Pendekar Setengah Naga 2

Pendekar Setengah Naga 2
Santet Part Ke Delapan.


__ADS_3

Kepala Shadow Ghost pun memanjang ke arah Nagita yang sedang terduduk di atas lantai di dalam ruangan yang tak terurus tersebut dengan wajah yang pucat pasi.


"Akhhh........." Teriak Nagita lalu memejamkan mata nya dengan raut wajah ketakutan.


Beberapa saat sebelum Kepala Shadow Ghost berhasil menggigit leher putih milik Nagita, dua buah pedang es pun berhasil menusuk punggung lalu menembus ke dada Shadow Ghost.


Tubuh Shadow Ghost pun langsung berubah menjadi debu hitam setelah nya, Mitha dan Arung pun langsung bersandar pada pedang nya sesudah itu, sepasang Pendekar itu kelihatan begitu kelelahan.


"Hah.............."


"Hah.............."


"Hah.............." Suara nafas terengah-engah Mitha lalu menyekat keringat di dahi nya.


"Kau baik-baik saja, Nagita???" Tanya Arung.


Air mata tampak menetes di kedua pipi Nagita, Gadis Cantik itu pun langsung bangun dan berlari ke arah Arung kemudian mulai memeluk nya dengan wajah yang pilu.


"Hiks........"


"Hiks........"


"Hiks........" Tangisan kecil gadis yang baru saja mengalami peristiwa di ambang kematian tersebut.


"Makasih Bang Arung..." Ceplos Gadis Cantik tersebut sambil memeluk erat tubuh Pendekar Setengah Naga tersebut.


Mitha yang berada di sebelah Arung pun mulai cemburu melihat tingkah Nagita yang sangat berani memeluk Tunangan nya secara terang-terangan di hadapan nya tersebut.


"Waduh........"


"Wajah Mitha tampak memerah, aura membunuh yang besar pun mulai terpancar dari nya,"


"Gawat, aku harus segera melepaskan pelukan Nagita,"


"Bisa-bisa tubuh gadis ini di belah nya...." Gumam Arung lalu mulai melepaskan pelukan spontan dari Nagita tersebut.


"Huft.........." Suara helaan nafas Mitha.


"Sekali lagi kau memeluk tunangan ku, aku akan menebas mu dengan Pedang Es ini....." Gumam Mitha sambil melirik tajam ke arah Nagita.


Keadaan pun terasa sedikit canggung setelah nya, beberapa saat kemudian terdengar suara para zombie-zombie yang berusaha masuk kedalam dengan cara mendorong pintu.


"Arung, seperti nya teriakan makhluk ilusi itu membuat para zombie-zombie di sekitar sini menyadari keberadaan kita....."


"Jumlah mereka ada banyak dan dari suara nya jumlah mereka mungkin puluhan....."


"Kita gak mungkin menang, Arung.." Ujar Mitha yang berdiri di dekat pintu sambil menahan dorongan-dorongan dari para zombie-zombie tersebut.


Arung pun melihat kearah jendela, sebuah ide pun muncul di dalam benak nya.


"Kenapa Kakak itu memanggilku dengan sebutan makhluk ilusi???" Gumam Cewek Cantik tersebut.

__ADS_1


"Tenang, Mitha......."


"Aku memiliki sebuah ide....." Ucap Arung lalu mengeluarkan dua utas tali dan mengikat kan nya pada salah satu tiang kolom di dalam ruangan tersebut.


Ia pun memecahkan kaca jendela dan melempar dua utas tali itu keluar jendela, Mitha pun mengerti maksud dari Tunangan nya melakukan hal tersebut.


"Kenapa tidak terpikirkan oleh ku????"


"Ternyata dia cerdik juga...." Gumam Mitha sambil menahan dorongan-dorongan zombie-zombie tersebut dari balik pintu.


Sementara itu Nagita kelihatan semakin bingung melihat kelakuan Arung.


"Jangan bilang mereka mau keluar dari dalam gedung bertingkat ini dengan menggunakan tali itu,"


"Tidak mungkin mereka mau melompat ???" Gumam Nagita.


Arung pun mulai menarik lengan Nagita, berniat hendak menggendong nya dan turun kebawah gedung dengan tali tersebut.


"Lho........."


"Kenapa dia memelukku???" Gumam Nagita.


Pedang Es pun telah di simpan oleh nya kedalam cincin ruang nya tersebut, sementara itu Jendral Es tampak masih bersandar pada lemari tersebut dan menahan dorongan-dorongan dari para zombie-zombie tersebut.


