu ingin kamu ambil kembali padahal harta mu udah cukup melimpah. Sekarang ekonomi aku dan Aldo semakin menipis, aku cuma minta kamu menafkahi anak kamu karena kami tidak cukup uang untuk membesar kan nya....". Lirih Desi masih belum menyerah.


"Sebelum kesabaran ku habis, cepat pergi dari rumah ku dan bawa anak mu ini!". Teriak Rehan mulai geram..


Desi tiada pilihan lain selain segera keluar dari rumah mewah milik Rehan membawa serta anak nya. Ia berharap sepulang dari sini ia menbawa begitu banyak uang tapi hasil nya malah zonk.


"Ternyata pria itu benar - benar sudah gila. Dia bukan hanya tega ingin membunuh kedua orang tua Aisyah tapi anak kandung nya sendiri pun dia sama sekali tidak peduli". Batin Desi setelah berhasil masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Ia menyetir sendiri mobil miliknya meninggalkan pekarangan rumah Rehan. Tiba - tiba ponsel miliknya berdering dengan nyaring mengagetkan nya. Ia segera menghubungkannya ponsel nya dengan handset.


"Halo, mas". Sapa Desi setelah panggilan terhubung.


"Bagaimana? Berapa yang di berikan untuk anak itu?". Tanya Aldo di seberang panggilan.


"Berapa apanya, mas? Aku nggak dapat apa - apa dari pris psikopat itu. Yang ada aku malah di ancam di bunuh oleh nya jika terus saja mengganggu hidupnya. Jangan kan mau peduli padaku, anak nya sendiri saja dia nggak peduli". Jelas Desi mengeluh. .


"Apa!". Teriak Aldo kesal. "Kamu bagaimana sih? Kamu pikir aku ini mau terus - terusan menghidupkan anak yang sama sekali tidak ada hubungan nya dengan ku. Terus anak itu di mana sekarang?". Tanya Aldo geram.


Desi sudah terbiasa mendengar Aldo tidak menerima anak nya dalam hubungan mereka. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain bertahan dengan Aldo karena saat ini dia sama sekali tidak memiliki penghasilan untuk menghidupi dirinya sendiri, bahkan sekarang ia harus menghidupi anak semata wayangnya.


"Ada di sini, mas. sama aku". Jawab Desi sedikit takut.


"Apa! Kamu nggak simpan aja dia di rumah bapak nya? Kalau dia tidak mau menafkahi anak nya yang kita besarkan seharusnya kamu simpan aja anak itu di sana. Jangan bawa pulang lagi! Kamu bagaimana sih!". Kesal Aldo.


"Mau aku sih begitu mas. Tapi dia malah ngancam aku akan membunuh Hansi kalau anak itu di tinggal di sana. Aku tidak mungkin tega membiarkan anak ku mati sia - sia...". Desi kembali menceritakan hal yang sebenarnya tapi Aldo tetap tidak mau menerima alasan apa pun dari kekasihnya.

__ADS_1


"Pokoknya aku tidak mau melihat anak itu ada di rumah ku jika bapak nya sendiri tidak mau memberi nafkah anak. Aku tidak sudi membesarkan anak yang bukan anak aku. Bawa dia kembali ke sana, mau di apa kan pun aku tidak peduli. Mau di siksa atau di bunuh sekali pun bukan urusan aku. Aku tidak akan menerima anak itu jika mantan suami kamu tidak memberikan aku uang. Kamu mengerti!". Tegas Aldo.


__ADS_2