
-[Di Dalam Gerbong Tambahan]-
"Byurrrrr............ " Suara hujan deras yang mengguyur di luar.
Tampak Arung langsung duduk bermeditasi di atas kursi di dalam gerbong tambahan itu. Aura berwarna-warni pun mulai keluar dari sekujur tubuh nya, tak lama kemudian Pendekar Setengah Naga tersebut pun tertidur pulas sambil bermeditasi dan memulihkan dirinya.
"Zzzttttt............. " Suara tidur Arung.
"Sudah kuduga dia pasti langsung tidur, sudah tau mengantuk tapi masih juga sok pahlawan dan menolong Naga Betina itu,"
"Kan cedera jadinya, dasar Naga Mata Keranjang." Gumam Sonia ketus yang tidak menyukai sikap sok pahlawan Arung.
Saat ini keadaan cuaca di luar gerbong tambahan hujan masih mengguyur dengan deras nya sesekali petir terlihat menyambar di kejauhan.
"Huft....... "
"Dingin nya.... " Gumam Sonia.
Sonia pun mulai bermeditasi untuk mengembalikan tenaga dalam milik nya yang hilang saat bentrokan yang terjadi sebelum nya itu.
"Jika mengikuti Naga ini, hari-hari ku pasti di penuhi pertarungan-pertarungan konyol mempertaruhkan nyawa demi cewek-cewek cantik dan bahenol,"
"Dasar mata keranjang, jika tiba saat nya nanti akan kubuat dia lutut nya lemas seharian." Gumam Sonia sambil bermeditasi.
Beberapa menit kemudian Laba-Laba Emas itu pun tertidur juga.
"Zzzttttt.............. " Suara tidur Sonia.
Kereta Kencana dengan satu gerbong tambahan itu pun mulai melaju di jalanan berbatu di sebelah Sungai Tak Bernama tersebut menuju kepersimpangan sungai yang merupakan Gerbang Utama untuk memasuki Ibu Kota Kerajaan Jangbaek tersebut.
Tampak ke sembilan Pasukan Pengawal Delayla tersebut melesat di sekitar Kereta Kencana dengan satu Gerbong Tambahan tersebut dengan raut wajah yang kelelahan dengan sebuah perisai hujan di atas masing-masing kepala nya tersebut.
"Ugh....... "
"Dingin nya, si ucok ku jadi menciut,"
"Dingin nya kebangetan, setelah sampai di Ibu Kota yang katanya lebih kejam dari Ibu Tiri itu aku akan segera mencari kehangatan." Gumam Delphi Chen yang berniat pergi ke Rumah Bordil ketika tiba di Ibu Kota Kerajaan nanti nya.
Raut wajah mesum pun terpancar dari Wakil Ketua Kelompok Pengawalan tersebut, teman-teman nya yang lain pun sudah bisa menebak apa isi pikiran Delphi Chen saat ini.
"Pasti bentar lagi dia beli ******, dasar Penjahat Kelamin." Gumam Ashiang yang sebenarnya diam-diam menyukai Pria Mesum tersebut.
"Wakil Ketua pasti mau main ke Rumah Bordil seperti biasanya, aku ikutan ah...... " Gumam Ashiong yang memiliki hobi sama dengan Delphi Chen tersebut.
Sementara itu Delayla Jangbaek masih saja terus bersikap waspada dengan sorot mata terus mengawasi ke sekelilingnya dan duduk di sebelah Kusir nya tersebut sambil memeluk Pedang Halilintar Ungu milik nya tersebut.
"Assasin-Assasin tadi pasti di utus oleh Pemberontak di Pulau Koreas, para Pemberontak-Pemberontak itu pasti mengutus Pembunuh-Pembunuh Bayaran lain nya nanti,"
"Setibanya di Ibu Kota, aku harus beristirahat di Penginapan yang dekat dengan Kantor Prajurit Kota agar Assasin-Assasin tersebut tidak berani menyerang kami di saat kami sedang beristirahat." Gumam Delayla Jangbaek yang masih khawatir akan serangan dari Assasin.
Saat ini Arung belum menyadari jika Delayla Jangbaek adalah salah satu Komandan Api dan juga merupakan anak angkat dari Jendral Api.
"Nasib....... "
"Nasib....... " Keluh Delphi Chen yang sudah kelelahan dan kentang tersebut sambil berlari di sekitar Kereta Kencana.
