Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 166 Buah misterius


__ADS_3

Selama satu jam Titin memopong Aisyah di punggungnya manakala bu Sukma membawa Albar tanoa henti, tekat mereka mengabulkan permintaan Aisyah sangat tinggi sehingga mereka tidak kenal lelah. Sesampai di rumah gubuk di tengah hutan Titin dengan hati - hati meletakkan Aisyah di lantai kayu dan membarigkannya di sana.


"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga di sini". Sahut Titin merasa lega melepas lelah nya. Tampak gubuk ini kosong karena penghuni nya kembali ke kota seperti biasa, hanya akan ke gubuk ini ketika berburu saja.


Saat masih belum kerja di mansion Purbalingga, Titin sering ikut bersama teman nya itu masuk ke hutan untuk berburu dan akan beristirahat di gubuk ini ketika lelah dan untuk menyimpan hasil buruan mereka sementara waktu sebelum mereka pulang.


"Dari mana kamu tahu di dalam hutan ini ada gubuk?". Tanya bu Sukma pada anaknya.


Wanita tua itu juga tampak masih kuat di usianya yang sudah senja. Berjalan selama hampir sejam di dalam hutan masih bisa ia lakukan sambil membawa seorang anak kecil. Membesar di kampung membuatnya tubuhnya kuat dan tidak mudah di makan usia.


"Dulu aku sering ke sini bersama teman untuk berburu mengisi masa luang dengan minat yang sama". Jawab Titin sambil memejamkan matanya menghilangkan sedikit lelah yang di rasakan nya.


Bu Sukma mengangguk mengerti tapi Ia masih belum bisa terlelap sebelum mereka sampai di tempat yang lebih aman dan tidak terjangkau oleh polisi dan suruhan majikannya.


"Terus sekarang kita harus bagaimana?". Tanya bu Sukma tapi tidak mendapat tanggapan dari anak nya. "Ini anak malah asik tidur kalau mereka datang bagaimana? Di sini kayaknya masih bisa di terjangkau oleh mereka...". Bu Sukma terus mengomel karena khawatir dengan keadaan mereka.


Bukan itu saja, di hutan ini masih rawan hewan liar kalau tiba - tiba mereka di serang itu yang membuat bu Sukma cemas sehingga tidak bisa tidur dan memilih berjaga sepanjang malam untuk memastikan keselamatan mereka berempat.


Keesokan hari nya, Titin terbangun karena ibunya asik mengganggu tidurnya.


"Bangun Titin, bangun! Ini udah jam berapa kita harus gerak sekarang.....". Bu Sukma terus saja memanggil anak nya sambil menggerak - gerakkan tubuh gagah itu.

__ADS_1


"Ibu kenapa tidak tidur sih?". Bukan nya bangun menenangkan sang ibu, Titin malah menginginkan wanita itu untuk tidur.


"Tidur, tidur. Kamu yang bangun sekarang! Ibu khawatir posisi kita saat ini di temukan oleh bawahan majikan kita". Ujar bu Sukma.


Memahami kekhawatiran ibu nya, Titin memaksa tubuhnya bangun dan mencari air untuk membasuh muka agar lebih segar. Setelah merasa lebih segar ia berjalan menuju hutan untuk mencari buah - buahan hutan yang biasa ia temukan saat berburu dulu. Mengumpulkan banyak buah - buahan sambil sesekali menikmatinya juga.


Titin kembali setelah beberapa saat menghilang meninggalkan ibunya yang terus mengoceh dalam hati. "Kamu kalau mau pergi itu bilang - bilang dulu napa sih? Ibu tadi sempat mau cari kamu tahu tapi ibu tidak mau meninggalkan mereka yang masih lelap tertidur". Serta bu Sukma kesal.


"Hus, di hutan tidak boleh banyak bicara! Lebih baik ibu makan buah ini untuk mengisi perut agat bertenaga lagi". Titin meletakkan begitu banyak buah liar di hadapan ibunya.


Bu Sukma menatap heran pada bentuk buah itu. "Ini bisa di makan?".


"Ya bisa lah, buk. Nih lihat aku makan. Rasanya itu kayak buah apel cuma teksturnya sedikit lembut. Tapi ini lebih enak dari buah mana pun yang pernah aku makan sepanjang hidup". Imbuh Titin meyakinkan.


