Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 115 khawatir


__ADS_3

"Rehan! Kamu mau kemana Rehan? Jawab dulu kamu setuju atau tidak?". Teriak bu Wahida.


Rehan membalikkan badannya menatap sang ibu. "Ibu bilang jangan buang - buang waktu! Sekarang ibu juga jangan duduk aja, kemasi pakaian ibu dan semua yang penting bagi ibu kita akan pergi malam ini juga ke kenalan ibu untuk menggadai semua itu". Jawab Rehan lalu melanjutkan langkahnya menuju walk in closet untuk memasukkan beberapa pakaian kedalam koper.


"Ibu benar, aku harus bergerak cepat pergi dari rumah ini membawa semau barang berharga yang bisa aku gadaikan, percuma jika aku mencoba bertahan demi menjelaskan hal yang sebenarnya pada Desi karena percuma pasti yang di harapkan selama ini adalah harta semata dan ini lah kesempatannya untuk mendapatkan semua itu dengan menjatuhkan ku...". Gumam Rehan sambil memasukkan beberapa pakaian dan semua aksesoris mahalnya ke dalam koper yang cukup besar.


Bahkan barang milik Desi yang masih tersimpan rapi di sana tidak luput dari penglihatannya. Ia akan menjual semua itu bila dalam keadaan mendesak. Emas, berlian dan aksesoris bersaiz kecil semua di masukkan ke dalam koper milihnya.


Di lantai bawa, bu Wahida juga mengemasi semua barang miliknya masuk ke dalam koper, sertifikat dan surat kepemilikan aset lebih dulu di simpan di tempat yanh sepatutnya. Setelah selesai, ia bergegas menyeret koper keluar dari kamar dan mencari keliat Rehan.


Beberapa saat kemudian Rehan muncul di atas tangga dengan menyeret dua buah koper yang cukup besar, ada juga ransel besar yang berada di punggung anaknya membuatnya tercengang. Ia pikir Rehan hanya membawa sedikit memandang kan dia adalah seorang lelaki.


"Jangan hanya bengong bu! Cepat kita pergi cepat dari sini sebelum Desi pulang". Ajak Rehan.


Tanpa banyak bertanya bu Wahida mengikuti langkah Rehan dari belakang. Setelah memasukkan semua koper ke dalam bagasi, Rehan melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah dengan tergesa - gesa.


"Dimana tempat kenalan ibu yang menerima gadaian itu?kita harus kesana sekarang". Tanya Rehan.


"Oh, ibu sampai lupa. Ke alamat ini saja". Bu wahida mengeluarkan secarit kertas dan menunjukkan kepada Rehan. Di kertas itu tertulis alamat kenalan bu Wahida yang bernama Ah Meng.


"Kita ke sana sekarang. Di sambut atau tidak kita pikirkan nanti saja yang penting kita ke sana sekarang". Kata Rehan seperti ketakutan.


"Tenangkan dirimu, nak! Jangan begitu, ibu jadi takut lihat kamu tahu nggak! Jangan cemas! Ada ibu yang selalu berada di samping mu". Pesan Bu Wahida sedikit khawatir dengan keadaan anaknya yang tiba - tiba bersikap aneh.

__ADS_1


"Ibu tenang aja, aku ok kok. Cuma sedikit takut jika semua aksi kita ini gagal". Jawab Rehan menggenggam tangan ibunya.


"Ibu ingat kan lagi ya Rehan! Jangan lagi berpikir ingin meninggalkan ibu sendiri di dunia ini, ibu nggak mau lihat kamu terpuruk lagi hingga berpikir ingin bunuh diri seperti dulu, ibu nggak sanggup..". Lirih Bu Wahida.


"Aku janji tidak akan seperti itu lagi bu". Janji Rehan berusaha tenang depan ibunya.


"Aku tidak akan bersikap bodoh lagi selepas ini yang harus ku lakukan sekarang adalah membangun kembali kesuksesanku yang sudah dua kali terenggut dari tangan ku, aku harus membuktikan pada dua wanita yang berhasil menghancurkan hidupku itu dengan keberhasilanku di masa depan". Tekat Rehan dalam hati.


*


*


Dengan perasaan gelisah, Aisyah menunggu kepulangan Zack hingga pukul 9 malam. Tidak biasanya Rehan pulang lambat seperti malam ini jika bukan karena ada meeting ya ada urusan lain yang harus segera di selesaikan. Tapi setiap akan pulang lambat pasti lelaki itu akan memberi kabar terlebih dahulu padanya tapu sekarang tidak hingga membuat dirinya semakin khawatir.


