
Rehan yang merasa di permalukan langsung berdiri dan menghentakkan meja dengan keras. Mata semua tertuju padanya. Belum habis rasa kaget mereka di tambah lagi dengan sikap Rehan yang tiba - tiba emosi.
"Saya di pecat hanya karena saya adalah mantan suami kamu, pernah sakiti dan menyianyiakan kamu dulu tapi aku sudah minta maaf dan menyesali perbuatan ku kan! Hal pekerjaan di kaitan dengan hal pribadi, nggak profesional banget kamu jadi atasan!". Protes Rehan pada Aisyah.
Semua orang memilih diam tidak ada yang berani membela maupun membengkak keputusan yang di berikan oleh atasan tertinggi mereka.
"Jaga bicara kamu pak Rehan! Di sini anda hanya lah bawahan dan terima saja keputusan dari atasan anda, semakin anda bersikap seperti ini akan semakin membuat malu sendiri nanti". Zidan yang merupakan asisten Aisyah memberi teguran keras.
Tapi Rehan sama sekali tidak peduli, harga dirinya bagai di injak - injak dalam ruang meeting ini. Beberapa hari ini ia begitu bahagia dan dengan percaya dirinya ia mengaku akan kembali menjadi suami kepada wanita pemilik perusahaan ke semua bawahan dan karyawan nya yang lain. Dari semalam mati - matian menghias ruangan nya untuk menyambut Aisyah hari ini. Penampilan yang ia tampilkan sekarag adalah bukti dia sangat antusias dengan kunjunga Aisyah hari ini ke kantor nya.
Wangi parfum yang sangat menyengat dari tubuhnya juga turut mempermalukannya, "Aku sudah lama mempersiap kan semua nya menyambut kedatangan kamu tapi ini balasannya! Kalau kamu memecat saya dengan tidak terhormat seperti ini saya yakin pak Panji akan marah, saya adalah salah satu bawahannya yang berhasil mengembangkan perusahaan ini sampai besar seperti ini. Bawahan kepercayaan di pecat secara tidak hormat tanpa melakukan kesalahan apa pun sangat mencerminkan kriteria anda yang tidak profesional dalam memimpin". Komen Rehan..
Aisyah tidak bergeming, tubuh di sadarkan ke dinding dan melipat tangan di dada menunggu Rehan puas mengeluarkan semua unek - uneknya. Sementara Rehan tidak hentinya merendahkan Aisyah di hadapan semua orang tanpa berpikir konsekuensi yang akan dia terima selepas ini karena sikap kurang ajarnya ini.
Alena dan beberapa orang bawahan Aisyah berusaha menghentikan Rehan dari terus berbicara menyakiti teringat tapi Aisyah mencegah mereka dengan mengangkat satu tangannya.
"Lihat saja nanti! Saya yakin bukan hanya saya saja yang akan di perlakukan seperti ini, kalian juga jika ada masalah pribadi dengan dia tapi memiliki prestasi bagus di perusahaan tetap akan di pecat secara tidak terhormat sama seperti saya saat ini. Jadi saya meminta kalian berdiri dan bersama - sama saya menentang ketidakadilan ini!". Rehan berusaha melakukan provokasi dengan mengajak semua orang untuk mendukungnya.
Tapi sayang, tiada satu orang pun yang berdiri untuk menolongnya, bahkan Haris asistennya sendiri yang sedari awal berdiri memilih duduk di kursi kosong terdekat agar tidak di pikir membela atasannya, alias bakal mantan atasan.
__ADS_1
"Nggak ada satu pun yang mau berdiri di samping saya untuk menentang ketidakadilan ini! Itu mengadakan kalian sama saja tidak adil!". Rehan menunjukan wajah semua orang dengan emosi.
"Sudah bicaranya?". Tanya Aisyah dingin pada Rehan..
"Terus kamu mau apa sekarang, hah! Mau memperlakukan aku dengan cara apa lagi setelah ini?". Tanya Rehan mulai menurunkan intonasi suaranya.
