
Rombongan Pendekar Setengah Naga itu pun tiba di depan pintu masuk menara miring, mereka pun mulai turun dari kuda dan mulai memasuki menara tersebut.
"Jendral Naga......" Gumam Prajurit-Prajurit yang ada di lantai bawah tersebut sambil memberikan hormat.
Dari arah tangga Jendral Dracule pun muncul kemudian mulai menyapa Jendral Naga secara langsung.
"Jendral Naga......."
"Kami sudah sangat lama menunggu mu....." Ucap Jendral Dracule.
"Jendral Dracule....." Ucap Arung.
"Kalian pasti lelah, beristirahat lah dulu, Jendral..."
"Besok pagi kita akan mengadakan rapat...." Ucap Jendral Dracule.
Tak lama kemudian ketiga Selir pun turun dari tangga lalu mulai berlari kearah Jendral Naga.
"Jendral......." Ucap Selir Fika sambil memeluk jendral Naga.
Kedua selir lain nya juga melakukan hal yang sama, sementara itu Jendral Dracule hanya bisa tersenyum melihat tingkah ketiga Selir tersebut.
"Tenanglah, kan malu di lihat Jendral Dracule dan yang lain...." Ucap Arung sambil melepaskan pelukan ketiga Selir tersebut.
Pipi ketiga Selir pun mulai memerah.
"Baiklah Jendral Dracule, besok ada hal penting yang ingin aku sampaikan...." Ucap Jendral Naga.
Sambil mengacungkan jempol kanan nya, Jendral Dracule pun mulai berkata.
"Bersenang-senang lah Jendral...." Ucap Jendral Dracule sambil tersenyum.
Dengan canggung Arung dan kelima selir pun mulai menaiki tangga, sementara itu Kira pun mulai melaporkan perihal kejadian di Pulau Melayang kepada Jendral Dracule.
Sesampainya di lantai teratas, Arung pun berniat menenangkan diri di atas atap menara miring.
"Kalian duluan saja, aku baru ingat kalau ada sesuatu yang harus aku lakukan...." Ucap Arung lalu mulai memasang kuda-kuda Jurus teleportasi nya.
Dalam satu kali kedipan mata Jendral Naga pun menghilang dari hadapan mereka.
"Blitzzzz.........." Suara Jurus teleportasi Arung.
"Waduhhhhh....."
"Kok malah ngilang, padahal aku mau kasih surprise....." Ucap Selir Fika Vampire dengan kecewa.
"Huhhh...."
"Sebel....." Seru selir hana dengan sebal.
"Sudahlah, mungkin Jendral Naga perlu menenangkan diri...."
"Dia pasti lelah karena perjalanan panjang ini..." Ucap Selir Helena.
Arung berpindah ke atas atap menara miring, ia pun mulai duduk lalu mengeluarkan sebatang pipa hisap giok nya dan mulai menaburkan tembakau di atas nya.
"Whussss........." Suara hembusan asap tembakau.
Beberapa saat kemudian Kira pun terlihat muncul dari bawah atap, raut wajah nya terlihat terkejut melihat Jendral Naga.
"Lho......"
"Bukan nya itu Jendral Naga, kenapa dia gak bersama para Selir???"
"Apa aku samperin atau gak ya???"
"Akh.."
__ADS_1
"Aku samperin aja....." Gumam Kira lalu mulai melesat menaiki dinding menara miring tersebut.
Prajurit-Prajurit di sekitar menara pun terheran-heran dengan sikap Kira.
"Dash........."
"Dash........."
"Dash.........." Suara tapak kaki nya ketika melesat di dinding menara.
Setelah beberapa menit Kira pun tiba di atas atap menara miring.
"Kira....???"
"Mau ngapain dia kesini???" Gumam Arung.
"Maaf Jendral mengganggu mu...."
"Boleh kah aku ikut bergabung???" Tanya Gadis Naga tersebut.
"Silahkan saja....." Ucap Arung.
Kira pun duduk di sebelah Arung, tampak Pendekar Setengah Naga itu begitu menikmati menghisap tembakau dengan pipa giok milik nya.
"Whussss.........." Suara hembusan asap tembakau milik Arung.
Sementara itu Kira mulai menselonjorkan kedua kaki nya.
"Kenapa para Selir gak nempel dengan Jendral, biasanya mereka kayak perangko???" Tanya Kira.
Arung tidak langsung menjawab pertanyaan Gadis Naga itu dia mulai menghisap tembakau lalu mulai menghembuskan nya.
"Whussss........." Suara hembusan asap tembakau.
"Aku kabur tadi, Kira....."
Kira pun teringat jika kesaktian mereka semua nya akan kembali dalam waktu satu bulan, dan satu bulan kedepan mereka semua dapat keluar dari dalam penjara terkutuk tersebut.
"Akhir nya aku bisa kembali ke Klan ku...." Ucap Kira.
"Memang di mana klan mu berada, Kira???" Tanya Jendral Naga.
"Di langit, Jendral....." Ucap Kira sambil menunjuk ke atas.
"Di langit, bukan kah seluruh permukaan adalah lautan hitam???"