"Ternyata benar rumor yang beredar tersebut, kalau Komandan Delayla adalah seorang instruktur yang datang dari Neraka,"
"Ini buktinya sudah malam begini kami masih terus di suruh jogging, padahal habis bertarung dengan penjahat,"
"Komandan Delayla benar-benar kejam.... " Gumam Ashiong salah satu Pasukan Pengawalan Delayla tersebut.
"Aku tidak boleh protes kepada Ketua, kudengar dulu ada salah seorang Prajurit Baru yang protes saat di latih oleh Komandan,"
"Komandan pun menambah porsi latihan Prajurit Baru itu menjadi berkali-kali lipat,"
"Sebaiknya aku jogging dengan ikhlas malam ini." Gumam Ashiang sala satu Pasukan Pengawalan Wanita Delayla.
Kereta Kencana dengan satu gerbong tambahan yang di kawal ketat itu pun terus melaju di bawah guyuran hujan serta suhu yang ekstrim menuju Ibu Kota Kerajaan Jangbaek.
-[Pagi Hari]-
Beberapa jam kemudian,
Akhirnya Delayla Jangbaek dan yang lain nya pun telah tiba di Ibu Kota Kerajaan Jangbaek tersebut, mereka pun langsung pergi ke penginapan di dekat Kantor Prajurit Kota.
"Fiuh........ "
"Sampai juga, kaki-kaki ku rasanya mau copot saja,"
"Apa lagi si ucok yang udah ngambek terus sejak tadi." Gumam Delphi Chen yang sudah sangat kentang tersebut.
Kusir pun mulai menepikan Kereta Kencana nya, tampak di jalanan Ibu Kota tersebut sangat ramai di lewati oleh Kereta-Kereta lain nya walau di pagi hari. Di trotoar-trotoar jalan pun sudah terlihat beberapa Pendekar-Pendekar yang berlalu lalang dengan kesibukan nya masing-masing.
"Hoammm........ " Suara menguap Kusir Kereta tersebut.
Mereka pun berencana menginap di Penginapan tersebut, saat Putri dari Raja Aliansi Dagang tersebut mulai turun dari Kereta Kencana tersebut tampak seluruh mata tertuju kepada Putri yang mengenakan cadar berwarna merah jambu dan kimono tersebut.
Delayla pun langsung beranjak ke sisi Putri Aliansi Dagang tersebut dan mengawalnya secara pribadi.
__ADS_1
"Seperti nya Gadis itu memiliki kedudukan yang tinggi di masa ini, bahkan Delayla sampai mengawal nya secara pribadi." Gumam Arung yang sudah terbangun sejak tadi dan turun lebih dulu dari gerbong tambahan tersebut.
"Wah....... "
"Kota ini di penuhi oleh bangsa manusia, kemana Manusia-Manusia Beast nya?" Gumam Sonia yang sedikit terkejut saat mengamati kesekeliling nya tersebut dan tidak menjumpai satu Manusia Beast pun di dalam Kota tersebut.
"Ayo.... " Ucap Delayla Jangbaek.
Mereka pun mulai memasuki Penginapan berlantai dua tersebut, saat ini Arung sedang dalam mode mata elemen air nya di sebabkan kebangkitan Jiwa Naga Air sebelumnya saat berada di Hutan Laut.
Mata ini memiliki efek magis yang membuat lawan jenis jadi menyukai pengguna nya, tampak tiap-tiap Gadis yang menatap Arung melemparkan senyum kepada nya.
"Ganteng nya... " Bisik kecil Gadis-Gadis Cantik yang berpapasan dengan nya di dalam lobi penginapan tersebut.
"Kenapa mereka tersenyum kepada ku seperti itu yach?" Gumam Arung yang belum menyadari mode mata elemen air nya tersebut.
Di Benua Darah Biru mata mode elemen air tersebut tidak terlalu berpengaruh kepada Gadis-Gadis, karena rata-rata penghuni Benua tersebut adalah Ras Beast. Mode mata biru tersebut hanya berpengaruh kepada Ras Manusia saja.
"Huh.......... "
"Naga ini mulai TP.... TP.... "
"Sekarang." Gumam Sonia yang jengkel saat melihat Gadis-Gadis tersenyum kepada Arung saat berpapasan atau melihat nya dari kejauhan.
NOTES : TP singkatan nya adalah Tebar Pesona.
"Kya......... "
"Kultivator Seniman yang ganteng banget... " Bisikan Gadis-Gadis lain nya saat menaiki tangga dan melihat Arung yang sedang duduk di sofa di lobi penginapan tersebut.
"Apa Naga ini memakai pelet, kok bisa Gadis-Gadis itu begitu mengidolakan nya saat pertama kali melihat nya?"
