Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 62 kecupan di luar kesadaran


__ADS_3

"Bukan tuan Anjas yang telah melakukan semua kejahatan ini demi memenuhi keinginan anak semata wayangnya, melainkan tunangan tuan sendiri yang melakukannya demi sebuah obsesi memiliki anda satu - satunya". Seru Danial berkobar - kobar menyampaikan kebenaran yang baru saja dia ketahui faktanya.


Zack yang mendengarnya tampak syok, wanita yang terlihat kalem, manja dan penurut tidak menyangka memiliki sifat kejam dan sanggup melakukan tindak kriminal di luar nalar. Memang Cleo sangat pencemburu tapi semua itu tidak membuat Zack berpikir bahwa dirinya lah yang sanggup membunuh semua wanita yang dekat dengan pujaan hatinya.


"Dan ada satu lagi yang pasti akan membuat tuan semakin syok mendengarnya". Danial mencoba memancing emosi bosnya.


"Kamu jangan bertele - tele! Katakan saja sebelum kamu aku masukkan ke dalam samsak itu!". Ancam Zack dengan mata menatap tajam ke arah tangan kanannya.


"Tuan Anjas juga sebenarnya tahu semua yang di lakukan Cleo, tapi ia memilih tutup mata dan mendukung Cleo tapi bukan dengan melindungi anaknya itu, tapi dengan tidak mengatakan pada sang istri tentang kelakukan anaknya di luar sana... Dan yang tuan Anjas ternyata juga sedang merencana sesuatu untuk melindungi perbuatan keji yang dia lakukan dulu pada keluarga Purbalingga". Jelas Danial panjang lebar.


"Katakan!". Perintah Zack dengan dingin.


"Itu yang perlu kita cari tahu sekarang tuan, bawahan kita masih berusaha untuk menyelidiki lebih lanjut tentang semua itu, tapi saya yakin ini ada kaitannya dengan kehilangan anak biologis tuan Panji dan nyonya Mega...". Jawab Danial.


"Bagus! Terus awasi pria tua itu, jika perlu masukkan anak buah kita untuk mengintai di sana". Tegas Zack.


"Baik tuan".


Mereka akhirnya memilih meninggalkan markas setelah membersihkan diri masing - masing dan menuju rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit Zack kembali melihat Rehan yang berusaha mendekatinya. Zack berjalan santai saja menunggu sandiwara apa lagi yang akan lelaki itu lakonkan di hadapannya untuk mendapatkan perhatiannya.


"Tuan Zack apa kabar?". Sapa Rehan dengan ramah.


"Katakan apa yang kamu perlukan!". Balas Zack dingin tapi tetap melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Aisyah.


"Oh tidak ada yang penting saya cuma sangat khawatir pada keluarga anda terutama tuan Panji, saya dengar dia pernah kena serangan jantung dan di rawat di rumah sakit, apa kah tuan Panji masih di rawat? Izinkan saya menjenguknya, saya yakin tuan Panji sangat senang jika saya datang..". Kata Rehan terus terang.

__ADS_1


"Dari mana pak Rehan tahu jika Daddy saya senang jika anda datang?". Dingin Zack dia terpaksa menghentikan langkahnya karena ruangan Aisyah sudah dekat.


"Karena saya adalah direktur kepercayaannya". Jawab Rehan dengan sangat yakin.


"Tapi sayangnya itu dulu, sekarang beliau tidak lagi memikirkan soal perusahaan otomatis nama anda sudah tersingkir dari ingatannya". Zack melanjutkan langkahnya setelah melihat reaksi Rehan yang tampak malu mendengar ucapannya.


Rehan masih berusah mengikuti Zack dari belakang. "Tapi izinkan saya masuk menjenguk tuan Panji, jujur saya sangat mengkhawatirkan keadaannya". Bujuk Rehan tapi tidak di endahkan oleh Zack.


Sebelum masuk ke ruang rawat Aisyah, Zack kembali menoleh kebelakang, "Semoga sidang perceraian kamu berjalan lancar". Ucap Zack lalu meninggalkan Rehan dengan wajah bingungnya.


"Darimana dia tahu tentang kasus perceraian ku dengan Aisyah, atau jangan - jangan...". Batin Rehan berandai - andai. Ia memilih pergi dan menuju ruang rawat istri keduanya daripada larut memikirkan hal yang membuatnya pusing tuju keliling.


