
-[Beberapa hari kemudian]-
Setelah sembuh dari racun emas, ranah kultivasi milik Rike Vampir pun kembali ke ranah asal nya yaitu ke ranah alam naga puncak. Rike pun merayakan kesembuhan nya tersebut dengan membuat jamuan makan malam di ruang perjamuan yang berada di lantai tiga untuk Arung dan yang lain nya.
"Ku ucapkan sekali lagi, Terima kasih karena sudah menyelamatkan ku." Ucap Rike.
"Kita kan sahabat Rike, gak masalah." Ucap Rayla.
"Tosss........ " Ucap Rike.
Mereka pun mulai mengetos kaleng beer bersamaan di meja giok tersebut.
"Tosss....... " Sahut kompak mereka semua kecuali Ratu Adrienne.
"Rike, bagaimana keadaan Gilmore saat ini?" Tanya Arung yang penasaran dengan keadaan guru nya tersebut.
Raut wajah Rike seketika berubah gelisah dan sedih saat mendengar nama Tetua Gilmore tersebut di sebut kan.
"Kawan, saat ini hanya Tetua Gilmore yang belum berhasil di tangkap oleh pihak Kekaisaran Vampir pimpinan Raja Vladmir,"
"Ketiga Tetua lain nya yang sepaham dengan Ratu Adrienne telah di tangkap dan akan di eksekusi saat Tetua Gilmore berhasil di tangkap." Ucap Rike yang membuat perjamuan makan malam tersebut seketika menjadi hening.
Niat membunuh yang sangat besar terasa dari arah Ratu Adrienne yang saat ini sedang mengenakan topeng.
"Kenapa wanita bertopeng itu begitu marah, siapa dia sebenar nya?" Gumam Rike Vampir.
"Ceritakan lebih banyak lagi Rike, aku ingin mengetahui segala detail yang terjadi saat ini." Ucap Dhieng Vampir.
Sementara itu Shayla terlihat begitu senang nya menyantap hidangan-hidangan lezat yang ada di atas meja giok tersebut, ia pun tidak begitu menanggapi pembicaraan politik mereka berlima.
"Setelah misi latihan tersebut berakhir, murid-murid dari Tetua-Tetua yang sepaham dengan Ratu Adrienne tidak ada yang kembali,"
"Sedangkan murid-murid dari Tetua-Tetua yang sepaham dengan Raja Vladmir kembali dengan selamat semuanya,"
"Setelah itu Raja Vladmir menangkapi ketiga Tetua yang bertentangan dengan nya dan membunuh orang-orang yang bersebrangan dengan dirinya,"
"Saat ini hanya Kerajaan Darah Merah yang di pimpin oleh Tetua Gilmore saja yang belum berhasil di taklukan,"
"Ke tiga kerajaan lain nya yang tidak sepaham dengan nya telah di taklukan dengan cara yang keji, saat ini ku dengar Kerajaan Darah Merah sudah mulai melemah karena di gempur terus menerus oleh Kekaisaran Vampir." Ucap nya.
"B*jingan.... " Ucap Ratu Adrienne sambil menghentakkan meja karena kekesalan nya terhadap Raja Vladmir tersebut.
__ADS_1
"Seperti nya kita harus segera membantu Gilmore, aku khawatir dia tidak akan bertahan." Ucap Arung.
"Si bodoh ini sangat suka sekali terjun di dalam pusara kekacauan, jika dia menjadi seorang Raja nanti nya sudah bisa dipastikan hari-harinya akan di habiskan berperang." Gumam Rayla.
"Aku setuju dengan usul Suami ku itu, Tetua Gilmore sangat baik,"
"Kita harus menolong nya." Ucap Dhieng.
"Gilmore, siapa dia?" Gumam Shayla sambil menyantap hidangan-hidangan lezat tersebut.
"Baiklah, setelah makan malam ini kita akan berangkat ke Benua Darah Merah." Ucap sang Ratu.
Mereka pun melanjutkan makan malam tersebut, setelah selesai makan malam mereka pun pamit kepada Rike Vampir dan pergi menuju Benua Darah Merah.
-[Ibu Kota Kerajaan Darah Merah]-
Tampak saat ini sedang terjadi peperangan yang begitu dahsyat nya di benteng perbatasan Ibu Kota Kerajaan Darah Merah tersebut, jeritan dan juga suara ledakan terjadi di mana-mana.
Prajurit-Prajurit Kerajaan Darah Merah terus menembakkan serangan-serangan yang beragam ke arah Prajurit-Prajurit musuh yang mencoba menembus pertahanan di benteng tersebut.
"SERANG TERUS...... " Teriak sang Ratu yang juga sekaligus Panglima Tertinggi di Kerajaan tersebut.
