Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 45 Frustasi


__ADS_3

Rumah kontrakan sederhana yang hanya memiliki dua kamar, satu kamar kecil dan terletak di lorong sempit desa M. Bik Saras sengaja membawa majikannya itu ke desa ini karena terletak jauh dari kota Makasa di mana suaminya berada.


Di dalam salah satu kamar yang tidak begitu besar, Aisyah termenung sambil menatap kosong ke arah jendela yang terbuka lebar. Suasana desa yang terlihat asri dan damai di luar jendela tidak dapat mengalihkan pikirannya dari memikirkan nasib hidupnya bersama sang buah hati di masa depan.


Dia beralih menatap baby Albar dengan sendu, bayi kecil itu masih tertidur pulas di kasur sederhana miliknya, meskipun tak begitu empuk seperti sebelumnya, tapi baby Albar tetap terlihat lebih nyaman sekarang. Angin segar di pagi hari bertiup masuk menyejukkan ruangan bagai pendingin udara alami yang menambah sensasi nyaman padanya.


"Mama harap kamu tetap bahagia walau kita hanya tinggal berdua, sekarang besok dan seterusnya mama akan selalu berjuang untuk membahagiakan mu dan membesarkan mu hingga menjadi anak yang sholeh dan berguna. Mama tak akan pernah melarang mu bertemu dengan papa Rehan, tapi tetap la bersama mama walau bagaimana pun caranya...". Lirihnya sambil membelai pipi sang anak. Melakukan itu dapat mengurangi sedikit kesedihannya.


"Baby Albar belum bangun?". Bik Saras muncul dengan meneteng nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan sayur tumis dan tempe, dan segelas susu segar. Dia sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak mendapat sahutan. Jadi dia langsung masuk karena tahu majikannya itu pasti lapar.


Bik Saras tetap bekerja dengan Aisyah walau pun majikannya itu sekarang hanya tinggal di rumah kontrakan kecil. Bukan gaji yang menahannya bertahan, tapi rasa kasihan dan prihatin melihat majikannya itu membesarkan anaknya seorang diri dalam keadaan yang masih terpuruk lah yang mendorongnya tetap ingin menemani mereka.


"Terima kasih yah bik! bibik masih mau bekerja dengan ku walaupun gaji bibik terpaksa dikurang separuh dari biasanya, tapi aku janji bik selepas ini aku akan berkerja keras supaya bisa mencukupi semuanya". Ucap Aisyah tulus.


Begitu tersentuh dengan kebaikan yang di berikan wanita di hadapannya. Gaji yang dia simpan selama beberapa bulan tersisa sedikit karena di gunakan untuk membeli kamera untuk mengawasi anaknya saat di rumah sebelumnya, dan membiayai perawatan kecantikannya.


Sekarang malah harus membayar kontrakan yang di sewa selama dua tahun, membeli bahan makanan dan keperluan lain untuk mereka bertiga hingga uang untuk membayar gaji ART nya itu tidak cukup dan terpaksa di kurangi.


"Iya nggak papa kok! bibi ikhlas, bibi sudah sayang banget dengan kalian berdua. Walaupun baru bekerja sebulan lebih, tapi kamu sudah bibik anggap seperti anak bibi sendiri. Mulai sekarang jangan panggil bibi! panggil ibu saja seperti Zadan memanggil ibu..". Jawab bik Saras membelai lembut pipi Aisyah dengan lembut.


Mendengar itu membuat Aisyah terharu, hatinya tersentuh dan langsung memeluk tubuh kecil bik Saras dengan hangat. Tangis haru terdengar dari bibirnya, Bik Saras membalas pelukannya dan ikut meneteskan air mata.


"Sudah, jangan terlalu sering menangis!". Bik Saras mengusap air mata Aisyah dengan kedua tangannya. "Mulai sekarang kamu dan baby Albar harus selalu bahagia, lupakan semua kesedihan yang melanda hatimu! Kamu berhak bahagia nak, berjuang lah! Tunjukkan pada mereka bahwa kamu wanita yang tangguh yang akan jauh lebih bahagia tanpa mereka, buat mereka menyesal telah menyianyiakan hadir mu, nak!". Imbuh bik Saras menyalurkan semangat pada Aisyah.


