
Rehan menghembus nafas kasar. Ia tidak menyangka jika ia akan di amuk warga akibat ulahnya yang tidam sadar kan telah mengakibatkan banyak kerugian pada dirinya sendiri. Sunggu Ia tidak pernah berpikir akan stagis itu sehingga membuat warga kota Makasa marah dan ingin membunuhnya.
"Saya meminjam seragam polisi kalian untuk keluar, saya akan menyamar sebagai polisi yang ingin mengiring ibu saya ke luar dengan selamat. Mereka pasti tidak akan mengenali saya jika saya menyamar sebagai polisi". Imbuh Rehan mencari akal untuk keluar dengan selamat tanpa ketahuan warga yang sedang demo karena perbuatannya yang tidak bisa di maaf kan.
Gala tersenyum kecut, permintaan Rehan sangat menentang peraturan kepolisian. Lagi pula niat sebenar ia mengatakan Rehan bisa di jamin hanya untuk mendapatkan keuntungan semata, sebenarnya kesalahan Rehan mustahil untuk di beri jaminan keluar. Sementara ia tahu jila warga kan berbondong - bondong datang untuk memberontak atas ketidakadilan jika Rehan di izinkan keluar sel untuk sementara waktu. Makanya mereka bertiga sepakat untuk mencari keuntungan dan beruntung niat mereka tidak tercium oleh siapa pun termasuk pengacara pribadi Rehan.
"Maaf pak Rehan. Kami tidak bisa memberikan seragam kami untuk menolong anda itu menentang peraturan kami sebagai polisi di kota ini. Jika anda ingin selamat dari amukan warga seperti cadangam saya tadi, mebginap lah di sini untuk semntara wakti sampai warga kembali tenang dan beraktifitas seperti biasa. Lagi pula mereka pasti akan tahu jika anda nekat keluar, meskipun anda berhasil tapi mereka pasti akan mengutus seseorang untuk memantau keadaan penjara, dan jika mereka tahu anda tidak berada di dalam, kemungkinan besar anda akan di cari sampai dapat..
". Jelas Gala.
"Benar apa yang di katakan Gala, pak Rehan. Jika warga berhasil menemukan anda i di luar nyawa anda pasti langsung lenyap di amuk warga sekitar....". Ujar Moli membenarkan perkataan rekan kerjanya.
Rehan menelan slavina kasar. Ingin menginap di kantor polisi seperti saran pihak polisi tapi ia harus menemui Robert dan yang lainnya di kota mati hari ini juga. Jika tidak datang, meskipun ia selamat dari amukan warga nyawanya juga tetap dalam bahaya karena Robert tidak suka di tentang jika sudah memberi perintah.
Rehan berperang dengan Pikirannya sendiri bagaimana menyelamatkan diri dari dua keadaan yang membahayakan nyawanya. Ia harus segera menentukan pilihan sebelum nyawa nya benar - benar melayang sia - sia.
"Kalau begitu saya akan keluar dari sini dengan cara saya sendiri. Mohon pak Polisi tidak menghalangi dan kalau bisa menolong saya untuk bisa keluar dari sini. Ingat ya pak Gala dan pak Moli, saya sudah mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk menjamin diri saya sendiri". Kata Rehan mengambil keputusan yang membuat pihak polisi pusing di buatnya.
__ADS_1
Gala, Moli dan beberapa pihak polisi membulatkan mata dengan keputusan yang di ambil Rehan. Mereka pikir Rehan akan memilih tinggal, tapi ternyata pria itu nekat menerobos warga yang sedang geram padanya. Jika Rehan berhasil pergi dari sini, maka mereka yang akan menerima akibat yang tidak bisa di maafkan oleh atasan mereka.
"Ba baik pak. Kami akan berusaha semampu kami". Balas Gala. Meskipun mulutnya menyetujui keputusan Rehan dan akan membantu Rehan tapi sebenarnya dalam hati berkata sebaliknya.
"Semoga pak Rehan di lolos keluar". Harap Gala dalam hati.
"Aku akan mencari cara agar warga tahu Rehan berusha keluar dari sini. Aku akan masuk dalam kerumunan warga untuk mengarahkan warga menghalangi pak Rehan pergi dari sini". Gumam Moli membatin.