Di dalam ruangan, Aisyah masih terlihat tidur dengan pulas setelah mendapatkan donor darah dari orang yang tidak ia ketahui identitasnya.


"Bagaimana keadaanya?". Tanya Zack pada bik Saras yang sibuk menidurkan baby Albar di sofa.


Zack pun tidak ingin beranjang dari sana dan memilih duduk dengan senyap di sofa lain di ruangan itu, ia bermain ponsel dan yang pasti sekarang lagi drop kembali setelah melakukan transfer darah ke Aisyah.


Tak lupa juga dia mengirim pesan pada sang wanita yang telah membesarkan sejak kecil untuk beristirahat. Ia tidak ingin semua orang yang dia sayangi sakit dalam satu masa pula tuh. Dia pasti tidak akan fokus melakukan sesuatu jika itu terjadi.


Tanpa sadar karena kelelahan seharian di kantor dan markas, Zack tertidur di sofa dengan posisi duduk yang tampak kurang nyaman. Beberapa saat kemudian Aisyah terbangun dari tidurnya, bik Saras menghampiri setelah meletakkan baby Albar di sofa dengan aman.


"Kamu perlu sesuatu, nak?". Tanya bik Saras penuh perhatian sambil meninggikan sedikit posisi duduk Aisyah.


"Aku mau air buk". Pinta Aisyah dengan suara kecil karena masih lemas.


Bik Saras mengambilkan air minum untuk Aisyah dan menolongnya wanita itu untuk minum. Setelah minum Aisyah mencari keberadaan anaknya yang ternyata tertidur pulas di sofa bersama seorang pria yang tak terlalu jauh dengannya.

__ADS_1


"Kenapa ia tidur seperti itu buk? Tubuhnya pasti pegal - pegal saat bangun jika tidur dengan keadaan seperti itu dalam waktu yang lama". Ucap Aisyah kesihan melihat atasannya yang sekarang merangkap adik angkatnya.


"Ibu takut membangunkannya, dia pasti marah". Bisik bik Saras di telinga Aisyah.


"Ibu ini ada - ada saja, orang baik seperti itu kok di takuti sih". Lucu Aisyah sedikit menahan tawanya.


Bik Saras tetap menggelang kepala menolak untuk membangunkan Zack.


"Ok nggak papa, tolong ambilkan ponselku dong buk!". Pinta Aisyah. Bik Saras yang bingung dengan apa yang Aisyah akan lakukan tetap mengambilkan ponsel milik wanita itu yang tadi sempat di mainkan oleh sang buah hati.


Aisyah menekan nama "My bos" untuk di hubungi. Tak lama ponsel Zack berdering dengan nyaring mengangetkan yang empunya ponsel tak terkecuali Aisyah dan bik Saras. Dengan cepat Zack menekan tombol hijau setelah melihat nama yang menghubunginya.


"Kamu sudah bangun?". Tanya Zack masih berusaha mengumpulkan nyawanya. "Kok kamu malah diam?". Tanyanya lagi ketika tidak mendengar jawaban dari wanita itu.


Tiba - tiba terdengar tawa garing tak jauh dari tempatnya membuat Zack baru tersadar dia sedang berada di mana sekarang. Dia mendongak menatap wanita cantik dengan wajah pucatnya sedang menertawakannya. Tanpa di undang, bibirnya turut tersenyum melihat keceriaan wanitanya itu.


"Maaf, soalnya kamu lucu sih". Kata Aisyah berusaha menahan geli di perutnya.


Zack berdiri dan menghampiri wanitanya, senyum di wajahnya sudah hilang dan memaparkan wajah dinginnya saja. Aisyah yang melihatnya langsung tertunduk takut, khawatir jika lelaki itu marah karena tingkah konyol nya barusan dan malah menertawakannya.


Zack sudah berada di spring brangkas milik Aisyah, dia memegang dagu wanitanya dan menarik agar Aisyah mendongak dan menatapnya. Kini mata mereka saling bertemu dengan perasaan masing - masing. Zack terus saja menatap bibir pucat milik Aisyah tanpa berkedip sedangkan Aisyah seolah terhipnotis dengan mata indah milik lelaki di hadapannya.


Jarah antara Waja mereka semakin terkikis hingga pada akhirnya Zack berhasil memberi kecupan yang cukup lama pada bibir Aisyah.


"Ekhhm ekhhm".


Deheman seseorang menyadarkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2