Aisyah mengangguk perlahan, perhatian dan setiap ucapan wanita paruh baya itu selalu berhasil menyadarkannya dari kesalahan yang bisa membuatnya hilang kewarasannya.


" Emmmmhhh".


Mereka berdua serentak menoleh pada baby Albar yang menggeliat bangun dari tidurnya. "Anak mama udah bangun ya, sayang". Aisyah langsung mengambil anaknya dan memeluk penuh kasih sayang


*


*


Sementara Aisyah makan, bik Saras mengambil baby Albar keluar berjemur di bawa sinar matahari pagi setelah selesai memandikan. Konon nya kaedah ini juga bisa membantu pertumbuhan bayi, selain juga bisa menghibur bayi itu agar tidak terlalu terkurung di dalam rumah.


Tring

__ADS_1


Ponsel Aisyah berdering, dia terhenti mengurungkan dulu niat untuk ke dapur.


"Hay, Syah! Bagaimana kabar kamu hari ini? Sudah mendingan?". Terdengar suara wanita menyapanya dengan lembut yang tak lain adalah Jasmin, pengacara sekaligus temannya.


Aisyah memang sempat mengalami demam karena banyak pikiran dan di pacu juga dengan cuaca di desa yang jauh berbeda dengan cuaca di kota. Dia terpaksa mengundur pertemuan dengan Jasmin untuk membicarakan tentang gugatan cerainya.


hanya ada dua kenalan yang tersimpan dalam sim baru yang dia gunakan sekarang, Zack dan Jasmin, pengacaranya. Dia mengganti semua nomer dan akun yang dia gunakan sebelumnya supaya tidak bisa di lacak oleh bakal mantan suaminya, Rehan.


"Alhamdulillah, kamu sendiri? Kita sudah bisa bertemu hari ini kan?". Balas Aisyah yang kembali tersenyum dengan perhatian yang di berikan oleh temannya itu.


"Aku? aku sentiasa sehat batin! siapa yang mau nyakitin aku? Malah aku yang akan nyakitin mereka....". Sahut Jasmin menghibur. "Aku cuma tunggu jadwal kamu aja, aku selalu siap kok bertemu. Kamu kan klien aku, apalagi kamu itu sahabat baik aku sekarang, sudah lama juga kita tak bertemu, rindu juga sebenarnya.". Sambungnya lagi.


"Kamu bisa saja, aku juga rindu kamu kok! Kita bertemu hari ini aja bagaimana?". Tanya Aisyah.


"Sudah tentu! jam sebelas pagi kita bertemu di restoran. Kamu share aja lokasi restorannya! Aku akan ke sana tepat waktu...". Jawab Jasmin antusias.


"Baik lah, aku akan cari restoran yang menyajikan makanan paling enak di kota M, kamu datang yah! sampai bertemu nanti...". Kata Aisyah.


"Ok, sampai ketemu nanti..". Balas Jasmin. Lalu panggilan di matikan.


Setelah meletakkan kembali ponselnya, Aisyah melangkah menuju dapur ingin mencuci piring yang habis dia gunakan. Lalu dia berniat ingin memanggil bik Saras masuk kedalam karena sudah terlalu lama di luar membawa baby Albar berjemur. Saat sampai di depan pintu, tampak bik Saras sedang berbicara dengan seorang lelaki berbadan besar dan tinggi. Dari kejauhan tampak bik Saras tegang mendengar pria itu sampaikan, tapi Aisyah tidak bisa mendengar jelas apa yang dia katakan.


"Siapa pria tadi bik, eh ibu?". Tanya Aisyah penuh selidik.


"Em, me - dia hanya mampir numpang nanya keberadaan seseorang". Jawab bik Saras gelagapan. Wajahnya terlihat menyembunyikan sesuatu dari Aisyah.


Tapi Aisyah tidak ingin bertanya lebih, takut itu adalah privasi yang akan membuat wanita di hadapannya menjadi tidak nyaman. "Oh, aku pikir siapa tadi? Ya udah, baby Albar nya siniin aja bu, takut ibu kecapean gendongnya..".


"Nggak kok, ibu senang kalau jaga baby Albar. Biar dia sama ibu aja, kamu pergi bekerja saja! dia enteng kok anaknya..". Tolak bik Saras untuk memberi ruang Aisyah bekerja.