"Yang kamu bilang memang benar, nak. Buah ini memang sangat sedap". Gumam bu Sukma.


Aisyah membuka matanya dan masih merasa sedikit pusing, mencium aroma buah yang sangat menggiurkan membuatnya memaksakan tubuhnya untuk bangun. Bu Sukma turun membantunya untuk duduk dengan nyaman dan memberikannya buah itu.


"Makan lah agar tubuhnya kembali bertenaga, sebentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan...". Bu Sukma kembali mengambil buah dan memakannya aga Aisyah yakin.


Sebenarnya Aisyah enggan memakan buah di tangannya tapi karena merasa sangat lapar dan aroma buah itu juga sangat menggoda akhirnya Aisyah memakannya juga. Sama seperti bu Sukma, Aisyah juga sangat menikmati buah itu setelah mengetahui rasanya.

__ADS_1


Titin kembali pamit ingin melalukan sesuatu sebelum berangkat. Bu Sukma dan Aisyah tidak bisa menghalangi karena yang di lakukan Titin pasti untuk kebaikan mereka.


Titin menuju sebuah pohon besar yang tidak jauh dari gubuk lalu memanjat nya. Keahliannya memanjat pohon itu membuktikam jika ia sering melakukannya. Sesampai di posisi ternyaman, Titin mengeluarkan ponselnya. "Bagus". Gumam nya lega karena ponselnya berhasil menarik rangkaian.


"Hello Tuan". Sapa Titin setelah panggilan terhubung.


"Dimana posisi kamu sekarang? Saya sudah mengirim mobil menuju jalan berhampiran lokasi yang kamu berikan. Segera ke sana sebelum ada yang menemukan kalian". Balas seseorang dari seberang panggilan.


"Terima kasih tuan karena sudah memahami permintaan non Aisyah". Titin merasa bersyukur karena atasnya itu memaklumi perbuatannya.


"Selama tuan Zack belum di temukan maka kamu yang bertanggung jawab menjaga non Aisyah. Bawa dia ke kampung mu dan layani dengan baik. Jika ada sesuatu yang dia perlukan maka hubungi saja kontak ini. Kamu mengerti kan?". Sahut suara di balik ponselnya.


"Baik tuan, saya mengerti". Setelah mengatakan itu Titin segera mengakhiri panggilan lalu menuruni pohon itu dengan hati - hati.


Titin kembali ke gubuk untuk mengajak ibu dan Aisyah untuk melanjutkan perjalanan menuju mobil yang sudah menunggu mereka di jalan. "Semua sudah siap? Kita harus berangkat sekarang, sudah ada mobil yang menunggu kita di sana untuk pergi dari kota ini". Ajak Titin membantu membawakan sisa buah yang masih ada untuk bekal mereka di perjalanan nanti.


Albar yang juga sudah terbangun sama sekali tidak bertanya mereka sedang di mana , tapi dari cara nya menatap sekeliling membuktikan ia kagum dengan pemandangan yang ia lihat sekarang. Sepanjang perjalanan Aisyah, bu Sukma dan Titin bergantian menggendong Albar. Jika anak itu ingin bersama Aisyah maka Aisyah tidak bisa menolak, saat wanita itu lelah baru lah Albar di berikan pada bu Sukma atau Titin.


Selama hampir sejam mereka berjalan dan akhirnya mereka melihat jalan tidak jauh di hadapan. Titin berjalan lebih dulu mencari keberadaan mobil yang menunggu mereka, ia melihat sebuh mobil terparkir tidak jauh dari jalan tapi sedikit bersembunyi di semak - semak.


Tok, tok, tok.

__ADS_1


Titin mengetuk pintu mobil dengan ketukan kode pasukan dan benar saja di dalam adalah teman seperjuangannya. "Lo lama banget sampainya? Gue dari tadi tunggu lo dengan perasaan takut sampai - sampai aku tadi hampai ter kencing di celana karena ketakutan saat seekor gajah datang menghampiri mobil". Imbuh Rafa.


Titin setengah mati menahan tawa nya karena menghargai pengorbanan temannya disini. Titin segera memanggil ibu nya dan Aisyah untuk mendekat ke mobil. Rafa mengeluarkan sebuah paperbag berisi perlengkapan menyamar mereka saat dijalan.


__ADS_2