
Tampak di sepanjang jalan menuju ke alun-alun kota banyak sekali lampion-lampion merah yang terpasang di mana-mana, suasana di jalanan pun semakin sesak saat semakin mendekat ke alun-alun kota tersebut.
"Lampion merah, tunggu dulu sepertinya aku pernah mengikuti festival yang serupa seperti ini." Gumam Delayla Jangbaek.
"Wah........ "
"Indah banget...... " Ucap Sonia yang melihat ke arah lampion-lampion yang tergantung di atas nya tersebut.
"Arung, Sonia, sebaiknya kita ke kedai teh yang ada di sana, dari lantai dua nya kita dapat melihat dengan jelas ke lapangan di alun-alun kota itu." Ucap Delayla Jangbaek sambil menunjuk ke arah sebuah kedai.
"Bagus kalau begitu, aku penasaran sekali kenapa Pendekar-Pendekar itu terus mengerubungi lapangan?" Ucap Arung.
"Kalau begitu ayo.... " Ucap Delayla Jangbaek lalu kembali menarik pergelangan tangan pakaian Arung.
"Huh.......... "
"Kau selalu saja setuju dengan usul Naga jelmaan Buaya Betina itu, kau sungguh tidak memikirkan bagaimana rasa perih di hatiku saat Gadis bertanduk itu menarik tangan mu." Gumam Sonia yang cemburu buta tersebut.
Arung dan yang lain nya pun mulai memasuki Kedai Teh tersebut, tampak di dalam ruangan tersebut telah di penuhi oleh pengunjung-pengunjung terutama pengunjung laki-laki dan wanita yang sedang memadu kasih tersebut.
"Wah...... "
"Mereka udah pada mojok duluan, Naga jelmaan Buaya Betina ini tau aja tempat nongkrong yang bagus." Gumam Sonia yang kali ini sependapat tentang Kedai Teh tersebut.
"Aku tidak tahu jika tempat ini adalah tempat nongkrong nya orang pacaran." Gumam Delayla Jangbaek yang baru sadar jika tempat yang mereka masuki saat ini adalah tempat sepasang kekasih saling memadu kasih.
Mereka bertiga pun mulai menaiki tangga Kedai Teh tersebut, tampak di teras luar masih ada sebuah meja kosong, mereka pun dengan cepat beranjak duduk di tempat kosong tersebut.
Beberapa saat kemudian Pelayan pun tiba ke meja tersebut berniat menanyakan pesanan mereka.
"Tuan, dan Nona-Nona, mau pesan apa?" Tanya Pelayan tersebut dengan sopan.
"Tuan, bawakan makanan minuman yang paling enak di Kedai Teh ini." Ucap Delayla Jangbaek yang ingin memperlakukan Arung dan Sonia dengan baik.
"Oh......."
"Baik Nona." Ucap Pelayan tersebut lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan nya tersebut.
"Gimana tempatnya Sonia, bagus kan?" Tanya Delayla Jangbaek yang ingin memperbaiki hubungan nya dengan Sonia tersebut.
"Bagus sih, tapi di Kedai ini rata-rata yang nongkrong adalah sepasang kekasih,"
"Lihat tuh...... " Ucap Sonia sambil meruncing kan bibir nya ke meja-meja di sekeliling mereka.
"Dasar cemburuan, bilang aja kamu mau berduaan dengan Pendekar Naga." Gumam Delayla Jangbaek.
Sementara itu pandangan mata Arung tertuju ke lapangan di alun-alun kota tersebut, tampak prajurit-prajurit sedang berjaga di sekeliling lapangan tersebut berusaha menghalangi para Kultivator masuk ke tempat tersebut.
Di tengah-tengah lapangan tersebut terdapat sebuah Patung Raksasa, di tempat tersebut juga terdapat beberapa tenda mewah dan sebuah panggung pertunjukan.
__ADS_1
Tampak di panggung tersebut ada beberapa Kultivator Artis yang sedang memainkan seruling nya.
"Sepertinya memang sedang ada acara di alun-alun tersebut, aku seperti mengenal wajah di patung raksasa tersebut?" Gumam Pendekar Setengah Naga tersebut saat menatap ke arah patung raksasa tersebut.
Di atas lapangan tersebut tergantung puluhan lampion berwarna merah di tali-tali yang melintang dan memanjang diatas lapangan tersebut, sesekali suara tepuk tangan pun terdengar menggema dari arah lapangan tersebut.
"Sepertinya acara nya meriah ya, Arung." Ucap Delayla Jangbaek yang mengarahkan pandangan nya juga ke alun-alun kota tersebut.
"Lebih meriah jika malam ini gak ada tukang pukul nyamuk.... " Gumam Sonia berusaha menyindir Naga Betina tersebut.
"Kau tahu acara apa itu, Delayla?" Tanya Arung.
"Aku tidak tahu Arung, nanti kita tanyakan saja pada Pelayan itu." Ucap Delayla Jangbaek yang sama penasaran nya dengan Arung saat ini.
"Katanya mau jadi tour guide, tapi acara se meriah itu saja kau tidak tahu Delayla." Sindir Sonia.