"Mitha....."


"Ayo kita keluar......" Ujar Arung


"Lompat lah duluan, Arung...."


Arung pun sambil memeluk pinggang ramping Nagita lalu mulai melompat turun sambil memegang tali tersebut.


"Akhhhhh............" Teriak Nagita sambil memejamkan matanya saat turun dari gedung berlantai lima tersebut.


Dengan bersusah payah, Arung pun meluncur kebawah sambil memegang tali tersebut, saat hendak sampai ke tanah ia pun mencengkram tali tersebut dengan sekuat tenaga sehingga mereka berdua berhasil mendarat dengan aman di bawah.


"AW....."


"AW......"


"Tangan ku......" Ucap Arung sambil meniup-niup tangan nya yang berdarah dan kepanasan setelah aksi nekat sebelum nya tersebut.


"Lho......."


"Kok bisa???"


"Aku masih hidup....." Gumam Nagita sambil melihat ke atas.


Nagita berasumsi dia akan mati jika melompat dari gedung berlantai lima tersebut, namun pada saat tersebut Gadis Cantik itu pun bingung bagaimana mereka berdua bisa selamat.


Kembali ke ruangan tersebut, Mitha tampak masih menahan dorongan-dorongan zombie-zombie tersebut, wajah nya tampak kesal melihat Tunangan nya yang memeluk pinggang Nagita di depan nya.

__ADS_1


"Dasar Play Boy....."


"Dia sudah dua kali memeluk gadis lain di depan ku, jika sekali lagi dia berani melakukan hal tersebut aku akan menebas makhluk ilusi itu...." Gumam Mitha lalu mulai berlari ke arah jendela dan mulai melompat sambil memegang tali tersebut.


Nagita yang pada saat itu sedang menengadah kan kepala nya ke atas pun melihat aksi Pendekar Wanita tersebut dengan takjub.


"Mitha..........." Gumam Arung.


"Apakah dia benar-benar manusia????" Gumam Mitha saat melihat peristiwa tersebut.


Dari arah jendela tampak zombie-zombie itu mulai melompat keluar mengejar Mitha, dan dari pintu rumah sakit terbengkalai itu pun ikut keluar puluhan zombie yang berlari ke arah mereka.


"Dup............." Suara tapak kaki Mitha saat berhasil mendarat dengan aman di bawah.


"Arung, jangan bengong......."


"Lari......." Ucap Jendral Es.


Arung, Mitha, dan juga Nagita pun berlari ke arah sebuah lapisan perisai kuning, dan menembus nya.


Terlihat para zombie-zombie tersebut tidak dapat menembus nya dan berhenti di balik lapisan kuning tersebut.


"Seperti nya perisai kuning ini membuat para makhluk-makhluk itu gak bisa mengejar kita, Mitha....." Ujar Arung.


"Syukurlah........"


"Kita selamat...." Ucap Nagita.


Raut wajah Mitha tampak serius saat melihat ke arah atas, Arung pun mengarahkan pandangan nya ke arah tersebut.


Sesosok Wanita tampak terbang melayang dan menembus perisai hitam tersebut.


"Ratu Santet........." Ucap Arung.


"Ratu Santet, Suzanna????" Ucap Nagita.


Ratu Sanbon pun mulai mendarat di dekat mereka bertiga, raut wajah yang tanpa ekspresi tersebut menatap tajam ke arah Arung.


Arung pun bersiap dan mengeluarkan Pedang Es nya, dengan tangan kiri nya Arung pun memberikan kode kepada Nagita untuk menjauh.


Gadis Cantik itu pun segera menjauh dari tempat tersebut dan bersembunyi di balik salah satu pohon besar.


"Akhir nya dia muncul, ini kesempatan kita untuk menghabisi nya..." Ucap Mitha lalu mulai menebaskan Pedang Es nya beberapa kali dengan niat membunuh yang begitu besar.


"Whussss..........."


"Whussss..........."


"Whussss..........." Suara hempasan angin saat lima buah pedang es melaju kencang ke arah Ratu Sanbon.


Ratu Santet hanya melihat dengan raut wajah yang dingin ke arah pedang-pedang es yang melaju tersebut.

__ADS_1


"Dia sangat nafsuan, sepertinya dia masih dendam dengan perlakuan ku di alam mimpi sebelumnya ....." Gumam Ratu Sanbon.


Lima buah paku raksasa pun muncul di sekitar Ratu Sanbon dan mulai melesat ke arah serangan-serangan milik Mitha.


__ADS_2