"Dan hanya ada awan hitam di atas nya???" Ucap Arung yang mengingat awal mula nya dia terdampar di Planet tersebut.
"Nanti, aku akan mengajak Jendral kesana....." Ucap Kira sambil tersenyum.
"Whusss............." Suara hembusan asap tembakau milik Jendral Naga.
"Apa maksud nya???" Gumam Jendral Naga.
Goa di bawah tanah tempat Manusia Kelelawar tinggal, tampak kunci raksasa melayang di atas kepala Pendekar yang sedang bersemedi tersebut.
"Akhirnya setelah ribuan tahun aku bisa bebas...."
"Tunggulah kaum Naga Langit, aku akan membalas kekalahan ku ribuan tahun yang lalu...." Gumam Pemuda Misterius dari klan kelelawar tersebut.
Tampak energi yang ada di dalam kunci raksasa itu sedang di serap nya.
Dua hari kemudian, Lantai teratas Aliansi X Rate.
Tampak para pemimpin-pemimpin Aliansi sedang duduk dalam perundingan di kursi di hadapan meja bundar tersebut.
Dari Aliansi Naga terlihat Jendral Naga, Perdana Menteri Max, dan juga Jendral Dracule yang duduk di kursi perundingan tersebut.
__ADS_1
Sementara itu di belakang mereka berdiri tiga orang Komandan yaitu Komandan Yuri, Komandan Zhafira, dan Komandan Indah.
"Aku sebaik nya diam saja, dan membiarkan Jendral Dracule dan juga Perdana Menteri Max yang membicarakan mengenai strategi perang ini...." Gumam Jendral Naga.
Perwakilan X Rate terlihat di wakili langsung oleh Ratu Titan Medusa, Komandan Chilia Black, dan Komandan Ryokugo Vampire.
"Shelin......"
"Bawakan beberapa cangkir kopi pahit kesini...." Perintah Ratu Titan Medusa.
"Baik Ratu....." Jawab Shelin Vampire sambil memberi hormat kepada sang Ratu.
Sementara itu tanpa di ketahui oleh Ratu Titan Medusa dan yang lain nya, Armenia Vampire dan pasukan nya sudah berhasil menyusup kedalam pertemuan rahasia tersebut.
Saat ini mereka ada di sekitar Meja Bundar dan sedang menyamar sebagai Prajurit-Prajurit dari Aliansi tahanan X rate.
"Huftttt........." Helaan nafas panjang Armenia yang sedikit gugup pada saat ini.
"Gawat......."
"Ini benar-benar gawat...."
"Para Raja-Raja Kriminal duduk dalam satu meja???"
"Keadaan politik di Penjara Black Skull kali ini benar-benar gawat." Gumam Armenia Vampire yang mengenakan syal yang menutupi hidung dan mulut nya tersebut.
Sementara itu perwakilan dari Aliansi amazone di wakili oleh Ratu Amazone, Komandan Frizka, dan juga Komandan Jenifer Zonbie di belakang mereka terlihat tiga orang Prajurit-Prajurit Amazone dengan cakram di pinggang nya.
"Ternyata dia adalah Pemuda yang telah mengalahkan dukun wanita itu, tampan juga???"
"Tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya???" Gumam Ratu Aliansi Amazone.
Armenia Vampire yang saat ini dalam mode penyamaran pun keluar dari dalam ruangan tersebut sementara itu para Prajurit-Prajurit Mata-Mata Markas Sipir masih berada di dalam ruangan tersebut.
Tampak Sang Alpha pemimpin dari Aliansi Wersel mewakili langsung Aliansi Wersel tersebut di temani dua Komandan nya.
Raja dari para werewolf itu tampak begitu santai dengan syal bulu di lehernya.
"Tidak kusangka, pemimpin-pemimpin dari Aliansi akan duduk semeja seperti ini,"
"Jika Ratu Sanbon dan juga Raja Black Phoncong ada pasti nya akan lebih seru...." Ujar Raja para werewolf tersebut.
"Alpha Werewolf, jika bukan karena rencana keluar dari penjara ini,"
"Mana mungkin aku mau duduk semeja dengan nenek lampir berambut ular tersebut....." Ujar Ratu Amazone.
Wajah Ratu Medusa pun memerah karena merasa marah dengan sindiran dari Ratu Amazone tersebut.
Ratu Titan Medusa yang biasanya begitu Anggun pun mulai berdiri kemudian menaikkan sebelah kaki nya ke atas meja bundar.
"Jangan banyak bacot dasar Ratu Lesbongg...." Seru Ratu Medusa.
Ratu Amazone pun mulai kepancing emosi dan melakukan hal yang sama.
Paha mereka yang mulus pun dapat di lihat oleh seisi ruangan.
"Apa yang mereka berdua lakukan???" Gumam Jendral Dracule sambil memegang jidat nya.
"Siapa yang kau panggil lesbong, dasar Tukang Selingkuh...." Seru Ratu Amazone.
Anak buah kedua belah pihak pun mulai menarik Ratu mereka untuk kembali duduk di kursi perundingan tersebut.
"Lho......."
"Lho......"
"Kok pada mau duel....???"
__ADS_1
"Ini perundingan atau ajang pertarungan???" Gumam Komandan Zhafira.