Polisi yang lain juga sudah mengatur rencana untuk membuat Rehan tidak berhasil pergi dari sini. Mereka akan berpura - pura mengawal tapi sebenarnya mereka sendiri yang mengiring warga untuk melihat Rehan.
Setelah beberapa waktu menunggu, anak buah Rehan kini sudah datang tapi posisi mereka tidak bisa menerobos kerumunan warga yang sedang melakukan demo besar - besaran di sekitar Kantor polisi. Sedangkan pihak polisi juga sudah mengatur strategi untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, mereka tidak ingin keuntungan sedikit itu akan menghancurkan karir mereka sebagai polisi.
Rehan sudah keluar dari kantor dengan pakaian yang berbeda dan penyamaran yang sangat hebat. Tapi tetap saja warga bisa mengenali jika itu adalah dirinya setelah warga menerima arahan dari Moli yang sedang menyamar jadi warga biasa.
"Itu dia orangnya! Jangan biarkan dia lolos dari hukum. Kalau bisa kita bunuh dia sekarang juga!". Seru salah seorang warga memprovokasi warga lain untuk membunuh Rehan..
"Kamu harus merasakan sakit yang sudah ia berikan pada korban. Ia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan nya yang merugikan banyak orang...". Seru yang lain nya menyiran bensin ke dalam amarah warga.
__ADS_1
"Dia harus di hukum seberat - berat nya. Dia harus di hukum mati, jika sidang memutuskan ia bebas, lebih baik kita yang memberinya hukum mati! Orang seperti dia tidak pantas hidup di muka bumi ini, hanya menyusahkan orang lain saja!".
Teriakan warga bersahut - sahutan meluapkan kebencian pada sosok Rehan.
Rehan belum sempat menyelamatkan diri tapi warga kini sudah berhasil mengepung dirinya dan memberi pelajaran pada Rehan yang nekat keluar dari kantor polisi. Bu Wahida yang melihat anak nya sedang di kerumuni warga langsung histeris meminta pertolongan pada pihak polisi.
Sesuai ucapan Gala. Pihak polisi datang untuk menyelamatkan nyawa Rehan dari amukan warga. Mereka memberikan peringatan untuk membuat warga takut dan mundur tapi sayang nya aksi mereka tidak berhasil sama sekali. Warga tidak takut karena tahu itu hanya ancaman semata. .
Rehan kini sudah tidak sadar kan diri akibat pukulan warga.
"Berhenti! Jika kalian melepaskan anak ku maka aku akan memberikan kalian uang satu persatu. Lepaskan anak ku maka aku akan memberi kalian uang. Aku juga berjanji akan berlutut memohon ampun pada semua keluarga korban atas kesalahan yang sudah anak saya lakukan. Saya juga memberi pampasan pada setiap korban dan keluarga korban yang meninggal dunia akibat ulah anak saya. Tapi ku mohon lepaskan anak saya!". Lirih bu Wahida memohon kemurahan hati Warga.
Mendengar ucapan bu Wahida, ibu kepada pelaku. Warga menjadi lebih tenang, bukan saja mereka sudah berhasil meluapkan kekesalan pada Rehan meskipun tidak sampai meregang nyawa, mereka kini akan mendapatkan uang hanya untuk memberikan Rehan yang sudah tidak berdaya akibat amukan mereka pada pihak polisi. Biarkan pihak polisi yang menghukum Rehan selanjutnya. Keluarga korban juga akan mendapatkan pampasan sesuai kerugian mereka bahkan bisa lebih.
"Baik, ambil pria pembawa sial ini! Kami menunggu anda datang menepati janji anda. Kalau boleh sekarang saja agar kami bisa pulang dengan perasaan lega". Sahut salah seorang warga yang merupakan pimpinan mereka untuk melakukan demo pada Rehan.
"Terima kasih atas kemurahan hati bapak dan ibu. Saya akan meminta anak buah saya mengambil uang di bank dan mengalihkan pada kalian semua sekarang. Saya juga akan segera mendatangi korban dan keluarga korban untuk memberi pampasan kepada mereka atas kerugian yang telah mereka alami, yang saya tidak bisa jamin adalah untuk mengembalikan nyawa korban yang meninggal. ..".
__ADS_1