"HYATTTT............ " Teriak kompak Prajurit-Prajurit Darah Merah sambil kembali melesatkan serangan-serangan yang beragam ke arah Prajurit-Prajurit Musuh tersebut.
"Duargh........ "
"Duargh........ "
"Duargh........." Suara ledakan saat serangan-serangan tersebut saling beradu.
Beberapa serangan juga menewaskan Prajurit-Prajurit Darah Merah maupun Prajurit-Prajurit Kekaisaran Vampir.
Suasana malam itu tampak sangat mencekam, kobaran api terlihat di mana-mana, mayat-mayat terlihat berserakan di sekitar benteng dan di atas benteng. Walau langit malam tersebut begitu cerah namun suasana malam itu begitu mencekam.
"B*jingan Raja Vladmir itu, dia terus menggempur ku selama 3 tahun ini hingga seluruh jendral-jendral dan murid-murid utama ku tewas semua nya." Gumam Tetua Gilmore sambil melesatkan beberapa tembakan bola ber elemen kegelapan murni ke arah musuh.
Beberapa Prajurit-Prajurit musuh ada yang berhasil naik ke atas benteng pertahanan tersebut, dengan lincah Panglima Gilmore menebas tubuh mereka satu persatu dengan Pedang Darah Merah milik nya.
"Slasshhh.......... "
"Slasshhh.......... "
__ADS_1
"Slasshhh.......... " Suara saat Pedang Darah Merah memotong-motong tubuh Prajurit-Prajurit musuh tersebut.
Peperangan pun terus terjadi di perbatasan Ibu Kota Kerajaan Darah Merah tersebut, tampak di barisan paling belakang Vladimira bersama kedua murid Tetua Zelda sedang menyaksikan peperangan tersebut dari kejauhan.
"Kita sudah menaklukkan 99 kota besar yang ada di benua ini, jika kita menaklukkan satu kota lagi kita telah berhasil menguasai Kerajaan Darah Merah ini sepenuh nya." Ucap Catur.
"Aku yakin dalam beberapa hari lagi Prajurit-Prajurit Kekaisaran Vampir akan berhasil menembus pintu gerbang menuju Ibu Kota Kerajaan tersebut." Ucap Meysi.
"Kita lihat saja, kasian juga Tetua Gilmore seluruh jendral-jendral dan murid-murid nya telah tewas saat mempertahankan kota lain nya,"
"Ingat perintah Raja Vladmir untuk membawanya hidup-hidup ke Istana Darah Vampir." Ucap Vladmira yang merupakan Jendral yang memimpin penyerangan ke Benua Darah Merah tersebut.
"VLADMIRA........ "
"AYO KITA SELESAIKAN INI....." Teriak Tetua Gilmore dari kejauhan.
"Sepertinya sudah saat nya kita tampil, Teman-teman." Ucap Vladmira kemudian mengeluarkan Pedang Iblis Hitam milik nya.
"Ayo.......... " Sahut kompak Meysi dan juga Catur Vampir.
Tampak Tetua Gilmore telah terbang dan melayang di atas Prajurit-Prajurit Kekaisaran Vampir yang sedang berperang, Ratu Kerajaan Darah Merah tersebut sedang menunggu kedatangan sang Jendral Musuh.
"Aku lebih baik mati di medan tempur, ketimbang harus di tangkap hidup-hidup oleh Raja Vladmir,"
"Aku akan membawa serta Vladmira bersamaku, sebagai oleh-oleh untuk para Jendral-jendral dan juga murid-murid ku di alam baka sana." Gumam sang Ratu Kerajaan Darah Merah tersebut.
Beberapa saat kemudian ketiga Jendral musuh pun tiba di hadapan Tetua Gilmore dengan menghunuskan Pedang Iblis Hitam ke arah nya.
"Jangan banyak gaya, kalian pengkhianat,"
"Kalau saja Ratu masih ada, kalian pasti akan membayar penghianatan ini dengan mahal." Teriak Tetua Gilmore kemudian mulai menyerang Vladmira.
Ketiga Pedang Iblis Hitam dan Pedang Darah Merah pun saling beradu di atas langit tersebut, tampak Tetua Gilmore saat ini sedang di keroyok oleh ketiga Jendral Musuh tersebut.
"Tring.......... "
"Tring........... "
"Tring............ " Suara saat Pedang-Pedang tersebut saling beradu.
"Ayunan Pedang keputusan asaan, seperti nya dia hendak bunuh diri di sini." Gumam Vladmira sambil menahan ayunan-ayunan Pedang Darah Merah yang begitu berat tersebut.
__ADS_1
___________________________________
"Mohon Like dan Vote nya agar Novel ini terus berjalan." TTD. NOVELIS JALANAN 2021.