
-[Malam hari nya di dalam menara miring bagian utara]-
Rumor mengenai serangan dari Aliansi Naga yang akan terjadi itu pun mulai menyebar di sekitar wilayah kekuasaan Aliansi Sanbon Utara tersebut, tampak di sekitar menara miring itu lapak-lapak milik pedagang sudah mulai di kosongkan dan ada sekitar 300 prajurit yang berjaga di dalam nya.
Suasana tampak begitu mencekam di sekitar gerbang masuk menuju wilayah aliansi Ratu Ilmu Hitam tersebut, benteng yang membentangi menara miring tersebut pun tampak di penuhi oleh prajurit-prajurit bersenjata lengkap yang berjaga di atas nya.
"Tap......... "
"Tap......... "
"Tap......... " Suara tapak kaki para prajurit-prajurit yang mengawal Jingga Vampire sebelum nya.
Ke tiga puluh prajurit-prajurit itu pun berhenti di depan pintu gerbang masuk tersebut, salah seorang prajurit di dalam pun membuka gerbang besar tersebut dari dalam.
"Oh....... "
"Squad nya Komandan Jingga, tapi kemana Komandan???" Gumam Prajurit yang sedang memutar tuas untuk membuka kunci pintu tersebut.
"Kraaakkkkkk............ " Suara saat pintu gerbang besar tersebut mulai terbuka.
"Tabib....... " Gumam Prajurit di samping tuas tersebut, saat melihat Seorang Wanita Cantik berjalan.
Seorang Komandan Wanita Cantik pun berdiri di depan gerbang tersebut, dia adalah murid ke lima dari Ratu Sanbon.
Namanya adalah Asih Vampire dan merupakan seorang kultivator dukun dan dikenal juga dengan julukan Tabib Santet yang kejam.
"Lapor Tabib..... "
"Komandan Jingga sudah tewas di tangan aliansi pemberontak, kami semua tidak bisa berbuat apa-apa lagi,"
"Walaupun Komandan Jingga sudah berhasil membunuh setengah dari pasukan musuh namun jumlah pasukan yang tersisa lima kali lipat dari jumlah kami saat ini.... " Ucap Prajurit tersebut dengan sedikit kaku.
Raut wajah Tabib Santet pun mulai memerah, emosi nya mulai meluap saat mendengarkan kabar kematian Kakak Pertama nya tersebut.
"Kalian berani pulang kemari dan membiarkan kakak pertama ku tewas..... "
"Dasar pengecut....... " Ujar Tabib Santet lalu mengarahkan telapak tangan nya ke arah para prajurit-prajurit tersebut.
Tiga puluh ular hitam pun keluar dari telapak tangan nya dan mulau menggigit serentak leher-leher prajurit-prajurit tersebut.
"Akhhhhh............ "
"Akhhhhh............. "
"Akhhhhh............. " Teriak Prajurit-Prajurit tersebut.
Tak lama berselang prajurit-prajurit yang di gigit oleh ular-ular tersebut tewas keracunan dengan tubuh yang mengering.
__ADS_1
"Brukkkkk............. "
"Brukkkkk.............. "
"Brukkkkk............... " Suara saat tubuh prajurit-prajurit tersebut jatuh satu persatu ke atas tanah.
Prajurit-prajurit lain nya yang menyaksikan peristiwa berdarah tersebut pun tidak dapat berkata-kata, seperti julukan yang di sandang nya Komandan Asih tidak kalah sadis nya dengan Ratu Aliansi Sanbon Utara tersebut.
Gadis Cantik berambut hitam itu pun mulai berbalik, ia melihat ke arah prajurit yang berada di sebelah kiri nya.
"Dia melihat ku, jangan memprovokasi nya.... "
"Bisa-bisa aku modar nanti.... " Gumam Prajurit di dekat tuas pemutar pintu tersebut sambil menundukkan pandangan nya kepada Ratu Sanbon.
"Bereskan mereka, kuburkan Komandan Jingga dengan layak.... " Perintah Tabib Santet lalu mulai berjalan meninggal kan tempat tersebut.
"Tap......... "
"Tap......... "
"Tap......... " Suara tapak kaki Tabib Santet.
"Siap Komandan....... " Sahut beberapa prajurit yang berada di tempat tersebut sambil memberikan hormat.
Prajurit-prajurit yang berada di sekitar gerbang tersebut pun langsung bergegas ke arah mayat-mayat prajurit-prajurit yang tewas tersebut untuk mulai membereskan kekacauan tersebut dan juga mulai menguburkan Komandan Jingga dengan layak seperti perintah Tabib Santet sebelum nya.