"Baik lah kalau begitu, aku masuk kamar dulu yah ibu! Kalau baby Albar nya rewel, bawa ke kamar aja yah!". Ucap Aisyah sedikit sungkan selalu merepotkan wanita itu.


"Iya sudah sana! masuk!". Usir bik Saras. Dia kemudian masuk ke dalam dapur untuk mengambilkan bubur untuk disuap kepada baby Albar sudah terlihat lapar.


Selama beberapa hari tinggal di kontrakan ini, seputar itu saja kegiatan yang dilakukan Aisyah. Pagi hari mengerjakan tugas yang diberikan Zack melalui email nya lalu mengirim kembali hasilnya pada pria itu. Setelahnya barulah dia meluangkan masa bersama sang buah hati, kurangnya aktivitas membuatnya sering bersedih kembali saat mengenang nasib anaknya. Oleh karena itu dia berniat menambah aktivitas yang bisa di kerjakan untuk mengalihkan perhatiannya dari terus bersedih.


"Bagaimana kalau kamu lanjut sekolah aja?". Zack memberi saran melalui pesan di aplikasi wachat setelag mendengar curhatan Aisyah.

__ADS_1


"Aku akan pikirkan lagi nanti". Jawab Aisyah.


"Kalau kamu mau, aku akan tolong mengaturnya!". Balas Zack.


"banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan, jika aku ingin menduduki bangku pendidikan dari dasar". balas Aisyah.


"kamu itu cerdas Aisyah, jika kamu memiliki ijazah dari jenis apa pun itu, kamu pasti bisa menggenggam dunia dengan kecerdasan yang kamu miliki". Balas Zack.


Aisyah tidak membalas pesan Zack lagi, saran yang di berikan oleh atasannya itu memang masuk akal. Zaman sekarang begitu memudahkan seseorang seperti Aisyah untuk melanjutkan study, bukan hal sukar baginya asal punya keinginan, tekat dan uang tentunya.


*


*


Sementara di tempat lain, Rehan sedang frustasi mencari keberadaan istri pertamanya. Dia dan Desi sudah sah menikah secara siri keesokan harinya setelah malam penggrebekan itu. Bukannya merasa senang karena memperistrikan cinta hati nya selama ini, dia sekarang malah sedih dan marah atas kepergian Aisyah dari sisinya.


"Kalian memang tidak becus! Tak kan menemukan keberadaan istri saya saja tidak bisa!". Teriak Rehan penuh emosi pada agen yang dia bayar untuk mencari istrinya.


"Maaf kan kami tuan! Keberadaan nyonya Aisyah tampaknya sukar untuk di temukan, akses untuk kami sepertinya dihalangi oleh seseorang yang lebih tangguh...". Jawab agen Dazar dengan wajah datar. Kemarahan atasannya itu sudah biasa baginya.


"Alasan saja kamu! Kalau memang ngga becus ya, nggak becus aja. Sekarang pergi! Cari dia sampai dapat". Teriak Rehan dengan nyaring, tangannya bergetar menahan amarah.


"Baik tuan!". Agen Dasar berlalu dari hadapan bosnya.


Bruk


Rehan meninju tembok beberapa kali melampiaskan kemarahannya. Saat puas memukul tembok, tampak cairan merah segar menempel di muka tembok. Darah bercucuran keluar dari tangan kirinya yang terluka.


"Apa yang kamu lakukan mas? Kenapa tangan kamu sampai berarah seperti itu?". Desi tiba - tiba masuk dan langsung kaget melihat tangan suaminya sudah meneteskan darah dengan deras. Wajahnya tampak sangat khawatir dengan keadaan suaminya itu.


Rehan tidak menggubris, dia membalikkan badan dan menghempaskan punggungnya di sofa dengan kesal.


Desi menghampiri Rehan dengan wajah cemas, dia kemudian duduk bersimpuh di hadapan Rehan dan memeriksa tangan suaminya itu.


"Aku ambilkan obat dulu yah!". Lirihnya lalu beranjak dari hadapan Rehan.


"Nggak perlu! Keluar! Aku ingin sendiri. ..". Usir Rehan.

__ADS_1


"


__ADS_2