Ia baru sadar jika sikapnya ini akan menambah masalah dalam hidupnya, niatnya memprovokasi orang untuk mendukungnya tapi tiada satu orang pun yang berada di sampingnya bahkan Maya, teman istrinya sama sekali tidak peduli padanya.
"Jika sudah selesai saya ingin memanggil seseorang untuk masuk ke ruangan ini. Alena panggil dia!". Pinta Aisyah pada Alena.
"Baik". Jawab Alena. Ia kemudian berdiri, berjalan dan keluar ruangan. Beberapa saat kemudian Alena kembali dengan seseorang yang turut berjalan di belakangnya.
Rehan tercengang, lelaki yang berjalan bersama Alena itu adalah bukti masa lalu kelam yang ia sembunyikan.
"Kamu ingat siapa dia?". Tanya Aisyah matanya menatap Rehan tajam.
Rehan tidak bergeming, ia .memilih menunduk kan kepala tidak berdaya. Kedok nya yang berusaha ia tutupi selama ini tidak menyangka dapat diketahui dengan mudah oleh mantan istrinya.
"Saya ingatkan lagi ya pak Rehan. Jika anda membanggakan diri dan merasa tidak pantas di pecat kerana memiliki prestasi tinggi dalam pengambangan perusahaan, anda lupa siapa yang ikut andil di dalamnya? Siapa yang menguras otak demi mencari ide cemerlang untuk anda dulu? Saya juga tidak tahu hanya anda saja yang tahu..". Aisyah mengungkit masa lalu bersama Rehan dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Jika anda pikir saya tidak professional dalam memimpin, hal pribadi di sangkut pautkan dengan pekerjaan, lalu ini apa?". Aisyah emosi, menghempaskan kertas ke meja di hadapan Rehan.
Rehan melirik seketika dan sudah tahu apa yang di maksud dengan tulisan yang tertera di sana. Tubuhnya luruh dan terduduk lemas di kursinya.
"Silakan angkat kaki dari ruangan ini sekarang, kemasi barang - barang anda dan pergi dari kantor ini. Saya sudah cukup muak melihat muka tebal tidak tahu diri anda itu di kantor saya!". Usir Aisyah.
Rehan yang merasa cukup malu dengan berat hati berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Senyum mencemooh dari mantan bawahannya dapat ia lihat dari sudut mata. Sebelum keluar Aisyah kembali membuka suara.
"Ingat pak Rehan! Ini tidak akan berakhir dengan mudah". Ancam Aisyah.
Rehan membalikkan tubuhnya menatap ke arah Aisyah. "Silakan anda melakukan semuanya! Hancurkan saya sesuai keinginan anda". Jawab Rehan lalu melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
"Cih, masih sanggup rupanya dia membuka mulut busuknya itu. Memang lelaki tidak tahu malu". Cibir Alena geleng kepala.
Aisyah juga tidak percaya jika ayah dari anak sulungnya merupakan lelaki yang sangat tidak tahu diri dan tingkat ketebalan mukanya tidak di ragukan lagi. Dia menjadi nelangsa, sangat ingin memenjarakan lelaki itu tapi ia kasihan sama dengan nasip anaknya jika tahu ayah biologisnya merupakan seorang narapidana.
"Aku akan membuat hidupmu lebih sengsara dari pada hidup nyaman tinggal di hotel prodeo dengan tempat tinggal dan makan gratis. Lebih menyenangkan jika melihat kamu terlontang lanting di jalanan jadi gelandangan kalau boleh jadi pengemis sekalian supaya memudahkan aku mencari orang yang layak untuk menerima sedekahku". Gumam Aisyah dalam hati.
Sementara Rehan saat ini sudah berada di dalam ruangan nya memasukkan semua barang miliknya ke dalam kardus. Setelah selesai ia kembali mengitari setiap sudut ruangan dengan mata yang mulai berembun.
__ADS_1
"Mau saya bantu mengemasi barangnya, pak?".
Tiba - tiba pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita berdiri di sana.