Ingin menghubungi lebih dulu tapi ia gengsi setelah perbincangan mereka tadi di restoran, mau bertanya pada ibu dan ayahnya makin tidak mungkin ia lakukan saat ini.


Pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. "Masuk aja, pintu nya nggak di kunci kok". Teriak Aisyah pada Mega.


"Zack ada menghubungi mu, nak? Kok jam segini dia belum pulang, biasanya kalau pulang lambat ia sempat diri untuk memberi kabar tapi malam ini tidak seperti biasa". Cemas Mega.


"Aku juga nggak di kabari nih, bu. tanya Alena juga tapi bilang nya nggak ada meeting kok malam ini, ibu nggak coba menghubungi Zack?". Tanya Aisyah mencoba tenang.


"Sudah, beberapa kali ibu telepon tapi nggak di angkat, bahkan pesan ibu cuma centang satu. Perasaan ibu tiba - tiba nggak enak". Balas Mega sambil berjalan bolak - balik di hadapan Aisyah.

__ADS_1


"Ibu tenang dulu yah! Dia pasti baik - baik saja, Aish akan mencoba menghubungi pak Jefri lebih dulu, ibu tenang yah". Saran Aisyah mulai menghubungi pak Jefri.


Setelah mengetahui Zack tidak bersama pak Jefri bahkan seharian ini ia tidak bertemu dengan pria muda itu. Pak Yunus, pengacara yang menangani kes pak Anjas dan Cleo pun sudah di hubungi dan jawabannya tetap sama, pak Yunus juga tidak mengetahui keberadaan Zack saat ini. Aisyah kemudian menghampiri ibunya yang masih tampak sangat khawatir dengan keadaan Zack.


"Bagaimana, apa yang di katakan pak Jefri?". Tanya Mega.


"Mungkin dia sedang bersama teman - temannya, bu. Refreshing gitu". Ucap Aisyah mencoba menenangkan ibunya.


"Ya udah, kamu coba hubungi Zack terus ya beri tahu ibu kalau sudah dapat kabar". Pesan Mega berlalu keluar dari kamar Aisyah dengan membawa kembali kekhawatirannya tentang keselamatan anak angkatnya.


"Kemana lah sih Zack ini? Saat aku menunggu nya begini ingin menanyakan keadaan Jasmin bagaimana dan di mana sekarang ia malah nggak pu....". Aisyah menutup mulutnya teringat sesuatu.


"Jangan - jangan Zack sudah tahu lebih dulu keadaan Jasmin dan memilih pergi sendiri memastikkan keadaan sahabatnya tanpa mengabari aku dan keluarga terlebih dahulu, atau jangan dia....". Pikirannya semakin kalut, ia takut jika apa yang dia pikirkan benar terjadi.


Panggilan dari nomer yang tidak di kenali tadi siang dengan perkataan mengancam membuatnya berpikir sekarang Zack dalam keadaan bahaya. Bingung harus melakukan apa sekarang, ia menurunkan gengsinya dan mulai menghubungi Zack, satu sampai lima kali panggilan tidak di angkat bahkan sekarang nomer Zack tiba - tiba tidak aktif. Pikiran Aisyah menjadi semakin takut, tapi jika dia keluar dengan keadaan cemas begini yang ada kedua orang tuanya curiga dan mulai mengintrogasi nya. Kesehatan Panji harus di jaga dari berita yang tidak mengenakkan ini bahkan Mega yag terlihat sehat - sehat saja belum tentu sanggup mendengar berita mengejutkan dari anak angkatnya, sedangkan apa yang Aisyah pikirkan saat ini belum tentu benar.


Ia beralih menghubungi Alena untuk datang kerumahnya sebagai alasan dirinya diizinkan keluar saat malam hari begini.


Aisyah menceritakan semuanya pada Alena dimulai dari panggilan yang tidak di kenali hingga kabar Zack yang sampai saat ini masih buram. Aisyah terdengar sangat khawatir hingga bercerita sambil tersedu - sedu menahan pilu.


"Baik lah, aku kesana sekarang! Tapi kalau boleh kamu tenangkan dulu pikiran kamu buang semua firasat buruk itu yakin jika Zack sekarang baik - baik saja, ok?". Ujar Alena setuju setelah mendengar curhatan Aisyah tentang Jasmin dan Zack.


"Cepat yah! aku akan menugaskan beberapa pengawal untuk berjaga - jaga di sekitar kita". Ujar Aisyah mengakhiri panggilan.

__ADS_1


Aisyah kemudian menghubungi ketua pengawal nya untuk siap sedia dengan anggota yang banyak untuk mencari keberadaan Zack saat ini.


__ADS_2