"Maaf...... "
"Maaf Sonia, aku mengecewakan kalian berdua." Ucap Delayla Jangbaek.
Beberapa saat kemudian Pelayan pun tiba di meja mereka dan mulai menghidangkan tiga kendi arak jangbaek dan beberapa porsi Beast Kijang Panggang yang begitu harum dan terlihat nikmat tersebut.
Beberapa saat kemudian,
"Tuan, kalau boleh saya tahu,"
"Nona pasti bukan orang sini, hari ini adalah hari peringatan 100 tahun kematian Jendral Api,"
"Jadi hari ini pihak Kerajaan Jangbaek mengadakan Festival Lampion Darah di seluruh Kota Besar yang ada di wilayah Kerajaan Jangbaek ini,"
"Katanya Putri Widuri sedang membuat sayembara di alun-alun tersebut, siapa yang dapat membuatnya terkesan akan di berikan sebuah senjata suci,"
"Sebuah Tongkat Black Hole Dragon yang legendaris itu." Ucap Pelayan tersebut.
"Terima kasih atas informasinya Tuan." Ucap Delayla Jangbaek lalu mulai memberikan beberapa koin emas sebagai tips kepada Pelayan yang ramah tersebut.
"Terima kasih Nona... " Ucap Pelayan tersebut saat menerima pemberian dari Delayla Jangbaek tersebut.
"Tongkat Black Hole Dragon?"
"Aku harus mendapatkan tongkat tersebut, tongkat itu pasti berhubungan dengan Jabberwook." Gumam Arung.
"Makan lah, setelah ini kita akan menonton festival itu lebih dekat." Ucap Arung lalu mulai menyantap hidangan yang terhidang di atas meja tersebut.
"Pasti Naga ini menginginkan tongkat tingkat alam mahayana tersebut." Gumam Delayla Jangbaek lalu mulai menyantap hidangan tersebut.
"Sepertinya festival nya seru." Ucap Sonia sambil menatap ke arah panggung di dekat patung raksasa tersebut.
"Aku sepertinya terdampar ke masa 100 tahun sesudah kematian Jendral Api, sungguh suatu kebetulan." Gumam Arung.
__ADS_1
"Sepertinya Naga ini seorang Pendekar yang berbudi luhur, mungkinkah dia mau mepersuntingku sekaligus dengan Laba-Laba itu?"
"Kya.............. "
"Apa yang kupikirkan." Gumam Delayla Jangbaek kemudian pipi nya pun mulai memerah.
"Kenapa pipi nya memerah, mungkinkah bumbu kecap cabe kijang panggang ini sangatlah pedas." Gumam Arung lalu mencoba mencicipi kijang panggang tersebut dengan bumbu kecap cabe tersebut.
"Tidak pedas kok.... " Gumam Pendekar Setengah Naga tersebut setelah selesai mencicipi nya.
"Huh......... "
"Dasar Naga Jelmaan Buaya Betina pipi nya memerah pasti membayangkan yang tidak-tidak terhadap penyelamat hidupku ini,"
"Aku tidak rela......... " Gumam Sonia sambil meruncingkan mulut nya karena cemburu buta tersebut.
"Delayla, apa tidak apa-apa kau meninggalkan Putri Raja Aliansi Pedagang bersama Delphi Chen dan yang lain nya di penginapan?" Tanya Arung.
"Aku telah memasang segel Naga di sekitar kamar Putri, jika ada yang berniat jahat aku bisa langsung merasakan nya, Arung,"
"Lagian kan penginapan kita berada persis di dekat Kantor Prajurit Kota, Assasin-Assasin itu pasti tidak akan bertindak sembarangan." Ucap Delayla Jangbaek.
Beberapa saat kemudian mereka pun selesai menyantap hidangan lezat tersebut, setelah menyelesaikan tagihan pembayaran nya Delayla Jangbaek dan yang lain nya pun mulai berteleport ke alun-alun kota tersebut.
"Kenapa dia menggenggam tangan ku dan tangan Sonia sekaligus?"
"Mungkinkah dia mau menembakku sekaligus dengan Laba-Laba Cantik ini?"
"Kya......... "
"Aku harus menjawab apa yach?" Gumam Delayla Jangbaek yang saat ini sedang berdiri di depan Kasir bersama Arung dan yang lain nya tersebut.
"Blitzzzz................ " Suara jurus teleportasi milik Arung.
"Lho........ "
"Kemana Pendekar-Pendekar itu pergi?" Ucap Kasir Kedai Teh tersebut yang bingung saat melihat ketiga Pendekar tersebut lenyap dari pandangan mata nya secara tiba-tiba tersebut.
Dalam satu kali kedipan mata mereka bertiga pun berpindah tempat ke belakang tenda mewah tersebut.
"Dup............ "
"Dup............ "
"Dup............" Suara saat tapak kaki mereka bertiga mendarat di atas tanah dengan mulus.
___________________________________
"Mohon Like dan Vote nya agar Novel ini terus berjalan." TTD. NOVELIS JALANAN 2021.
__ADS_1