"Apa aku juga kenak pelet yach?" Gumam Sonia yang mulai curiga kalau Penyelamat Hidupnya tersebut menggunakan rajah pelet.
-[Lobi Penginapan]-
Arung dan yang lain nya saat ini sedang duduk di lobi penginapan tampak Putri dari Raja Aliansi Pedagang terus memperhatikan nya sejak tadi, sementara itu Delayla Jangbaek saat ini sedang memesan kamar di meja resepsionis.
"Wah....... "
"Kenapa bisa ada Pemuda setampan ini yach di Kelompok Pengawalan Delayla, ganteng nya kebangetan." Gumam Putri Aliansi Pedagang yang saat ini sedang terhipnotis oleh kemampuan mata berelemen air tersebut.
Beberapa Gadis-Gadis Cantik yang berpapasan dengan Arung pun mulai tersenyum tipis kemudian mulai mengedipkan mata nya.
Bahkan seorang Wanita yang berpapasan sambil jalan bergandengan tangan dengan suaminya pun melakukan hal yang sama.
"Ugh..... "
"Berondong manis.... " Gumam Wanita bersuami tersebut kemudian tersenyum tipis dan mengedipkan sebelah mata nya tanpa di ketahui oleh suami nya tersebut.
"Kenapa Gadis-Gadis terus mengedipkan mata nya ke arah ku yach?" Gumam Arung yang bingung dengan fenomena tersebut.
Tampak setiap Wanita yang lewat di lobi penginapan tersebut terus mengedipkan sebelah mata nya ke arah Arung baik yang single maupun yang berstatus istri orang tersebut.
"Oh...... "
"Iya, ini gara-gara mata elemen air ku,"
"Mata ini benar-benar memiliki efek yang seperti pelet,"
"Malam ini aku harus segera menundukkan Naga Air tersebut, jika tidak aku takut di perkos* Gadis-Gadis yang bakalan beraliansi ini." Gumam Arung yang akhirnya menyadari mode mata elemen air nya tersebut adalah penyebab dari fenomena kedipan mata tersebut.
"Ugh.......... "
"Kenapa Naga ini begitu populer di kalangan Ras Manusia, apa dia menggunakan sejenis pelet,"
"Pasti pelet?" Gumam Sonia yang kembali jengkel melihat Gadis-Gadis yang terus bermain mata kepada Penyelamat Hidup nya tersebut.
"Ayo..... " Ucap Delayla Jangbaek yang telah selesai menyewa kamar dan membayar tagihan nya tersebut.
Beberapa saat kemudian beberapa Pelayan pun tiba dan mulai mengantarkan Arung dan yang lain nya ke dalam kamar penginapan di lantai dua penginapan tersebut.
"Dari tadi aku belum melihat benda-benda elektronik, sepertinya aku terdampar di masa di mana teknologi belum berkembang pesat,"
"Kira-kira ini di masa siapa yach, aku pun sepertinya pernah melihat wajah Delayla Jangbaek, tapi dimana yach?" Gumam Arung sambil menaiki tangga dan menatap punggung Delayla Jangbaek yang berjalan bersama Putri dari Raja Aliansi Dagang tersebut.
"Huh......... "
"Dasar Naga Mata Keranjang..... " Gumam Sonia yang cemburu buta saat mengetahui mata Naga tersebut melihat punggung Naga Betina tersebut.
Mereka pun menginap di kamar yang saling bersebelahan di lantai dua di tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian,
"Dup.............. " Suara saat pintu kamar penginapan tempat Arung dan Sonia tersebut di tutup.
Arung pun beranjak bermeditasi di atas ranjang tersebut, sementara itu Sonia duduk di kursi di pinggir dinding ruangan tersebut.
"Sekarang saat nya menundukkan Naga Air, akan berbahaya jika aku berjalan di Kota ini dengan mode mata berelemen air ini,"
__ADS_1
"Bisa-bisa aku di perkos* oleh wanita-wanita cantik itu." Gumam Pendekar Setengah Naga tersebut yang khawatir dirinya bisa mengalami pelecehan seksu*l jika terus mengaktifkan mode mata biru tersebut.
"Sonia, aku akan bermeditasi dulu, apa pun yang terjadi jangan bangunkan aku." Perintah Arung.
"Dari tadi kerjanya meditasi aja.... "
"Kapan aku bakal di grepe-grepe Sayang." Gumam Sonia yang ngarep efek dari cuaca dingin semalam.
"Iya, meditasi sana.... "
"Aku pun mau jalan-jalan dulu." Ucap Sonia lalu mulai beranjak keluar dari dalam kamar tersebut.