"Awas kalian Aliansi Naga, aku akan menghabisi kalian semua sekaligus,"
Niat membunuh yang begitu besar pun keluar dari dalam diri Tabib Santet yang membuat gentar prajurit-prajurit yang berada di sekitar nya tersebut.
Di dekat sebuah lonceng raksasa berdiri juga seorang pria berpakaian serba hitam dengan rambut berwarna hitam panjanh yang juga ikut menyaksikan peristiwa berdarah tersebut.
Dia adalah murid kedua dari Ratu Sanbon, julukan nya adalah Dukun Hitam.
Wajah nya tampan hanya saja kulit seluruh murid-murid Ratu Sanbon adalah pucat semuanya seperti sang Ratu Ilmu Hitam tersebut, karena mereka semua mengkultivasi kan ilmu sesat.
"Kurang ajar....... "
"Hutang nyawa ini harus di bayar oleh aliansi pemberontak itu, aku akan menghabisi mereka dengan tangan ku sendiri..... "
"Padahal Jingga baru saja menerima cintaku, aku sudah menembak nya berkali-kali namun baru kali ini dia mengiyakan nya..... "
"Tidak.......... " Gumam Dukun Hitam yang sedang bersandar pada lonceng hitam raksasa tersebut dengan nada gumaman yang teramat sedih.
Air mata kesedihan pun mulai mengalir di pipi nya, Pria itu pun teringat akan kenangan nya saat berhasil menembak Jingga Vampire.
-[Di Markas Jendral Naga yang terbakar sebelum nya]-
__ADS_1
Komandan Friska Zonbie dan pasukan aliansi amazon pun tiba di markas Jendral Besar Arung yang sebelum nya terbakar tersebut dan kini sudah menjadi puing-puing.
"Sepertinya kita telat selangkah Jenifer, Orang-orang yang tinggal di dalam tempat ini pasti sudah pergi..... "
"Kita sudah kehilangan jejak Raja Sage, sebaik nya kita beristirahat di sini, dan besok melanjutkan perjalanan kembali ke aliansi sanbon.... "
"Aku ingin berjumpa dengan Dukun Hitam sekalian menanyakan informasi tentang keberadaan Raja Sage pada nya.... " Ucap Komandan Friska Zonbie.
"Siap Komandan...... " Ucap Jenifer Zonbie lalu mulai memerintahkan pasukan-pasukan nya untuk mendirikan tenda di sekitar sisa-sisa puing-puing tersebut.
"Dasar Komandan Friska, bilang aja mau jumpain orang yang di taksir,"
"Seluruh Garda Amazone sudah tau jika Komandan menyukai pria vampire itu..... " Gumam Jenifer Zonbie.
Para prajurit-prajurit pun mulai mengeluarkan rangka-rangka tenda dari dalam cincin ruang milik nya, dan mulai memasang tenda tersebut.
"Dukun Hitam... "
"I miss you..... "
"Sebentar lagi kita akan ketemu, .... "
"Moga aja si Jingga gak ada, jadi dukun hitam bisa fokus pada ku.... " Gumam Komandan Friska Zonbie dengan pipi yang mulai memerah lalu duduk di sebuah kursi di bawah sebuah pohon di dekat markas yang hangus tersebut.
"Ngunggg......... "
"Ngunggg......... "
"Ngunggg......... " Suara beast burung hantu di kejauhan.
-[Di Pinggiran Jembatan Gantung]-
Tampak Babarot sudah mulai membuka kedua belah mata nya, ia pun berusaha duduk dengan bersusah payah di tempat tersebut.
Luka nya pun sangat parah, dia melihat bekas kutukan yang di pasang oleh Ksatria Sanbon sebelum nya telah hilang.
"Bagus, walaupun luka ku parah tapi kutukan itu telah hilang..... "
"Tunggu aku kawan-kawan, aku akan segera membebaskan kalian di penjara milik Ratu Sanbon tersebut,"
"Aku akan membunuh Ratu Ilmu Hitam itu sendiri dengan kedua tangan ku ini.... " Ucap Babarot.
"Uhuk.......... "
"Uhuk.......... "
"Uhuk........... " Suara batuk berdarah Babarot lalu mulai berkultivasi untuk mengobati luka dalam nya yang sangat parah tersebut.
__ADS_1
To be Continued.......
Mohon Like dan Vote nya