"Dasar perempuan, sejak tadi sikap nya aneh sekali, apa dia sedang datang bulan?"
"Ah...... Ya sudahlah, aku mau menundukkan Naga Air dulu." Gumam Arung kemudian mulai memejamkan kedua belah mata nya tersebut.
Tak lama berselang kesadaran nya pun mulai terhisap ke dalam Dunia Naga Air.
-[Koridor Penginapan]-
Tampak Sonia sedang berjalan seorang diri di dalam koridor tersebut.
"Aku penasaran, kemana Manusia-Manusia Beast di kota ini?"
"Apa ada diskriminasi ras di dunia asal Penyelamat Hidup ku ini, sehingga Ras Manusia Beast tidak di izinkan tinggal di kota,"
"Dan hanya tinggal di dalam hutan, aku akan mencoba mencari Manusia Beast di Kota ini dan menanyakan nya tentang Diskriminasi Ras tersebut." Gumam Sonia yang berpikiran ngawur akibat kentang tersebut.
-[Dunia Naga Air]-
Arung pun mulai melayang di atas permukaan laut yang beriak-riak kecil dan berkilauan tersebut, angin sepoi-sepoi pun berhembus dan menerpa hangat wajah Pendekar Setengah Naga tersebut.
Tampak Naga Air tersebut saat ini sedang menatap nya dari balik Kerangkeng Emas yang telah mengurung nya selama ini dengan sorot mata yang dingin.
"MANUSIA, KAU AKHIR NYA DATANG JUGA,"
"MAU APA KAU DATANG KEMARI?" Tanya Naga Air tersebut dengan ketus.
Arung pun diam untuk sejenak sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa nya, kemudian mulai terbang perlahan ke arah Kerangkeng Emas yang sedang mengurung Naga Air tersebut.
"Whussss......... " Suara hempasan angin saat Arung terbang perlahan.
"Aku akan menundukkan mu wahai Naga Air.... " Ucap Arung sambil menunjuk ke arah Naga raksasa tersebut.
"HA......... "
"HA.......... "
"HA.......... " Tawa Naga Air tersebut yang meremehkan kemampuan Arung.
"KAU MEMBUAT PERUTKU SAKIT..... " Ucap Naga Air tersebut dengan angkuh dan sombong nya.
Sebuah Gerbang Emas pun muncul di atas permukaan laut tersebut dari dalam nya muncul sesosok Pemuda berjubah Emas dengan motif Naga.
"Whuuusss....... " Suara hempasan angin saat Naga Emas terbang ke sebelah Arung.
"Naga Emas.... " Gumam Arung dan Naga Air kompak yang sangat mengenali sosok tersebut.
"Kau yakin akan melawan nya Naga Muda?" Tanya Naga Emas.
"Aku yakin Naga Emas.... " Jawab Arung dengan tegas.
"CEPAT LEPASKAN AKU NAGA EMAS, AKU AKAN MENGUNYAH MANUSIA SETENGAH NAGA ITU,"
"PUCUK DI CINTA BULAN PUN TIBA, KAU AKAN MENYESALI KEPUTUSAN MU INI." Ucap Naga Air tersebut dengan angkuh nya.
"Kemana Naga Api dan kedua Ular lain nya, Naga Emas?" Tanya Arung yang tidak mengindahkan ancaman Naga Air tersebut.
"Mereka saat ini sedang berada di Kawah Api Sembilan Warna Naga Muda, saat ini mereka sedang asyik bermain bulu tangkis, katanya lagi nanggung kemari,"
"Permainan nya lagi seru.... " Ucap Naga Emas kemudian mulai mengayunkan lengan nya.
Kerangkeng Emas yang mengurung Naga Air pun hilang, tampak Naga Air tersebut mulai melesat terbang lalu meraung-raung dengan sangat keras sekali.
"Aurghhhhhh................... "
"Aurghhhhhh...................." Suara raungan Naga Air tersebut.
"Ugh....... "
"Lagi-lagi mengaum, telinga ku hampir pecah tiap kali mendengar Naga-Naga ini mengaum." Gumam Arung sambil menutup kedua belah telinga nya tersebut.
Sementara itu raungan Naga Air tidak berpengaruh kepada Naga Emas.
"Raungan anak-anak, raungan mu membuat malu Kaum Naga saja,"
"Dasar Ras Naga Rendahan.... " Gumam Naga Ras Mahayana tersebut.
___________________________________
__ADS_1
"Mohon Like dan Vote nya agar Novel ini terus berjalan." TTD. NOVELIS JALANAN 2021.